Tahun Baru 1436 H

Pergantian tahun hijriyah sudah beberapa saat yang lalu bergulir. Kumandang adzan maghrib menandakan bahwa tahun baru saja bertambah. Senja yang memerah di ufuk barat seakan mengucapkan untaian kata perpisahan kepada tahun lama sekaligus sambutan kepada tahun baru. Pergantian itupun tak terelakkan. Mau tidak mau kini kita telah memasuki tahun baru 1436 H.

Pergantian tahun baru bagi sebagian besar orang menjadi suatu titik lompatan untuk menjadi lebih baik lagi di tahun berikutnya. Meskipun sebagian yang lain menganggap pergantian tahun tak ubahnya pergantian waktu ke waktu setiap harinya. Dan memang demikian adanya. Bukan suatu momen yang teramat khusus yang  dirayakan dengan gemerlap dan kemewahan. Kendati demikian tiada salahnya jika kita menjadikan momen pergantian tahun ini menjadi suatu tonggak bersejarah bagi perbaikan diri di masa mendatang.

Usia manusia yang semakin hari semakin bertambah banyak hitungannya sudah semestinya menjadikan dirinya semakin mawas dan semakin baik. Setiap hembusan nafas sudah sepantasnya dibayar dengan amal kebaikan. Setiap detak jantung mengantar kita kepada tingkatan hidup yang lebih berkualitas. Hari ini lebih baik dari kemarin, begitu kata bijak yang senantiasa kita dengar. Pun dengan untaian kata, hari esok harus lebih baik dari hari ini, sering kita dengar. Dan memang demikian lah seharusnya.

Mari di tahun yang baru ini kita azzamkan diri untuk menjadi lebih baik lagi, meningkatkan kualitas personal kita baik sebagai manusia terlebih sebagai hamba Allah SWT. Tingkatkan ibadah kita, tingkatkan ilmu dan pengetahuan kita, tingkatkan segala potensi yang ada dalam diri kita. Cukuplah evaluasi kita tentang tahun lalu menjadi alasan untuk menjadi lebih baik.

Akhirnya saya ucapkan Selamat Tahun Baru 1436 H. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita menuju keadaan yang semakin baik dari waktu ke waktu.

TH BARU 1436 HIJRIAH putih

HATI-HATI MODUS PENIPUAN MENYERANG APOTEK BARU

logopenipuan1Ada-ada saja modus kejahatan dewasa ini. Semakin bermacam dan bervariasi. Seperti halnya yang menimpa kepada Apotek kami yang tergolong masih baru, belum genap dua minggu beroperasi. Namun dalam masa yang masih baru itu sudah dua kali mengalami kasus penipuan.

 

Modus penipuan pertama.

Datang seorang laki-laki yang membawa kuitansi penagihan uang iuran sampah sebesar Rp. 500.000,- dimana sudah membayar di muka Rp.300.000,- sehingga ada kekurangan Rp.200.000,-. Nah si pelaku ini mencoba menagih yang Rp. 200.000,- ini. Dikarenakan saat itu yang menjaga adalah teman kami, dimana merupakan kealpaan kami belum mentransfer hal-hal penting kepadanya, dia memberikan uang sebesar Rp. 40.000,- sebagai cicilan pembayaran. Ya mungkin karena saat itu uang yang ada di kas cuma segitu saja. Saat itu kami sedang ada di rumah dan mengetahui kejadian tersebut melalui pesan WA yang dia kirim. Tentu saja kami kaget, karena memang tidak ada pembicaraan apapun dengan pihak manapun mengenai sampah. Dan kami berkesimpulan bahwa ini adalah modus penipuan. Kemudian kami mewanti-wanti kepada teman kami untuk berhati-hati terhadap hal seperti ini. Padahal sejatinya dia sudah curiga kepada orang tersebut tetapi mungkin karena tidak enak hati akhirnya memberikan uang.

Modus penipuan kedua.

