Laki-Laki Juga Butuh Perhatian Lho…

Dalam sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan (suami-istri *) , perhatian menjadi salah satu hal yang mesti ada. Ada yang butuh perhatian dan ada yang memberi perhatian. Tetapi agaknya jamak dalam masyarakat kita bahwa rumus yang berlaku yaitu laki-laki yang memberi perhatian dan perempuan yang perlu diberi perhatian. Seakan-akan laki-laki dibebani lebih berat dengan kewajiban memberi perhatian kepada perempuan. Kita mungkin sering mendengar umpatan semacam “ dasar laki-laki tak perhatian !!!” . Tapi jarang kita mendengar ucapan serupa tetapi dengan objek pelakunya perempuan. Bisa jadi hal ini didasari oleh kenyataan bahwa perempuan lebih sering mengungkapkan uneg-unegnya mengenai ketidak perhatian seorang laki-laki kepadanya. Entah itu secara langsung atau kepada teman gosipnya. Sementara laki-laki kadang lebih memilih tutup mulut dan jarang mengungkapkan bahwa dia butuh perhatian. Lalu apakah diam itu berarti tidak butuh?

Dalam suatu hubungan, kata ‘saling’ perlu mendapat porsi yang lebih untuk dipraktekkan bersama. Artinya ketika salah satu butuh, maka pihak lainnya juga butuh. Ketika perempuan butuh perhatian, maka laki-laki pun sebenarnya butuh perhatian juga. Laki-laki butuh untuk diperhatikan, butuh untuk dipahami suasana hatinya sebagaimana perempuan. Tentu kadarnya tidak sama mengingat, katanya, wanita itu lebih mengedepankan perasaan daripada logika, sementara laki-laki ,katanya pula, lebih unggul dalam hal logika daripada perasaan. Tetapi kan sama-sama punya perasaan. Berarti sama-sama perlu diperhatikan dan dipahami suasana hatinya.

Laki-laki itu memang lebih banyak -terkesan- kuat. Mungkin karena hal inilah yang menjadikan perempuan menganggap bahwa laki-laki itu tegar dan tidak butuh perhatian. Sementara itu justru harus memberikan perhatian yang cukup (banyak?) kepada perempuan. Memang sih laki-laki itu tidak selalu peduli dengan perhatian, karena lebih banyak kecenderungannya kepada sikap cuek. Bahkan ada laki-laki yang tidak suka jika diberi perhatian yang berlebihan. Tapiiiii sekali lagi hal itu bukan berarti laki-laki tidak butuh perhatian. Ada masa dimana seorang laki-laki itu butuh perhatian. Kapan itu?

Terlalu sulit untuk memastikan kapan seorang laki-laki membutuhkan perhatian. Nah ini jadi tantangan bagi perempuan untuk bisa memahami suaminya. So so lah…

* mohon maaf hubungan di luarpernikahan tidak saya maksudkan di sini

Gampangnya Pajak Tahunan Kendaraan Bermotor di SAMSAT Sleman

Kamis 18 September 2014 saya membayar pajak kendaraan bermotor di SAMSAT Sleman. Kebetulan kuliah masuk sehabis dhuhur. Jadi ada waktu setidaknya 4 jam untuk mengurus perpanjangan pajak kendaraan bermotor. Awalnya saya merasa malas untuk secara langsung mengurus sendiri pajak tersebut. Selain karena ada tugas kuliah yang belum kelar, belum lagi tugas lain yang mesti selesai Jumat besoknya, juga karena sudah terbayang betapa susahnya mengurus sendiri, betapa padatnya orang di kantor SAMSAT dan lain-lain. Tetapi karena dorongan (paksaan? ) dari bundanya Aisha walhasil pagi itu saya tekadkan untuk mengurus sendiri perpanjangan pajak tahunan. Dan ternyata…. Tak sesulit yang dibayangkan. So Simple…

Pagi itu 07.50 sampai di kantor SAMSAT lengkap dengan membawa fotokopi KTP, BPKB dan STNK. Tentu saja yang asli juga dibawa. Langsung mendaftar di loket pendaftaran mendapat urutan 045. Sepagi itu sudah dapat antrian sebanyak itu. Berarti yang lain lebih pagi datangnya. Nah jadi pembelajaran buat pajak tahun depan untuk datang lebih pagi. Di loket ini tinggal serahkan semua berkas baik fotokopi maupun aslinya. Jangan khawatir nanti bakal kembali lagi kok. Yang langsung dikembalikan di loket itu juga adalah BPKB. Sementara KTP dan STNK ikut proses selanjutnya. Ada yang kurang sebenarnya, bapak polisinya tidak ramah, cenderung cuek. Mungkin memang sifatnya atau belum mendapat pelajaran pelayanan prima kali ya.. hehehe.

