Maaf, “maaf” pun belum cukup!

Maaf. Betapa sebuah kata yang cukup singkat ini mampu memberi makna yang besar bagi sebuah hubungan antar manusia. Sebuah kata yang termasuk dalam tiga kata yang sulit diucapkan oleh manusia (maaf, tolong dan terima kasih -red). Kata yang mampu membuat kita harus melupakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain kepada kita atau setidaknya tidak mengungkit-ungkit lagi. Ataupun kata yang membuat kita berharap agar orang lain melupakan kesalahan kita.

Maaf, sungguh kata yang mulia, bahkan orang yang minta maaf dan memberi maaf mendapat kebaikan dan pahala, meskipun derajat orang yang memberi maaf lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang meminta maaf. Ini berlaku bila pihak yang meminta maaf benar-benar melakukan kesalahan, bukan sebaliknya. Karena ada kasus dimana sebenarnya orang lain yang berbuat salah kepada kita, namun dia tidak mengakui dan menyadari sehingga dari pihak kitalah yang meminta maaf agar hubungan kembali baik. Bagi saya, barang siapa yang mengawali meminta maaf berarti dia ingin memperbaiki hubungan yang ada, meluruskan segala kesalahan yang ada. Tapi sayangnya di masyarakat kita, siapa yang meminta maaf duluan maka dialah yang dianggap bersalah. Mungkin karena inilah meminta maaf merupakan hal yang paling sulit dilakukan sebagian masyarakat kita.

Dalam banyak hal kata “maaf” mampu untuk meredam amarah pihak-pihak yang berselisih. Namun dalam beberapa hal tertentu kata “maaf” pun tak cukup. Teringat penggalan dialog sebuah drama asia ” kalau minta maaf berguna, buat apa ada polisi..”. Mungkin ada benarnya bahwa kadang “maaf” pun tak mampu menyelesaikan masalah.

Banyak hal terutama berkaitan dengan hati, sulit untuk diselesaikan hanya dengan dengan kata maaf. Semisal, ketika kita menyakiti hati teman kita, atau ketika kita berbuat buruk kepada tetangga atau bagi yang sudah berkeluarga membiarkan anggota keluarganya terlantar. Semua itu tak cukup dengan kata maaf tetapi harus diikuti dengan perubahan sikap. Ketika kita menyakiti hati seorang teman, maka mungkin pada saat kita minta maaf belum tentu langsung dimaafkan. Kadang kita harus menunggu beberapa waktu dan selama itu kita harus menunjukkan itikad baik bahwa kita sudah mulai berubah. Atau ketika tetangga kita merasa dizholimi oleh kelakuan buruk kita, maka maaf pun tak cukup. Kita harus mampu merubah sikap kita dengan nyata. Dalam kehidupan rumah tangga akan lebih jelas lagi. Seorang kepala keluarga yang tidak mau bekerja sehingga anggota keluarganya menjadi kelaparan dan kekurangan, apakah cukup dengan minta maaf maka semuanya akan tercukupi? Tentunya tidak. Lapar tak akan menjadi kenyang dengan kata maaf. Kebutuhan pakaian dan rumah tak akan terpenuhi hanya dengan kata maaf. Memang kesalahan dalam menjalani hidup ini tak semuanya bisa diselesaikan dengan kata maaf, terutama berkaitan dengan orang lain.

Lalu, bila ada orang bertanya “apakah kita tidak boleh berbuat salah?” Maka kita menjawab “memangnya bisa?”. Selama kita mejadi manusia maka kesalahan itu pasti ada. Bahkan kalaupun kita tidak berinteraksi dengan siapapun maka kesalahan terhadap orang lain pun tetap ada. Kok bisa? Bukanlah orang yang baik itu bukanlah semata-mata orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun justru orang yang baik adalah orang yang pernah melakukan kesalahan kemudian menyadarinya, meminta maaf dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Sekali lagi, bahwa dalam beberapa hal tertentu kata maaf” belum cukup menyelesaikan masalah. Perlu kita iringi dengan perubahan sikap. Selamat berjuang saudaraku untuk mengejar maaf itu!!!Sejauh mana kau kejar maaf…Tak perlu malu untuk minta maaf dan jangan terlalu angkuh untuk tidak mau memberi maaf. Semoga Alloh menuntun kita semua meniti jalan-Nya.

Insya Allah lho yaaa……

Di bawah ketapang nan rimbun, yang menghalangi sengat mentari membakar kulit, dua orang bersahabat sedang asyik mengobrol. Sesekali diiringi kicauan burung yang bertengger melepas penat setelah seharian mencari makan.

