Kok kembaliannya PERMEN? Gimana kalau saya beli juga pakai PERMEN?

Kemarin sore saya membeli barang di sebuah toko seharga Rp. 43.200,-. Saya membayar dengan uang Rp.50.000,-. Seharusnya kembaliannya adalah Rp. 6.800,- tetapi saya menerima 1 lembar limaribuan, 1 lembar seribuan, 1 keping limaratusan, 1 keping duaratusan dan sebuah permen. Tetapi untungnya saya punya 1 keping duaratusan sehingga saya tidak jadi menerima permen tersebut, karena kembaliannya jadi pas Rp.7000,-. Tetapi di lain waktu sebelumnya saya akhirnya terpaksa harus menerima kembalian berupa permen tersebut. Yup kembalian dengan sebuah permen. Bukan sekali ini saja saya menjumpai kondisi seperti itu di toko yang sama. Dan juga bukan sekali ini saja saya menjumpai hal ini terjadi, tetapi juga di toko-toko yang lain. Kembalian dengan permen. Entah apa alasannya, mungkin karena tidak punya receh. Tetapi apapun alasannya seharusnya sebuah toko tidak selayaknya memberikan kembalian dengan permen.

Gampangnya saja permen bukanlah alat tukar yang bisa digunakan untuk membeli kembali. Coba misalkan kita membeli barang seharga Rp.5.200,- dan kita membayar dengan selembar limaribuan dan dua buah permen, kira-kira apakah tokonya mau menerima? Saya yakin 93% tidak mau menerima. Lah kalau tidak mau menerima mengapa memberikan kembalian berupa permen? Di sisi ini saya memandang ada ketidakadilan dan pemaksaan sepihak. Konsumen dipaksa menerima kembalian berupa permen tetapi permen itu tidak bisa digunakan untuk membeli lagi. Seharusnya jika memang memberikan kembalian berupa permen maka ketika permen itu digunakan untuk membeli lagi di toko tersebut juga masih berlaku sehingga konsumen tidak dirugikan. Mungkin sebagian orang tidak mempermasalahkan hal demikian, tetapi dari sekian banyak pembeli pastinya ada yang tidak sreg dengan cara seperti ini. Apalagi permen belum tentu dibutuhkan oleh konsumen yang bersangkutan. Belum lagi kalau uang yang diganti permen sekitar Rp.300- Rp.400. Kan itu bisa digunakan untuk menggenapi pembelian di tempat lain.

Yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah status kehalalan uang yang senilai 100 – 400 tadi. Bisa saja kasirnya bilang “yang 200 permen ya..” tetapi apakah hal itu lantas membuat konsumen pasti rela dan ikhlas? Apakah tidak terpikirkan bahwa kemungkinan konsumen itu menerima karena terpaksa dan ada rasa tidak ikhlas. Bukankah kalau sudah begini sama saja dengan perampokan terselubung, pencurian tidak kentara.

Seharusnya setiap toko menyediakan uang dalam pecahan berapapun sehingga setiap konsumen mendapatkan kembaliannya berupa uang yang mana bisa digunakan untuk membeli di tempat lain. Atau kalau terpaksanya buatlah sebuah kupon kembalian dan kupon itu bisa digunakan lagi untuk membeli di toko yang sama di lain waktu. Sehingga tidak sedikitpun konsumen dipaksa untuk menerima kembalian yang tidak dibutuhkan dan tidak bisa digunakan untuk membeli lagi. Dan bagi kita yang memiliki toko atau usaha dagang lainnya mari kita sediakan uang recehan dan kita tunaikan hak pembeli termasuk memberikan kembalian berupa uang bukan permen.

3 Tipe Orangtua dalam menghadapi “kenakalan” anak balita

Usia balita merupakan masa dimana anak belajar banyak hal. Ada yang mengatakan bahwa periode ini adalah periode emas sehingga sayang jika pada masa ini keinginan anak untuk belajar justru dihambat oleh orangtuanya. Apa-apa serba tidak boleh. Keaktifan seorang anak balita merupakan hal yang sangat wajar. Rasa ingin tahu begitu besar. Dan untuk memuaskan rasa keingintahuannya tak jarang anak mencoba-coba banyak hal. Bisa dikatakan seolah-olah tiada rasa lelah dalam diri si anak. Memang energi balita itu besar dan butuh penyaluran berupa aktifitas fisik. Karena mobilitasnya yang tinggi tak jarang membuat orangtua kerepotan bahkan ada yang sampai dibuat pusing. Kalau sudah begini banyak orangtua yang melabeli anaknya “nakal”. Padahal hal seperti ini seharusnya disyukuri. Dengan aktifnya anak maka ia akan belajar banyak hal. Sebagai orangtua kita seharusnya menjadi guru bagi mereka dalam mengenal hal-hal di sekitarnya. Ada tiga tipe orangtua dalam menghadapi keaktifan anak.

