Andai Kulakukan Dari Dulu

Ini sebuah kisah yang menjadi pelajaran bagi saya dan mungkin dapat diambil hikmahnya bagi teman-teman pembaca sekalian. Ceritanya ada dua buah tugas kuliah dari dua mata kuliah yang berbeda namun diampu oleh dosen yang sama. Tapi masalahnya bukan karena dosennya sama, tetapi lebih kepada waktu pengumpulannya yang bersamaan. Tetapi sebenarnya bukan itu juga masalahnya, melainkan karena tugasnya cukup berbobot dan harus selesai dalam tempo 2 minggu. Tapi sebenarnya bukan pula itu permasalahannya.Lalu apa dong? Buruan gih kasih tahu… keburu kerempeng nih…

Oke oke. Jadi inti masalahnya adalah dua tugas itu harus selesai dalam satu hari. Lho katanya 2 minggu? Mana yang bener??? Bentar dulu to.. Biarkan beta menyelesaikan intronya dulu. Selesai dalam satu hari plus dalam kondisi badan yang tidak sehat. Sungguh sebuah perjuangan yang berat. Kalaulah tidak ada pertolongan-Nya pastilah tidak akan selesai. Lha tulisan ini ditulis setelah selesai mengerjakan tugas dan mengirimkannya.

Lho mana penjelasan dari 2 minggu menjadi cuma 1 hari? Jangan mencla mencle ah… kayak pemerintah aja… Sabar… jangan bawa-bawa pemerintah. Ntar diciduk baru tahu rasa. Ceritanya tugas yang dua minggu itu, karena melihat dua minggu itu lumayan lama kan ya.. seharusnya tak perlu sampai berpeluh-peluh kan ya, tapi ternyata membuat diri ini terlena. Ah besok besok saja.. itu adalah bisikan jahat yang merasuk ke dalam pikiranku. Dan payahnya aku terjerat bisikan itu. Kalimat itu seakan berulang ketika aku hendak mengerjakan. Walhasil tinggal 3 hari lagi dikumpulkan aku belum juga mengerjakan. Dalam pada itu datanglah sesuatu yang tak pernah aku perhitungkan sebelumnya. Sakit. Yang membuatku demam selama 2 malam, sementara siang tak cukup berdaya untuk berpikir yang berat. Terasa sekali seakan pipi ini ditampar, tapi bukan oleh bidadari. Sehingga sakitnya tuh disini (nunjuk hidung..). Walhasil waktu sehari harus selesai, mau tidak mau, bisa tidak bisa harus selesai. harus.. harus.. harus..

Qadarullah dengan pertolongan Allah SWT tugas itupun selesai. Berakhir dengan dikirimkannya tugas-tugas tersebut di bawah pohon ketapang, dihiasi lampu taman, tapi saya menggelandang di tepi jalan, memanfaatkan wifi gratisan yang oleh sang pemiliknya sudah diikhlaskan . Alhamdulillah bersyukur bahwa episode sakit datangnya tepat waktu. Artinya sakit sudah menjelang sehat sehingga masih punya waktu untuk menyelesaikan tugas.

Benar-benar menjadikan sebuah pelajaran bagi saya. Bahwa sikap menunda-nunda itu tidak baik akibatnya. Mungkin saya terlupa pernah menulis seperti ini sehingga perlu diberi tamparan agar ingat kembali. Teringat nasehat Umar ra “ Jangan kau tunggu sampai sore apa yang bisa kau kerjakan pagi hari, jangan kau tunggu esok apa yang bisa kau kerjakan hari ini.” Sebuah nasehat yang jaaaauuuuh sudah disampaikan beberapa generasi sebelum kita dan itu masih sangat relevan bahkan mungkin sampai kiamat nanti. Waktu bagaikan sebuah pedang, siapa yang tidak pandai memanfaatkannya maka akan terbunuh oleh pedang tersebut. Mungkin seperti puisi penjahat berdasi. Mati tercekik dasinya sendiri.