A:’Pokoknya besok kamu harus dateng lho..Soalnya acara ini penting banget..’
B:’Oke, besok aku usahain dateng…’
A:’Janji lho…’
B:’Insya Allah aku usahain’
A:’Lho kok pake insya Allah, yang pasti dong..’
B:’Iya deh aku usahain dateng, Janji.’
A:’Nah gitu ….baru mantep. Okey besok aku tunggu di tempat acara ya..’

Diantara kita mungkin pernah menjumpai kejadian seperti diatas. Ketika diantara kita mengadakan janji atau memenuhi permintaan, kita biasa menggunakan kata ‘insya Allah’. Namun entah kenapa ucapan ‘insya Allah’ ini oleh sebagian orang dipersepsikan bahwa orang yang diundang sebenarnya malas untuk memenuhi undangan tersebut atau dengan lain kata hanya untuk mempermudah alasan saja. Dan tak jarang pula dari pihak orang yang diundang, ucapan ‘insya Allah’ digunakan ketika dia merasa kemungkinan besar tidak bisa memenuhi undangan itu. Dan kalau dikonfirmasi kenapa tak datang maka biasanya akan menjawab ‘Kan sudah pake insya Allah’.

Sebagian orang belum mengetahui penggunaan ucapan ‘insya Allah’ dan makna serta konsekuensinya. Akhirnya terjadilah hal-hal seperti diatas. Dari arti kata secara mudahnya “insya Allah” berarti ‘Jika Allah menghendaki/mengijinkan’. Disini harus diartikan bahwa pada dasarnya kita ingin memenuhi undangan tersebut. Namun sebagai manusia kita juga sadar bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa. Ketika kita berkeinginan berangkat, mungkin saja ada halangan sehingga tidak bisa hadir. Nah itu berarti Allah belum mengijinkan. Namun bila tidak ada halangan maka kita sebisa mungkin harus menghadiri undangan tersebut.

Sebagian kita mungkin dengan enaknya mengucapkan ‘insya Allah’, padahal niatnya tidak memenuhi janji . Jika kita sadar dengan mengucapkan ‘insya Allah’ maka konsekuensinya jauh lebih besar dari pada kita hanya berucap ‘janji deh’ dan sebagainya. Dengan mengucap ‘insya Allah’ maka berarti kita mempunyai tanggungjawab yang lebih besar kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tapi jangan lantas dalam berjanji kita tidak mengucapkan ‘insya Allah’ karena bagaimanapun kita dituntunkan mengucap ‘insya Allah’ bila berjanji. Bahkan Rasulullah SAW pun ditegur oleh Allah ketika beliau berjanji memberi jawaban atas sebuah pertanyaan sahabat tanpa mengucap ‘insya Allah’.

Lalu bagaimana jika kita diminta hadir dalam sebuah undangan tapi kelihatannya tak bisa memenuhi? Ya kita bilang saja terus terang kalau kita tak bisa datang karena suatu alasan (-yang bisa diterima, tentunya-). Jangan sampai menggunakan ‘insya Allah’ hanya karena merasa tidak enak kalau menolak secara langsung.

Mari kita kembalikan makna ‘insya Allah’ sesuai fungsi yang sebenarnya. Dan satu lagi jangan terlalu mudah berjanji, karena setiap janji adalah hutang dan setiap hutang harus dibayar (-kecuali sudah diikhlaskan oleh yang menghutangi-), kalau tidak dibayar sekarang berarti nanti suatu saat entah di dunia atau di akhirat. Dan orang bijak akan lebih memilih menunaikan hutangnya di dunia daripada menunaikan di akhirat.

Bila harus berhenti mengharapkannya

Rasa ingin mencintai dan dicintai serta ingin memiliki merupakan fitrah setiap manusia.Tidak ada manusia yang tidak ingin dicintai begitu pula tidak ada manusia yang bisa terlepas dari rasa mencintai sesuatu. Hal ini adalah wajar saja ketika memang kita bisa me-manaje diri kita di dalam menghadapinya, sehingga jangan sampai berlebihan di dalam meluapkan rasa tersebut.Karena tidak sedikit manusia terjerumus ke dalam kehinaan karena terlalu berlebihan. Namun tidak juga kita lantas ( berusaha ) meniadakan rasa tersebut .Yang harus dilakukan adalah pertengahannya yaitu menjaga agar rasa itu tidak hilang dan menghindari agar tidak terlalu berlebihan.

” khoirul umuuri ausathuha”
sebaik-baik urusan adalah pertengahannya.

