Ranggas

Cerita sebuah pohon di seberang rumah

Alkisah, tersebutlah sebuah pohon, entahlah berjenis apa aku juga tak paham. Pohon dengan batang yang kokoh, cabang yang kuat, ranting yang lentik dihias rimbunnya dedaunan. Pohon yang selalu memberi harapan, menjanjikan kenyamanan. Beragam burung, dari berbagai jenis, senantiasa menjadi tamu setia yang dengan riang bernyanyi setiap pagi sebelum mereka bertebaran menderukan angkasa. Menjalani titah Tuhannya. Merekapun tak sungkan untuk bermalam dibalik rimbunnya dedaunan, membuat sarang yang nyaman, beranak pinak.

Aku, tetangga yang beruntung. Setiap pagi, mendengarkan nyanyian burung-burung, menyambut pagiku dengan ramah. Menceriakan hariku, menjanjikan semangat. Senja menjelang maghrib, kicauan itupun riuh kembali. Seakan menyambut malam yang syahdu, walau mungkin tanpa rembulan. Terbayang betapa banyak manusia di luar sana yang dengan sengaja memelihara burung. Memenjarakannya dalam sangkar emas. Demi mendengar kicauannya yang merdu, padahal nyanyian burung itu adalah nyanyian ratapan, nyanyian jiwa yang bebas dalam tubuh yang terbelenggu. Wahai dengarkanlah, jikalau manusia mampu memahami bahasa burung, coba tanyakan kepada burung-burung yang terpenjara dalam sangkar. Adakah ia bahagia? Bukankah ia menginginkan kebebasan, sebagaimana kita manusia pun tak mau terbelenggu. Benar saja, bila kicauan itupun tiada menambah sedikitpun kegembiraan bagi sang pemeliharanya. Karena bagaimana mungkin manusia bahagia diatas derita makhluk lain. Bukankah ketika kita menyakiti makhluk lain, maka saat itu pula kita tidak akan pernah bahagia. Karena hakikatnya kita adalah sama. Sama-sama makhluk ciptaan-Nya.

Kicauan itu, kini, semakin jarang. Tiada seriuh dahulu. Burung-burung itu seakan tiada hendak bermalam di pohon rumah itu. Burung-burung hanya singgah sebentar kemudian pergi lagi. Bercengkerama, bernostalgia mengenang masa indah. Setelah itu berlalulah mereka. Ada apakah gerangan kiranya.

Ah, waktu merenggut keriangan itu. Musim panas yang sudah beberapa minggu membakar, meranggaskan dedaunan. Melepaskan setiap helai daun dari ranting tempatnya bergantung. Menggugurkannya ke pangkuan pertiwi, dalam kering, dalam kerontang. Tiada lagi kenyamanan seperti dulu lagi. Tiada dedaunan rimbun, hanya ranting-ranting kurus yang tersisa. Tiada lagi sarang yang menghangatkan, berganti gigil di malam hari. Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari pohon itu. Kering, sunyi, sendiri. Entahlah bagaimana perasaan pohon itu. Mungkinkah seperti kita manusia?

Manusia, bukankah kita juga bisa menjelma seperti pohon itu. Ketika kita tak lagi nyaman untuk orang lain berbagi, ketika kita tak lagi mampu menghangatkan jiwa orang-orang terkasih. Ketika waktu memaksa kita menjadi kering, memenjarakan jiwa kita dalam kegalauan. Bukankah itu seperti halnya pohon yang meranggas. Ditinggalkan, dibiarkan sendiri dan menyepi.

Tapi, musim pasti berganti. Keringpun akan berganti basah. Kerontang akan berganti rimbun. Waktu selalu berganti dalam putaran-putaran yang ajaib. Tunggu saja.

(bunder, 26 agustus 2013, pohon itu tetanggaku )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s