Tahap selanjutnya menunggu dipanggil untuk membayar di loket bank ( loket 4 ). Jam 08.25 Panggilan itupun datang. Tinggal bayar lalu tunggu panggilan selanjutnya yaitu di loket penyerahan STNK. Ada baiknya bayar dengan uang pas biar lebih cepat. Tapi kalaupun tidak juga nanti bakal diberi kembalian kok.

Tepat 26 menit kemudian panggilan dari loket penyerahan STNK terdengar. Dah langsung saja saya ambil. Cek dokumen: STNK lama, STNK baru dan KTP. Sip lengkap sudah. Saatnya cabut. Di depan pintu sudah berjejer penjual plastik STNK. Beli satu seharga 1000 rupiah. Alhamdulillah STNK sudah diperpanjang pajaknya. Tak perlu waktu sampai berjam-jam. Satu jam saja BISA. Artinya masih dua kali dari waktu ideal yang dicanangkan pihak SAMSAT yaitu pelayanan pajak tahunan 30 menit. Tapi itu sudah jauh lebih bagus. Lima tahun yang lalu saya butuh waktu hampir 4 kali lipatnya untuk melakukan hal yang sama. Artinya ada peningkatan yang cukup signifikan dalam pelayanan masyarakat. Cuma ya…itu saja, pelayanan primanya ditingkatkan lagi.

Secara simpelnya alur perpanjangan pajak tahunan STNK adalah
Loket Pendaftaran => tunggu => Loket Pembayaran => tunggu => Loket Penyerahan STNK.

Nah gampang kan? Yuk kita semangat untuk membayar pajak kendaraan tepat waktu dan lakukan sendiri. Hindari calo, kecuali terpaksa misal tidak ada KTP atau syarat yang lain.

Pahamilah doa untuk kedua orangtua sebelum engkau mengajarkan pada anakmu.

Menjadi orangtua itu berjuta tugasnya. Mulai dari merawat semenjak lahir, mendidik sedari kecil dan menjadi kawan serta penasehat sepanjang hidup anak. Salah satu yang paling gampang dijumpai adalah mengajarkan anak untuk berdoa. Doa sebelum makan, doa sesuadah makan dan masih banyak yang lain. Tak lupa doa untuk kedua orangtua juga diajarkan. Tentu kita berharap bahwa ketika si anak yang suci tanpa dosa mendoakan maka akan mudah dikabulkan oleh Allah.

Tentu kita hafal doa untuk kedua orangtua kita bukan? Doa yang juga akan diajarkan kepada anak-anak kita. Doa yang artinya kurang lebih demikian “ Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil “ Saya yakin bahwa banyak diantara kita berfokus kepada bagian pertama doa tersebut yaitu bagian memohon ampunan dosa. Tetapi apakah kita juga memperhatikan bagian kedua dari doa tersebut?

Beberapa lama ini saya sempat merenung, dan entah darimana sesuatu yang saya rasa mencerahkan datang begitu saja ke dalam alam pikiranku. Berpikir tentang bagian kedua dari doa untuk kedua orangtua tersebut. Tentu saya berpikir dengan saya berposisi sebagai orangtua. Bisakah kita membedakan antara bagian pertama dan kedua dalam doa tersebut?

Bagian pertama “Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku… “

Bagian kedua “…dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil “

Bagian pertama tidak mensyaratkan sesuatu. Artinya doa agar dosa kedua orangtua diampuni bagaimanapun keadaannya. Tapi lihatlah di bagian kedua. Ada syarat atau permintaan agar dilakukan hal serupa yaitu agar Allah mengasihi (memperlakukan) mereka (orangtua) sebagaimana mereka mengasihi (memperlakukan) kita (anak) sewaktu kecil.

