Mendewasa Bersamamu

Seringkali saya membaca entah itu status di FB, twit dari teman atau status WhatsApp yang menuliskan kalimat “Menua Bersamamu”. Yang tentu maksudnya adalah memiliki seorang pendamping hidup yang akan selalu bersama sampai tua. Menjalani segala liku hidup bersama dalam suka dan duka.

Namun saya merasa bahwa kalimat “menua bersamamu” belumlah merupakan tujuan atau harapan ideal bagi kita yang mendamba pendamping hidup sejati. Ada harapan yang menurut saya jauh lebih baik yaitu “mendewasa bersamamu”. Ketika kita bicara tentang “menua bersamamu” maka ukurannya adalah usia. Ya, tua adalah bicara tentang banyaknya usia kita. Kita tentu paham bahwa usia adalah sesuatu yang diberikan (given) oleh Allah swt. Setiap kita sudah punya jatah sendiri-sendiri, meski kita tak tahu sampai kapan. Sebagaimana usia yang merupakan sesuatu yang given, tua juga merupakan sesuatu yang pasti (jika Allah berkehendak memanjangkan usia kita). Jika demikian mengapa kita mengharap sesuatu yang sudah pasti kita dapatkan (jika Allah memberikan usia panjang) ?

Tentu kita pernah mendengar kalimat “tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Nah sebenarnya dari sinilah saya menemukan kalimat “mendewasa bersamamu”. Saya memilih kata ‘mendewasa’ karena dengan menikah dan memiliki pendamping hidup maka proses menuju kedewasaan itu semakin baik. Dari pasangan, kita bisa belajar bagaimana menjadi dewasa. Bagimana menyikapi perbedaan diantara kita, bagaimana harus mengalah, bagaimana mengelola suasana hati dan masih banyak lagi. Dan ini tidak kita dapatkan secara gratis, atau dalam bahasa lain tidak given melainkan kita perlu belajar dan senantiasa berusaha untuk bisa bersikap dewasa. Maka dari itulah ‘mendewasa bersamamu’ memiliki makna bahwa bersama pasangan kita menuju pribadi yang semakin baik.

Dewasa itu berarti kita mampu menahan diri
Dewasa itu berarti kita mampu memahami
Dewasa itu berarti kita memberi empati
Dewasa itu berarti kita peduli

Dewasa itu bukan ‘pokoknya begini’
Dewasa itu bukan ‘kamu tak boleh begini’
Dewasa itu bukan pengekangan
Dewasa itu pilihan

Ironi dibalik sebuah Testpack

Beberapa hari yang lalu seorang perempuan seusia SMA datang ke Apotek kami. DIa membeli sebuah testpack. Karena ada 3 macam jenis dengan harga berbeda maka kami tawarkan untuk memilih yang mana. Dia pun memilih yang paling murah, sesuai kantong usianya mungkin. Entah maksudnya untuk meng-counter dugaan kami atau apa dia bilang :

“ Ini cuma titipan kok.. titipan bocah edan… “ seraya membayar seharga 3000 rupiah.

Ada sedikit tanya ketika dia bilang ‘titipan’ dan ‘bocah edan’. Tentu dengan usianya yang masih seusia SMA, ‘bocah edan’ itu adalah teman sebayanya. Tentu kita semua tahu apa kegunaan dari benda bernama testpack. Yup, tidak lain tidak bukan adalah untuk mengecek kehamilan. Berarti perempuan seusia SMA itu ada kemungkinan hamil. Dan tidak mungkin ada kehamilan kalau tidak melakukan hubungan seksual. Dan tidak mungkin sudah menikah karena ada kata-kata ‘bocah edan’. Dan kosakata ‘bocah edan’ mengacu kepada sesuatu yang buruk. Jadi apakah kesimpulan kita sama? Bahwa perempuan seusia SMA itu sudah melakukan hubungan terlarang, entah dengan pacarnya atau entah dengan siapa. Tetapi dari hubungan itu telah memunculkan sesuatu yang untuk mengetahuinya butuh sebuah alat bernama testpack. Na’udzubillah min dzalik.

Mungkin kita sudah berkali-kali mendengar cerita bahwa jaman sekarang banyak perempuan usia sekolah sudah tidak suci lagi. Mereka menggadaikan kehormatannya atas nama cinta (nafsu). Betapa rusaknya moral sebagian (besar) remaja kita. Apa yang ada di benak mereka ketika melakukan hal terlaknat itu? Apakah perwujudan cinta nan suci ataukah pelampiasan nafsu semata? Apa yang sebenarnya terjadi sehingga seusia mereka sudah melakukan hal-hal yang tidak saja bertentangan dengan hukum tetapi lebih jauh lagi bertentangan dengan hukum Allah.