1. Terlalu membatasi

Sedikit-sedikit dilarang, apa-apa tidak boleh. Kalimat yang sering keluar adalah kalimat larangan dengan nada bentakan.

” Eh makanan jangan ditumpahin, nanti kotor… “ atau
“ Jangan lari-larian nanti jatuh, sakit siapa yang repot… “ atau
“ Dah dibilangin jangan mainan kayu.. kalau kepukul gini sakitkan… “ atau
“ Kamu tuh bisanya ngrepotin mama saja… makanya denger omongan mama…” dan lain sebagainya.

Belum lagi ditambah dengan gerakan fisik seperti menarik anak dengan paksa, menjewer, memukul.

Sebagai orangtua memang sedang diuji kesabarannya. Anak yang sering bermain kotor-kotor, menumpahkan makanan atau minumannya, suka memukul apa saja sejatinya sedang belajar melalui tindakan. Tetapi sebagian orangtua menganggap itu sebuah kenakalan. Mereka cenderung berpikir dengan pola pikir orang dewasa bahwa tidak seharusnya baju yang baru saja ganti dibuat main kotor-kotor, tidak selayaknya makanan dan minuman ditumpahkan, tidak sepatutnya benda-benda sekitar dipukul-pukul. Orangtua seakan lupa bahwa anak-anak belum paham semua itu. Lha wong mereka sedang belajar kok. Apalagi kalau ditelusuri lebih lanjut bahwa kalimat larangan itu adalah untuk menghentikan anak beraktifitas yang ujung-ujungnya membuat rumah berantakan. Kalau sudah begitu siapa lagi yang harus repot membersihkan rumah? Tentu saja orangtuanya. Nah daripada bersusah payah kerepotan membersihkan rumah, sebagian orangtua memilih untuk menghentikan anak sebelum melakukan tindakan-tindakan tersebut. Apa yang terjadi? Justru anak tidak akan belajar banyak hal. Lebih parah dari itu anak enggan untuk mencoba hal-hal baru karena takut dimarahi.

2. Serba boleh.

Kebalikan dari tipe nomor satu di atas, tipe orangtua ini serba boleh. Anak mau melakukan apa saja dipersilahkan. Tidak ada kendali dari orangtua terhadap si anak. Atau kalau boleh dibilang tipe orangtua seperti ini adalah tipe orangtua yang cuek. Tidak hanya bermain yang aman, bermain yang berbahaya pun dibiarkan saja. Dalam pikiran mereka biarlah anak belajar dengan merasakan sendiri. Maka tak jarang anak terlukapun tidak segera ditolong, bahkan ada yang sama sekali tidak memberikan empati. Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus maka anak tidak tahu apakah yang dilakukan benar atau salah, boleh atau tidak boleh. Jangan heran jika sudah besar anak yang dididik oleh orangtua yang cuek akan menjadi anak yang tidak tahu adab kesopanan bahkan yang lebih parah bisa menjadi seorang kriminal.

3. Tipe pertengahan.

Orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat apa saja karena paham bahwa itulah cara anak untuk belajar. Tetapi anak tetap dalam pengawasan orangtua. Sekiranya anak melakukan hal-hal yang berbahaya baik bagi dirinya sendiri atau oranglain maka saatnya orangtua memberitahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Selama hal tersebut baik untuk perkembangan anak baik fisik maupun non fisik maka orangtua memberikan kebebasan dan pendampingan. Orangtua tidak merasa repot jika akhirnya harus membereskan rumah yang berantakan. Orangtua sadar bahwa ini adalah kewajiban sebagai orangtua dan inilah salah satu bentuk kesiapan menjadi orangtua. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang menerapkan tipe ini insya Allah akan menjadi anak yang cerdas dan pintar. Anak akan menjadi kebanggaan dan teladan bagi teman-temannya.

Nah tipe mana yang anda pilih?

Gaya Mendidik Warisan Orang Tua. Bagaimana menyikapinya?

