Ustadz Media

mendadak-ustadz2Akhir-akhir menjadi pembicaraan hangat tampilnya seorang ustadz di acara hura-hura. Dan sayangnya ustadz ini pun tidak bisa berbuat banyak ketika banyak aksi maksiat yang terjadi di depan matanya. Bahkan sang ustadz pun larut dalam candaan yang menjadi cirri khas acara hura-hura tersebut. Betapa mirisnya hati ini ketika mengetahui hal tersebut. Seorang yang katanya ustadz bisa terjebak dalam acara hura-hura seperti itu. Mending bisa memberikan peringatan ketika aksi maksita terjadi, lha ini malah ikut larut dalam acara tersebut. Lantas apakah ustadz pantas diperlakukan seperti itu? Atau kita balik pertanyaannya benarkah orang seperti itu pantas disebut ustadz? Bukankah ustadz adalah seseorang yang mengajarkan kepada kita kebaikan, memberi contoh tentang bagaimana berbuat baik dan mampu untuk memberi peringatan bagi yang lain ketika terjadi aksi maksiat?

Ustadz. Sesungguhnya mempunyai makna yang sangat agung. Sosok manusia yang bergelar ustadz adalah menjadi contoh bagi masyarakat. Contoh dalam segala tindak tanduknya. Bahkan gelar ustadz ini tidak sembarangan disematkan kepada setiap orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang pantas diberi gelar ini. Diantaranya adalah sangat paham dengan agama, paham dalil dan hukumnya serta berbuat sesuai dengan ajaran agama, tidak pernah berbuat keji dan mungkar serta tidak terpengaruhi oleh kemaksiatan yang terjadi di masyarakat tetapi justru dapat mengubah perilaku maksiat di masyarakat. Memang ustadz bukanlah malaikat, ustadz hanyalah manusia, tetapi ustadz mempunyai pemahaman agama yang lebih baik dari masyarakat umum, sehingga dia dijadikan rujukan dan panutan.

Namun kiranya, di jaman sekarang, gelar ustadz begitu mudahnya diobral. Cukup dengan modal pakaian takwa dan hafalan secuil ayat Quran dan hadits maka sudah bisa disebut ustadz. Tapi tentu bukan masyarakat yang memberinya gelar tersebut melainkan media. Media memang sebuah kekuatan yang pengaruhnya dapat menyebar sampai ke pelosok negeri, membuat opini tentang sesuatu sehingga akhirnya masyarakat pun akan mengikuti opini tersebut dan membangun pemahaman berdasarkan opini tersebut. Seseorang yang awalnya hanya orang biasa, bahkan pernah mengikuti acara mistik, kemudian dia berpakaian takwa dan berani menyampaikan ceramah ala kadarnya kemudian diliput media dan oleh media disebut ustadz maka lambat laun masyarakat akan mempercayai bahwa seseorang itu adalah ustadz. Perkataan, perbuatannya dan segala tingkah polahnya boleh dijadikan panutan masyarakat. Padahal sejatinya tingkah lakunya tidaklah mencerminkan sedikitpun ajaran agama yang sesungguhnya.

Mari kita tengok kembali. Bagaimana seseorang yang disebut ustadz oleh media (saya menyebutnya ustadz media), lebih banyak diekspose kegiatan pribadinya daripada kegiatan dakwahnya. Ada seorang ustadz (media) begitu senangnya bercerita tentang kandungan istrinya dan kegiatan periksa kehamilan di luar negeri. Sebelumnya, ketika belum menikah juga terlihat menyuapi sang calon istri dan itu dikatakan bagian dari proses ta’aruf. Helloooo yang begini disebut proses taaruf??? Kemudian dalam momen tahun baru lalu, bagaimana bangganya ia keliling eropa dan menceritakan bagaimana meriahnya pesta perayaan di sana disertai foto-foto yang narsis. Belum lagi kendaraannya yang mewah yang sering dipakai kemana-mana. Bukankah ustadz seharusnya mengajarkan untuk hidup bersahaja. Punya mobil boleh tapi tidak perlu juga yang mewah. Periksa di dalam negeri juga banyak yang selamat kenapa harus berboros-boros ke luar negeri segala. Intinya ustadz itu harus bisa ngemong dengan masyarakat salah satunya dengan berbuat yang sewajarnya saja dalam pandangan masyarakat umum. Lain lagi dengan ustadz media yang satu ini. Dalam sebuah acara talkshow ditampilkan foto-foto kenarsisannya, memperlihatkan bentuk badannya yang atletis dikarenakan sering nge-gym juga gaya berfoto yang memang narsis. Dan katanya “kita perlu menjaga kesehatan, karena muslim yang kuat lebih dicintai Allah daripada muslim yang lemah.. “ Yang dia katakan ada benar juga, tapi kan gak harus pamer begitu juga toh?

Kita sebagai masyarakat memang harus bersikap kritis. Kita perlu mempertanyakan kebenaran yang disampaikan oleh media, termasuk pemberian gelar ustadz. Kita perlu tahu secara jelas apakah memang gaya hidup ustadz media itu mencerminkan nilai-nilai keislaman atau justru banyak menyimpang. Kemudian kita perlu memperhatikan ketika dia ceramah. Apakah lebih sering disandarkan pada dalil baik itu Quran, hadits maupun perkataan ulama ataukah lebih sering dia mengatakan ‘menurut saya’ atau ‘ saya rasa’ ataupun kalimat yang senada. Ada baiknya juga kita punya rujukan ustadz di lingkungan kita sehingga ketika kita ragu atau bingung dengan cara pandang ustadz media, kita bisa mencari kebenarannya. Dengan demikian kita akan terhindar dari kerusakan yang lebih besar. Lalu sikap kita adalah tidak perlu menonton ketika ustadz media ini berceramah, kalaupun terpaksa menonton maka pastikan sikap kritis kita tetap ditumbuhkembangkan. Juga perlu memperingatkan kepada keluarga jika ada perkataan ustadz media yang bertentangan dengan ajaran yang benar.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s