Dan akhirnya saya menemukan sebuah formula yang lebih hebat dari sekedar resep krepi patty yaitu “jika waktumu ada, kesehatanmu terjaga, jangan tunggu sampai lusa, segeralah bekerja”. Dan semoga ini terakhir kalinya saya merasakan kemrungsung seakan diburu waktu, dikejar dateline. Ke depan insya Allah harus lebih semangat dalam mengerjakan tugas, lebih bisa menghargai waktu. Itu.

NB: Judul diatas sebenarnya lebih tepat jika ditulis Andai Kukerjakan Dari Kemarin-kemarin, tetapi agar lebih dramatis saja saya pilih kalimat tersebut. Semoga pembaca tidak merasa gimanaaa gitu.

 

Putri Kecil Tak Beranting

antingDulu, dan sebagian masih sampai saat ini, saat melihat putri kecil kami, orang-orang akan bertanya, “ Ini cewek apa cowok ya? “ atau “ Ini tampan atau cantik ya? “. Dan hampir ketika kami menjawab bahwa putri kecil kami adalah perempuan maka pertanyaan lanjutan bisa kami pastikan tidak jauh dari makna “ Kok tidak dipakaikan anting-anting?”. Dan seperti biasa juga akan kami jawab “ Iya tidak dipakaikan anting… “ dengan senyum penuh makna.

Memang entah kenapa kami sebagai orangtuanya kompak untuk tidak “memaksakan” kehendak dengan memakaikan anting-anting. Kami menganggap anting-anting bagi anak perempuan bukanlah suatu hal yang wajib. Mengapa kecil-kecil sudah disakiti bagian tubuhnya hanya demi memasang benda logam tersebut. Biarlah kelak ketika dewasa dia yang menentukan apakah akan memakai anting atau tidak. Tentu saja jika memutuskan memakai anting-anting maka dia sudah tahu resikonya , mungkin akan ada sedikit rasa sakit saat membuat lubangnya.

Terlepas dari hal tersebut, kami ingin menyampaikan bahwa bagi kami anting-anting bagi anak perempuan bukanlah hal yang wajib. Dan kami memilih keputusan yang demikian tentu sudah mempertimbangkan masak-masak termasuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan sebagaimana di atas. Memang akan lebih mudah bagi orang lain jika ingin menyebut dengan sebutan khas gender, mas atau mbak. Tetapi toh kami rasa, pakaian juga bisa menunjukkan jenis kelamin dari seorang anak. Kita tentu yakin bahwa tidak mungkin orangtua memakaikan pakaian anak perempuan kepada anak laki-lakinya. Tapi mungkin itu belum cukup mewakili atau menggantikan peran anting-anting. Nyatanya ketika putri kecil kami sudah didandani dengan pakaian anak perempuan masih saja ada yang bertanya “ laki-laki atau perempuan?”. Bahkan yang lebih aneh lagi sudah dipakaikan kerudung masiiih juga ditanya “ laki-laki atau perempuan?” . Saya pribadi jadi mengambil kesimpulan bahwa pertanyaan “ laki-laki atau perempuan?” tidak selalu untuk mengetahui dengan sebenarnya jenis kelamin seorang anak tetapi hanya sekedar basa-basi saja.

Kita dan Cermin

“ Sudah bercermin belum? “ tanya seorang teman kepadaku di saat mentari baru saja menyapa dunia.
“ Belum.. “ jawabku.
“ Cobalah bercermin…” lanjutnya.
“Emang kenapa? “ tanyaku ingin tahu.
“ Kondisi kita paling tampan atau cantik adalah di pagi hari saat bangun dari tidur..” terangnya.
“Ah masa iya sih “ tukasku.
“Coba saja… “ jawabnya meyakinkan.