Setiap orang tua memiliki gaya mendidik anak yang berbeda-beda antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Bahkan antara suami dan istri tidak jarang memiliki gaya yang berbeda dalam hal mendidik anak. Sebagian besar keluarga meniru gaya orangtuanya dalam mendidik anak. Mereka akan meniru cara orang tua mendidik mereka ketika masih kecil. Terlebih lagi pada komunitas dimana tingkat pertukaran informasi sangat rendah sehingga informasi yang diperoleh terkait mendidik anak hanya diperoleh dari orang tuanya dan lingkungan sekitarnya. Belum lagi bagi yang masih tinggal bersama orang tua dan belum ada kesepakatan bersama (antara orangtua anak dan kakek-neneknya) dalam mendidik anak maka dominasi kakek-nenek biasanya akan lebih besar daripada kedua orangtua.

Setidaknya ada tiga cara penyikapan yang biasa dilakukan oleh keluarga terhadap gaya mendidik warisan orangtua ini.

1. Meniru penuh gaya mendidik warisan orangtua.

Memang lebih mudah jika kita meniru gaya mendidik orangtua. Selama kita tumbuh dalam keluarga maka selama itu pulalah kita mempelajari dan menyerap apa yang diajarkan oleh orang tua. Ketika tiba saatnya mendidik anak maka kita tinggal meniru saja bagaimana orang tua mendidik kita. Cara ini relatif lebih mudah apalagi jika kita masih tinggal serumah dengan orang tua. Apa yang kita lakukan akan didukung penuh oleh orangtua kita. Meniru penuh gaya mendidik orangtua kita memang tidak sepenuhnya salah tapi juga tanpa resiko. Jika gaya mendidik orangtua kita baik maka tidak ada salahnya jika kita ingin meniru secara penuh. Cara mudahnya lihatlah diri kita. Inilah hasil dari gaya mendidik orangtua kita. Bisa jadi ketika kita meniru cara orangtua kita maka hasilnya seperti kita juga. Tetapi perlu pertimbangkan juga bahwa anak-anak kita hidup di jaman yang berbeda dengan kita. Sehingga mungkin saja akan ada perbedaan hasil, tetapi tidak akan jauh-jauh dari hasil nyata yang kita lihat yaitu diri kita.

2. Menolak sepenuhnya gaya mendidik warisan orangtua

Saya melihat bahwa sebagian besar menerapkan cara penyikapan seperti ini. Sebagian menganggap bahwa cara mendidik ala orangtua kita kurang baik. Boleh jadi ada trauma-trauma masa lalu, kekecewaan terhadap orangtua dan lain sebagainya sehingga tidak mau jika anak-anaknya mengalami hal serupa. Oleh sebab itu cara paling jitu adalah dengan menolak cara yang orangtua kita lakukan. Jika dulu kita merasa dikekang semasa kecil, tidak boleh ini, tidak boleh itu maka ketika menjadi orangtua kita akan lebih permisif terhadap banyak hal. Tapi juga sebaliknya ada yang ketika kecil diperlakukan dengan lemah lembut tetapi ternyata menjadikan dirinya anak yang juga lemah maka ketika menjadi orangtua akan bersikap lebih keras agar anak-anak menjadi orang yang kuat.

3. Mengambil sisi baik gaya mendidik warisan orangtua

Tipe cara penyikapan yang ketiga adalah mengambil sisi baik gaya mendidik ala orangtua kita. Tentu dalam setiap diri dan apa yang dilakukan oleh orang lain pasti ada sisi baik yang bisa diambil. Termasuk dalam hal ini adalah gaya atau cara mendidik anak yang dilakukan oleh orangtua kita. Nah memang cara yang terbaik menyikapi gaya mendidik warisan orangtua adalah dengan mengambil sisi baiknya dan menghindari sisi buruknya. Kita bisa mengambil cara-cara atau metode apa saja sih yang baik dari orangtua kita untuk kemudian kita terapkan kepada anak-anak kita. Misalnya orangtua kita mendidik dengan lemah lembut, jauh dari kekerasan maka kita perlu untuk meniru hal tersebut. Kemudian kita juga harus menghindari cara-cara yang tidak baik. Semisal orangtua mendidik dengan sangat keras atau justru malah tidak disiplin maka kita perlu menolak hal tersebut.