Masih dengan teman kami yang kebetulan sedang menjaga apotek. Dan saya merasa kok kayaknya memang menunggu saat teman kami yang menjaga. Mungkin belajar dari pengalaman temannya ( si pelaku modus pertama ). Kali ini si penipu pura-pura mengirimkan paketan yang dibungkus plastic hitam. Tentu saja disertai nota (palsu) dengan jumlah tagihan Rp.195.000,- untuk barang yang ternyata hanyalah satu kemasan lem pipa dan dua isolasi listrik. Mungkin karena mereknya yang jarang dikenal apalagi bagi sebagian besar wanita merek-merek alat bangunan (saya rasa) jarang yang tahu, makanya tidak curiga dengan harga yang begitu fantastis. Bagaimana tidak, kalau beli sendiri di toko bangunan, paket seperti tersebut tidak lebih dari Rp.30.000, -. Tapi lagi-lagi karena teman kami berpikiran positif bahwa mungkin saja kami yang pesan maka dibayarlah harga paket tersebut. TUNAI. Dan dia baru mengatakan ada paket ketika jatah pergantian jaga. Tentu saja kaget dengan kabar tersebut, mungkin yang bikin kaget adalah sudah terlanjur dibayar tadi. Uang segitu bagi sebuah usaha yang baru mulai tentu saja masih terasa besar. Tapi apalah daya. Sudah terlanjur.

Tetapi ada hikmah dibalik hal tersebut. Setidaknya ambil sisi positifnya saja. Sejak saat itu kami berusaha mentransfer apa-apa yang perlu diketahui, terutama tentang arus kas, apa saja yang masih menjadi tanggungan, apa saja barang-barang yang memang dipesan, dan yang terpenting sebelum melakukan pembayaran harus jelas dulu asal-usulnya. Jika itu pesanan obat pasti membawa nota pemesanan, kalau itu barang lain maka harus koordinasi dengan kami terlebih dahulu. Tapi kami sepakati bahwa untuk saat ini tidak ada pesanan lain selain pesanan obat. Pesanan selain obat otomatis tidak perlu ditanggapi apalagi sampai dibayar. Kami juga berusaha komitmen untuk tidak membeli barang bukan obat melalui kurir. Kalaupun harus diantar maka biar diantar ke rumah saja.

Untuk itu perlu berhati-hati bagi teman-teman yang akan memulai usaha baru. Modus penipuan yang lain juga masih banyak sehingga kita harus tegas dan tega terhadap si penipu. Jika kita bekerja dalam tim, pastikan ada kejelasan dan kesepahaman bersama sehingga misunderstanding tidak menjadi celah bagi penipu untuk melakukan aksinya. Dan terakhir, jangan lupa perbanyak infaq dan sedekah, semoga Allah mengganti dengan yang lebih banyak melalui usaha kita. Selalu memohon rejeki yang berkah dan manfaat dunia dan akhirat.

Hebohnya kasus mantan datang di pernikahan…

Baru-baru ini sedang heboh-hebohnya berita tentang kasih tak sampai ke pelaminan. Singkat cerita di Rais menikah dengan seorang wanita dan pada pesta perkawinannya datanglah si mantan Rain bernama Risna. Tak diduga saat menyalami pengantin pria, Risna yang notabene adalah mantan pacar ( 7 tahun pacaran bro n sist… ngapain aja tuh 7 tahun pacaran…) tiba-tiba didekap oleh si Rais. Dan konon katanya menghadirkan haru bagi bagi pengantin maupun yang hadir. Rais, Risna dan pengantin wanita menitikkan air mata. Entah apakah bagi pengantin wanita juga merasakan keharuan atau justru kecewa. Ternyata si suami masih memiliki perasaan kepada mantannya. Usut punya usut ternyata si Rais pernah melamar Risna namun ditolak oleh keluarganya.

Apa sih yang membuat heboh atau haru? Saya rasa lebih kepada kasih tak sampai sebagaimana kisah di sinetron-sinetron dan si wanita sebagai korban kasih tak sampai dengan besar hati mau datang ke pernikahan mantannya. Tapi apakah sebegitu mengharukannya? Saya agaknya lebih tertarik melihat dari sisi yang berbeda. Ada ketidakpatutan di sana, ada perasaan yang terkorbankan dan tidak semestinya hal tersebut menjadikan sumber keharuan, justru kita harus merasa miris.

