Kepompong Diri

Sebuah cerita di suatu sore di pematang sawah yang habis dipanen. Tersebutlah seekor kupu-kupu jingga yang sedang menari-nari di udara, sayapnya yang terkembang menyiratkan warna jingga yang indah. Masih seperti warna jingga matari yang hendak berpulang. Anggun, dikepakkannya sayap-sayap itu nyari tanpa suara. Damai, sedamai suasana sore itu. Hmmm…. aroma syahdu tiba-tiba menelusup, mengalir melalui buluh-buluh nadi, menghantarkannya ke pusat dari segala rasa, hati. Dan tak tertanggungkan lagi betapa bahagia suasana sore itu bagi sesiapa yang menikmatinya.

Tarian kupu-kupu jingga itu tak pelak membuat seorang anak yang berada dalam gendongan ayahnya yang tercinta mendadak heboh terkagum-kagum. Tangan mungilnya menunjuk-nunjuk kea rah terbangnya si sayap jingga. Sementara kaki-kaki mungilnya menghentak-hentak menyiratkan suatu permintaan kepada sang ayah untuk mengikuti arah kupu-kupu itu terbang.

“ Itu kupu-kupu nak namanya..indah khan.. warnanya jingga.. “ Senyum pun terkembang dari wajah si mungil, terlihat dua gigi atas dan dua gigi bawahnya. Duh nak, tahukah kamu bahwa dirimu jauh lebih indah dari kupu-kupu itu.. senyummu itu melebur segala kepenatan bagi sesiapa yang memandangmu..batin sang ayah. Sementara si mungil tetap saja heboh terkagum-kagum.

“ Kupu-kupu itu ciptaan Allah nak.. Allah yang menciptakannya sebagaimana Allah juga yang menciptakan kita.. indah ya nak… “ lanjut ayahnya, merangkai cerita monolog. Padahal sejatinya begitulah cara berkomunikasi dengan si mungil yang memang belum bisa berbicara. Tapi yakinlah bahwa sejatinya ia-pun merespon apa yang dikatakan oleh ayahnya, juga orang-orang dewasa  di sekitarnya.

Setelah beberapa saat berlalu, kiranya si kupu-kupu mulai enggan dikagumi. Ia pun terbang menjauh meninggalkan ayah beranak yang juga mulai terpikat oleh hal lain. Ya.. mereka sama-sama sudah enggan. Namun kesan keindahan sang kupu-kupu akan selalu terpatri dalam benak kedua ayah beranak itu. Pun terhadap sang kupu-kupu yang betapa beruntungnya dikagumi oleh ayah beranak itu.

Sawah yang habis dipanen itu ternyata masih menyisakan serumpun padi yang masih tegak berdiri. Ayah beranak itupun beralih menyusuri pematang, memandang jauh ke dalam sela-sela rumpun padi. Memandang dengan seksama, meski bukan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Terkuaklah sebuah rahasia yang begitu asing bagi si mungil. Sesosok tubuh tambun berlemak, dengan bulu-bulu yang menutupi hampir keseluruhan tubuhnya. Sesosok yang bergerak lamban, mungkin karena tambunnya, seakan bergerak menggunakan perutnya. Kulitnya hitam legam, hanya dihiasi segurat jingga di lehernya.

“Nak lihat itu ada ulat… “ Si mungil yang masih asing dengan makhluk bernama ulat itupun mendadak heboh lagi. Terkagum-kagum sambil menunjuk-nunjuk sang ulat.

“Eit kalau yang ini gak boleh dipegang nak… nanti gatal… “ Sang ayah melanjutkan monolognya. Tapi dalam hatinya sang ayah masih yakin bahwa si mungil merespon apa yang dikatakannya.

“Ho…ho…ho.. “ begitu celoteh si mungil.

“Tahu gak nak.. bahwa ulat ini yang nantinya bakal menjadi kupu-kupu jingga. Seperti yang tadi… ajaib ya nak.. dari seekor ulat yang bagi sebagian orang menggelikan akhirnya menjadi kupu-kupu yang cantik…” jelas sang ayah seakan menjawab rasa keingintahuan si mungil.

“Ho…ho…ho…” timpal si mungil. Mungkin dalam hatinya bertanya bagaimana mungkin seekor ulat yang menggelikan bisa menjadi kupu-kupu yang cantik.

—————–o)(o—————–

Doleschallia-bisaltide_Kokon_Pondok-Aren_Ian

Ulat menjadi kupu-kupu. Bukankah itu sesuatu yang ajaib? Bagaimana seekor ulat yang berkaki banyak dan bertubuh tambun nan bulat, menjelma menjadi seekor kupu-kupu bersayap nan ramping mempesona. Tetapi itulah kenyataannya. Fakta yang tak terbantahkan.

Kita sebagai manusia yang diberi akal oleh-Nya, sudah sepantasnya mengambil hikmah dari kejadian ajaib ini. Mari kita tengok sejarahnya atau cikal bakal bagaimana sang ulat bisa berubah menjadi kupu-kupu. Ternyata perubahan ini tidak terjadi begitu saja, sim salabim, tetapi melalui proses bernama kepompong. Yup, ulat menjadi kupu-kupu perlu melalui tahap menjadi kepompong.

Ulat terlahir dari telur kupu-kupu. Seiring waktu tumbuhlah ia menjadi tambun berlemak. Kemudian sang ulat mempersiapkan diri untuk memasuki fase kepompong. Pada tahap ini ulat akan banyak makan daun-daunan demi mempersiapkan tahap bertapa (kepompong). Maka dari itu bila kita melihat tumbuhan yang daunnya habis dimakan ulat maka jangan mencaci, tetapi bersiaplah bahwa beberapa minggu lagi akan kita lihat kupu-kupu yang elok. Setelah dirasa cukup maka ulat memulai masa bertapa. Ia akan menahan makan dan hanya berdiam diri. Setelah beberapa waktu dan saatnya keluar dari kepompong maka akan terlahirlah kupu-kupu yang cantik.

Tahap yang sebenarnya panjang, hanya saja kita ambil intinyatanpa meninggalkan esensi yang ada. Bahwa kita manusia pun butuh yang namanya proses kepompong. Saya istilahkan kepompong diri. Kita perlu mengepompongkan diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.  Kita perlu memakan segala masukan, kritik dan saran dari oranglain. Kemudian kita menjalani proses bertapa, bermuhasabah, mengevaluasi diri yang mana ini butuh waktu yang panjang. Untuk selanjutnya kita akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Oh bukan. Kita akan menjelma menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Boleh jadi di saat ini kita masih meng-ulat, menakutkan bagi orang lain. Banyak membuat gatal orang lain yang bersentuhan dengan kita, tidak elok dalam pandangan orang lain. Mari kita coba untuk menjalani proses ini. Mengepompongkan diri. Agar nantinya kita terlahir menjadi manusia yang lebih baik lagi, manusia yang menyenangkan bagi orang lain, menyelamatkan bagi orang lain dan menjadi rahmatan lil ‘alamiin.

Salam kepompong.

dsc_1822fn-kupu-kupu-jingga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s