Dengan banyak belajar maka insya Allah kita akan lebih tahu bagaimana cara terbaik dalam mendidik anak. Mengambil yang baik dari orangtua maupun lingkungan merupakan salah satu cara belajar kita. Mari kita nikmati peran sebagai orangtua. Butuh kesabaran? Itu pasti. Butuh perjuangan? Sudah barang tentu. Mudah? Tidak juga. Sulit? Bisa dibuat mudah juga kok. So… selamat menikmati..

Ketika Yang Kudapat Bukan Pilihan Pertama

Kemarin sore menyempatkan silaturahim ke seorang ummi yang notabene adalah guru dari bundanya Aisha. Ada hal menarik yang beliau sampaikan terkait putranya. Biasalah terkadang kalau kita silaturahim ke seseorang ada saja hal tentang keluarganya yang diceritakan. Dan sore kemarin beliau berserita tentang anak laki-lakinya yang sekarang akan menginjak bangku kuliah. Beliau bercerita bahwa anaknya tidak bersemangat untuk menempuh kuliah di Geografi UGM. Mungkin bagi sebagian kita sudah begitu wah mendengar nama universitas yang prestisius di kota gudeg ini. Tapi kata beliau anaknya tidak ada senyum-senyumnya. Ada apakah gerangan?

Ternyata apa yang hendak dia jalani bukanlah apa yang dia inginkan. Sebenarnya dia ingin kuliah di Teknik Sipil. Pilihan pertama adalah Teknik Sipil ITB, pilihan kedua adalah Teknik Sipil UGM dan pilihan ketiga adalah Geografi UGM. Dan takdir menyatakan bahwa pilihan ketigalah yang dia peroleh. Mungkin ada rasa kecewa karena justru pilihan terakhir, yang mungkin saja waktu mengisi pilihan itu tidak sepenuh hati, sehingga tidak bersemangat untuk menjalaninya.

Saya jadi teringat akan kondisi saya yang dulu juga tidak mendapatkan pilihan pertama saat kuliah. Dulu piliha pertama saya adalah Teknik Elektro UGM. Tetapi takdir menyatakan bahwa saya lolosnya di Elektronika dan Instrumentasi UGM yang nota bene-nya adalah pilihan kedua saya. Memang ada rasa kecewa ketika ternyata apa yang didapat bukanlah apa yang sangat kita inginkan. Tentu kita paham bahwa ketika menempatkan sesuatu pada pilihan pertama maka saat itu juga hati kita begitu menginginkannya dibandingkan pilihan selanjutnya. Dan mungkin saja ketika menulis pilihan kedua atau ketiga kita tidak sepenuh hati menuliskannya. Dan sebagian kita tidak menyiapkan diri menerima pilihan kedua atau ketiga. Bahkan ada pula yang menganggap dirinya gagal karena tidak lolos pilihan pertama. Padahal dia masih diterima di pilihan kedua atau ketiga. Sementara ribuan yang lain masih harus pontang-panting karena tidak satupun pilihannya yang lolos.

Menerima sesuatu yang tidak sepenuhnya kita inginkan memang tidak mudah. Pantas saja bila semangat itu ikut-ikutan pudar. Saya pun pada awalnya begitu. Menjalani kuliah tidak dengan sepenuh hati. Saat itu yang ada dalam benak saya bahwa saya menjalani ini untuk membahagiakan orangtua. Mungkin memang masih jamannya bahwa seseorang begitu bangga ketika anaknya bisa kuliah di UGM. Ya sudah jalani saja. Akibat dari kurangnya semangat dalam menjalani kuliah adalah kurang semangat dalam belajar. Terkadang muncul bisikan dalam hati bahwa ini bukanlah yang aku inginkan. Aku tuh pengen yang lain, yang pilihan pertama. Pasti lebih menyenangkan kuliah di Teknik Elektro.

Tetapi pada akhirnya saya sadar bahwa mungkin inilah jalan hidupku. Memang butuh waktu untuk menumbuhkan kesadaran itu. Mungkin memang inilah jalan terbaik yang Allah berikan untukku. Kuliah di Elektronika dan Instrumentasi bukan di Teknik Elektro. Saya harus yakin bahwa ketika ini adalah karunia yang Allah berikan pastilah itu yang terbaik dan inilah amanah yang harus saya emban. Saya pun terus berusaha menumbuhkan optimisme dalam diri saya untuk menerima semua ini. Bahwa inilah jalanku dan tidak pantas untuk aku sia-siakan. Dan lihatlah betapa banyak bahkan ribuan yang mungkin lebih kecewa daripada saya karena tidak diterima di Prodi ini. Lalu apakah tidak perlu disyukuri bahwa ternyata Allah memilihku diantara ribuan yang lain untuk menempuh pendidikan di prodi ini. Kalau sudah mengaku bersyukur lalu mengapa tidak dijalani dengan penuh semangat?