Pacaran selama 7 tahun. Hmmm waktu yang tidak sebentar untuk dihambur-hamburkan demi sebuah status pacaran. Entah bagaimana mereka menjalaninya, apakah sekedar status saja atau seperti remaja-remaja sekarang? Yang pasti cukup lama bro n sist… Ketika hati sekian lama tertambat dan tak pernah terpikirkan beralih ke lain hati (secara otomatis tidak punya gambaran pilihan lain) namun pada akhirnya tiada dapat bersanding.. Sakitnya tuh di sini… (sambil nunjuk kepala..) Padahal dikatakan pula bahwa si laki-laki sudah berusaha melamar si gadis tetapi ditolak. So bisa kita katakan bahwa hubungan mereka selama ini tidak direstui oleh orangtua si gadis atau setidaknya orangtua belum ridho jika si gadis menikah dengan laki-laki tersebut. Saya lebih melihat kepada ‘orangtua belum ridho’ sebagai alasan logis kasih tak sampai. Jika sudah begitu seharusnya ‘ridho orangtua’ menjadi hal yang wajib kita dapatkan ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang ( sebagai teman ). Terlebih lagi jika teman tersebut hendak dijadikan sebagai pendamping hidup. Tidak usahlah sebagai anak, kita merasa sok tahu apa yang kita inginkan, jangan pulalah menilai orangtua kolot dan sebagainya. Saya percaya bahwa feeling orangtua itu tajam, setajam silet… Ketika orangtua bilang ‘tidak’ maka mereka sudah mendapat feeling bahwa teman kita itu tidak akan bisa membawa kita dengan baik. Tetapi tenang saja hal ini tidak berlaku paten, mungkin saat ini orangtua belum ridho karena sesuatu hal, tetapi ketika sesuatu itu telah dimiliki, orang tua menjadi ridho. Tapi yang paling penting kantongi ‘ridho orangtua’ dan insya Allah berkah.

Kisah ini sekaligus memberi pelajaran bagi kita bahwa pacaran yang lama tidak menjamin akan bahagia dalam pernikahan, apalagi kasih tak sampai. Kalau sudah begitu sia-sialah waktu selama itu hanya digunakan untuk pacaran dengan segala hak dan kewajiban ‘bodoh’ nya itu. Kenapa tidak berteman saja tanpa embel-embel apa-apa. Setidaknya tidak ada investasi hati yang besar di sana. Masih fifty-fifty lah. Kalau jodoh ya syukur kalaupun enggak ya nothing to lose. Memang sih kita sebagai manusia punya fitrah meyukai lawan jenis dan melebihkannya dari sekedar teman, tetapi ketika kita mencintai seseorang janganlah gunakan sepenuh hati. Sisakan sebagian untuk merasakan kecewa jika cinta tak berbalas. Dan juga menyiapkan sebagian tersebut untuk menerima hati yang lain. Siapa tahu justru hati yang lain itu kunci yang bisa membuka hati kita. Kita mungkin sudah tahu bahwa gembok bisa dimasuki beberapa kunci yang sejenis, tetapi hanya satu yang bisa membukanya. Mungkin selama ini teman-teman yang pernah singgah merupakan kunci yang sejenis tersebut tetapi ternyata kunci yang bisa membuka gembok justru adalah orang lain. So daripada capek-capek pacaran mending bebaskan hati, serahkan pada Yang Maha Kuasa. Tidak punya pacar itu sebuah kebanggan bagi orang-orang yang bisa menjaga diri. Justru ketika suami atau istri adalah pacar pertama dan terakhir maka rasanya akan indah banget..You’re the only one, now and forever.

