Keteladanan yang semakin mahal

Dikisahkan seorang ibu datang dengan anaknya menghadap ke Gandhi, dan dia berkata: “ Mohon Guru memberitahu anak saya untuk tidak memakan permen lagi. Karena giginya rusak semua, dia terlalu banyak makan permen.”

Gandhi menjawab : “ Datanglah seminggu lagi.”

Sang ibu pulang dan seminggu kemudian datang lagi bersama anaknya. Gandhi berkata: “Anak ku, mulai sekarang janganlah makan permen lagi.” Anak itu memahami dan mengagumi Gandhi, dia menurut dan tidak lagi memakan permen.

Sang ibu berterima kasih sekali, tapi tidak kuasa menahan keheranannya, dan bertanya: “Maaf Guru, mengapa harus menunggu seminggu untuk memberitahu anakku? “

Gandhi menjawab: “ Karena seminggu lalu aku juga masih suka makan permen juga.”

============================(y)=========================

Entahlah kisah ini benar adanya atau tidak, tetapi setidaknya ada sesuatu yang bisa kita ambil hikmahnya. Kisah ini menceritakan bagaimana seorang Gandhi memberi nasehat kepada seorang anak. Ketika Gandhi belum bisa menghentikan makan permen maka ia menghindari untuk menasehati seorang anak untuk berhenti makan permen. Namun kemudian Gandhi berusaha tidak makan permen lagi dan barulah Gandhi menasehati si anak. Dan hasilnya si anak pun dengan patuhnya mengikuti nasehat Gandhi.

Keteladanan adalah kuncinya. Keteladanan merupakan salah satu faktor penentu kesuksesan dalam memberi nasehat, lebih luas lagi dalam mendidik anak (-anak). Anak-anak –bahkan juga orang dewasa- cenderung akan melihat apa yang dilakukan oleh seseorang daripada apa yang dikatakannya. Ketika ada orang tua yang mengatakan kepada anaknya “ Merokok itu merugikan kesehatan, jadi kamu jangan ikut-ikutan merokok “ sementara ia sendiri adalah perokok berat. Bagaimana menurut teman-teman, apakah sang anak akan menurut ? Mungkin saja menurut , tetapi kecenderungan anak untuk tidak menurut lebih besar.  Dalam pikiran sang anak mungkin saja akan ada benturan, “Kok aku dilarang merokok, padahal ayah merokok. Mana yang benar? “ Kebingungan anak bisa dipahami karena anak-anak adalah peniru yang ulung. Ia akan meniru apa saja yang ia lihat di lingkungan sekitarnya. Apa yang ia lihat itulah apa yang ia anggap benar dan harus ditiru. Maka tidaklah mengherankan bila, apa jadinya anak adalah apa adanya lingkungan. Anak yang tumbuh di lingkungan yang buruk akan berpotensi menjadi berkelakuan buruk. Sementara anak yang tumbuh di lingkungan yang baik akan berpotensi menjadi baik pula.

Pun dalam dunia dewasa, keteladanan seseorang, dalam hal ini kesesuaian antara apa yang ia ucapkan dan apa yang ia lakukan, juga menjadi penentu apakah perkataan itu sampai kepada pendengar atau tidak. Diikuti atau ditolak. Seorang pimpinan misalnya. Ia selalu berkata dan menuntut karyawan atau stafnya untuk disiplin dan tepat waktu dalam bekerja, sementara ia sendiri kadang berangkat sudah telat, sering keluar di jam kerja. Kira-kira perkataannya didengar atau tidak? Saya rasa tidak akan didengar. Kalaupun karyawan atau stafnya menjadi disiplin itu bukan karena perkataan pimpinannya tetapi lebih karena memang aturannya seperti itu. Dan masih banyak lagi contoh yang lain tentang betapa keteladanan itu semakin mahal.

Keteladan memang bukan sebuah hal yang mudah. Pun keteladanan juga butuh konsistensi atau keistiqomahan. Ingat anak-anak adalah peniru yang ulung, di samping kritikus yang hebat. Ada seorang ayah yang menasehatkan anaknya untuk makan sambil duduk. Tetapi pada suatu hari entah karena tergesa-gesa atau lupa sang ayah terlihat oleh anaknya sedang makan sambil berdiri. Lalu sang anak bertanya “ Kok ayah makan sambil berdiri?”.  Sebagai orang tua terkadang tidak ingin di-cap bersalah di depan anaknya. Lalu sang ayah-pun berkilah. “ Ayah terburu-buru Nak jadinya gak papa makan sambil berdiri.. “ Dalam benak anak pasti akan tertanam suatu kesimpulan bahwa makan boleh berdiri kalau tergesa-gesa. Lain waktu jika sang ayah mengingatkan anaknya yang makan sambil berdiri, sang anak akan menjawab “ maaf Yah, aku terburu-buru nih… “. Untuk itu kita harus senantiasa menjaga konsistensi atau keitiqomahan dalam hal keteladanan.

“Wah gimana nih aku sudah terlanjur memberi nasehat tapi aku sendiri belum melaksanakannya “ keluh seorang teman. Yup, itu tidak menjadi masalah jika….. Jika kita setelah menasehati tersebut , saat itu juga diikuti dengan melaksanakannya. Semisal contoh kita memberi nasehat “ Sholat 5 waktu itu bagi laki-laki utamanya di masjid “ sementara waktu itu kita belum rutin ke masjid, maka hari itu juga kita harus memulai untuk rajin sholat 5 waktu di masjid.

Yuk mari kita biasakan suatu kebaikan dan lalu kita ajak orang lain. Atau kita ajak orang lain berbuat kebaikan lalu kita juga melakukan kebaikan itu. Keteladanan sekecil apapun, dalam hal apapun akan lebih mengena dari setumpuk perkataan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s