Alhamdulillah, ketika kesadaran itu mulai tumbuh, mulai ada semangat dalam menjalani kuliah. Inilah tantangan yang harus saya hadapi, inilah dunia yang akan melukis masa depan saya. Saya sudah kuliah, di UGM pula. Mau apa lagi? Teman-teman yang senasibpun banyak, yang tidak masuk di Teknik Elektro.. hehe… Inilah yang menjadi penyemangat diri saya. Saya yakin bahwa pasti ada rencana Allah untukku dengan menempatkan aku di prodi Elins (singkatan dari Elektronika dan Instrumentasi) ini. Teknik Elektro suatu saat akan menjadi tempat kuliahku. Kalau tidak ketika S1 mungkin akan terwujud di S2-nya. Tetap semangat dan tetap dijalani. Dan alhamdulillah seiring berjalannya waktu dan tibalah saat wisuda hasil yang saya peroleh termasuk cumlaude 3,71. Sebuah angka yang secara kebetulan menjadi angka ajaib yaitu jika dibaca dari belakang adalah angka 17 dan 3 yang mana itu adalah tanggal lahir istri saya dan tanggal lahirku.

Mendapatkan sesuatu yang bukan pilihan pertama pada mulanya memang menumbuhkan kekecewaan. Itu manusiawi. Tapi tentu kita tidak perlu larut dalam kekecewaan tersebut. Yakinlah bahwa ini adalah rejeki yang Allah berikan kepada kita. Tentu sebagai manusia yang pendek pengetahuannya tidak dapat menjangkau ilmu Allah yang maha luas tersebut. Tetapi kita perlu yakin bahwa inilah yang terbaik bagi kita. Pasti ada hikmah dan manfaat di kemudian hari yang mungkin saja sampai saat ini kita belum bisa mengetahuinya. Percaya saja bahwa Allah akan senantiasa memberikan kebaikan terhadap hal apapun ketika kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Lupakan pilihan pertama itu bila itu hanya menjadi penghambat kita dalam menjalani apa yang kita dapat sekarang. Apa yang kita dapat itulah rejeki kita, apa yang luput dari kita bisa saja itulah yang tidak baik baik bagi kita. Khusnudzan terhadap Allah saja, Insya Allah akan lebih memberi semangat dalam menjalani hidup ini.

Catatan Juma’t Barakah

Sebenarnya sih saya tidak tahu mesti menulis apa. Bukan karena tidak ada materi, bukan itu. Justru terlalu banyak materi yang bisa saya tulis, tapi kembali lagi kehilangan arah mau menulis darimana. Ibarat jalan, saya tahu tempat-tempat yang hendak dituju tetapi saya lupa jalan mana yang harus saya lalui. Parah.. Mohon maaf jika mungkin terlalu hiperbolis. Ya sudah saya mulai saja dari apa yang terlintas di benak saya dan mungkin jika ada materi yang ‘ndak’ nyambung yang mohon dimaafkan. Tapi yang pasti semoga ada sedikit hikmah yang bisa diambil.

Hari ini jumat tertanggal 08 agustus 2014. Bagaimana menurut anda hari ini? Indah, menyenangkan, mengejutkan , mempesonakan? Kok yang baik-baik semua? Iya biar kita selalu mendapat kebaikan. Semoga ya… Nyaris dua minggu lamanya saya tidak menulis di blog ini. Kalau seperti pernah saya bilang menu di meja makan (baca:blog) saya sudah basi. Itu-itu saja tidak ada yang baru. Kesibukan akhir ramadhan yang sayang jika dilewatkan, kemudian momen lebaran yang sungguh menguras energi belum lagi menyisakan badan yang kurang fit serta tugas-tugas kantor yang cukup menyita perhatian. Meja makan memang saya lihat hampir setiap hari tetapi tak jua berniat memasak (menulis) menu baru. Bahkan momen hari lahir tanggal 03 kemarin juga tak meninggalkan jejak berupa tulisan. Ya itu bisa disiasati dengan tulisan setelah ini. :D