Dan apa yang kemudian terjadi adalah saya melakukan saran yang menurutku terasa aneh. Atau mungkin itu sebuah cara untuk menyadarkanku bahwa aku tampan. Hiks.. sepertinya sebuah persepsi yang terlalu dibuat-buat. :D

Bercermin. Siapa sih yang selama ini belum pernah bercermin? Saya yakin setiap kita hampir selalu bercermin setiap hari. Bahkan tidak cukup sekali dua. Sebenarnya untuk apa sih kita bercermin? Yang pasti untuk melihat keadaan kita. Apakah dalam kondisi licin rapi atau acak-acakan tidak karuan. Lebih lanjut bercermin untuk memastikan kita tampil rapi nan mempesona. Berbicara mengenai bercermin ada sebuah kalimat bijak tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi ritual yang satu ini.

Bercerminlah. Lalu lihatlah wajah di dalam cermin tersebut. Perhatikanlah. Apakah wajah itu termasuk wajah yang tampan? Jika demikian adanya maka janganlah rusak ketampanan wajahmu dengan akhlak yang buruk. Atau apakah wajahmu termasuk wajah yang biasa saja? Jika demikian adanya maka perbaguslah dengan akhlak yang mulia.

Sungguh sebuah nasehat yang mulia. Nasehat yang menyadarkan kita bahwa terlepas dari bagaimana wajah kita, fisik kita, yang lebih utama adalah bagaimana memiliki akhlak yang bagus, akhlak yang mulia. Betapa banyak orang yang berwajah biasa, yang sangat berat jika dikatakan rupawan namun ternyata menarik bagi teman-teman di sekelilingnya, menyejukkan setiap mata yang berbicara dengannya dikarenakan akhlak yang mulia. Tak jarang pula berapa wajah yang cantik nan rupawan namun tersanding akhlak yang buruk sehingga tiada sedikitpun manusia yang suka kecuali sedikit dari para pemuja fisik.

Untuk itu, tiadalah kita perlu merisaukan bagaimana halnya diri kita. Karena setiap kita tercipta sempurna. Maka lebih berfokuslah kepada bagaimana akhlak kita. Akhlak yang akan menjamin kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Akhlak yang bagus sebagaimana diajarkan oleh Kekasih Allah, Muhammad SAW.

Satu Celupan Yang Membuat Lupa Dunia

Kelak pada hari kiamat Allah akan memanggil dua orang dari hamba-hamba-Nya yang mewakili dua tempat kembali yang berbeda. Satu orang adalah ahli neraka dan seorang lagi ahli surga. Pertama-tama dipanggillah ahli neraka. Seseorang yang bergelimang harta dan kemewahan ketika di dunia. Sungguh banyak nikmat Allah yang dimilikinya. Tiada rasanya kesusahan dan kesedihan menghampiri sepanjang hidupnya. Namun pada akhirnya dia justru menjadi ahli neraka. Lalu dicelupkanlah ia ke dalam neraka barang sesaat. Lalu kembalilah dihadapkan kepada Sang Pencipta.

Lalu Allah SWT bertanya, “ wahai hamba-Ku apakah engkau pernah merasakan nikmat sebelum ini? “ Lalu iapun menjawab “ Belum pernah ya Allah.. Hamba sama sekali belum pernah merasakan apa itu kenikmatan hidup.”

Kemudian didatangkanlah hamba kedua. Seseorang yang semasa hidupnya penuh dengan kesengsaraan. Jalan hidupnya terlalu nestapa untuk dikenang. Rasanya dapat dihitung dengan jari saat-saat dimana dia merasakan secuil kebahagiaan. Hidupnya dihabiskannya dalam suasana penuh derita. Namun rupanya di akhirat ia menjadi ahli surga. Lalu dicelupkanlah ia ke dalam surga barang sesaat. Lalu kembalilah dihadapkan kepada Sang Pencipta.

Lalu Allah SWT bertanya, “ wahai hamba-Ku apakah engkau pernah merasakan penderitaan sebelum ini?“ Lalu iapun menjawab “ Belum pernah ya Allah.. Hamba sama sekali belum pernah merasakan apa itu kesengsaraan dan penderitaan dalam hidup hamba.”