Dari sini ada sesuatu yang membuat dahi berkenyit. Ada syarat dalam doa tersebut. Ada hal yang jika kita lakukan kepada anak-anak maka hal serupa jugalah yang akan Allah lakukan pada kita. Dari sini saya mengambil suatu hal yang berharga yaitu bahwa bila kita ingin Allah mengasihi kita, maka kasihilah anak-anak dengan sebaik-baiknya, perlakukan dengan seelok-eloknya, didiklah dengan didikan yang bagus. Tidak memperlakukan anak semena-mena, ringan tangan kepada anak, suka membentak, melakukan kekerasan fisik dan verbal. Kesemuanya terkait bahwa apa yang kita lakukan kepada anak, maka itulah yang akan Allah lakukan pada kita.

Maka dari itu mari kita mulai untuk berlaku baik kepada anak. Sayangilah mereka, didiklah mereka dengan benar. Semoga dengan lantaran anak hidup kita akan lebih bahagia. Anak yang bisa menjadi penyejuk mata, bukan penguras harta. Anak bisa menjadi penjaga di masa tua, bukan anak yang menunggu warisan dibagi rata. Anak yang bisa membuat bangga, bukan anak yang menyebabkan cela keluarga.

Orang tua macam apa yang mendidik anaknya seperti ini?

Teringat sebuah kejadian di pagi hari. Tatkala sedang berjalan-jalan dengan si kecil di open space kompleks perumahan. Seorang gadis usia SMP dengan agak terburu-buru berpamitan kepada bapaknya. Cium tangan lalu si anak cium pipi kanan dan kiri bapaknya. Lengkap dua-duanya tidak hanya sebelah saja. Si bapak cukup diam saja. Setelah itu si gadis melajukan motornya. (Anak SMP sekarang ke sekolah sudah naik motor. Meski dilarang parkir di sekolah, tak kurang akal rumah warga dekat sekolah pun menjadi lahan parkir. Simbiosis mutualisme. Siswa butuh praktisnya, si empunya rumah butuh duitnya. Klop tiada keterpaksaan). Ada sesuatu yang mengusik pikiranku, mencoba melakukan suatu penerawangan tentang kehidupan keluarga mereka. Jaman sekarang tidak melihat anak bersikap cuek kepada orangtuanya saja sudah lumayan bagus. Lha ini malah menunjukkan suatu sikap yang menurut saya sangat langka dan bagi saya pribadi pengen anakku kelak bisa seperti itu. Sebuah penghormatan sekaligus tanda sayang seorang anak kepada bapaknya (lebih luas kepada kedua orangtuanya). Memang saya akui bahwa kehidupan keluarga beliau terbilang religius. Mungkinkah ada pengaruh rumah tangga yang religius terhadap perilaku anak?

Di kompleks perumahan yang sama dengan contoh yang berbeda. Ada satu keluarga dimana sang bapak rajin ke masjid, kemudian anak-anak laki-lakinya pun juga demikian. Tiga atau empat anaknya jika pas berada di rumah (tidak bepergian) pasti ikut berjamaahn di masjid. Sebuah kesalutan tersendiri ketika melihat sebuah keluarga yang anggota laki-lakinya rajin ke masjid. Tidak sampai di situ saja kekaguman saya. Setiap anak selesai berdoa kemudian akan meninggalkan masjid maka tak lupa mendekati sang bapak kemudian meminta bersalaman dan mencium tangan bapaknya. Perlu dicatat bahwa ini dilakukan oleh anak-anak laki-laki sang bapak yang sedang beranjak remaja ( yang besar SMA, yang kedua dan ketiga masih SMP dan adiknya perempuan yang paling bontot masih sekitar 4 tahun) . Jaman sekarang mana umum anak laki-laki usia remaja bisa menghormati orangtuanya sedemikian rupa. Yang sering dijumpai adalah anak-anak remaja yang menganggap bapaknya seperti teman asing. Bicara jika hanya perlu dan seringnya meminta sesuatu yang kalau tidak dituruti berujung ngambek. Masih mending ngambek, yang lain malah minggat dari rumah. Kembali saya mencoba menerawang seperti apa sih pola asuh kedua orangtuanya? Saya pun perlu menyampaikan juga bahwa keluarga mereka termasuk yang religius. Sholat berjamaah rutin, ada pengajian selalu ikut. Semakin bertanya-tanya, mungkinkah ada kaitannya antara keluarga yang religius dengan perilaku anak?