Tidak terlepas dari bagian rasa ini adalah kecenderungan terhadap lawan jenis. Malahan justru inilah yang terkadang membuat sebagian dari kita merasa kewalahan di dalam menghadapinya. Ada sebagian dari kita yang larut oleh rasa ini sehingga seolah-olah tujuan hidupnya hanya terisi oleh bagaimana meraih cinta dari yang diharapkannya. Mungkin kita sudah tidak asing dengan istilah makan gak enak , tidurpun tak nyenyak selalu terbayang wajah sang kekasih tersayang.Lalu muncullah puisi puisi, nyanyian, syair untuk mengungkapkan rasa itu.

Memang ketika kita mencintai seseorang maka kita akan mengharapkannya untuk juga mencintai kita. Dan itulah sesuatu yang terkadang kita lupa bahwa ketika kita mencintai sesuatu maka kita akan sangat bergantung kepadanya sehingga seolah-olah kita menjadi tawanannya .Bagaimana tidak , ketika kita mencintai seseorang maka kita rela untuk melakukan hal-hal yang mungkin tidak akan kita lakukan untuk orang lain. Benarlah ” man ahabba syaiaan fahuwa asiirulah” Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan menjadi tawanannya.

Namun kadangkala kenyataan tak seindah harapan. Terkadang kita harus kecewa karena apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan.Ketika kita melamarnya ternyata kita tidak diterima. Namun ini lebih jelas keadaannya meskipun menyakitkan memang. Namun ada yang juga tidak kalah menyedihkan ketika kita tidak tahu apakah orang yang kita cintai juga mencintai kita. Ini akan menimbulkan efek yang tidak bisa dipandang enteng.Kita akan selalu dihantui pertanyaan yang tidak kunjung usai. Apakah dia juga mencintai saya? Sebenarnya ada jalan keluar yang dijamin dapat menyelesaikan apa yang selalu menjadi pertanyaan kita. Yaitu menanyakan kepada yang bersangkutan baik secara langsung maupun melalui perantara. Namun kiranya tak semudah yang kita bayangkan. Ada konsekuensi lanjutan terhadap jawaban atas pertanyaan itu.

 

Seandainya memang diterima lantas apakah cukup sampai disitu saja. Untuk selanjutnya tidak melakukan apa-apa. Sama sekali tidak. Kita harus siap untuk melangkah ke tahap berikutnya. Kalau kita memang sudah siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan,maka itu bukanlah sebuah persoalan besar. Atau kemungkinan kedua tidak diterima maka sudah siapkah kita menenangkan hati ini. Sungguh derita karena cinta ditolak itu sangat menyakitkan. Atau kemungkinan ketiga dia tidak memberikan jawaban apa-apa maka sudah siapkah kita untuk menjawab sendiri rasa penasaran kita. Sungguh kesemuanya memerlukan kesiapan jiwa kita.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika cinta itu datang dan kita belum siap untuk segala konsekuensinya? Sebenarnya di dalam setiap hal akan selalu ada konsekuensinya. Namun kita diberi pilihan untuk memilih solusi dengan konsekuensi yang terkecil.

Yang pertama kita harus segera mempersiapkan diri kita. Semakin cepat maka semakin baik. Namun ingat bahwa untuk merubah diri kita itu tidak cukup waktu satu dua jam , satu dua hari namun butuh waktu yang lebih dari itu. Mungkin selama masa pembentukan kesiapan itu kita terus merasakan ketidaknyamanan, ketidaktenangan dan sebagainya.

Pilihan kedua adalah berusaha untuk menghilangkan hati kita dari berharap padanya. Memang cara ini terkesan sulit untuk dipraktekkan. Namun bukan berarti yang sulit itu tidak bisa dilakukan. Memang ini butuh energi ekstra dan rasa sakit ketika kita harus melupakan dirinya dari hati kita. Namun ini memerlukan waktu yang lebih cepat daripada pilihan pertama tadi. Namun bukan berarti kita tidak menerimanya ketika memang dia dapat menerima kita. Yang kita lakukan adalah menjauhkan harapan kita terhadapnya, sehingga ketika memang dia tidak dapat mendampingi kita maka kita dapat dengan rela mengatakan ” berarti dia bukan jodohku” , dan bila ternyata dia bersedia menjadi pendamping kita maka kita dapat berucap syukur sambil tersenyum ” Ya Alloh inilah karunia yang terbaik dari Sisi-Mu untukku”. Jadi mau pilih yang mana?

