Nasehatilah Aku di Kala Aku Sendirian

42nasehatPernah dinasehati? Pernah menasehati? Pernah mendengar orang menasehati orang lain? Saya yakin teman-teman sudah pernah mengalaminya. Nasehat-menasehati merupakan kewajiban kita sebagai manusia – terlebih sebagai seorang muslim. Saling menasehati seperti diperintahkan dalam Quran Surat Al-Asr, juga merupakan salah satu langkah agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang yang merugi. Tentunya saling menasehati dalam kebenaran dan takwa atau dengan kalimat lain saling menasehati dalam kebaikan.

Setiap orang yang memberi nasehat pasti bertujuan untuk memperbaiki, memberi kebaikan dan meluruskan kesalahan sehingga di masa depan tidak terulang lagi kesalahan yang sama. Seorang anak sekolah yang tidak mengerjakan PR pasti akan dinasehati oleh gurunya agar lain kali tidak lupa lagi mengerjakan PR. Seorang anaka yang ketahuan berbohong akan dinasehati oleh orangtuanya agar lain kali tidak melakukan kebohongan lagi. Seorang mandor akan menasehati karyawannya yang salah dalam memasang mesin agar ke depan tidak salah lagi. Dan masih banyak lagi contoh-contoh dalam menasehati. Semua berujung pada kebaikan. Seperti itu harapannya.

Lalu apakah menasehati itu sekedar menyampaikan apa yang benar untuk meluruskan yang salah? Apakah setiap saat kondisi merupakan saat yang pas untuk menasehati? Apakah metode atau cara menasehati tidak terlalu bermasalah?

Ternyata  menasehati itu ada tata caranya atau adabnya. Agar tujuan dari menasehati itu bisa tercapai. Ni dia adabnya…

1. Menasehati secara rahasia.

Artinya jangan menasehati di depan forum. Apalagi di forum-forum penting. Menasehati seseorang di forum itu diibaratkan seperti membunuhnya. Namun ternyata sebagian orang suka menasehati seseorang di muka umum. Memang sih akan terlihat wah, betapa pintarnya dia, bisa mengetahui kesalahan orang lain dan bisa memberi nasehat. Ia akan dilihat oleh banyak orang, sehingga orang-orang akan kagum dengan keberaniannya memberi nasehat dan juga kagum akan ketinggian ilmunya dibanding orang lain -terlebih dibanding yang dinasehati.

Namun ternyata hal ini – menasehati di depan umum- akan membuat orang yang dinasehati malu. Ya iyalah, mana ada coba orang yang suka bila aib-nya / kesalahannya diumbar di depan umum. Akibatnya justru kontra produktif. Yang tadinya bisa menerima nasehat itu, bisa-bisa malah mental duluan. Ibaratnya anak panah bisa menembus hati dan meluluhkannya, tapi karena ada rasa tidak suka yang menjadi tameng-nya maka nasehat itu tidak tembus ke hati.

Untuk itu ada baiknya jika kita akan menasehati dalam kondisi face-to-face, empat mata, berdua saja. Sehingga nasehat kita akan lebih mudah diterima karena orang lain tidak merasa direndahkan. Apalagi menasehati orang yang dipandang lebih penting atau lebih tua.

2. Menggunakan bahasa yang baik dan mudah dipahami serta dengan lemah lembut.

Bahasa atau kalimat yang kita gunakan juga akan berpengaruh terhadap ketajaman nasehat kita dalam menembus hati orang lain. Hindari kata-kata bernada negatif . Contohnya  “kamu salah…” , “ salah itu, gak begitu.. “ , “goblok banget sih, gitu aja gak bisa.. “ , “ngerjainnya masih jelek, ni lihat aku… “

Mari kita bedakan nada kalimat berikut. Situasinya adalah ada seorang siswa pelatihan yang salah memasang RAM memori komputer. Posisinya terbalik. Padahal seharusnya tidak boleh terbalik, tapi mungkin karena kurang cermat bisa saja terbalik. Dan ini sudah saya jumpai dua kali.

Kalimat  1:

“Salah mas kalau masang memorinya begitu.. terbalik itu.. harusnya gak mungkin terbalik. Jangan dipaksakan. Biarkan “klik” dengan sendirinya… “

Kalimat 2:

“ Hmmm.. sudah selesai mas masang memorinya? Jangan lupa dicek lagi ya.. pastikan tidak terbalik, karena kalau terbalik nanti motherboardnya bisa rusak…”

3. Bersikaplah lembut dan berbahasa yang santun.

Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan mendatangkan kebaikan. Insya Allah, jika kita menasehati dengan tutur kata yang baik maka orang lain akan bisa menerimanya. Atau bisa juga dengan contoh atau keteladanan. Ada cerita tentang bagaimana menasehati dengan contoh.

Suatu hari si kembar, cucu kesayangan Rasulullah SAW, Hasan dan Husain melihat seorang tua yang berwudhunya masih salah. Kemudian mereka berpikir bagaimana ya caranya memberitahu orang tua tersebut tanpa menyinggung perasaannya. Setelah berpikir sejenak akhirnya mereka sepakat. Lalu salah satu dari si kembar mengatakan kepada si kakek. “ Kek.. tolong dong lihat kami berwudhu lalu kakek nilai mana diantara kami yang lebih baik wudhunya.. “ Lalu mereka pun berwudhu, sementara sang kakek mengamati. Setelah selesai berwudhu kakek pun mengomentari “ Wah wudhu kalian benar-benar sempurna.. sementara wudhu kakek masih salah… “ Si kembar pun saling tersenyum. Alhamdulillah bisa membetulkan kesalahan tanpa menyakiti orang lain.

4. Berikan nasehat lalu diamlah.

Setelah kita memberikan nasehat kepada orang lain dengan rahasia, maka diamlah. Jangan diceritakan kepada orang lain bahwa ia telah kita nasehati. Karena kalau kita menceritakan kepada orang lain sama halnya kita membuka aib-nya dan menonjolkan kepandaian kita. Diamlah, semoga nasehat yang kita berikan membawa perubahan. Biarlah orang lain tidak tahu bahwa kita yang telah andil dalam memberikan nasehat, tetapi yakinlah bahwa Allah mencatat setiap kebaikan yang kita lakukan.

Yuk kita saling nasehat-menasehati, agar kebaikan senantiasa memenuhi diri kita dan orang-orang di sekeliling kita. Ingat menasehati adalah mengharapkan perubahan demi kebaikan bukan ajang pamer kepintaran dan menjatuhkan orang lain. Salam nasehat !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s