Berjuta kata di dalam, satu kata kepada dunia luar.

Sebuah lembaga atau organisasi yang dihuni oleh banyak orang maka banyak pula pemikiran yang muncul di sana. Semakin banyak anggota yang terlibat maka semakin kaya pula pemikiran yang ada. Dan setiap pemikiran ini harus mendapat tempat yang sama, artinya sama-sama mempunyai nilai bagi lembaga atau organisasi tersebut. Hierarki fungsi dalam lembaga, mencakup ketua, sekretaris, bendahara, divisi-divisi dan anggota yang lain seharusnya tidak menjadi pembatas bahwa suatu pemikiran itu mempunyai nilai lebih dibanding yang lain. Tentu kita paham bahwa seseorang yang kita beri amanah duduk di pucuk pimpinan adalah seseorang yang kita anggap punya kelebihan dibanding yang lain terutama sisi manajerialnya. Tetapi hal ini tidak menjadikan seseorang itu makhluk sempurna, tidak mungkin salah. Bertolak dari hal ini maka kita katakan tidaklah pendapatnya lebih berharga dari anggota yang lain.

Obrolan ringan, diskusi bahkan debat seharusnya bukan situasi asing lagi bagi sebuah lembaga atau organisasi. Apalagi yang sudah berjalan lama bahkan sudah puluhan tahun. Dan tentu saja akan kita jumpai dalam diskusi atau debat adanya perbedaan-perbedaan pendapat, bahkan dalam hal yang tidak terlalu prinsip. Itu sangat wajar menurut saya sebagai sebuah lembaga yang sehat akan berisi orang-orang dengan pemikiran yang berbeda. Justru tidak sehat sebuah lembaga yang setiap orang yang berada di dalamnya wajib satu kata, meskipun itu masih dalam ranah internal. Hal ini justru mematikan aspirasi dari anggota. Jika ada sebuah lembaga yang melakukan hal demikian biasanya tidak terlepas dari kultus terhadap sebagian pemuncak hierarki bahwa merekalah sang penentu kebijakan dan anggota lain tidak berhak menyatakan pendapat terkait hal itu.

Perbedaan pendapat selama itu masih dalam ranah internal maka tidak menjadi masalah bahkan jika sampai debat sekalipun. Memang sebaiknya perdebatan kita hindari, cukuplah diskusi menjadi solusi bersama. Selama masih dalam ranah internal lembaga atau organisasi saya rasa sangat terbuka terhadap perbedaan pendapat. Kita biasa untuk saling bertukar pendapat, menghargai pendapat yang berbeda dan tidak memaksakan satu pendapat kepada yang lain hanya karena tingkatan jabatan yang tidak sama. Dengan banyaknya pendapat lalu kita diskusikan sehingga membentuk satu kata bersama. Nah satu kata bersama inilah yang nanti kita bawa keluar sebagai wajah lembaga atau organisasi di mata masyarakat. Justru pada tahap inilah sudah tidak boleh ada perpecahan, perbedaan kata. Yang perlu ditampilkan adalah satu kata yang telah disepakati bersama melalui forum diskusi yang kita bahas di atas.

Kita sebagai anggota dari sebuah lembaga atau organisasi, setidaknya dalam lembaga bernama masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Hak untuk berpendapat dan kewajiban melaksanakan keputusan bersama. Jangan sampai ada segelintir orang yang dengan sengaja mematikan aspirasi dengan dalih apapun, apalagi hanya karena dia mempunyai jabatan yang lebih tinggi. Justru sebagai orang yang dianggap dewasa dalam cara berpikir, sekelompok orang yang duduk di pucuk pimpinan bisa membimbing anggotanya yang memiliki pemikiran berbeda agar perbedaan itu tidak mencolok dan bisa disamakan persepsinya dengan pemikiran bersama. Inilah kenapa kita berlembaga. Kalau hanya ingin memaksakan pendapat, apa bedanya dengan penjajah. Marilah kita dewasa dalam berlembaga, termasuk dalam masyarakat sebagai lembaga non resmi.