Lalu salah siapakah ini?

Jika kita mencari siapa yang salah maka menunjuk hanya kepada mereka saja bukanlah hal yang adil. Bagaimanapun kondisi moral mereka yang rusak tidak terlepas dari hal-hal seperti berikut :

  1. Kurangnya pendidikan moral dan agama dari orangtua sekaligus kurangnya kontrol terhadap anak. Entah mengapa jaman sekarang orangtua cenderung bersikap permisif, apa-apa serba boleh, apa-apa dituruti. Dan parahnya lagi hampir di semua segi kehidupan. Apa yang terjadi kemudian adalah orangtua tidak lagi peduli dengan anak. Anak mau berbuat apa saja terserah. Yang penting masih mau sekolah. Sementara itu anak yang kehilangan perhatian orangtua mencari sumber perhatian di luar sana. Beruntung bila bertemu dengan teman-teman yang baik, tetapi bila bertemu dengan manusia-manusia ‘serigala berbulu domba’ maka habislah sudah.
  2. Lingkungan yang serba tidak peduli. Ketika orangtua si anak sudah tidak peduli maka apalah arti lingkungan. Apalagi lingkungan sekarang juga cenderung cuek. Alih-alih mengurusi anak orang lain, anak sendiri saja keteteran. Begitu kondisi sebagian besar masyarakat kita. Anak yang hidup dalam keluarga yang tidak peduli, ditambah lingkungan yang cuek semakin menjauhkan anak dari kehidupan yang penuh kasih dan sayang.
  3. Tontonan yang tidak mendidik. Kurangnya pendidikan yang diberikan oleh orang tua memberi kesempatan kepada tayangan televisi untuk menggantikan peran dalam mendidik. Dan sayangnya suguhan yang diberikan oleh orangtua kedua bernama televise sama sekali tidak mendidik.
  4. Sistem Pendidikan yang tidak kondusif bagi pembentukan moral. Sekolah sekarang nampaknya lebih bangga jika murid-muridnya lebih pandai dalam hal yang bersifat kognitif dibanding cerdas dalam akhlak. Pelajaran agama yang hanya 2 jam dalam seminggu dengan harapan murid-murid berakhlak mulia kiranya bagaikan punguk merindukan bulan. Belum lagi tidak adanya keteladanan dari seluruh pegawai di sekolah. Bahkan ada yang berstatus guru tetapi berbuat amoral. Lalu bagaimana nasibnya dengan murid-muridnya.
  5. Yang terakhir tentu saja pemerintah menjadi pihak yang juga mesti bertanggungjawab. Pemerintah perlu membuat sebuah system pendidikan yang bisa mengcounter pembentukan akhlak siswa. Tidak mengapa jika kiblat sistem pendidikan kita tidak mengekor sistem Barat. Justru dengan memiliki sistem pendidikan sendiri, yang cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yang memiliki adat ketimuran akan membawa perubahan yang signifikan.

Jangan sampai generasi masa depan dihancurkan oleh sikap lepas tangan dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap pembentukan moral anak. Orangtua, Keluarga, Lingkungan, Sekolah dan Pemerintah harus saling bahu membahu. Merasa bahwa tanggungjawab ini beban bersama, tidak saling lepas tangan.

Belajar Dari Air

Kuliah baru saja selesai. Aku melangkahkan kaki menuju masjid fakultas yang letaknya tak begitu jauh dari jurusanku. Matahari baru sepenggallah meninggi ketika itu. Kutunaikan empat rakaat dhuha sebagai sedekah bagi sendi-sendi tulangku dan seluruh diriku. Lengang, tak banyak yang menghadap-Nya. Seusai shalat sejenak kunikmati suasana pagi menjelang siang. Cukup sunyi. Tak pikuk dengan suara-suara manusia. Suara alam dengan sempurna menyajikan keindahan suasana. Suara burung nun jauh di pucuk pohon , diselingi gemericik air yang mengucur dari kolam di depan masjid begitu syahdu.

