Masyarakat Mental Miskin, Mental Pengemis..

pengemisKalau saya ditanya “Apakah masyarakat miskin di Indonesia akan berkurang  atau malah bertambah? “ Saya akan menjawab bahwa sulit bagi pemerintah untuk mengurangi masyarakat miskin. Yang ada adalah akan semakin bertambah. Kenapa bisa begitu?

Saya mau menceritakan di kasus di dusun saya. Bisa jadi dusun lain akan berbeda, tetapi saya yakin bahwa kemungkinan sama jauh lebih besar. Siapa yang tidak tahu raskin. Beras Miskin. Tentu sesuai namanya beras itu diperuntukkan bagi warga miskin. Tetapi apa kenyataannya? Sebagian besar terdaftar sebagai warga miskin ( selain memang dukuhnya menyarankan untuk mendaftarkan sebanyak-banyaknya agar semakin banyak yang dapat raskin ). Walhasil, warga yang menurut saya -berdasarkan ketentuan warga miskin- tidak termasuk dalam golongan warga miskin-pun mendapat jatah raskin. Apakah hanya sampai itu? Ternyata tidak. Bahkan anak turunnya pun dapat raskin yang secara tidak langsung terdaftar sebagai warga miskin. Bayangkan keluarga baru, suami bekerja dengan layak, gaji mencukupi, hasil pertanian juga lumayan, kok bisa tergolong warga miskin. Dinasti kemiskinan rupanya sedang dibentuk. Belum lagi bantuan seperti BLT waktu dulu atau BLSM sekarang. Nasibnya sama saja.

Lalu apa masalahnya? Toh itu tidak apa-apa. Semakin banyak yang dapat semakin bagus. Tidak perlu repot-repot. Memang sih sekilas tidak apa-apa. Tetapi pada dasarnya itu adalah suatu cara membentuk mental miskin. Sudah demikian ditambah dengan penanaman mental pengemis. Cirinya adalah mereka menerapkan rumusan “ kalau bisa dapat dengan enak, ngapain susah-susah. Tidur di rumah saja sudah dapat uang ”. Begitulah keadaan atau fakta di lapangan.

Masyarakat kita adalah masyarakat yang sudah butuh ikan. Percuma diberi kail. Kail juga akan dijual buat beli ikan. Begitu mungkin pemikiran sebagian kita. Tapi menurut saya akan lebih bagus bila bantuan-bantuan dari pemerintah itu diberikan bagi mereka yang membutuhkan, tetapi tidak diberikan dalam bentuk ikan ( uang cash tanpa usaha ) juga tidak dalam bentuk kail. Karena sebagian warga miskin masih belum tahu bagaimana cara menggunakan kail untuk memancing ikan.

Taruhlah ikan tersebut di dalam kolam, lalu instruksikan untuk mencari ikan di kolam tersebut. Gampangnya, bantuan tersebut diberikan dalam bentuk proyek padat karya. Sehingga mereka perlu usaha agar mendapat bantuan pemerintah. Entah dengan proyek kebersihan sungai, proyek kebersihan lingkungan dan sebagainya. Intinya untuk memperoleh bantuan harus dengan usaha. Dengan demikian sedikit-demi-sedikit mental pengemis akan berkurang. Warga tidak lagi cuma ongkang-ongkang di rumah lalu dapat bantuan, tetapi perlu ikut bekerja baru dapat bantuan. Saya rasa itu lebih baik untuk pembentukan mental agar tidak bermental pengemis. Bolehlah miskin tetapi tetap punya harga diri.

Yuk kita dukung upaya-upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan tanpa menumbuhkan mental miskin dan mental pengemis. Seberapapun besarnya usaha kita ke sana tidaklah masalah yang penting kita tetap memberikan kontribusi bagi Negara.

One thought on “Masyarakat Mental Miskin, Mental Pengemis..

  1. Pingback: Masyarakat Mental Miskin, Mental Pengemis.. | KAPAS berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s