Semuda Apapun, seorang GURU wajib bersikap dewasa

Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai kedewasaan. Bahwa kedewasaan tidak terkait dengan usia seseorang. Boleh jadi ada seseorang yang dari segi usia masih relatif muda tetapi ia bisa bersikap lebih dewasa dari orang yang lebih tua darinya. Meskipun kedewasaan tidak ada kaitan dengan usia dalam artian tidak linear, tetapi menurut saya ada salah satu profesi yang mana mau tidak mau harus bisa bersikap dewasa seberapapun usianya. Salah satunya adalah profesi GURU.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, perlu kita sepakati bahwa yang akan kita bahas adalah mengenai sikap dan pola pikir seseorang guru bukan bagaimana metode ia mengajar. Sebagai contoh sebagai metode mengajar, seorang guru TK memang harus bertingkah seperti anak-anak agar dapat menyampaikan ilmu dengan baik. Kita kadang merasa geli juga melihat tingkah laku guru yang meniru gaya anak-anak. Tetapi kita sama sekali tidak boleh mengatakan bahwa guru tersebut tidak bersikap dewasa. Ini yang saya maksud bahwa yang kita bahas lebih kepada sikap dan pola pikir tadi.

Guru adalah profesi yang mulia karena guru bertugas mengajarkan ilmu kepada siswanya dan juga yang tidak kalah penting harus bisa menjadi contoh teladan bagi siswanya selain juga berperan sebagai orangtua di sekolah. Kita masih ingat hal tersebut bukan? Guru berperan sebagai orangtua di sekolah yang artinya guru mesti bersikap sebagaimana orangtua dalam mendidik anak. Seberapa mudanya guru tersebut harus bisa bersikap demikian.

Tetapi kiranya untuk jaman sekarang, profesi guru agaknya mulai mengalami penyempitan tugas. Kalau dulu guru bertugas sebagai pengajar dan pendidik, agaknya tugas sebagai pendidik ini mulai dilupakan. Guru hanya bertugas menyampaikan ilmu saja. Mengenai pendidikan akhlak dan budi pekerti itu diserahkan kepada masing-masing anak. Dalam pikiran saya, seorang guru itu tetap menjadi panutan dan teladan dimanapun ia berada. Baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Seorang guru harus menunjukkan sikap yang baik. Seorang guru yang bijaksana, dewasa dan ngemong harus selalu dijaga. Ini semata-mata agar pendidikan berjalan dengan baik. Bagaimana mungkin akan menjadi suatu pendidikan jika di sekolah bu guru dan siswa perempuan wajib memakai jilbab, tetapi ketika diluar sekolah bu guru malah berpakaian terbuka. Atau pak guru yang menyampaikan bahwa siswa dilarang merokok tetapi kenyataannya pak gurunya saja merokok di luar sekolah. Bukankah pendidikan berbasis teladan akan lebih mengena bila dibandingkan dengan yang hanya sekedar bicara.

Kemarin saya sempat ngobrol dengan istri saya, lebih tepatnya mendengar curhat yang ia dapat dari siswanya yang curhat. Bahwa ternyata ada sebagian guru di sekolah yang menurut siswa istri saya tersebut kurang bersikap dewasa dan masih kekanak-kanakan. Apa pasal?

Siswa ini pernah menyampaikan bahwa ada guru yang suka membicarakan kejelekan seorang siswa (menunjuk nama, tidak sekedar inisial) di kelas lain. Begitu juga ketika mendapat gosip dari suatu kelas maka dibicarakan di kelas lain. Hal ini menurut saya bukan sikap dewasa seorang guru. Bagaimana mungkin sebagai orangtua malah membicarakan kejelekan seorang anak kepada anak-anak yang lain? Bukankah justru sebagai guru bisa menyikapi dengan lebih baik. Jika melihat kejelekan pada siswanya ya lebih baik mendiskusikan dengan yang bersangkutan secara personal. Apa sebabnya siswa berlaku demikian, kesepakatan apa yang harus menjadi solusi? Bukan malah mengobral di depan siswa lain.

Kemudian pernah juga seorang siswa yang mengajukan beasiswa tidak mampu, tetapi begitu menyerahkan formulir malah ditanya dengan ketus oleh guru. “ Kok kamu mengajukan beasiswa tidak mampu? Kan kamu sekolah naik motor?”. Padahal setelah curhat dengan istri saya, anak ini menceritakan keadaan keluarganya yang memang tidak mampu. Ayahnya sudah meninggal semenjak kecil dan hanya bergantung pada ibunya. Motorpun juga hanya punya satu, itupun harus bergantian dengan kakak-kakaknya. Belum lagi karena keterbatasan ekonomi adik yang kecil dititipkan panti asuhan. Bukankah seharusnya guru melakukan klarifikasi dengan lebih santun. Kalau perlu diajak bicara alasan apa yang membuatnya mengajukan beasiswa tidak mampu sehingga akan lebih bisa memandang permasalahan dengan lebih luas dan bijaksana.