Hari ini tepat 31 bulan sejak saya mengikrarkan janji suci. Janji yang mengguncangkan ‘arsy dan membuat setan lari terbirit-birit. Tentu sudah tahu kan ya janji apa itu. Sudahlah tidak perlu saya jelaskan. Waktu 31 bulan bisa jadi bukan waktu yang sebentar atau boleh saja dikatakan waktu yang cukup singkat. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Menengok kembali niatan ketika hendak menikah. Salah satu alasan saya menikah waktu itu adalah untuk menjaga izzah, menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik terutama terkait hubungan dengan lawan jenis. Mohon jangan salah diartikan. Dan memang benar adanya bahwa ketika kita menyadari sepenuhnya arti dari pernikahan maka kitapun akan sadar bahwa dengan menikah, kita akan merasa lebih terjaga. Kenapa? Karena kita sudah memiliki pendamping yang mana dengannya kita akan dapat menyalurkan keinginan kita sehingga melemahlah keinginan yang sama terhadap lawan jenis yang tidak halal. Apakah hal ini otomatis terjadi begitu akad terucap? Saya sebenarnya tidak berani menjawab. Kita tentu paham bahwa lika-liku hidup manusia kadang tidak tertebak. Ada saja jalan, cara, situasi yang tidak ideal yang tidak kita inginkan. Toh itu terjadi juga. Entah karena kealpaan atau karena memang kesadaran sedang pergi entah kemana, ada saja hal yang membuat kita belajar bagaimana menjaga diri itu. Tentu saja pembelajaran itu kita peroleh ketika kesadaran itu sudah pulang kembali. Ada rasa sakit, kecewa atau apapun itu terkait kejadian, peristiwa yang terjadi selama kealpaan itu mendera. Tetapi bagaimanapun, perlu bersyukur ketika kesadaran itu sudah pulang kembali. Dan silahkan ambil pelajaran dari apa yang terjadi. Kalau orang kata “Masa lalu itu jangan dilupakan dan jangan pula diingat-ingat. Ia sudah berlalu. Ia sudah habis ditelan waktu. Tapi ia jugalah yang membentuk kita sekarang. Ambil yang baik darinya dan tinggalkan yang buruk”. Berbicara tentang masa lalu, siapa sih yang tidak punya masa lalu? Semua pasti punya. Lalu?

Jumat hari raya bagi segenap malaikat dan bagi kita laki-laki muslim ada kewajiban untuk shalat jumat. Jangan telat apalagi sampai tidak jumatan. Kalau sampai tiga kali tidak jumatan maka Allah akan mengunci mati hati kita. Kemarin, kamis, ada pengumuman yang menggembirakan. Jadi judulnya kabar gembira untuk saya. Tentu bukan kulit manggis yang kini ada ekstraknya. Tetapi pengumuman beasiswa S2 saya yang alhamdulillah diterima di TE UGM. Syukur tentu saya panjatkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan rejeki berupa beasiswa S2. Tinggal bagaimana mengurus administrasi. Posisi saya sebagai abdi negara tentu saja berbeda ketika bukan sebagai abdi negara. Perlu mengurus ijin formal sehingga nantinya bisa berjalan dengan baik secara kedinasan dan dapat diakui secara dinas. Dan semoga saja diberikan kemudahan (lagi) oleh ALLAH SWT.

Beberapa hari yang lalu juga ada kabar gembira bahwa ijin HO sudah jadi. Tepatnya 5 agustus 2014 dan langsung saja diikuti dengan mengurus SIA. Kembali lagi berharap semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan. Terkait SIA semoga bisa segera turun ijinnya, tentu saja sebelumnya berharap segera bisa disurvey. Semoga bisa menjadi tambahan penghasilan yang barakah apalagi selama saya tugas belajar nanti penghasilan dari gaji otomatis sedikit terkurangi oleh tunjangan saya sebagai instruktur. Dan ini juga menjadi pertimbangan saya agar sesegera mungkin Apotek kami bisa beroperasi. Selain tentu saja untuk menyenangkan istri. Karena sudah lama dia mengharapkan memiliki apotek sendiri. Ya insya Allah sebentar lagi harapan itu terwujud.