Sejenak kuterpaku pada ricik air yang mengucur dari kolam di depan masjid. Ricik yang disambut geliat ikan-ikan berwarna merah. Ricik yang menjadi senandung bagi hati yang rindu cahaya-Nya. Ada pelajaran yang kudapatkan dari sana.

Gemericik air yang memecah kesunyian. Memberi warna nada pada suara alam, begitu harmoni. Begitulah seharusnya hidup manusia. Kehadiran kita semestinya memberikan warna, memberikan kontribusi bagi alam sekitar. Keberadaan kita seharusnya menjadi lantaran bagi orang-orang sekeliling kita untuk mendapatkan hidayah-Nya. Ketiadaan kita dirindukan, dicari dan diingat.

Gemericik air berasal dari air yang tak pernah diam, senantiasa mengucur dari waktu ke waktu. Seharusnyalah kita senantiasa bergerak, beraktifitas, berbuat yang bermanfaat bagi kehidupan. Setiap tingkah laku kita, gerak langkah kita tidak ada yang sia-sia. Selalu saja ada hikmah yang bisa diambil oleh orang-orang di sekeliling kita. Tidak patutlah bagi kita untuk diam, tidak berbuat apa-apa. Bukankah air yang diam hanya akan membawa banyak penyakit?

Beningnya air membawa pesona bagi sesiapa yang melihat. Terlihatlah segala keindahan yang ada di dalamnya. Ikan, rumput air, binatang-binatang air dan beribu makhluk-Nya yang lain. Beningnya hati dan indahnya akhlak manusia akan membawa kebaikan bagi sesiapa yang memilikinya. Keteladanan dan kerendahan hati terpancar dari pribadi yang jernih, pribadi yang berakhlak mulia. Siapakah kiranya yang sudi memandang air nan keruh?

Air memberi banyak pelajaran kepada kita. Melalui air, Allah hendak mengajarkan kepada kita bagaimana agar bisa memberi manfaat kepada alam semesta. Bukankah hikmah itu milik kita, muslim, yang tercecer? Dan ambillah hikmah itu dimanapun berada.

Profesionalisme : Antara Kepuasan Pelanggan dan Kepentingan Keluarga

Pernah suatu kali saya mencetakkan nota ke salah satu teman saya. Dalam perjanjian awal bahwa nota tersebut disepakati selesai hari Jumat. Pada Jumat yang disepakati saya menanyakan hal ihwal proses nota tersebut. tentu dalam harapan saya bahwa nota tersebut sudah jadi sesuai dengan kesepakatan. Namun ketika saya konfirmasi ternyata belum jadi, karena ada kerabatnya yang meninggal dunia sehingga focus mengurusi hal tersebut. Meski demikian teman saya bersedia untuk menyelesaikan segera dan diusahakan Sabtu sudah jadi. Sebagai pelanggan tentu saja saya kecewa. Meski hanya selang satu hari tetapi bisa memundurkan rencana-rencana yang sudah disusun.

Lain waktu dan sering saya alami yaitu ketika menggunakan jasa penjahit untuk membuatkan baju atau celana. Dalam hal ini saya selalu menanyakan kapan bisa diselesaikan, tentu karena tidak mendesak sehingga saya mempersilahkan tukang jahit menentukan tenggat waktu penyelesaian pesanan saya. Namun apa yang terjadi, ketika sampai tanggal yang dijanjikan ternyata belum jadi. Alasannya beragam, mulai dari ada acara keluarga yang butuh waktu berhari-hari, terlalu banyak yang harus dijahit, sakit dan lain sebagainya. Lagi-lagi saya sebagai pelanggan merasa kecewa karena harapan tidak terpenuhi. Masih banyak pengalaman tentang hal-hal bernada demikian. Kecewa karena pihak lain tidak menepati kesepakatan. Tentu kita akan menyebut bahwa mereka tidak profesional karena memenuhi salah satu diantara ciri perilaku tidak profesional yaitu tidak tepat sesuai kesepakatan (komitmen). Belum lagi bila ditambah dengan hasil pekerjaan tidak sesuai harapan, maka sempurnalah sudah sebutan ‘tidak profesional’ tersebut.