Yang selanjutnya saya merasa miris dengan adegan pelukan tersebut. Apa coba gunanya? Bukankah orang akan menjadi bertanya-tanya? Setelah tahu seluk beluknya apakah itu bukan berarti aib? Bagaimana perasaan pengantin wanitanya? Ketika suaminya ternyata masih menyimpan perasaan kepada gadis lain. Lebih dari itu si pengantin wanita merasa dia hanyalah sebagai pelarian, ketika yang dilamar menolak maka dia dijadikan penggantinya. Tetapi meskipun statusnya sebagai istri si alki-laki tetapi seberapa besar cinta yang tersisa untuknya? Ketika si laki-laki masih memiliki hati untuk si gadis. Dalam kondisi seperti ini memang sebaiknya mantan tidak perlu menunjukkan bahwa pernah ada apa-apa antara mereka berdua. Sewajarnya tamu biasa saja, sudah kubur saja masa lalu berdua. Toh tidak akan membuat segalanya lebih baik ketika hal tersebut masih diungkit-ungkit. Justru akan memperburuk keadaan yang ada. Kecuali kalau memang niatnya membuat buruk keadaan pernikahan sang mantan. Membuat si mantan merasa bersalah meninggalkan dirinya seorang diri dan mencoba berbahagia dengan orang lain.

Kalau saya sih mending tidak usah pacaran. Tunggu saja sampai waktunya. Kalau serius ya lamar saja (untuk laki-laki) , kalau sudah yakin ya terima lamarannya (untuk perempuan). Ngapain juga pacaran, manfaat minimalis (mendekati 0 -(nol)- ), maksiat maksimalis.

Selamat Hari Lahir Nak….

Hari ini Ahad 12 Oktober 2014. Sore yang cerah namun tidak membikin panas, terduduk sendiri di kios apotek. Sedianya mengerjakan tugas sekaligus belajar untuk persiapan UTS besok hari. Tapi teringat hari ini adalah hari yang spesial, bagi kami sekeluarga terutama si kecil. Meskipun untuk hari yang spesial ini tak ada hal yang istimewa yang kami berikan kepada si kecil. Maaf ya sayang..

Dua tahun yang lalu, tepatnya Jumat 12 Oktober 2012 dia terlahir ke dunia ini. Tangis yang keras membahana, sebuah kelegaan bagi tim dokter yang berusaha membuat dia menangis setelah berhasil diambil dari rahim sang bunda. Tentu saja kelegaan yang lebih lagi bagi kami orangtuanya, saya sendiri sebagai ayah di bayi tersebut. Ada nuansa haru dan syukur demi mendengar tangisnya. Untuk pertama kali dalam hidupku statusku berubah. Mulai saat itu aku adalah seorang ayah, melengkapi gelar sebelumnya sebagai suami. Sungguh sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Sebuah anugerah Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Anugerah yang juga sekaligus menjadi amanah. Sebagaimana amanah nanti kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Doakan ya Nak semoga ayah bisa mempertanggungjawabkanmu.

Kini dua tahun sudah saya menyandang status sebagai ayah, sebuah gelar dari universitas kehidupan. Yang berarti pula dua tahun sudah engkau menatap dunia ini Nak. Banyak hal yang telah engkau pelajari, banyak hal yang telah engkau lewati. Telah engkau dapati ayah-bundamu yang selalu menyayangimu, memelukmu, mengecup kening dan pipimu. Tapi di waktu yang lain, ada sedikit kata-kata yang tidak mengenakkan bagimu, perlakuan yang seharusnya tidak engkau terima karena engkau masih kecil. Bukan berarti ayah bunda tidak sayang, sama sekali tidak demikian. Ayah bunda tetap sayang padamu. Ketika ayah bunda berkata sedikit keras, sebenarnya ada jerit batin yang jauh lebih keras. Ketika ayah bunda membiarkanmu menangis, sebenarnya ada tangis dalam hati ayah dan bunda. Bukankah menyakiti orang terkasih dan tersayang itu sejatinya menyakiti diri sendiri, bahkan dua kali lipatnya.

Segala lika-liku kehidupan sedikit banyak telah engkau cicipi Nak. Tentu masih banyak hal yang harus engkau pelajari, masih banyak hal yang perlu engkau ketahui. Insya Allah ayah dan bunda setia mendampingimu. Dan di hari lahirmu ini ayah dan bunda ingin mendoakan bagimu , barakallahu fi umrik ya Aisha. Semoga Allah senantiasa memberimu perlindungan, kasih sayang dan pertolongan-Nya. Semoga Allah memberikan yang terbaik bagimu baik dunia dan akhirat. Maaf ayah dan bunda tidak bisa memberikan sekedar apa yang bisa engkau ingat di masa depan bahwa dalam usia dua tahunmu engkau mendapat sesuatu. Tapi percayalah bahwa ayah dan bunda senantiasa menyayangimu. :)

* teruntuk anakku yang tersayang Aisha Hanania Azalea.