Lihatlah. Betapa siksa neraka walau sekejap mata telah membuat orang-orang yang dimasukkan ke dalamnya mengalami penderitaan yang sangat. Saking menderitanya seakan-akan tiada belum pernah sekalipun ia merasakan kebahagiaan dalam hidup. Padahal ketika hidup di dunia, gelimang harta, rumah dan kendaraan. Jabatan nan tinggi, pelayanan terbaik dari para pembantu-pembantunya. Namun semua itu tiada diingat lagi gegara satu celupan sesaat di neraka.

Lalu Lihatlah. Betapa nikmat surga dan keindahannya membuat sesiapa yang dimasukkan ke dalamnya merasakan kebahagiaan dan keberuntungan yang sangat. Seoalh-olah tiada pernah sekalipun ia merasakan penderitaan. Serba kekurangan, kelaparan dan kesulitan semasa hidupnya seakan tiada pernah terjadi. Dan itu semua karena surga.

Maka marilah kita renungkan bersama. Berbagai nikmat yang Allah berikan kepada kita apakah jusru akan menjadikan kita jauh dari-Nya? Apakah segala nikmat itu akan menjadi sebab terlemparnya kita ke neraka? Na’udzubillah mindzalik. Sudah semestinya kelapangan harta dan nikmat-nikmat yang banyak itu akan membawa kita kepada surga. Jangan sampai kenikmatan yang kita rasakan di dunia ini hanya sampai berakhirnya usia kita.

Demikian pula bila kondisi sebaliknya yang kita alami. Apakah penderitaan, kesusahan yang dialami akan mampu membuat kita masuk ke surga atau malah mengantar kepada neraka? Bukankah penderitaan itu tak lagi terasa bilamana nikmat di akhirnya. Jangan sampai di dunia sengsara, di akhirat neraka. Na’udzubillah mindzalik.

Marilah kita senantiasa berdoa agar bagaimanapun keadaan kita, kita senantiasa mengingat Allah, semakin bertambah dekat dengan-Nya dan di akhirat nanti beroleh rahmat-Nya dan ditempatkan-Nya di surga. Aamiin.

===========================================================================

Rujukan Hadits-Rasulullah SAW. bersabda:
“Pada Hari Kiamat, didatangkanlah penghuni neraka yang paling nikmat kehidupannya di dunia, lalu ia dicelupkan SEJENAK ke dalam neraka, kemudian ia ditanya, ‘Pernahkan kamu merasakan kenikmatan meski hanya sedikit?’ Ia menjawab, ‘TIDAK PERNAH, ya Rabb’ Lalu didatangkan pula penghuni surga yang (dahulu) paling sengsara di dunia, lalu ia dicelupkan SEJENAK ke dalam surga, kemudian ditanya, ‘Pernahkan kamu merasakan kesengsaraan meski hanya sedikit?’ Ia menjawab, ‘TIDAK PERNAH, ya Rabb’ … (H.R. Muslim, Shahih Muslim)

 

Jam Tangan Kesetiaan

Di sebuah kota terjadi suatu hal yang membuat resah para istri. Hal ini sebagai akibat seringnya mereka menonton sinetron yang tayang hampir di setiap jam-jam penting dimana mereka juga ternyata lebih mementingkan menonton tayangan tersebut daripada mengerjakan hal lain. Ternyata tayangan sinetron tidak hanya sekedar sebuah tontonan tetapi rupanya telah merasuk ke dalam jiwa. Mempengaruhi pola pikir dan menciptakan persepsi bahwa dunia nyata juga seperti dalam dunia sinetron. Awalnya gejala ini hanya dirasakan oleh sebagian istri saja. Tetapi lambat laun karena panjangnya cerita dari mulut ke mulut akhirnya hampir seluruh istri di kota merasakan keresahan yang sama. Mereka sama-sama menaruh curiga terhadap para suami. Ada saja hal-hal yang memicu kecurigaan tersebut. Suami pulang agak telat, suami ada pekerjaan lembur di hari libur, suami dititipi membeli kenang-kenangan untuk kantor, suami yang jadi jarang membantu tugas rumah karena kelelahan, suami yang tiba-tiba menjadi super bersih dan berpenampilan rapi padahal memang niatnya untuk membahagiakan istri dan masih banyak lagi. Tetapi di mata para istri hal tersebut menjadi semacam trigger munculnya pikiran negatif. Akibat dari keresahan ini, banyak rumah tangga yang terancam gulung tikar (suami gulung tikar lalu gelar tikar di ruang tamu).