Dan masih banyak cerita mengenai bagaimana ada beberapa guru yang menunjukkan sikap yang kurang bisa bersikap dewasa dan bijaksana. Ini mengenai hubungan guru dengan siswanya. Ada lagi beberapa sikap yang juga tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang guru. Kita perlu tekankan bahwa ini adalah profesi guru yang tugasnya mengajar dan mendidik. Diceritakan bahwa ada seorang guru yang sering menulis status mengenai apapun yang ia lakukan. Dia sedang beraktifitas apapun, ketika mendapat jam tangan mahal dari ayahnya, sedang merasa capek dan masih banyak yang lain. Intinya eksis di medsos. Kita tentu sepakat bahwa hak setiap orang mau menulis apapun di medsos-nya. Tapi ketika dibenturkan dengan profesi guru yang mana dia harus menjadi panutan baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah maka tentu ada sedikit kekhawatiran mengenai hal ini. Bagaimanapun juga siswa akan mengetahui status guru tersebut dan pasti ada penilaian tersendiri mengenai guru tersebut. Jika ternyata guru tersebut tak lebih dewasa dari siswanya bagaimana bisa guru tersebut disegani oleh murid-muridnya. Bagaimana ia bisa mendidik murid-muridnya. Belum lagi foto-foto ‘selfie’ yang dipajang di medsos-nya. Sekali lagi bahwa siswa akan melihat bagaimana sikap guru ketika di luar sekolah. Memang kita boleh mengekspresikan diri sesuai dengan keinginan kita, tetapi sekali lagi sebagai seorang guru wajib menjaga diri agar tetap menjadi panutan siswanya. Bukankah lebih elok menulis status yang mengajarkan kebaikan, memberi motivasi dan mencerahkan. Akan lebih elok memajang foto-foto yang biasa saja, bukan selfie atau narsis.

Sebagai guru juga seseorang dituntut untuk bisa menjadi tempat curhat siswanya. Tempat curhat yang bisa dipercaya dan juga bisa memberi solusi. Memang tidak semua guru bisa mengambil peran ini. Butuh waktu ekstra, tenaga ekstra dan perhatian yang ekstra. Tapi memang baiknya guru mengenal murid secara lebih mendalam termasuk keluarga murid tersebut dan latar belakangnya sehingga akan terhindar dari pandangan yang sempit. Dan dengan mengenal murid lebih mendalam akan lebih mendekatkan guru dan murid secara personal sehingga proses pendidikan juga berjalan dengan efektif dan efisien.

Sudah Dewasakah Aku?

Ada yang mengatakan bahwa kedewasaan seseorang tidak terkait dengan usia. Artinya ada orang yang usianya sudah tua tetapi kalah dewasa dengan yang masih muda. Misal ada anak kuliahan yang tingkat kedewasaannya justru di bawah anak yang masih berseragam putih abu-abu. Ada anak kecil yang ternyata kedewasaannya melebihi usianya. Marc & Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi terletak pada sejauh mana tingkat  kematangan emosional yang dimilikinya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi seseorang (Astuti, 2000, Faktor-faktor yang mempengaruhi Kematangan Emosi, para. 1), antara lain:

a Pola asuh orang tua

Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam kehidupan anak, tempat belajar dan menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial, karena keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama tempat anak dapat berinteraksi. Dari pengalaman berinteraksi dalam keluarga ini akan menentukan pula pola perilaku anak. Biasanya anak yang tumbuh dalam pola pengasuhan orang tua yang sering memanjakannya akan lebih lambat dewasa. Sebaliknya pola pengasuhan yang relatif lebih disiplin akan lebih membuat seorang anak bisa bersikap dewasa.

b.Pengalaman traumatik

Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang. Kejadian-kejadian traumatis dapat bersumber dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan di luar keluarga.

c.Temperamen

Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional seseorang. Pada tahap tertentu masing-masing individu memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, dimana temperamen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan manusia. Bagaimana seseorang mengelola suasana hati ini menjadi salah satu tolok ukur tentang tingkat kedewasaan seseorang. Tentu kita akan mengatakan ‘terlalu kekanak-kanakan’ terhadap seseorang yang selalu marah-marah ketika menghadapi persoalan dan justru melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Dalam pikiran kita bahwa orang tersebut belum bisa mengelola suasana hati.