#glesek-glesek file 08 september 2008
edited

Bercanda Kok Menyakiti….

http://satukataku.files.wordpress.com/2014/07/ada5d-tipsbercanda.jpg?w=259&h=195Bercanda. Satu hal yang sering sekali dilakukan oleh kita sebagai manusia. Bahkan Rasulullah SAW pun kerapkali bercanda dengan istrinya, anaknya, dan para sahabatnya. Namun, seni bercanda beliau tetap pada koridor yang syar’i. Dalam candanya, beliau tidak pernah memasukkan unsur kebohongan, ejekan, dan lain-lain yang negatif. Dalam siroh diceritakan, pernah suatu ketika Rasulullah SAW ditanya oleh seorang nenek tua, yang telah keriput kulitnya. “Wahai Rasulullah, apakah saya bisa masuk surga?”. Ditanya seperti itu, Rasulullah berpiir sejenak, lalu menjawab “Wahai nenek, di surga tidak ada nenek-nenek tua..”. Kontan saja sang nenek bersedih. Namun, Rasulullah segera menyambung jawaban beliau dengan mengulum senyum, “Wahai nenek, di surga memang tidak ada orang-orang yang lanjut usia, karena setiap orang yang lanjut usia, ketika dia memasuki surga, dia kembali muda dan cantik”. Akhirnya sang nenek gembira mendengar jawaban itu.

Pernah juga diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki, sebut saja si Fulan, yang kulitnya hitam. Ketika dia sedang bekerja, dari belakang ada yang mendekap dirinya. Dia bertanya “Siapa ini? Lepaskanlah..”. lalu dilepaskanlah dia. Ketika dia melihat sosok yang mendekapnya itu, dia tersenyum. Karena ternyata orang itu adalah Rasulullah SAW. Dan Rasulullah berkata kepada sahabatnya yang ketika itu berada di sana , “inilah dia si Fulan yang merupakan sahabatku”.

Rasulullah juga pernah berlomba lari dengan istrinya, Aisyah RA. Dalam perlombaan itu, Aisyah lah yang menang karena ketika itu tubuh Aisyah masih ramping. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah mengajak Aisyah untuk berlomba lari lagi. Dalam perlombaan itu, Rasulullah lah yang menang, karena ketika itu tubuh Aisyah sudah mulai menggendut.

Sangat ironis sekali ketika kita melihat di fenomena bercanda saat ini. Di televisi, banyak para pelawak yang berusaha membuat kelucuan dengan cara melontarkan kata-kata yang mengejek lawan mainnya. Belum lagi dengan adanya aksi menyakiti lawan mainnya. Memang sih itu sudah diberi keterangan bahwa bahan yang digunakan tidak berbahaya atau peringatan untuk tidak ditiru. Bagi kita yang sudah dewasa mungkin akan paham, tapi bagaimana halnya jika anak-anak kita atau adik kita tanpa sependampingan kita menonton hal tersebut? Jelas mereka tidak akan tahu apakah alat yang digunakan asli atau palsu. Dan yang paling menakutkan jika hal itu ditiru oleh mereka (anak-anak) menggunakan alat asli (bukan bahan aman pakai) .Na’udzubillah..

Dalam dunia nyata kitapun tak jarang menjumpai kondisi-kondisi yang kaku akibat adanya guyonan. Apa pasal? Bercanda bagi sebagian kita bertujuan untuk menghangatkan suasana dan membuat acara kumpul-kumpul semakin meriah. Tapi tak jarang bahan guyonan adalah salah satu teman kita. Misalkan ada teman kita yang bertubuh tambun sedang makan melon. Lalu ada salah satu yang nyeletuk “ melon kok makan melon…”. Mungkin sesaat setelah itu terdengar gelak tawa dari yang ikut bergabung. Tapi mungkin hanya satu orang yang tidak tertawa. Yaitu orang yang dijadikan bahan tertawaan. Lebih parah lagi jika ternyata dia sampai sakit hati lantaran guyonan kita. Kita bisa sih bilang “ masak cuma bercanda aja sampai sakit hati… gak asik ah…”. Tapi kita juga harus paham bahwa batas toleransi tiap-tiap orang berbeda. Ada yang tidak terlalu ambil pusing terhadap candaan, tapi ada juga yang sensitif jika dirinya dibuat bahan lelucon. Itu lebih seperti mengolok-olok di depan umum. Nah sudah semestinya bagi kita yang senang membuat lelucon, buatlah lelucon yang cerdas, yang tidak menunjukkan kekurangan seseorang, yang tidak menyakitkan hati orang lain.