Terlalu dini jika menyimpulkan bahwa keluarga yang religius-lah yang bisa menghasilkan anak-anak seperti yang saya sampaikan di atas. Butuh penelitian lebih lanjut. Tapi mohon ijinkan saya membuat hipotesis sebelum penelitian secara intensif itu diadakan. Bagaimanapun dari apa yang saya alami bahwa kondisi keluarga yang religius akan berpengaruh positif terhadap perilaku si anak. Ketika orangtua begitu dekat dengan Tuhannya maka setiap doa yang mengalir untuk anak-anaknya adalah doa yang mustajab. Ketika orangtua memohon kebaikan bagi keluarga maka Allah pun berkenan mengabulkannya. Memang faktor yang lain pun berperan. Latar belakang keluarga orangtua, tingkat pendidikan dan lain-lain juga memiliki peran yang penting. Tetapi saya dalam kasus ini lebih melihat kepada tingkat religiusitas keluarga terhadap perilaku anak. Dan hipotesis saya seperi yang saya sampaikan di awal paragraf ini.

Jika tolok ukurnya adalah religiusitas sebagai salah satu bagian dari cara pola asuh anak yang efektif, maka tak ada alasan lagi untuk bagaimana kita sebagai orangtua mulai membiasakan hidup penuh dengan nuansa religi. Kedekatan dengan Allah akan membentuk semacam sandaran yang kokoh serta memberi harapan nan nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa mendidik anak butuh kesabaran, butuh pengorbanan, butuh perjuangan. Dan kita sebagai manusia tak jarang merasa kewalahan berhadapan dengan kesabaran, merasa pengorbanannya tidak dihiraukan dan perjuangannya dilupakan. Di saat itulah kita butuh sandaran yang kuat, butuh untuk tetap memiliki harapan. Dan hanya dengan dekat dengan Allah-lah kita merasa kuat, tidak merasa sia-sia karena ada Allah yang senantiasa membimbing hidup kita. Selalu ada semangat bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia. Ada perhitungan superduper teliti yang akan mencatatnya. Yup hanya dengan dekat Allah-lah kita akan menjadi manusia yang siap dan semangat dalam menjalani hidup. Mari kita mulai menanamkan bibit-bibit religiusitas dalam kehidupan keluarga kita.

Anak adalah aset. Salah dalam mengelola aset ini maka hidup kita akan merugi.

Beda Tugas Belajar dan Ijin Belajar

Bagi teman-teman yang berprofesi sebagai PNS, mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi butuh suatu perjuangan. Selain biaya, ijin dari atasan dan instansi menjadi hal yang tidak boleh dilupakan. Bahkan bagi penerima beasiswa sekalipun proses ijin tetap harus dilakukan. Kenapa harus melalui proses ijin? Karena dengan adanya ijin dari instansi maka proses pendidikan dinyatakan legal dan nantinya gelar bisa melekat dalam setiap urusan yang berkaitan dengan kedinasan. Misalnya penulisan nama dalam tim, surat tugas, kenaikan pangkat dan lain-lain. Tanpa ijin, maka gelar akademik yang dimiliki tidak boleh dilekatkan dalam hal yang berkaitan dengan kedinasan.

Sebagai contoh Abdullah, S.Si berprofesi sebagai PNS kemudian dia menempuh pendidikan S2 dan mendapat gelar M.Eng. Maka jika dalam menempuh pendidikan S2 dia telah mendapat ijin instansi maka dalam kedinasan boleh ditulis nama Abdullah, S.Si, M.Eng. Tetapi jika tanpa ijin maka nama Abdullah, S.Si, M.Eng tidak boleh digunakan dalam urusan kedinasan. Nama dan gelar S2 tersebut masih boleh digunakan tetapi di luar urusan kedinasan. Selain itu jika tanpa ijin maka kegiatan belajar selama S2 tidak boleh mengganggu atau mengambil jam kerja sehingga hanya bisa dilakukan perkuliahan sore-malam atau sabtu-minggu. Dan ini pasti akan sangat melelahkan di samping juga perguruan tinggi sekarang tidak lagi menyelenggarakan perkuliahan sabtu-minggu. Yang sore-malam juga sudah jarang.

Nah dalam urusan perijinan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ada dua macam istilah yang kadang bingung memahaminya. Yaitu Tugas Belajar dan Ijin Belajar. Apa bedanya?