Wis KADUNG

Dalam bahasa jawa, wis Kadung, sering digunakan untuk menyebut suatu kondisi dimana seseorang sudah terlanjur melakukan sesuatu atau terpaksa berada pada suatu tempat atau kondisi tertentu. Memang kata wis kadung ini terjemahan ke dalam bahasa Indonesia adalah sudah terlanjur. Tetapi konotasi yang terbentuk ketika mendengar kata ini adalah terlanjur terjebak ke dalam suatu kondisi yang kurang menguntungkan. Misal : sudah terlanjur beli. Artinya ada sedikit rasa kecewa sudah membeli suatu barang tertentu. Entah karena harganya lebih mahal dari yang lain atau mungkin kualitasnya tidak sebagus yang diharapkan.

Sebagian kita, bahkan mungkin setiap kita pernah mengalami kondisi yang menyebabkan kita berkata ‘wis kadung’. Sudah terlanjur pesan sesuatu, sudah terlanjur berangkat, sudah terlanjur diterima di fakultas ini, sudah terlanjur beli sesuatu dan masih banyak hal yang lain. Dan sebagian besar menyatakan sedikit rasa kekecewaan terhadap apa yang sedang dijalani.

Wajar saja ada rasa kecewa jika memang apa yang kita dapatkan ternyata tidak sepenuhnya kita jalani dengan hati. Tetapi kita juga punya pilihan untuk menjadikan kondisi ‘wis kadung’ tadi menjadi sesuatu yang memberi makna lebih. Ibarat pepatah ‘nasi sudah menjadi bubur’ maka akan ada kesempatan bagi kita untuk bagaimana menjadikan ‘bubur’ itu menjadi sesuatu yang nikmat, bahkan lebih nikmat daripada nasi. Kuncinya adalah mulai menjalani dengan sepenuh hati.

Kalau kita ingat bahwa setiap apa yang kita jalani adalah garis yang telah ditentukan oleh Allah SWT maka dengan keyakinan bahwa pasti ada banyak kebaikan yang Allah berikan melalui kondisi tersebut maka kita akan bisa mengubah ‘bubur’ tadi menjadi ‘bubur lezat’. Intinya jangan sampai rasa kecewa kita mengalahkan potensi yang bisa kita kerahkan untuk mendapat hasil terbaik yang kita bisa. Terlanjur membeli sesuatu yang mahal memberi kita pelajaran bahwa sebelum membeli pastikan dahulu perbandingan harganya. Terlanjur kuliah di jurusan pilihan kedua masih menyisakan ruang yang luas bagi kita untuk menjadi seorang ahli di bidang yang sedang kita geluti.

Sudah sepantasnyalah bagi kita untuk lebih mengedepankan bagaimana meraih hasil maksimal dari apa yang kita jalani alih-alih merasa kecewa dan nglokro. Sesuatu yang dijalani dengan sepenuh hati, insya Allah hasilnya akan luar biasa. Hal biasa dilakukan dengan cara yang cerdas maka hasilnya akan menjadi sesuatu yang luar biasa. So mari jadikan kondisi ‘wis kadung’ tadi menjadi kondisi dimana kita akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Film Kartun (tapi) Bukan Film Anak-Anak

Beberapa waktu yang lalu heboh di dunia maya mengenai isu bahwa KPI ( Komisi Penyiaran Indonesia) akan menghentikan beberapa film kartun. Diantaranya Tom&Jerry, Spongebob, Khrisna dan beberapa lainnya. Muncul pro dan kontra di sana-sini. Tetapi sejauh yang saya dapatkan informasinya ternyata lebih banyak yang kontra. Hujan hujatan pun dilayangkan kepada KPI sebagai pemegang otoritas penyiaran di Indonesia. Mereka menganggap bahwa film kartun sebagai tontonan anak-anak sehingga kalau penayangan dihentikan maka anak-anak akan kehilangan tontonan. Lalu mereka membandingkan dengan sinetron-sinetron yang jauh lebih tidak mendidik seperti GGS (ganteng-ganteng serigala), FTV-FTV dan sejenisnya. Kenapa tayangan sinetron justru aman-aman saja dan tidak terkena ancaman, sementara film-film kartun yang dipersepsikan oleh masyarakat sebagai film anak-anak justru dihentikan.