d. Jenis kelamin

Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya perbedaan hormonal antara laki-laki dan perempuan, peran jenis maupun tuntutan sosial yang berpengaruh terhadap adanya perbedaan karakteristik emosi diantara keduanya. Umumnya wanita dikatakan akan lebih cepat dewasa dibandingkan pria. Coba kita lihat saja, anak-anak perempuan setingkat SLTP akan jauh terlihat dewasa daripada teman-teman laki-lakinya. Semakin bertambah usia maka tingkat kedewasaannya semakin berjarak. Maka tak heran jika dalam memilih pasanganpun umumnya akan wanita akan memilih pria dengan jarak usia 4-6 tahun di atasnya. Karena dianggap bahwa dengan jarak tersebut tingkat kematangan emosi antara pria dan wanita bisa seimbang.

e. Usia

Meskipun dikatakan bahwa usia tidak berkaitan langsung dengan tingkat kedewasaan tetapi perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan usia, hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang. Jadi hal ini sebenarnya tetap ada korelasi dengan apa yang dinyatakan oleh Marc & Angel (2007) tersebut. Memang benar bahwa tingkat kedewasaan tidak terkait dengan usia seseorang, tetapi tentu kita juga setuju bahwa bagi seseorang pertambahan usia juga diikuti oleh perkembangan kematangan emosinya. Seseorang yang berusia 25 tahun pastinya akan jauh lebih bisa bersikap dewasa bila dibandingkan ketika ia masih berusia 15 tahun. Tetapi ketika membandingkan antar personal maka di sinilah inti apa yang kita bahas. Bahwa seseorang yang berusia 25 tahun, misalnya, boleh jadi tidak lebih dewasa dari orang lain yang mungkin usianya baru menginjak 20 tahun.

Tingkat kedewasaan seseorang memang tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu faktor saja. Tetapi hampir melibatkan semua faktor di atas. Misalkan pada poin 4 disebutkan bahwa wanita cenderung lebih cepat dewasa daripada pria. Tetapi pada kenyataannya kita juga menjumpai seorang wanita usia 25 tahun tetapi tingkat kedewasaannya setara dengan pria yang berusia 20 tahun. Maka bisa jadi pola asuh orangtua atau lingkungan tempat tinggalnya yang lebih berpengaruh.

Lalu bagaimana sih seseroang itu dikatakan dewasa? Ciri-cirinya seperti apa saja? Berikut ini pemikiran dari Marc & Angel (2007) tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya  dilihat dari kematangan emosionalnya.

  1. Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah  suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri.
  2. Memiliki kemampuan mengelola diri  dari perasaan cemburu dan iri hati.
  3. Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain.
  4. Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari berbagai kesalahan dan kekeliruan atas berbagai hasil yang telah dicapai.
  6. Tidak berusaha menganalisis  secara berlebihan atas hasil-hasil negatif yang diperolehnya, tetapi justru dapat memandangnya sebagai hal yang positif  tentang keberadaan dirinya.
  7. Memiliki kemampuan membedakan antara pengambilan keputusan rasional dengan dorongan emosionalnya (emotional impulse).
  8. Memahami bahwa tidak akan ada kecakapan atau kemampuan tanpa adanya  tindakan persiapan.
  9. Memiliki kemampuan mengelola kesabaran dan kemarahan.
  10. Memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain dalam benaknya dan berusaha  membatasi sikap egois.
  11. Memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants).
  12. Memiliki kemampuan menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan (sombong).
  13. Memiliki kemampuan mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran.
  14. Berusaha memperoleh kepemilikan  (ownership) dan bertanggungjawab atas setiap tindakan pribadi.
  15. Mengelola ketakutan diri (manages personal fears)
  16. Dapat melihat berbagai “bayangan abu-abu”  diantara ekstrem hitam dan putih dalam setiap situasi.
  17. Memiliki kemampuan menerima umpan balik negatif sebagai alat untuk perbaikan diri.
  18. Memiliki kesadaran akan ketidakamanan  diri dan harga diri.
  19. Memiliki kemampuan memisahkan perasaan cinta dengan birahi  sesaat.
  20. Memahami bahwa komunikasi terbuka adalah kunci kemajuan

Nah demikian pembahasan kita mengenai Kedewasaan. Yang pasti kedewasaan itu perlu kita miliki sebagai seorang manusia agar bisa menjalani hidup dengan baik. Secara umum bahwa kedewasaan itu lebih terkait kepada sikap kita dalam menghadapi sesuatu baik itu berupa manusia ataupun permasalahan.