Lalu, apakah kita nggak boleh bercanda? Tentu saja boleh. Tetapi dalam bercanda kita harus tahu batasannya. Mari kita contoh Rasulullah SAW. Beliau bercanda kok, tetapi dalam candaan beliau tidak ada unsur bohong, dusta, fitnah dan hal-hal yang jelek lainnya. Mari tumbuhkan kreatifitas kita dalam bercanda, marilah kita lebih kreatif lagi dalam menciptakan joke-joke kita sehari-hari.

Berjuta kata di dalam, satu kata kepada dunia luar.

Sebuah lembaga atau organisasi yang dihuni oleh banyak orang maka banyak pula pemikiran yang muncul di sana. Semakin banyak anggota yang terlibat maka semakin kaya pula pemikiran yang ada. Dan setiap pemikiran ini harus mendapat tempat yang sama, artinya sama-sama mempunyai nilai bagi lembaga atau organisasi tersebut. Hierarki fungsi dalam lembaga, mencakup ketua, sekretaris, bendahara, divisi-divisi dan anggota yang lain seharusnya tidak menjadi pembatas bahwa suatu pemikiran itu mempunyai nilai lebih dibanding yang lain. Tentu kita paham bahwa seseorang yang kita beri amanah duduk di pucuk pimpinan adalah seseorang yang kita anggap punya kelebihan dibanding yang lain terutama sisi manajerialnya. Tetapi hal ini tidak menjadikan seseorang itu makhluk sempurna, tidak mungkin salah. Bertolak dari hal ini maka kita katakan tidaklah pendapatnya lebih berharga dari anggota yang lain.

Obrolan ringan, diskusi bahkan debat seharusnya bukan situasi asing lagi bagi sebuah lembaga atau organisasi. Apalagi yang sudah berjalan lama bahkan sudah puluhan tahun. Dan tentu saja akan kita jumpai dalam diskusi atau debat adanya perbedaan-perbedaan pendapat, bahkan dalam hal yang tidak terlalu prinsip. Itu sangat wajar menurut saya sebagai sebuah lembaga yang sehat akan berisi orang-orang dengan pemikiran yang berbeda. Justru tidak sehat sebuah lembaga yang setiap orang yang berada di dalamnya wajib satu kata, meskipun itu masih dalam ranah internal. Hal ini justru mematikan aspirasi dari anggota. Jika ada sebuah lembaga yang melakukan hal demikian biasanya tidak terlepas dari kultus terhadap sebagian pemuncak hierarki bahwa merekalah sang penentu kebijakan dan anggota lain tidak berhak menyatakan pendapat terkait hal itu.

Perbedaan pendapat selama itu masih dalam ranah internal maka tidak menjadi masalah bahkan jika sampai debat sekalipun. Memang sebaiknya perdebatan kita hindari, cukuplah diskusi menjadi solusi bersama. Selama masih dalam ranah internal lembaga atau organisasi saya rasa sangat terbuka terhadap perbedaan pendapat. Kita biasa untuk saling bertukar pendapat, menghargai pendapat yang berbeda dan tidak memaksakan satu pendapat kepada yang lain hanya karena tingkatan jabatan yang tidak sama. Dengan banyaknya pendapat lalu kita diskusikan sehingga membentuk satu kata bersama. Nah satu kata bersama inilah yang nanti kita bawa keluar sebagai wajah lembaga atau organisasi di mata masyarakat. Justru pada tahap inilah sudah tidak boleh ada perpecahan, perbedaan kata. Yang perlu ditampilkan adalah satu kata yang telah disepakati bersama melalui forum diskusi yang kita bahas di atas.

Kita sebagai anggota dari sebuah lembaga atau organisasi, setidaknya dalam lembaga bernama masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Hak untuk berpendapat dan kewajiban melaksanakan keputusan bersama. Jangan sampai ada segelintir orang yang dengan sengaja mematikan aspirasi dengan dalih apapun, apalagi hanya karena dia mempunyai jabatan yang lebih tinggi. Justru sebagai orang yang dianggap dewasa dalam cara berpikir, sekelompok orang yang duduk di pucuk pimpinan bisa membimbing anggotanya yang memiliki pemikiran berbeda agar perbedaan itu tidak mencolok dan bisa disamakan persepsinya dengan pemikiran bersama. Inilah kenapa kita berlembaga. Kalau hanya ingin memaksakan pendapat, apa bedanya dengan penjajah. Marilah kita dewasa dalam berlembaga, termasuk dalam masyarakat sebagai lembaga non resmi.

