Poligami : Pria Single vs Pria Menikah

Sejak jaman kuliah dulu, tema poligami di kalangan laki-laki (ikhwan), terasa ‘eksotis’ untuk dibikin bahan candaan. Bahan candaan? Ya iyalah.. Tapi bukan artian membercandai  syariat poligami. Paling banter kalo ada yang bertanya “ Emang mau poligami to?”. Ada saja yang nyeletuk “ Iya, tuh kayake akh anu pengen poligami “ Sementara yang disebut namanya sebagai akh anu cuma cengar-cengir saja. Setau saya akhirnya gak ada yang serius dan berniat poligami. Hehehe.. Mungkin sudah kecagol (kebentur) realitas kali ya..

Kalo di kalangan akhwat saya yakin tema poligami jarang dibahas. Secara dari awal memang mereka gak berniat, mungkin berpikir juga enggak, buat dipoligami. Saya yakin mereka pasti pengen menjalani monogami. Setidaknya jika opsi monogami itu diberikan pasti akan diambil lebih dulu ketimbang poligami.

Dulu kalo disinggung poligami ada aja yang semangat dan ditanggapi setengah serius. “Iya lah, kan laki-laki bisa sampe 4. Insya Allah kalo memang diberi kemampuan boleh juga poligami. Toh yang penting bisa adil, bisa bagi waktu dan yang lain dengan baik… “ Suatu jawaban yang menyejukkan, meski di sisi lain kalo kedengeran akhwat bisa bikin ilfeel kali ya… mana ada coba akhwat yang mau dipoligami, jaman sekarang gitu.. Ya mungkin ada juga sih tapi kan cuma segelintir.

Well.. itulah kira-kira jawaban ikhwan single tentang poligami. Masih terngiang-ngiang teori yang mungkin memang dikuasai dan menurutnya sih mudah untuk dijalani. Sebagaimana juga para single yang memandang sebuah pernikahan adalah sesuatu yang ‘melulu’ menyenangkan sehingga menafikan konflik yang akan muncul. Jawaban yang tak kalah menyejukkan pun meluncur “ Kalo terjadi konflik yaa dibicarakan baik-baik, gak boleh egois. Kalo dia lagi marah yaaa kita mengalah. Kita lebih baik diam dulu.. Kan gak mungkin api dilawan dengan api.. Nah kalo dianya sudah adem baru kita ngomong“

Iya memang itu langkah yang tepat dan memang begitu seharusnya. Cuma, emang pada tahu, prakteknya gak semudah itu bro.. Teori yang engkau asup itu suatu saat akan mencengangkanmu. Betapa tidak, emang segampang itu? Konflik dalam rumah tangga ternyata lebih banyak dari yang kita bayangkan semasa single. Kalo dulu semasa single paling banter masalah yang ‘dipandang’ akan terjadi cuma seputaran penghasilan yang kurang, perbedaan keluarga, perbedaan karakter, masalah ngurus anak (pun yang ini jarang dipikir banget-banget). Dan begitu nikah…. Waow masalah banyak banget. Emang sih gak semua tergolong konflik berat, dan gak semua merenggangkan hubungan. Toh sebagian besar malah jadi perekat hubungan, dengan catatan kalo konfliknya sudah berhasil diatasi. Kalo pas lagi konflik yaaa rasanya campur aduk lah..

Sayangnya lagi, buku-buku yang beredar, yang tujuannya buat mengompori agar cepet nikah, sebagian besar memaparkan enaknya, indahnya menikah. Jarang, buku-buku yang secara adil dan proporsional memaparkan serba-serbi nikah baik yang enak maupun yang gak enaknya. Saya ada buku yang secara proporsional memandang pernikahan dari kacamata konflik untuk menuju bahagia. Dan itu bukan ditulis oleh pengarang muslim. Ya kalo pas baca itu yaa pinter-pinter aja dikaitkan dengan norma dan aturan kita. Toh kita gak dilarang kan baca buku orang lain.. Yang penting dapet intinya.

Bagaimana kalo kita coba tanya tentang poligami kepada mereka yang sudah menikah? Seperti saya bilang tadi, materi poligami masih seru sebatas obrolan saja. Bagi mereka yang sudah menikah saya bisa pastikan, sebagian besar mereka gak berminat lagi poligami. Yaa mungkin emang ada sih yang langsung di-lampu merah sama istrinya. Tapi yakinlah, tanpa dilampu merah pun sebagian besar sudah mogok kok. Gak pengen lanjut ke jenjang poligami. Simpel saja alasannya. Satu aja kalo ngambek dah kerepotan, apalagi dua, tiga, bahkan empat. Satu aja masih keteteran mendidiknya, apalagi lebih dari itu. Satu aja kondisi ekonomi masih mepet, apalagi menghidupi dua, tiga atau empat. Dan kondisi-kondisi yang sekarang lebih bisa dipandang secara realistis.

Jadi memang ada perbedaan cara pandang pria single dan pria menikah dalam memandang poligami. Tapi yakinlah itu hanya masalah waktu saja. Pria single memang lebih mudah dalam memandang kehidupan pernikahan karena belum tau betapa lebat rimba itu. Kan selama ini cuma melihat dari jauh. Jadinya serimba apapun itu terlihat indah. Tapi bukan berarti pria menikah menyesal telah memasuki rimba belantara rumah tangga. Sama sekali tidak. Justru di sini saya cuma mengingatkan bahwa jika selama ini memandang nikah adalah indah dengan menafikan konflik yang ada, itu adalah cara yang salah mempersiapkan pernikahan. Tapi begitu memasuki rimba belantara tadi ternyata banyak hal yang so waow yang dijumpai. Dan tak jarang juga menjadikan penyesalan, kenapa gak datang ke sini lebih awal. Begitulah akhirnya wang sinawang…

Semoga yang masih single segera dipertemukan dengan pasangannya. Yang sudah gak single semoga bisa menjalani rumah tangga dengan bahagia dan ceria dalam naungan Ridho-Nya. Saling mendoakan bagi kebaikan kita. Mungkin kita gak saling kenal, tapi doa itu akan selalu sampai kepada apa yang didoakan dan juga kepada diri sendiri.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s