 

 

 

 

Dan bahkan sebelum kita terlahir, takdir itu sudah tertulis.

Segala sesuatu itu sudah tertulis. Sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu pasti akan engkau dapatkan. Pun sesuatu yang Allah tetapkan bukan untukmu pasti juga tidak akan engkau dapatkan bagaimanapun engkau berusaha sekuat tenaga. Allah sudah merancang apa yang terbaik bagi kita. Apapun itu, entah itu menyenangkan atau justru sebaliknya hal yang membuat kita berdarah-darah. Memang kita sebagai manusia tiada mengetahui sedikitpun tentang apa yang tertulis dalam buku takdir kita. Untuk itulah kita mengupayakan suatu usaha. Kita mesti berusaha yang terbaik untuk kehidupan kita. Tentu saja terbaik menurut kita. Kita upayakan sebisa mungkin sebagai usaha kita sebagai manusia.

Nah soal hasilnya serahkan kepada Allah. Karena Allah tahu apa yang terbaik bagi kita. Ingat…, bisa jadi sesuatu itu baik menurut pandangan kita, tetapi ternyata dalam Ilmu Allah sesuatu yang kita pandang baik itu ternyata dapat menghancurkan kita. Maka karena kasih sayang Allah, kita dihindarkan dari hal tersebut. Lalu Allah ganti dengan yang lebih baik bagi kehidupan kita.

Memang perlu kita akui bahwa tidak mudah menerima sesuatu yang berbeda dari apa yang kita inginkan. Perlu kekuatan iman untuk bisa memahaminya, untuk bisa menerimanya dengan ikhlas dan mengambil hikmah, rahasia dan pelajaran dibalik hal tersebut. Sedih, kecewa, mungkin marah, itu hal yang wajar dalam hal kita sebagai manusia. Kitapun sesekali membutuhkan perasaan-perasaan itu. Kita butuh sedih agar kita mensyukuri kebahagiaan. Kita perlu kecewa agar kita berusaha untuk lebih baik. Tetapi yang perlu engkau ingat bahwa seberapapun sedihnya dirimu, sebetapapun kecewanya dirimu, jangan pernah tinggalkan Allah. Justru karena hal-hal itulah engaku seharusnya lebih mendekat kepada-Nya.

Ketika engkau bersedih, mohonlah pertolongan Allah. Ketika engkau kecewa, mohonlah kekuatan kepada Allah. Ketika engkau marah, ingatlah selalu Allah. Allah adalah tempat kita bergantung, Allah adalah tempat kita meminta. Berdoalah kepada Allah. Karena Allah menjamin bahwa “barangsiapa berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan.” Mungkin sebagian kita malu meminta kepada Allah. Kenapa mesti malu mengadukan segala keluh kesahmu. Mengapa mesti berat untuk mengakui segala kelemahan diri. Memang Allah Maha Tahu apa yang ada dalam hati kita. Bahkan apa yang masih terbetik dalam hati. Dan Allah-pun tahu apa yang kita inginkan. Tapi marilah kita sadari bahwa Allah sayang kepada hamba yang memohon pertolongan-Nya. Allah senang kepada hamba yang mengingat-Nya. Tidakkah kita akan bahagia jika Allah sayang kepada kita? Tidakkah kita senang jika Allah sayang kepada kita?

Kembali kepada bahwa semua yang terjadi kepada kita adalah takdir Allah, dan takdir Allah adalah yang terbaik bagi kita. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berusaha, selebihnya hak Allah untuk memberikan sekehendak-Nya. Syukurilah jika memang apa yang Allah berikan sesuai keinginan kita teriring doa agar senantiasa berlimpah berkah di dalamnya. Pun terimalah dengan ikhlas jika apa yang diberikan Allah bukanlah seperti apa yang kita minta teriring doa agar diberikan ganti yang lebih baik dan lebih berkah. Jangan lupa untuk senantiasa meminta keberkahan dalam segala hal. Karena dengan keberkahan maka hidup kita akan bahagia. Jika ada orang yang akan mendoakan kita mintalah mendoakan untuk keberkahan. Barakallah. Pun ketika kita mendoakan orang lain maka ucapan Barakallah sudah mencukupinya.