Sebagai pelanggan kita tentu berharap bahwa apa yang telah menjadi kesepakatan kiranya dapat ditepati. Kita tidak mau tahu bagaimana kondisi pihak lain yang penting barang kita jadi. Entah itu ada acara keluarga, sedang bepergian atau hal lain itu merupakan resiko yang harus dihadapi oleh pihak lain tersebut. Bukankah pelanggan adalah raja, yang harus diutamakan dibanding keperluan yang lain, demikian dalam benak sebagian kita. Apakah itu salah? Tidak juga, karena itu adalah hak kita. Bahkan ada yang sampai menjadikan sebuah penilaian dan tindak lanjut. Ketika sudah menilai tidak profesional maka selanjutnya tidak akan pernah lagi datang ke tempat tersebut, lebih baik cari yang baru lagi.

Namun bagaimana jadinya bila suatu saat kita menjadi pihak yang dipergunakan jasanya? Ketika kita sudah berjanji untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin, sesuai kesepakatan, namun rupanya di tengah perjalanan ada hal-hal yang menyebabkan keterlambatan penyelesaian tugas. Tentu saja merupakan hal yang berat. Memberitahukan kepada pelanggan mengenai kenyataan ini (pekerjaan tidak selesai) merupakan perjuangan tersendiri. Ada reputasi yang dipertaruhkan di sana. Bila salah maka kredibilitas dan eksistensi usaha menjadi terancam. Setidaknya terancam kehilangan satu pelanggan. Dan yang ditakutkan bahwa pelanggan yang kecewa akan melakukan promosi negatif ke masyarakat.Mengingat resiko ini sudah seharusnya ketika kita terposisikan sebagai pihak yang digunakan jasanya untuk sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Jika terpaksa belum selesai beritahukan kepada pelanggan dan berikan waktu kedua yang bisa ditepati. Dengan demikian pelanggan tidak begitu kecewa dan mau menunggu.

Memang ketika kita berbicara mengenai profesional, maka selalu ada hal yang dibenturkan. Yaitu antara menjaga profesionalisme dengan mengorbankan kepentingan pribadi atau mengorbankan profesionalisme dengan menjaga kepentingan pribadi. Sebenarnya kalau terkait masalah pribadi saja masih banyak yang dengan mudah bisa melewatinya. tetapi banyak yang gagal jka yang menjadi faktor penghambat adalah keluarga. Untuk itu ada hal yang bisa kita lakukan yaitu dengan menyeimbangkannya. Pekerjaan bagaimanapun harus selesai tepat waktu sementara itu kepentingan keluarga juga terpenuhi. Hanya konsekuensinya adalah kita perlu mengorbankan waktu pribadi kita. Lembur menjadi pilihan yang tak terelakkan. Namun itulah hal yang mesti kita lakukan demi menjaga profesionalisme kita.

(Mau) Menikah Itu Banyak Tantangannya

Telah banyak obrolan saya dengan beberapa teman mengenai menikah. Yah apa saja seputar pernikahan lah. Terutama peristiwa-peristiwa sebelum akad itu terjadi. Nyambung dengan judul di atas bahwa menikah itu memang banyak tantangannya. Lajang, bagaimanapun suatu saat akan menjadi status yang membuat dilema bagi sebagian kita. Ketika usia tak lagi muda, ketika kepala tiga itu hanya sejarak satu kali musim atau malah kepala tiga sudah lewat beberapa pergantian musim hujan yang lalu. Pada masa ini menurut, pembicaraan saya dan teman saya, adalah usia yang kritis. Usia yang menentukan tindakan selanjutnya. Jika pada usia yang menentukan tadi datang sang belahan jiwa, pujaan hati maka pernikahan itu menjadi sesuatu yang indah. Ketika kebutuhan itu mendapat penyaluran yang halal lagi tepat waktu. Namun jika dalam masa menentukan tersebut, gambaran tentang pernikahan itu terlewat, biasanya baru akan terealisasi beberapa tahun kemudian.

Ketika seseorang menginjak kepala tiga (usia tak lagi muda) maka semakin banyak pertimbangan-pertimbangan yang menggelayut. Merasa belum mapan, merasa minder takut tidak ada yang mau, terlalu pemilih, ingin yang sempurna. Terlalu banyak referensi yang sudah disaksikan dari pernikahan teman-temannya. Akhirnya muncul ketakutan-ketakutan yang mengakibatkan tidak berani mengambil resiko (atau saya lebih suka bilang ‘tantangan’). Padahal kondisinya sebagaimana dikatakan dalam iklan “ kalau bukan sekarang kapan lagi? “.

Bagi kita yang telah menikah pasti setuju bahwa proses menuju pernikahan itu panjang dan berliku. Setidaknya yang berkaitan dengan tradisi dan pengurusan surat-surat. Ada saja tantangan yang harus dihadapi. Berikut ini akan kita coba gali tantangan-tantangan dalam setiap tahap menuju pernikahan.