Semuda Apapun, seorang GURU wajib bersikap dewasa

Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai kedewasaan. Bahwa kedewasaan tidak terkait dengan usia seseorang. Boleh jadi ada seseorang yang dari segi usia masih relatif muda tetapi ia bisa bersikap lebih dewasa dari orang yang lebih tua darinya. Meskipun kedewasaan tidak ada kaitan dengan usia dalam artian tidak linear, tetapi menurut saya ada salah satu profesi yang mana mau tidak mau harus bisa bersikap dewasa seberapapun usianya. Salah satunya adalah profesi GURU.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, perlu kita sepakati bahwa yang akan kita bahas adalah mengenai sikap dan pola pikir seseorang guru bukan bagaimana metode ia mengajar. Sebagai contoh sebagai metode mengajar, seorang guru TK memang harus bertingkah seperti anak-anak agar dapat menyampaikan ilmu dengan baik. Kita kadang merasa geli juga melihat tingkah laku guru yang meniru gaya anak-anak. Tetapi kita sama sekali tidak boleh mengatakan bahwa guru tersebut tidak bersikap dewasa. Ini yang saya maksud bahwa yang kita bahas lebih kepada sikap dan pola pikir tadi.

Guru adalah profesi yang mulia karena guru bertugas mengajarkan ilmu kepada siswanya dan juga yang tidak kalah penting harus bisa menjadi contoh teladan bagi siswanya selain juga berperan sebagai orangtua di sekolah. Kita masih ingat hal tersebut bukan? Guru berperan sebagai orangtua di sekolah yang artinya guru mesti bersikap sebagaimana orangtua dalam mendidik anak. Seberapa mudanya guru tersebut harus bisa bersikap demikian.

Tetapi kiranya untuk jaman sekarang, profesi guru agaknya mulai mengalami penyempitan tugas. Kalau dulu guru bertugas sebagai pengajar dan pendidik, agaknya tugas sebagai pendidik ini mulai dilupakan. Guru hanya bertugas menyampaikan ilmu saja. Mengenai pendidikan akhlak dan budi pekerti itu diserahkan kepada masing-masing anak. Dalam pikiran saya, seorang guru itu tetap menjadi panutan dan teladan dimanapun ia berada. Baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Seorang guru harus menunjukkan sikap yang baik. Seorang guru yang bijaksana, dewasa dan ngemong harus selalu dijaga. Ini semata-mata agar pendidikan berjalan dengan baik. Bagaimana mungkin akan menjadi suatu pendidikan jika di sekolah bu guru dan siswa perempuan wajib memakai jilbab, tetapi ketika diluar sekolah bu guru malah berpakaian terbuka. Atau pak guru yang menyampaikan bahwa siswa dilarang merokok tetapi kenyataannya pak gurunya saja merokok di luar sekolah. Bukankah pendidikan berbasis teladan akan lebih mengena bila dibandingkan dengan yang hanya sekedar bicara.

Kemarin saya sempat ngobrol dengan istri saya, lebih tepatnya mendengar curhat yang ia dapat dari siswanya yang curhat. Bahwa ternyata ada sebagian guru di sekolah yang menurut siswa istri saya tersebut kurang bersikap dewasa dan masih kekanak-kanakan. Apa pasal?

Siswa ini pernah menyampaikan bahwa ada guru yang suka membicarakan kejelekan seorang siswa (menunjuk nama, tidak sekedar inisial) di kelas lain. Begitu juga ketika mendapat gosip dari suatu kelas maka dibicarakan di kelas lain. Hal ini menurut saya bukan sikap dewasa seorang guru. Bagaimana mungkin sebagai orangtua malah membicarakan kejelekan seorang anak kepada anak-anak yang lain? Bukankah justru sebagai guru bisa menyikapi dengan lebih baik. Jika melihat kejelekan pada siswanya ya lebih baik mendiskusikan dengan yang bersangkutan secara personal. Apa sebabnya siswa berlaku demikian, kesepakatan apa yang harus menjadi solusi? Bukan malah mengobral di depan siswa lain.

Kemudian pernah juga seorang siswa yang mengajukan beasiswa tidak mampu, tetapi begitu menyerahkan formulir malah ditanya dengan ketus oleh guru. “ Kok kamu mengajukan beasiswa tidak mampu? Kan kamu sekolah naik motor?”. Padahal setelah curhat dengan istri saya, anak ini menceritakan keadaan keluarganya yang memang tidak mampu. Ayahnya sudah meninggal semenjak kecil dan hanya bergantung pada ibunya. Motorpun juga hanya punya satu, itupun harus bergantian dengan kakak-kakaknya. Belum lagi karena keterbatasan ekonomi adik yang kecil dititipkan panti asuhan. Bukankah seharusnya guru melakukan klarifikasi dengan lebih santun. Kalau perlu diajak bicara alasan apa yang membuatnya mengajukan beasiswa tidak mampu sehingga akan lebih bisa memandang permasalahan dengan lebih luas dan bijaksana.