Sebelum berbicara lebih jauh sebaiknya perlu kita pahami terlebih dahulu apa itu film kartun. Film kartun pada dasarnya merupakan media berupa gambar bergerak yang digunakan untuk menceritakan sesuatu. Ketika orang-orang sudah bosan dengan gambar berupa manusia asli maka digunakanlah gambar bergerak yang kita kenal dengan kartun (cartoon) termasuk dalam perkembangannya adalah animasi. Jadi film kartun merupakan sebuah media dalam penggambaran sebuah film. Nah karena berupa media maka sifatnya netral, sehingga dalam menilai sebuah film kartun kita harus melihat kontennya terlebih dahulu.

Dalam kaitan dengan pembahasan kita maka tidak bisa kita katakan bahwa asal itu berupa film kartun maka pasti film anak-anak. Karena ternyata banyak film kartun yang kontennya bukan untuk konsumsi anak-anak. Hal ini dapat dipahami bahwa film kartun dibuat karena orang ingin sesuatu yang berbeda, sebuah cerita dengan tokoh bukan manusia. Lalu bagaimanakah film kartun disebut sebagai film anak-anak?

Kembali kepada asal mula film kartun, maka film kartun dikatakan menjadi konsumsi anak-anak atau dikatakan film anak-anak bila memenuhi syarat yaitu kontennya (baik jalan cerita maupun penggambaran tokohnya) mengandung pendidikan yang baik bagi anak-anak. Dengan demikian tentu saja adegan kekerasan (sebagaimana dalam Tom&Jerry, Khrisna, Spongebob) bukanlah konsumsi anak-anak. Bahkan ketika ada pendampingan sekalipun. Secara psikologis anak-anak akan lebih meniru apa yang dilihatnya ketimbang apa yang dikatakan kepadanya. Dari sini bisa kita katakan bahwa sebenarnya film tersebut bukanlah film bagi anak-anak meskipun menggunakan media berupa film kartun.

Lalu bagaimana halnya dengan sinetron yang selama ini digunakan sebagai pembanding? Kenapa film kartun dihentikan sementara sinetron yang jauh lebih tidak mendidik dibiarkan saja? Sebenarnya simple saja. Film kartun selama ini dipersepsikansebagai film anak-anak sehingga perlu pemantauan yang ketat terkait konten. Sementara sinetron, pangsa pasarnya orang-orang dewasa yang sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi tindakan KPI ini dinilai tepat jika kita melihat dari dampaknya. Dampak film terhadap anak-anak lebih besar daripada dampak terhadap orang dewasa.

Kemudian memang yang namanya dampak negatif seberapa besarnya tetap harus kita hindari. Artinya dari segi ini, sinetron yang tidak jelas itupun perlu dihentikan penayangannya. Untuk itu silakan saja layangkan protes atau keberatan atas penayangan suatu acara di televisi ke KPI. Dan marilah kita senantiasa menanggapi setiap situasi dengan kepala dingin, tidak perlu terpancing emosi.

Jangan biarkan gadget merenggut aktifitas si kecil

Gadget sudah menjadi sebuah kebutuhan hampir bagi setiap orang. Bahkan banyak juga orang yang memiliki lebih dari satu gadget. Dulu mungkin kita tidak berpikir bahwa suatu hari nanti kita akan memiliki ketergantungan terhadap sesuatu. Tetapi kini kita sepakat bahwa hampir setiap orang yang memiliki gadget menjadi kecanduan dan sangat tergantung dengan gadget. Jika dulu orang sangat khawatir jika dompet ketinggalan, maka sekarang orang akan sangat khawatir jika ketinggalan gadget. Seakan-akan gadget meenjelma menjadi separuh dirinya. Jika tidak ebrsama serasa ada yang kurang.