  1. Memilih calon

Saya yakin pada tahap inilah biasanya memakan energi paling besar. Bisa berupa waktu yang lama atau pemikiran yang serius nan panjang dalam memutuskan. Memang tidak mudah memilih calon, apalagi kalau posisi tawar kita sangat strategis. Bisa dibilang termasuk dalam kategori orang-orang yang ‘ siapa sih yang bisa menolak? ’. Kalau sudah begini perlu pemikiran serius kepada siapa hati kan dilabuhkan. Posisi strategis di satu sisi member poin tambahan tersendiri. Tetapi di sisi lain menjadi semacam beban. Ketika kita sudah menentukan satu nama, kemudian timbul bisikan ‘jangan-jangan ada yang lebih baik’.

Memilih calon memang tidak boleh sembarangan. Bibit, bobot dan bebetnya perlu dipertimbangkan. Hal ini senada dengan tuntunan Rasulullah SAW bahwa wanita itu dinikahi karena 4 hal yaitu kecantikannya, hartanya, nasabnya dan agamanya. Dan ditekankan untuk lebih memberi porsi lebih kepada agamanya. Artinya lihat dulu lah agamanya. Kalau bagus ya jangan ditolak. Tapi sebagai manusia pasti ada pertimbangan yang lain. Itu wajar saja selama tidak menafikan faktor utama yaitu agamanya. Kalau ada dua orang yang agamanya setimbang, tetapi satu berparas arjuna dan satu berwajah kurawa maka tidak salah kan jika dipilih yang berparas arjuna. Itu manusiawi. Tetapi yang terjadi kebanyakan adalah lihat dulu fisiknya, agama nomer dua. Alasannya kalau agama kan bisa dipelajari, tetapi cantik atau tampan kan sudah bawaan lahir. Kalau yang begini ini saya tidak bisa komentar lebih.

  1. Mendapat Restu Orangtua

Calon sudah terpilih, 50% + 1 hati condong kepada satu nama, secara hukum telah memenuhi kuorum dan meyakinkan. Tidak bisa diganggu gugat meski dilaporkan ke MK. Tetapi itu baru melewati satu tantangan awal. Tantangan berikutnya adalah memperkenalkan si calon kepada orangtua atau wali. Tujuannya jelas yaitu untuk mendapat restu dari orang tua. Jangan sampai menikah tidak dengan restu orang tua. Dijamin hidup takkan bahagia. Memang sekarang agaknya orangtua sudah memasrahkan sepenuhnya pilihan kepada si anak karena yang akan menjalani adalah si anak sendiri. Tetapi hal ini tidak menafikan bahwa restu orangtua itu penting. Kita perlu tahu bahwa orangtua memiliki feeling yang kuat terhadap seseorang yang ingin menjadi pendamping kita. Entah kekuatan darimana tetapi feeling itu sebagian besranya tepat nan jitu. Ketika orangtua tidak setuju maka mantaplah untuk mundur. Tak perlu lagi basa basi. Cari yang lain dan ajukan kembali. Lalu gimana masalah cinta? Biarkan Cinta pergi bersama Rangga. Toh cinta dapat ditemukan lagi. Kalau restu orangtua? Selama orangtua tidak merestui maka selama itu pula kehidupan rumah tangga jauh dari bahagia. Lalu dimana peranan cinta? Cinta tak berperan apa-apa, justru Cinta diperankan oleh Dian Satro Wardoyo. Intinya restu orangtua menjadi pertimbangan utama.

  1. Menjalani tradisi

Kita hidup dalam masyarakat yang tak lepas dari tradisi. Tradisi memang bukan hal wajib yang mana tanpa ikut tradisipun pernikahan kita bisa sah. Tetapi sekali lagi kita bhidup dalam masyarakat, kalau tidak ikut tradisi maka kita tidak dianggap bagian dari masyarakat tersebut. Apa salahnya kita ikut tradisi asal tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama kita. Dalam tradisi Jawa misalnya, pembicaraan baru dianggap serius manakala keluarga pria datang kepada keluarga wanita. Kemudian dilanjutkan lamaran dan penentuan tanggal. Tapi di adat lain, justru pihak wanita yang mendatangi keluarga pria. Atau seperti di Makassar ada istilah uang pannai’ yaitu sejumlah uang yang dietentukan oleh pihak wanita sebagai syarat diterimanya sebuah lamaran. Dan masih banyak tradisi-tradisi yang lain. Nah ikuti saja tradisi-tradisi tersebut. Insya Allah akan lebih mempermudah prosesnya. Jangan sampai karena pengen cepetnya, begitu datang ke rumah si wanita langsung minta diakadkan. Yang ada malah menjadikan fitnah dan kecurigaan keluarga dan masyarakat. Jadi menikah itu kudu sabar menjalani prosesnya.