Dan akhirnya saya berharap bahwa kini engkau sudah menemukan setitik cahaya. Yang akan menuntunmu menuju sumber cahaya. Yang akan mengantarkanmu kepada kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup. Saudaraku ingatlah Allah di setiap saat, hingga Allah-pun akan mengingatmu dalam segala keadaanmu. Mari kita senantiasa berdoa agar kita diangkat derajatnya oleh Allah. Semoga Allah meringankan kita dalam setiap tahap ujian kehidupan dan lulus dengan hasil yang memuaskan yaitu hamba yang beriman. Saudaraku inilah nasehatku kepadamu. Barakallah… :)

*nasehat seorang sahabat

Bonus Sampingan Profesi Instruktur Latihan Kerja

Berprofesi sebagai instruktur latihan kerja memang sesuatu yang mengasyikkan. Apalagi kalau mendapat bonus sampingan. Oya sebelumnya saya menjelaskan dulu apa itu instruktur latihan kerja. Mungkin banyak diantara kita ketika mendengar kata instruktur akan langsung tertuju kepada sebuah profesi sebagai pemandu senam massal. Ya saya pun dulu ketika mengenalkan diri sebagai seorang instruktur biasanya lawan bicara akan tanya. “ Instruktur Senam?”. Seakan tak percaya jika melihat penampilan saya yang sama sekali tidak melambai, tidak bergaya sok kenes dan suara yang mendayu-dayu bagi seorang lelaki. Ya jelas bukan instrukutr senam lah… Tapi saya itu instruktur latihan kerja yaitu yang mengajar kursus di BLK (balai latihan kerja). Ada lagi yang bertanya. “ Itu semacam LPK ya? “. Iya semacam LPK tapi miliknya pemerintah. “ Kalau pelatihan bayar berapa?”. Gratis lagi kursus di BLK, malah dapat sesuatu kok entah itu snack atau modal usaha. Dan masih banyak pertanyaan lain yang kalau ditulis di sini malah gak jadi bahas bonus sampingannya.

Menjadi instruktur bagi saya adalah takdir. Saya tidak berani mengatakan itu pilihan hidup saya karena nyatanya ini lebih kepada takdir dibanding sesuatu yang memang sengaja saya pilih. Tugas utama instruktur tentu saja mengajar siswa pelatihan sesuai bidang masing-masing. Saya sendiri mengajar bidang Teknisi Komputer dan Operator Komputer. Selain juga berminat di bidang rewinding, teknik refrigerasi domestik dan jahit. Jadi saya kira jelas sekali apa yang saya ajarkan. Melatih memang ada suka dan dukanya sebagaimana profesi yang lain. Tapi di sini saya akan paparkan saja sukanya. Daripada terkesan mengeluh.

Dengan paket pelatihan yang hanya sekitar 1,5 bulan maka tiap tahun setidaknya bisa mengajar setidaknya 6 kelas. Awal tahun dan akhir tahun biasanya belum dan sudah tidak ada pelatihan. Secara otomatis saya akan mengenal setidaknya 6 x 16 orang setiap tahunnya. Belum lagi itu siswa di luar kejuruan saya. Nah yang saya suka dari mengenal banyak orang adalah menambah teman dan jaringan. Kan lumayan itu. Apalagi tersebar di seluruh kabupaten Sleman. Setidaknya ketika nanti kebetulan bepergian ke Prambanan maka ada teman di sana. Pergi ke Berbah, Moyudan, Minggir dan kecamatan-kecamatan lain di Sleman maka ada teman di sana yang mana jika terjadi sesuatu bisa dimintai tolong. Ya bagaimanapun kalau sudah tidak diajar kan jadinya teman. Bukan siswa lagi. Dan inilah keuntungan dari profesi yang berhubungan dengan masyarakat banyak.