Kecanduan atau ketergantungan gadget ternyata tidak hanya menjangkiti orang yang sudah dewasa saja, yang sudah mampu membeli sendiri, tetapi juga menjangkiti anak-anak bahkan yang masih balita. Bagi sebagian orang tua mengenalkan gadget sejak dini bertujuan agar anak tidak ketinggalan jaman dan teknologi.Tetapi apakah hal ini tidak memiliki resiko bagi anak-anak kita?

Sebelum menjawab hal tersebut, ijinkan saya untuk menyampaikan bahwa apa yang saya sampaikan ini masih sebatas hipotesis yang saya ambil dari pengamatan yang ada di lingkungan sekitar. Belum menengok bukti empiris yang mungkin sudah dilakukan oleh orang lain.

Anak-anak yang kecanduan gadget menghabiskan banyak waktunya untuk berinteraksi dengan gadget entah itu belajar maupun bermain. Akibat hal ini adalah anak menjadi lebih sedikit melakukan aktifitas fisik dan interaksi sosial. Boleh jadi mereka berkumpul tetapi satu sama lain tidak ada interaksi karena asyik dengan gadget masing-masing. Otomatis tidak ada aktifitas fisik kecuali tarian jempol dan kedipan mata. Anak menjadi lebih pasif. Padahal dunia anak-anak membutuhkan eksplorasi yang luas. Tak seharusnya kesempatan menjelajah dunia dan mengenal kehidupan terampas oleh kehadiran gadget. Untuk itu sebagai orang tua atau orang yang dewasa sudah sepantasnya kita bijak dalam mengenalkan gadget kepada anak-anak. Jangan sampai anak menjadi kecanduan. Tetap beri kesempatan dan kalau bisa suruh anak untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya. Beri batas waktu penggunaan gadget misalnya hanya boleh 15 menit sehari atau bisa juga hanya boleh di akhir pekan, itupun hanya beberapa waktu saja tidak dibiarkan sepuasnya.

Namun terkadang sebagai orangtua dengan segala kesibukannya lebih memilih anaknya ditemani oleh gadget daripada bermain dengan teman-temannya. Alasannya sederhana, asal anak tenang dan diam tetapi tetap terawasi karena hanya beraktifitas di dalam rumah. Diakui atau tidak, ikut bermain bersama anak membutuhkan energi dan waktu yang besar. Belum lagi masih banyak orangtua yang enggan dan malu jika terlihat bermain bersama anak-anaknya. Dan menganggap bahwa hal seperti itu hanya membuang-buang waktu saja. Nah perlu kita ubah pola pikir yang seperti ini. Bagaimanapun, mendidik anak merupakan tugas dan tanggungjawab orangtua, termasuk di dalamnya mengajak bermain. Lebih baik orangtua berlelah-lelah tetapi anak bisa memperoleh pengalaman yang banyak daripada melihat anak diam dan tenang dengan gadgetnya.

Apakah dengan bermain gadget anak tidak bisa belajar? Terlalu banyak aplikasi edukasi yang bisa dipasang di perangkat gadget. Dan saya percaya bahwa itu juga menjadi sarana belajar yang baik. Tetapi sekali lagi anak-anak butuh mengapresiasi dan mengaktualisasi diri mereka melalui kegiatan fisik. Anak-anak yang cenderung memiliki energi berlebih jangan sampai tidak tersalurkan hanya karena sibuk bermain gadget. Bermain gadget meskipun dapat meningkatkan kecerdasan (aplikasi edukasi) tetapi tidak dapat membantu anak-anak untuk menumbuh kembangkan kemampuan motoriknya. Kemampuan motorik hanya bisa dicapai dengan beraktifitas. Penyaluran energi yang berlebih hanya bisa melalui kegiatan yang menguras energi, bukan menguras pikiran. Apa hebatnya anak pintar tetapi fisiknya lemah? Padahal fisik yang kuat akan mampu menopang kecerdasan anak dengan lebih optimal. Untuk itu marilah kita sebagai orangtua atau orang yang lebih dewasa bisa mengarahkan anak-anak untuk seminimal mungkin bermain dengan gadget. Ajak anak-anak untuk melakukan aktifitas fisik lebih banyak. Jangan sungkan dan malu bermain bersama anak.