Dan masih banyak cerita mengenai bagaimana ada beberapa guru yang menunjukkan sikap yang kurang bisa bersikap dewasa dan bijaksana. Ini mengenai hubungan guru dengan siswanya. Ada lagi beberapa sikap yang juga tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang guru. Kita perlu tekankan bahwa ini adalah profesi guru yang tugasnya mengajar dan mendidik. Diceritakan bahwa ada seorang guru yang sering menulis status mengenai apapun yang ia lakukan. Dia sedang beraktifitas apapun, ketika mendapat jam tangan mahal dari ayahnya, sedang merasa capek dan masih banyak yang lain. Intinya eksis di medsos. Kita tentu sepakat bahwa hak setiap orang mau menulis apapun di medsos-nya. Tapi ketika dibenturkan dengan profesi guru yang mana dia harus menjadi panutan baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah maka tentu ada sedikit kekhawatiran mengenai hal ini. Bagaimanapun juga siswa akan mengetahui status guru tersebut dan pasti ada penilaian tersendiri mengenai guru tersebut. Jika ternyata guru tersebut tak lebih dewasa dari siswanya bagaimana bisa guru tersebut disegani oleh murid-muridnya. Bagaimana ia bisa mendidik murid-muridnya. Belum lagi foto-foto ‘selfie’ yang dipajang di medsos-nya. Sekali lagi bahwa siswa akan melihat bagaimana sikap guru ketika di luar sekolah. Memang kita boleh mengekspresikan diri sesuai dengan keinginan kita, tetapi sekali lagi sebagai seorang guru wajib menjaga diri agar tetap menjadi panutan siswanya. Bukankah lebih elok menulis status yang mengajarkan kebaikan, memberi motivasi dan mencerahkan. Akan lebih elok memajang foto-foto yang biasa saja, bukan selfie atau narsis.

Sebagai guru juga seseorang dituntut untuk bisa menjadi tempat curhat siswanya. Tempat curhat yang bisa dipercaya dan juga bisa memberi solusi. Memang tidak semua guru bisa mengambil peran ini. Butuh waktu ekstra, tenaga ekstra dan perhatian yang ekstra. Tapi memang baiknya guru mengenal murid secara lebih mendalam termasuk keluarga murid tersebut dan latar belakangnya sehingga akan terhindar dari pandangan yang sempit. Dan dengan mengenal murid lebih mendalam akan lebih mendekatkan guru dan murid secara personal sehingga proses pendidikan juga berjalan dengan efektif dan efisien.

Sudah Dewasakah Aku?

Ada yang mengatakan bahwa kedewasaan seseorang tidak terkait dengan usia. Artinya ada orang yang usianya sudah tua tetapi kalah dewasa dengan yang masih muda. Misal ada anak kuliahan yang tingkat kedewasaannya justru di bawah anak yang masih berseragam putih abu-abu. Ada anak kecil yang ternyata kedewasaannya melebihi usianya. Marc & Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi terletak pada sejauh mana tingkat  kematangan emosional yang dimilikinya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kematangan emosi seseorang (Astuti, 2000, Faktor-faktor yang mempengaruhi Kematangan Emosi, para. 1), antara lain:

a Pola asuh orang tua

Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam kehidupan anak, tempat belajar dan menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial, karena keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama tempat anak dapat berinteraksi. Dari pengalaman berinteraksi dalam keluarga ini akan menentukan pula pola perilaku anak. Biasanya anak yang tumbuh dalam pola pengasuhan orang tua yang sering memanjakannya akan lebih lambat dewasa. Sebaliknya pola pengasuhan yang relatif lebih disiplin akan lebih membuat seorang anak bisa bersikap dewasa.

b.Pengalaman traumatik

Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan emosi seseorang. Kejadian-kejadian traumatis dapat bersumber dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan di luar keluarga.

c.Temperamen

Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional seseorang. Pada tahap tertentu masing-masing individu memiliki kisaran emosi sendiri-sendiri, dimana temperamen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan manusia. Bagaimana seseorang mengelola suasana hati ini menjadi salah satu tolok ukur tentang tingkat kedewasaan seseorang. Tentu kita akan mengatakan ‘terlalu kekanak-kanakan’ terhadap seseorang yang selalu marah-marah ketika menghadapi persoalan dan justru melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Dalam pikiran kita bahwa orang tersebut belum bisa mengelola suasana hati.