Keuntungan kedua dan ini sih tidak bisa diharapkan ada. Artinya kalau pas beruntung ya dapat kalaupun tidak juga tidak apa-apa. Apa itu? Kenang-kenangan. Sudah beberapa kali saya mendapat kenang-kenangan dari siswa pelatihan. Biasanya di akhir pelatihan mereka memberikan sesuatu kepada instrukturnya. Katanya sih sekedar kenang-kenangan, tapi ya tetap perlu disyukuri. Tapi tentu itu tidak usah diharapkan karena tidak semua kelas begitu. Hanya kadang-kadang saja. Yang belum lama ini saya mendapat sarung plus sajadah. Yang dulu-dulu pernah dapat mug hadiah ulangtahun, baju batik, jam dinding dan yang lainnya. Dan instrukutr juga tidak pernah meminta sehingga ketika mendapat barang-barang tersebut ya disyukuri saja. Dan inilah yang saya sebut bonus sampingan tadi. Melalui blog ini saya mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang pernah menjadi siswa saya yang telah memberikan kenang-kenangan. Semoga mendapat ganti yang lebih baik. Sekian dan terimakasih.

Selalu Ada Jalan Untuk Berbagi

Mungkin diantara kita banyak yang setuju jika bulan Ramadhan seringnya makanan di rumah kita berlimpah. Kok bisa? Padahal kita sudah mengurangi makan (setidaknya sudah diskon makan siang) dan seharusnya makanan juga berkurang karena penyediaannya hanya untuk buka puasa dan sahur saja. Tetapi kenyataannya malah sering makanan kita berlimpah. Kalau saya sih ambil hikmahnya saja bahwa itu berkah Ramadhan. Adaaa saja cara rejeki berupa makanan itu berlimpah. Entah karena ada acara takjilan, dikasih oleh tetangga, diberi oleh orang tua, dibawakan oleh teman. Pokoknya adaaa saja caranya.

Seperti kemarin, makanan di rumah kami berlimpah. Jangan bayangkan sampai tersisa banyak sekali sehingga bisa dibagikan orang sekampung. Tetapi bagi ukuran kami berdua ditambah satu bidadari kecil kiranya makanan sejumlah itu akan sangat merepotkan kalau harus dihabiskan dalam sehari. Kalau dimakan untuk dua hari saya rasa juga sudah tidak layak, sudah basi. Sempat terpikir dalam benak saya bagaimana caranya memanfaatkan makanan tersebut? Sementara kalau dimakan sampai besok sudah tidak layak makan.

Eh, ternyata adaa saja jalan untuk menyedekahkan makanan tersebut. Pagi tadi bundanya Aisha melihat ibu-ibu pemulung dengan dua orang anaknya yang sedang memungut gelas mineral bekas di masjid. Nah bundanya Aisha melihat kedua anaknya berebut minuman sisa. Ya minuman sisa anak-anak yang tidak habis diminum atau memang sengaja tidak dihabiskan. Padahal itukan minuman takjil kemarin sore. Melihat hal itu buru-buru ia masuk dan langsung menanyakan kepada saya.

“ Jelly drink kemarin mana mas? “

“ Tuh dibalik kardus.. mau buat apa e? “

“ Itu ada ibu-ibu pemulung yang anaknya berebut minuman sisa takjilan… “

Mendengar kata ‘berebut’ dan ‘minuman sisa’ hati saya sempat tergetar. Deg… ternyata ada juga ya yang menghargai minuman sisa atau makanan sisa. Sementara kita sering membuang-buang makanan karena merasa kekenyangan. Padahal di luar sana banyak yang masih kelaparan dan makanan sisapun menjadi penawarnya. Masya Allah…. Saya pun menyempatkan diri menengok dari balik jendela dan benar saja. Meskipun tidak ribut tetapi memang terlihat kedua anak tersebut menginginkan satu hal yang sama. Lalu terlintas dalam benak saya untuk memberikan juga makanan, nasi dan lauk lele yang masih layak makan. Eh belum sempat ngomong, bundanya Aisha sudah duluan mengambil nasi dan lele tersebut. Alhamdulillah.. ternyata niat saya sudah keduluan. Senangnya bisa berbagi. Ada perasaan lega ketika bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain, meski mungkin sesuatu itu tidak terlalu istimewa bagi kita.

Sebenarnya ketika Allah melebihkan sesuatu pada kita sesungguhnya ada jalan bagi kita untuk memberikan nilai tambah terhadap apa yang kita miliki. Yaitu dengan berbagi. Pasti ada cara agar kita bisa berbagi. Hanya saja terkadang kita melewatkan banyak hal sehingga apa yang kita miliki musnah dengan sia-sia. Makanan yang tidak kita sedekahkan akan menjadi basi lalu dibuang. Pakaian yang sudah tidak terpakai hanya akan menambah tumpukan kain usang dan mungkin menjadi tempat bernaungnya keluarga tikus. Uang yang kita miliki akan habis begitu saja tanpa menjadi simpanan di hari akhir nanti. Yuk selama kita masih bisa berbagi, maka berbagilah dengan sesama. Insya Allah akan semakin berkah dan semakin indah.