  1. Mengurus surat-surat

Yang tidak kalah penting dan menguras energi adalah mengurus surat-surat. Belum lagi kalau antar daerah, antar provinsi atau antar pulau. Dan semua itu harus diurus sebelum akad. Untuk itu silakan tanya ke KUA terdekat apa syarat-syaratnya dan bagaimana prosedurnya. Jangan malu datang ke KUA karena petugasnya gak malu-maluin kok. Lagian juga gak bakal ditanya perlunya apa. Karena hampir semua yang datang ke KUA pasti mengurus pernikahan. Mungkin karena tahunya KUA hanya untuk urusan pernikahan. Padahal banyak kok fungsi KUA selain mengurus pernikahan. Silakan tanya ke KUA saja.

  1. Tantangan malam pertama

Nah selamat bagi teman-teman yang akan melalui tantangan ini. Artinya sudah lolos tahap-tahap sebelumnya. Tapi jangan senang dulu, tantangan dalam berumahtangga baru saja akan dimulai. Yup malam pertama menjadi malam dimulainya kehidupan rumah tangga. Jadi persiapkan diri menghadapi malam tersebut. Jalani dengan ikhlas dan senang hati. Walau kata orang malam pertama adalah malam yang paling indah, tapi jangan lewatkan malam pertama hanya dengan melihat bintang melalui jendela takut momen indah itu terlewat. Yang perlu jadi perhatian adalah jangan sampai prosesi resepsi menguras energi sehingga malamnya justru tepar alias terkapar di atas ranjang, berdua dalam balutan baju pengantin. Keesokan harinya baru ingat kalau baju pengantin masih melekat. Sudah ditunggui pihak salon di depan pintu. Jadi banyak olahraga seminggu sebelum acara sehingga badan akan fit sepanjang hari.

Setelah malam pertama maka tantangan-tantangan itu akan muncul setiap hari. Mulai dari penyesuaian diri dengan kehidupan baru, penyesuaian diri dengan pasangan, mertua, masyarakat. Belum kalau sudah punya anak maka tantangan-tantangan itu akan semakin banyak. Tetapi jangan khawatir, insya Allah kita akan mampu menghadapinya. Sennatiasa belajar dari para professional dan senior-senior kita. #Okesip! Persiapkan dirimu hadapi tantangan !!!

Yang cantik-cantik selalu bikin heboh. Lebay gak sih?

Setiap berita yang memuat kosakata ‘wanita cantik’ selalu menjadi viral di dunia maya. Sumber beritanya langsung menyebar di mana-mana. Bahkan tak jarang kita membaca hal yang sama dari sumber yang berbeda-beda. Tengok saja judul semacam “ wanita cantik ini menjadi tukang tambal ban “ atau “ penjaja camilan yang cantik “ atau “ wanita cantik ini berprofesi sebagai pemulung” pasti akan menjadi trending topic meskipun untuk tempo yang tidak lama. Dalam kasus ini saya lebih melihat bahwa sebagian kita penasaran. Masak sih cantik-canti jadi tukang tambal ban? Masak sih cantik-cantik cuma jadi penjaja camilan? Masak sih pemulung kok cantik?

Nah dari dasar berpikir inilah saya ingin berkomentar. Kayaknya bagi sebagian kita masih sulit memahami ketika ada wanita cantik menjalani profesi yang bagi sebagian kita termasuk dalam kasta nomor dua. Atau dengan kata lain awalnya kita membuat kalimat yang menyatakan keraguan “ Ah gak mungkin wanita cantik mau jadi tukang tambal ban atau penjaja camilan atau pemulung…“ Tapi persepsi seperti itu LEBAY gak sih?