d. Jenis kelamin

Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya perbedaan hormonal antara laki-laki dan perempuan, peran jenis maupun tuntutan sosial yang berpengaruh terhadap adanya perbedaan karakteristik emosi diantara keduanya. Umumnya wanita dikatakan akan lebih cepat dewasa dibandingkan pria. Coba kita lihat saja, anak-anak perempuan setingkat SLTP akan jauh terlihat dewasa daripada teman-teman laki-lakinya. Semakin bertambah usia maka tingkat kedewasaannya semakin berjarak. Maka tak heran jika dalam memilih pasanganpun umumnya akan wanita akan memilih pria dengan jarak usia 4-6 tahun di atasnya. Karena dianggap bahwa dengan jarak tersebut tingkat kematangan emosi antara pria dan wanita bisa seimbang.

e. Usia

Meskipun dikatakan bahwa usia tidak berkaitan langsung dengan tingkat kedewasaan tetapi perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan usia, hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang. Jadi hal ini sebenarnya tetap ada korelasi dengan apa yang dinyatakan oleh Marc & Angel (2007) tersebut. Memang benar bahwa tingkat kedewasaan tidak terkait dengan usia seseorang, tetapi tentu kita juga setuju bahwa bagi seseorang pertambahan usia juga diikuti oleh perkembangan kematangan emosinya. Seseorang yang berusia 25 tahun pastinya akan jauh lebih bisa bersikap dewasa bila dibandingkan ketika ia masih berusia 15 tahun. Tetapi ketika membandingkan antar personal maka di sinilah inti apa yang kita bahas. Bahwa seseorang yang berusia 25 tahun, misalnya, boleh jadi tidak lebih dewasa dari orang lain yang mungkin usianya baru menginjak 20 tahun.

Tingkat kedewasaan seseorang memang tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu faktor saja. Tetapi hampir melibatkan semua faktor di atas. Misalkan pada poin 4 disebutkan bahwa wanita cenderung lebih cepat dewasa daripada pria. Tetapi pada kenyataannya kita juga menjumpai seorang wanita usia 25 tahun tetapi tingkat kedewasaannya setara dengan pria yang berusia 20 tahun. Maka bisa jadi pola asuh orangtua atau lingkungan tempat tinggalnya yang lebih berpengaruh.

Lalu bagaimana sih seseroang itu dikatakan dewasa? Ciri-cirinya seperti apa saja? Berikut ini pemikiran dari Marc & Angel (2007) tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya  dilihat dari kematangan emosionalnya.

  1. Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah  suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri.
  2. Memiliki kemampuan mengelola diri  dari perasaan cemburu dan iri hati.
  3. Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain.
  4. Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari berbagai kesalahan dan kekeliruan atas berbagai hasil yang telah dicapai.
  6. Tidak berusaha menganalisis  secara berlebihan atas hasil-hasil negatif yang diperolehnya, tetapi justru dapat memandangnya sebagai hal yang positif  tentang keberadaan dirinya.
  7. Memiliki kemampuan membedakan antara pengambilan keputusan rasional dengan dorongan emosionalnya (emotional impulse).
  8. Memahami bahwa tidak akan ada kecakapan atau kemampuan tanpa adanya  tindakan persiapan.
  9. Memiliki kemampuan mengelola kesabaran dan kemarahan.
  10. Memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain dalam benaknya dan berusaha  membatasi sikap egois.
  11. Memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants).
  12. Memiliki kemampuan menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan (sombong).
  13. Memiliki kemampuan mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran.
  14. Berusaha memperoleh kepemilikan  (ownership) dan bertanggungjawab atas setiap tindakan pribadi.
  15. Mengelola ketakutan diri (manages personal fears)
  16. Dapat melihat berbagai “bayangan abu-abu”  diantara ekstrem hitam dan putih dalam setiap situasi.
  17. Memiliki kemampuan menerima umpan balik negatif sebagai alat untuk perbaikan diri.
  18. Memiliki kesadaran akan ketidakamanan  diri dan harga diri.
  19. Memiliki kemampuan memisahkan perasaan cinta dengan birahi  sesaat.
  20. Memahami bahwa komunikasi terbuka adalah kunci kemajuan

Nah demikian pembahasan kita mengenai Kedewasaan. Yang pasti kedewasaan itu perlu kita miliki sebagai seorang manusia agar bisa menjalani hidup dengan baik. Secara umum bahwa kedewasaan itu lebih terkait kepada sikap kita dalam menghadapi sesuatu baik itu berupa manusia ataupun permasalahan.