Waktu menunjukkan 10:53 wib sehingga perlu segera diakhiri sesi tulis menulis ini untuk kemudian bersiap melaksanakan shalat jumat. Jumat bukanlah hari yang pendek karena masih tetap 24 jam. Tetapi jeda kewajiban shalat jumat membuatnya tidak fleksibel untuk berlama-lama dalam aktifitas dunia. Mari kita hadiri shalat jumat, sebelum khutbah dimulai diusahakan sudah hadir dan pastikan pulang setelah shalat. Ya iyalah maksud loooo? :D Sekian saja dulu kawan-kawan. Insya Allah sambung lain waktu.

Kalau ada sumur di ladang
Boleh saya menumpang mandi
Kalau ada umur panjang
Boleh saya menumpang mandi lagi

Maaf, “maaf” pun belum cukup!

Maaf. Betapa sebuah kata yang cukup singkat ini mampu memberi makna yang besar bagi sebuah hubungan antar manusia. Sebuah kata yang termasuk dalam tiga kata yang sulit diucapkan oleh manusia (maaf, tolong dan terima kasih -red). Kata yang mampu membuat kita harus melupakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain kepada kita atau setidaknya tidak mengungkit-ungkit lagi. Ataupun kata yang membuat kita berharap agar orang lain melupakan kesalahan kita.

Maaf, sungguh kata yang mulia, bahkan orang yang minta maaf dan memberi maaf mendapat kebaikan dan pahala, meskipun derajat orang yang memberi maaf lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang meminta maaf. Ini berlaku bila pihak yang meminta maaf benar-benar melakukan kesalahan, bukan sebaliknya. Karena ada kasus dimana sebenarnya orang lain yang berbuat salah kepada kita, namun dia tidak mengakui dan menyadari sehingga dari pihak kitalah yang meminta maaf agar hubungan kembali baik. Bagi saya, barang siapa yang mengawali meminta maaf berarti dia ingin memperbaiki hubungan yang ada, meluruskan segala kesalahan yang ada. Tapi sayangnya di masyarakat kita, siapa yang meminta maaf duluan maka dialah yang dianggap bersalah. Mungkin karena inilah meminta maaf merupakan hal yang paling sulit dilakukan sebagian masyarakat kita.

Dalam banyak hal kata “maaf” mampu untuk meredam amarah pihak-pihak yang berselisih. Namun dalam beberapa hal tertentu kata “maaf” pun tak cukup. Teringat penggalan dialog sebuah drama asia ” kalau minta maaf berguna, buat apa ada polisi..”. Mungkin ada benarnya bahwa kadang “maaf” pun tak mampu menyelesaikan masalah.

Banyak hal terutama berkaitan dengan hati, sulit untuk diselesaikan hanya dengan dengan kata maaf. Semisal, ketika kita menyakiti hati teman kita, atau ketika kita berbuat buruk kepada tetangga atau bagi yang sudah berkeluarga membiarkan anggota keluarganya terlantar. Semua itu tak cukup dengan kata maaf tetapi harus diikuti dengan perubahan sikap. Ketika kita menyakiti hati seorang teman, maka mungkin pada saat kita minta maaf belum tentu langsung dimaafkan. Kadang kita harus menunggu beberapa waktu dan selama itu kita harus menunjukkan itikad baik bahwa kita sudah mulai berubah. Atau ketika tetangga kita merasa dizholimi oleh kelakuan buruk kita, maka maaf pun tak cukup. Kita harus mampu merubah sikap kita dengan nyata. Dalam kehidupan rumah tangga akan lebih jelas lagi. Seorang kepala keluarga yang tidak mau bekerja sehingga anggota keluarganya menjadi kelaparan dan kekurangan, apakah cukup dengan minta maaf maka semuanya akan tercukupi? Tentunya tidak. Lapar tak akan menjadi kenyang dengan kata maaf. Kebutuhan pakaian dan rumah tak akan terpenuhi hanya dengan kata maaf. Memang kesalahan dalam menjalani hidup ini tak semuanya bisa diselesaikan dengan kata maaf, terutama berkaitan dengan orang lain.