Bukankah setiap kita berhak punya pekerjaan tanpa harus dikaitkan dengan wujud fisik kita. Yang namanya fisik kan sudah pemberian Yang Maha Kuasa dari sononya. Lantas apakah hal tersebut menjadikan seseorang pantas dan tidak pantas menjalani sebuah pekerjaan tertentu. Apakah yang cantik tidak boleh menjadi tukang tambal ban atau pemulung? Kok seakan kita justru mengatakan bahwa tukang tambal ban atau pemulung itu pekerjaan orang-orang berfisik jelek, yang cantik gak pantas. Lalu ketika kenyataan memang demikian, yang cantik dengan pekerjaan tidak cantik maka akan timbul simpati, dorongan dan penyemangat. Bukankah itu artinya diskriminasi bagi yang tidak berfisik cantik nan rupawan. Kenapa mereka tidak mendapat simpati dan penyemangat juga.

Setiap pekerjaan halal adalah mulia sehingga siapapun boleh mengerjakannya, baik cantik maupun tidak. Tidak perlulah kita memperlakukan spesial apalagi hanya karena si wajah cantik. Jika demikian adanya berarti kita memperlakukan secara spesial seseorang yang sudah spesial dengan diberi fisik yang menarik.Lagipula tidak semua yang cantik beruntung mendapat pekerjaan sesuai menurut keadaan fisiknya. Jangan sampai gara-gara komentar yang menyayangkan akhirnya dia merasa tidak cocok dan tidak totalitas. Atau mungkin sebagian kita lebih menyukai wanita cantik yang nganggur saja daripada kerja tetapi pekerjaan kasta dua. Hmmm… entahlah.

Dunia Motor : Laki-laki itupun berubah menjadi Bebek

Sudah hampir tiga bulan ini saya sudah tidak bersamanya. Dia sudah pergi dijemput sepasukan prajurit Soekarno-Hatta yang berjumlah 75 orang itu. Kini sebagai penggantinya saya telah dipersuntingkan dengan yang lain. Laki-laki itupun berubah menjadi bebek. Ngomongin apa sih?

Ini tulisan sebenarnya mau memberitahu bahwa saya tidak lagi mengendarai motor Laki-laki dan berganti dengan motor Bebek. Makanya judulnya dibuat sedemikian sehingga agak dramatis, menurut saya. Mega Pro tahun 2005 yang sudah setahun membersamai saya akhirnya dilepas seharga Rp.7.500.000,- pada suatu malam di saat yang tak terduga. Kemudian berganti dengan bebek Supra X 100 cc. Memang ada bedanya sih, sangat terasa. Yang sebelumnya 160 cc disunat menjadi 100 cc. Kalau dulu berkendara dengan pelan adalah pilihan maka sekarang adalah kewajiban. Kalau dulu pengen ngebut tinggal tarik gas pol, sekarang harus lebih sabar. Mau gas pol si bebek meronta, dibawa pelan kadang menguji emosi apalagi kalau telat berangkat.

Tapi tak perlu disesali lha wong nyatanya memang tidak menyesal. Ambil hikmahnya saja bahwa dengan kendaraan yang bisanya pelan, mau dipaksa seperti apapun juga tetap pelan, membawa keuntungan bahwa kita bisa lebih aman berkendara. Tidak ada acara kebut-kebutan di jalan, selain gak aman juga nyali sudah tidak sebesar dulu. Sekarang sudah mikir-mikir. Lebih mengutamakan selamat karena ada yang menunggu di rumah.

Mengendarai motor bebek memberi keuntungan terutama bagi orang-orang seperti saya yang memiliki balita. Betapa repotnya jika menggendong sambil mengendarai motor seperti pernah saya alami dengan mega pro. Tangan kanan pegang gas, tangan kiri siaga dengan kopling. Kadang ada rasa tidak nyaman terkait keamanan si kecil. Dengan motor bebek maka tangan kiri leluasa pegang si kecil sementara tangan kanan pegang gas. Jalan pelan-pelan tetap oke karena tidak perlu khawatir motor mati mendadak karena tarikan gas kurang. Dan lebih nyaman membawa si kecil berkeliling kompleks karena yakin dalam pegangan kita.

Yang selanjutnya lebih gampang dalam membawa beban, semisal harus isi ulang galon di warung terdekat. Membawa pakai motor bebek ternyata membawa kemudahan tersendiri. Belum lagi jika diminta belanja maka akan lebih mudah membawa belanjaan. Dan masih banyak lagi. Jadi di satu sisi bolehlah ada sesuatu yang berkurang, tetapi di sisi lain banyak kelebihan yang dihadirkan. So syukuri yang ada saja.