Jika kita mengajukan Tugas Belajar dan jika surat ijin itu turun maka secara otomatis kita dibebaskan dari seluruh kewajiban/ tugas kedinasan. Secara penuh kita diijinkan untuk fokus dalam menempuh pendidikan. Sehingga tidak ada lagi yang namanya beban mengerjakan tugas kantor atau mengajar bagi jabatan guru dan fungsional teknis. Namun demikian kita masih berhak mendapat gaji bulanan sebesar gaji pokok (tentu saja jika ada potongan bank juga ikut terpotong..hehehe..) sementara untuk tunjangan jabatan sementara dihentikan. Tugas Belajar ini biasanya diperlukan bagi mereka yang kuliah di luar kota maupun luar negeri dimana tidak memungkinkan untuk tetap tinggal di wilayah kedinasan. Atau juga kadang meski di dalam kota tetapi diminta oleh pihak Perguruan Tinggi untuk melampirkan surat Tugas Belajar.

Nah berbeda halnya dengan Ijin Belajar. Dengan surat Ijin Belajar maka sebenarnya tugas kedinasan masih melekat dan wajib dilaksanakan. Tetapi dengan catatan bila waktunya kuliah maka PNS bersangkutan diberikan ijin untuk meninggalkan tugas kedinasan. Sehingga Ijin Belajar hanya memungkinkan bagi PNS yang menjalani kuliah di kota dimana dia tinggal atau masih di wilayah yang relatif dekat dengan tempat dinas. Keuntungan surat Ijin Belajar adalah segala hak diterima secara penuh termasuk gaji dan tunjangan. Tetapi agaknya berat bagi penerima Ijin Belajar jika beban kuliah banyak sementara tugas dinas juga menumpuk.

Nah itu sekelumit tentang Tugas Belajar dan Ijin Belajar. Semoga Bermanfaat. Admin siap menerima tambahan informasi dan koreksi jika ada kesalahan. :)

Sebuah Episode Bernama : Kuliah (Lagi)

Episode kehidupan manusia memang tidak bisa ditebak. Bahkan sesuatu yang terencana pun belum tentu terlaksana seperti apa yang direncanakan. Tetapi apa yang kemudian terjadi tak jarang membuat kita begitu terkejut. Kejutan-kejutan yang memberikan senyum. Namun di lain kesempatan membuat kita seikit kecut.

Salah satu episode yang sekarang saya jalani boleh jadi menjadi salah satu bukti dari pernyataan dalam paragraf pertama tadi. Sebuah mimpi yang menjelma menjadi nyata. Kuliah (lagi). Pernah saya tulis dalam tulisan sebelumnya bahwa saya pernah bermimpi untuk bisa kuliah di Teknik Elektro.Dan alhamdulillah mimpi itu terwujud. Yup, kini sejenak saya tanggalkan status sebagai PNS aktif untuk kemudian memakai baju bernama mahasiswa. Sebuah kejutan yang manis yang Allah anugerahkan di penghujung Ramadhan kemarin.

Menjalani episode baru dengan status baru dan tentu saja harus diiringi oleh semangat baru. Menjadi mahasiswa S2 tentu saja berbeda dengan mahasiswa S1. Apalagi sudah tidak berpredikat freshgraduated. Dengan masa kuliah yang cukup singkat ‘hanya’ 3 semester saja mengharuskan diri untuk berlari. Tak bisa (boleh) bersantai-santai. Setiap masa sangat berharga. Secara satu semester saja bayar 10 juta. Berarti setiap keterlambatan harus dibayar. Bahkan berstatus mahasiswa beasiswa juga tidak boleh bersantai karena kalau telat tentu saja beasiswa sudah tidak didapat dan wajib membayar sendiri. Selain juga wujud tanggungjawab kepada pemberi beasiswa untuk menyelesaikan tepat waktu.

Berlari dan berlari. Bagaimanapun harus ditempuh. Tidak boleh tidak.Tapi apakah berlari ‘hanya’ untuk mengejar target 3 semester selesai? Bisa iya bisa juga tidak. Tetapi saya memilih tidak. Tidak boleh waktu yang demikian luas (dalam rentang waktu kesempatan) terkuras habis untuk mengejar 3 semester lulus. Mohon untuk tidak salah persepsi. Tentu saja target 3 semester lulus harus tercapai tetapi tidak hanya terfokus pada satu tujuan tersebut. Masih ada lagi target-target yang juga bisa dicapai secara berdampingan untuk meningkatkan kualitas diri.