Menyoroti Quick Count: Pilpres Usai, Pertarungan Jalan Terus..

Pilpres telah usai. Tanggal 09 Juli kemarin merupakan penentuan rakyat dalam memilih pemimpin untuk 5 tahun ke depan. Dalam hemat saya melalui pemberitaan di televisi, untuk sementara bisa dikatakan pesta demokrasi 5 tahunan tersebut berjalan dengan lancar. Tapi seiring berjalannya waktu akan ada banyak temuan-temuan yang mengindikasikan bahwa pilpres tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan. Temuan yang paling banyak terjadi diprediksikan adalah bentuk kecurangan-kecurangan dan money politics atau politik uang. Kita tunggu saja beritanya di media-media nasional.

Semenjak 10 tahun lalu, hadirnya quick count atau hitung cepat menjadi referensi tersendiri dalam dunia perpolitikan nasional. Ketika sebuah proses pemilihan selesai maka akan diikuti oleh hasil quick count yang memprediksi hasil perhitungan suara nyata. Dan hasil quick count ini bukanlah hasil dari peramalan tanpa ada pertanggungjawaban ilmiahnya. Hasil quick count adalah hasil analisa dan perhitungan secara ilmiah sehingga bisa dijadikan rujukan. Dan pada banyak kasus hasil hitung quick count mendekati hasil hitung nyata. Kalaupun ada selisih itu dalam kisaran di bawah 4%. Jadi quick count sering dijadikan prediksi kemenangan. Tak jarang pasangan yang unggul dalam quick count segera mendeklarasikan kemenangannya. Hal ini karena selama ini hasil quick count bisa dijadikan rujukan.

Berbeda dengan proses pemilihan sebelumnya dan hasil quick count yang menyertainya, pilpres kali ini menghadirkan nuansa berbeda. Jika dalam pil-pil yang sebelumnya hasil quick count antar lembaga survey menghasilkan satu pemahaman tunggal yang artinya merujuk ke satu pasangan pemenang walau dengan angka yang berbeda-beda. Tetapi hasil quick count pilpres kali ini menghadirkan hasil yang berbeda. Perbedaan itu semakin mencolok karena menghadirkan pemenang yang berbeda. Dan ini terkait lagi dengan media (tv nasional) pendukung kedua pasangan. TV yang mendukung pasangan no 1 menayangkan bahwa hasil quick count menunjukkan pasangan no 1 menang. Sementara TV pendukung no 2 menayangkan hasil quick count menunjukkan pasangan no 2 menang. Dan ini sangat berpotensi menimbulkan kerawanan politik dan keamanan.

Dengan berakhirnya pilpres dalam artian proses pencoblosan selesai, saya kira tadinya segala sesuatu akan kembali ke kondisi normal. Artinya kita tinggal menunggu hasilnya saja. Tetapi ternyata keliru. Bahkan pilpres usai , pertarungan masih jalan terus. Dan setiap kubu mengklaim bahwa dirinya yang menang. Dengan persaingan yang ketat perolehan suara hasil quick count maka margin error yang kecil-pun seakan tidak menjadi jaminan ke akuratan untuk menentukan siapa pemenangnya. Kedua kubu masih berpotensi untuk menang juga berpotensi untuk kalah. Untuk itu yang perlu kita lakukan adalah menunggu hasil resmi dari KPU. Untuk mengurangi potensi konflik ada baiknya setiap kubu menahan diri untuk tidak larut dalam euforia kemenangan hasil quick count. Tetap menunggu hasil resmi dan harus siap menerima apapun hasilnya. Kalau menang jangan jumawa karena ini bukanlah akhir dari pesta demokrasi 5 tahunan. Justru ini menjadi awal mula perjuangan untuk mensejahterakan rakyat, melaksanakan amanah yang dimandatkan. Sementara pihak yang kalah harus legowo karena bagaimanapun rakyat sudah menentukan. Dan jika janji-janji kampanye untuk mensejahterakan rakyat masih dipegang maka tugas itupun bisa diwujudkan dalam bentuk lain tanpa harus menjadi presiden. Kalau orang jawa bilang Menang Ojo Umuk, Kalah Ojo Ngamuk. Mari kita tunggu hasil resmi dari KPU.