Rupanya berita keresahan ini sampai kepada seorang ilmuwan. Jiwa keilmuwanannya terpanggil untuk membuat sebuah alat yang dapat digunakan untuk memantau aktifitas suami di luar rumah. Maka dalam kurun waktu 7 hari 7 malam terciptalah sebuah alat yang diberi nama : Jam Tangan Kesetiaan. Jam tangan ini wajib dipakai oleh para suami kemanapun hendak pergi. Jam tangan ini selain sebagai sebuah penunjuk waktu, lebih dari itu jam tangan ini menjadi sbeuah perangkat mata-mata. Jam ini dilengkapi dengan sensor wajah. Ketika digunakan maka siapa saja yang ada di sekitar pemakai akan termonitor. Alat ini tidak berdiri sendiri, tetapi harus ada pasangannya agar para istri bisa memantau dengan baik. Untuk para istri ada alat seperti tempat bedak dimana ada layar dan perangkat yang lain yang bisa memonitor aktifitas suami di luar rumah. Dari rumah, istri bisa mengetahui siapa saja orang yang ditemui oleh suami sekaligus tahu apa saja yang diobrolkan. Jika ada sosok yang mencurigakan maka istri bisa memberi sinyal kepada suami sehingga suami bisa mengambil jarak aman, syukur bisa menjauhinya. Selain fasilitas monitor wajah, jam tangan kesetiaan juga dilengkapi dengan software pemrograman untuk memasukkan jadwal suami di luar rumah sehingga ketika tiba waktunya harus pulang alarm pada jam tangan akan berbunyi dan suami harus segera pulang.

Keberadaan alat ini dirasa sangat membantu para istri sehingga dalam sehari semalam sudah terjual habis. Laris manis. Dan keesokan harinya dipastikan para suami memakai jam tangan baru pemberian istri tercinta. Awalnya mereka senang-senang saja sampai akhirnya mereka agak risih dengan suara alarm yang berbunyi berkali-kali setiap hari. Tidak itu saja selalu pasti setiap alarm berbunyi diikuti oleh dering telepon dari istri mengecek aktifitas suami. Juga ketika jam pulang alarm berdering lama. Dan baru berhenti ketika sudah sampai rumah. Hal ini lama kelamaan membuat para suami merasa terganggu, belum lagi ketika sampai rumah disambut wajah istri yang cemberut sebelum mencecar dengan berbagai pertanyaan. Intinya kehidupan rumah tangga mereka menjadi kacau.

Karena merasa aneh maka para suami mencari tahu informasi tentang jam tangan mereka yang dirasa bukan jam tangan biasa. Lalu ditemuilah sang ilmuwan yang mencipta jam tersebut. Lalu oleh ilmuwan dijelaskan panjang lebar mengenai asal usul dan kegunaan jam tangan tersebut. Pahamlah para suami mengenai kenapa akhir-akhir ini ada kejadian aneh akibat tingkah laku istri yang tidak biasanya. Tetapi untuk memberi pelajaran kepada istri maka diadakanlah persekongkolan para suami untuk saling bertukar jam tangan sehingga apa yang dilihat istri bukanlah apa yang terjadi pada suami tetapi justru suami orang lain. Keesokan harinya terjadilah kehebohan massif dan terstruktur. Para istri menjadi heran kenapa suami sudah di rumah tetapi layar bedak menampilkan situasi lain. Yang lebih parah, ada kasus suami masih kerja lembur di kantor tetapi layar di bedak menampilkan dia masuk ke rumah orang lain dan disambut oleh seorang wanita. Serta masih banyak kehebohan lainnya. Ujung-ujungnya para istri menjadi marah. Pikiran negatif terhadap para suami selama ini semakin menjadi. Tak jarang dari mereka meminta cerai.