Lalu, bila ada orang bertanya “apakah kita tidak boleh berbuat salah?” Maka kita menjawab “memangnya bisa?”. Selama kita mejadi manusia maka kesalahan itu pasti ada. Bahkan kalaupun kita tidak berinteraksi dengan siapapun maka kesalahan terhadap orang lain pun tetap ada. Kok bisa? Bukanlah orang yang baik itu bukanlah semata-mata orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun justru orang yang baik adalah orang yang pernah melakukan kesalahan kemudian menyadarinya, meminta maaf dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Sekali lagi, bahwa dalam beberapa hal tertentu kata maaf” belum cukup menyelesaikan masalah. Perlu kita iringi dengan perubahan sikap. Selamat berjuang saudaraku untuk mengejar maaf itu!!!Sejauh mana kau kejar maaf…Tak perlu malu untuk minta maaf dan jangan terlalu angkuh untuk tidak mau memberi maaf. Semoga Alloh menuntun kita semua meniti jalan-Nya.

Insya Allah lho yaaa……

Di bawah ketapang nan rimbun, yang menghalangi sengat mentari membakar kulit, dua orang bersahabat sedang asyik mengobrol. Sesekali diiringi kicauan burung yang bertengger melepas penat setelah seharian mencari makan.

A:’Pokoknya besok kamu harus dateng lho..Soalnya acara ini penting banget..’
B:’Oke, besok aku usahain dateng…’
A:’Janji lho…’
B:’Insya Allah aku usahain’
A:’Lho kok pake insya Allah, yang pasti dong..’
B:’Iya deh aku usahain dateng, Janji.’
A:’Nah gitu ….baru mantep. Okey besok aku tunggu di tempat acara ya..’

Diantara kita mungkin pernah menjumpai kejadian seperti diatas. Ketika diantara kita mengadakan janji atau memenuhi permintaan, kita biasa menggunakan kata ‘insya Allah’. Namun entah kenapa ucapan ‘insya Allah’ ini oleh sebagian orang dipersepsikan bahwa orang yang diundang sebenarnya malas untuk memenuhi undangan tersebut atau dengan lain kata hanya untuk mempermudah alasan saja. Dan tak jarang pula dari pihak orang yang diundang, ucapan ‘insya Allah’ digunakan ketika dia merasa kemungkinan besar tidak bisa memenuhi undangan itu. Dan kalau dikonfirmasi kenapa tak datang maka biasanya akan menjawab ‘Kan sudah pake insya Allah’.

Sebagian orang belum mengetahui penggunaan ucapan ‘insya Allah’ dan makna serta konsekuensinya. Akhirnya terjadilah hal-hal seperti diatas. Dari arti kata secara mudahnya “insya Allah” berarti ‘Jika Allah menghendaki/mengijinkan’. Disini harus diartikan bahwa pada dasarnya kita ingin memenuhi undangan tersebut. Namun sebagai manusia kita juga sadar bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa. Ketika kita berkeinginan berangkat, mungkin saja ada halangan sehingga tidak bisa hadir. Nah itu berarti Allah belum mengijinkan. Namun bila tidak ada halangan maka kita sebisa mungkin harus menghadiri undangan tersebut.

Sebagian kita mungkin dengan enaknya mengucapkan ‘insya Allah’, padahal niatnya tidak memenuhi janji . Jika kita sadar dengan mengucapkan ‘insya Allah’ maka konsekuensinya jauh lebih besar dari pada kita hanya berucap ‘janji deh’ dan sebagainya. Dengan mengucap ‘insya Allah’ maka berarti kita mempunyai tanggungjawab yang lebih besar kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tapi jangan lantas dalam berjanji kita tidak mengucapkan ‘insya Allah’ karena bagaimanapun kita dituntunkan mengucap ‘insya Allah’ bila berjanji. Bahkan Rasulullah SAW pun ditegur oleh Allah ketika beliau berjanji memberi jawaban atas sebuah pertanyaan sahabat tanpa mengucap ‘insya Allah’.

Lalu bagaimana jika kita diminta hadir dalam sebuah undangan tapi kelihatannya tak bisa memenuhi? Ya kita bilang saja terus terang kalau kita tak bisa datang karena suatu alasan (-yang bisa diterima, tentunya-). Jangan sampai menggunakan ‘insya Allah’ hanya karena merasa tidak enak kalau menolak secara langsung.

Mari kita kembalikan makna ‘insya Allah’ sesuai fungsi yang sebenarnya. Dan satu lagi jangan terlalu mudah berjanji, karena setiap janji adalah hutang dan setiap hutang harus dibayar (-kecuali sudah diikhlaskan oleh yang menghutangi-), kalau tidak dibayar sekarang berarti nanti suatu saat entah di dunia atau di akhirat. Dan orang bijak akan lebih memilih menunaikan hutangnya di dunia daripada menunaikan di akhirat.