Menjadi mahasiswa S2 berarti secara kualitas pemikiran ‘jelas’ harus lebih baik. Nah saya ingin tidak ‘hanya’ sebatas itu. Tetapi ingin juga kepribadian meningkat, keimanan dan ketakwaan semakin mantap, ibadah semakin baik, hafalan semakin banyak, pendapatan bertambah dan masih banyak lainnya. Dan waktu yang 3 semester ini wajib dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga bisa dan insya Allah yakin bisa.

Kok kembaliannya PERMEN? Gimana kalau saya beli juga pakai PERMEN?

Kemarin sore saya membeli barang di sebuah toko seharga Rp. 43.200,-. Saya membayar dengan uang Rp.50.000,-. Seharusnya kembaliannya adalah Rp. 6.800,- tetapi saya menerima 1 lembar limaribuan, 1 lembar seribuan, 1 keping limaratusan, 1 keping duaratusan dan sebuah permen. Tetapi untungnya saya punya 1 keping duaratusan sehingga saya tidak jadi menerima permen tersebut, karena kembaliannya jadi pas Rp.7000,-. Tetapi di lain waktu sebelumnya saya akhirnya terpaksa harus menerima kembalian berupa permen tersebut. Yup kembalian dengan sebuah permen. Bukan sekali ini saja saya menjumpai kondisi seperti itu di toko yang sama. Dan juga bukan sekali ini saja saya menjumpai hal ini terjadi, tetapi juga di toko-toko yang lain. Kembalian dengan permen. Entah apa alasannya, mungkin karena tidak punya receh. Tetapi apapun alasannya seharusnya sebuah toko tidak selayaknya memberikan kembalian dengan permen.

Gampangnya saja permen bukanlah alat tukar yang bisa digunakan untuk membeli kembali. Coba misalkan kita membeli barang seharga Rp.5.200,- dan kita membayar dengan selembar limaribuan dan dua buah permen, kira-kira apakah tokonya mau menerima? Saya yakin 93% tidak mau menerima. Lah kalau tidak mau menerima mengapa memberikan kembalian berupa permen? Di sisi ini saya memandang ada ketidakadilan dan pemaksaan sepihak. Konsumen dipaksa menerima kembalian berupa permen tetapi permen itu tidak bisa digunakan untuk membeli lagi. Seharusnya jika memang memberikan kembalian berupa permen maka ketika permen itu digunakan untuk membeli lagi di toko tersebut juga masih berlaku sehingga konsumen tidak dirugikan. Mungkin sebagian orang tidak mempermasalahkan hal demikian, tetapi dari sekian banyak pembeli pastinya ada yang tidak sreg dengan cara seperti ini. Apalagi permen belum tentu dibutuhkan oleh konsumen yang bersangkutan. Belum lagi kalau uang yang diganti permen sekitar Rp.300- Rp.400. Kan itu bisa digunakan untuk menggenapi pembelian di tempat lain.

Yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah status kehalalan uang yang senilai 100 – 400 tadi. Bisa saja kasirnya bilang “yang 200 permen ya..” tetapi apakah hal itu lantas membuat konsumen pasti rela dan ikhlas? Apakah tidak terpikirkan bahwa kemungkinan konsumen itu menerima karena terpaksa dan ada rasa tidak ikhlas. Bukankah kalau sudah begini sama saja dengan perampokan terselubung, pencurian tidak kentara.

Seharusnya setiap toko menyediakan uang dalam pecahan berapapun sehingga setiap konsumen mendapatkan kembaliannya berupa uang yang mana bisa digunakan untuk membeli di tempat lain. Atau kalau terpaksanya buatlah sebuah kupon kembalian dan kupon itu bisa digunakan lagi untuk membeli di toko yang sama di lain waktu. Sehingga tidak sedikitpun konsumen dipaksa untuk menerima kembalian yang tidak dibutuhkan dan tidak bisa digunakan untuk membeli lagi. Dan bagi kita yang memiliki toko atau usaha dagang lainnya mari kita sediakan uang recehan dan kita tunaikan hak pembeli termasuk memberikan kembalian berupa uang bukan permen.