Menghadapi hal tersebut para suami tetap menghadapi dengan adem ayem. Lalu suatu hari diadakanlah pertemuan akbar di sebuah lapangan tetapi dipastikan tidak ada sampah yang berserakan atau rusaknya tanaman. Diundanglah sang ilmuwan yang membuat jam tangan tersebut kemudian diceritakanlah pula hal ihwal persekongkolan para suami untuk saling bertukar jam tangan. Mengertilah para istri dan sadarlah mereka bahwa selama ini dikuasai oleh pikiran negatif. Sang ilmuwan yang ternyata juga seorang yang bijak ini selanjutnya memberi wejangan bahwa seharusnya mereka mempercayai suami mereka. Cukuplah kepercayaan itu sebagai modal dalam harmonisnya rumah tangga. Janganlah mencurigai suami dengan kecurigaan berlebihan apalagi sampai memantau 24 jam sehari. Tetapi seharusnya mereka percaya bahwa suami tidak akan berbuat macam-macam, titipkanlah kepada sang Pemantau yang Maha Tahu agar suami dijaga dan dipelihara.

Lalu berpelukanlah antara suami dan istri di lapangan yang luas itu sampai-sampai masuk dalam Guiness Book of Records dalam jumlah pasangan yang berpelukan di satu tempat dan satu waktu yang disertai tangis haru. Kemudian sebagai tanda kebebasan, setiap suami melepas jam tangan mereka untuk diserahkan kembali kepada ilmuwan untuk direset ulang menjadi jam tangan biasa. Sementara alat bedak diubah menjadi smartphone. Juga mereka meminta ilmuwan untuk membuat sebuah alat yang bisa menyaring tontonan yang baik dan memblokir tayangan yang tidak baik.

Selang seminggu kemudian kehidupan kota tersebut menjadi lebih baik. Jam tangan kesetiaan tetap dipakai oleh para suami, tetapi tiada lagi alarm peringatan. Alat bedak menjadi smartphone yang membantu para istri berbisnis online. Kemudian hampir tidak ada televisi yang menyala karena hampir semua tayangan telah diblokir oleh alat filter yang mereka pesan. Dan kehidupanpun berjalan dengan sempurna. Kini sebagai ganti tayangan yang telah diblokir mereka membuat stasiun televisi sendiri dan hanya menayangkan konten religi dan konten pengetahuan.

Hujan Bulan November

Mendung berhari-hari yang lalu nampaknya sudah tak kuasa lagi membendung rindu. Semalam, dipeluknya bumi yang gersang dengan air cintanya. Deras. Aroma tanah meruak sebegitu harumnya. Bumipun rupanya rindu jua. Berbulan-bulan hanya mereguk setetes kesejukan yang disiramkan setiap pagi, malam itu bumi mereguk kepuasan. Air yang dikirim meresap hingga ke dasar relung kalbu. Memberikan kedamaian bagi sesiapa yang merasainya.

Hujan bulan November. Tak seperti tahun lalu, agaknya hujan kali ini datang agak terlambat. Beberapa hari saja. Seakan ingin menguji seberapa besar rindu bumi kepadanya. Terbukti sudah bahwa bumi pun setia menanti. Curahan hujan dan aroma tanah menjadi bukti betapa keduanya saling mencintai.

Hujan selalu memberi arti yang berbeda. Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang penggila hujan. Atau mungkin kita pernah membaca beribu sajak tentang hujan. Lihatlah betapa hujan menjadi sesuatu yang mampu mengisi ruang hati sesiapa saja.

Hujan bulan ini, persis menyambut satu tahun kepindahan kami ke tempat tinggal baru. Semoga senantiasa memberi berkah kepada kami. Memberikan kedamaian. Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Dan hujan bulan November akan menjadi awal memasuki musim penghujan. Siap menyambut buah-buahan yang akan segera bertebaran di pasar-pasar.