Statusku Sejarahku

Social-MediaStatus facebook. Siapa sih yang tidak tahu. Hampir sebagian besar masyarakat terutama pengguna facebook tahu. Update status menjadi suatu hal yang lumrah bahkan tak jarang update status menjadi suatu agenda rutin. Tak salah bila seberapa sering seseorang meng-update status menjadi salah satu tolok ukur tingkat kecanduan seseorang terhadap facebook dan tingkat kenarsisan – pengen dikenal , sok ngartis – seseorang.

Memang seberapa sering seseorang meng-update status itu merupakan hak mereka yang mana kita tidak selayaknya  memprotes. Namun kita juga gak salah kalau merasa sebel  lihat update-an seseorang yang sering muncul di Home kita. Apa-apa di-sampaikan di status. Kayaknya wall-nya sudah menjadi semacam tempat ratapan. Jadi teringat tembok ratapan-nya bangsa Yahudi. Kalau sudah begitu biasanya sih perlu diadakan tindakan, salah satunya adalah unfriend atau blokir. Hehehe…

Oke kembali ke permasalahan status. Status memang fleksibel digunakan. Untuk ajang promosi, ajang meratap, tempat mengutuk, tempat berbagi ilmu, tempat mencatatkan hal-hal penting. Bisa jadi momen penting itu  terlewat begitu saja tetapi yang penting update status tidak ketinggalan.

Dan status tak lengkap tanpa komentar. Bahkan tak jarang motif update status adalah untuk mengundang komentar. Semakin banyak komentar semakin senang. Seperti mengail, semkain banyak ikan yang terpancing semakin bahagia. Orang dengan tipe ini akan sangat terpukul dan sakit hati bila statusnya tidak banyak komentar bahkan tidak dikomentari sama sekali. Kemudian akan dibuat status baru yang unik dan menggelitik yang sekiranya mengundang banyak komentar.

Tapi tak semua seperti itu. Bagi sebagian yang lain, termasuk saya mungkin, status digunakan untuk mencatatkan hal-hal penting. Untuk mengingatkan akan sesuatu, yang mungkin terasa ngesoul –nge jiwa banget-.  Kalau begini komentar tidak begitu penting, toh itu semacam catatan pribadi. Kalaupun a da yaaa anggap saja sebagai suatu bentuk kepedulian terhadap kita. Entah mungkin kasihan melihat status kita tidak ada komentarnya. Hehehe…

Bagaimanapun sebaiknya ketika kita update status maka update-lah dengan status yang baik dan bermanfaat. Sebisa mungkin agenda pribadi atau perasaan pribadi tidak perlu diungkapkan. Yah kalau sekali-kali sih tidak apa-apa. Tapi kalau terlalu sering, maka kita akan dinilai sesuai dengan apa yang sering kita tulis. Kalau sering mengeluh, kita akan dicap sebagai orang yang lemah, pengeluh dan tidak bersyukur. Kalau terlalu sering menulis aktifitas pribadi, makan, mandi, jalan-jalan, menjelang tidur dan sebagainya kita dicap sok ngartis. Ingat status FB kita juga akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Jangan sampai keseruan kita menjadi beban di perhitungan nanti. Sebagaimana bicara, update status sebaiknya juga diterapkan prinsip “ bila tidak bisa membuat status yang baik, sebaiknya diam saja “.

Hal demikian juga berlaku buat yang suka mainan twitter. Hati-hati dalam nge-twit. Pokoknya kalau tidak bermanfaat sebaiknya tidak usah neg-twit. Oke deh kawan SELAMAT BERSTATUS RIA dan NGE-TWIT RIA.

#setelah sekian tahun mengendap akhirnya posting juga ini tulisan.😀

One thought on “Statusku Sejarahku

  1. Pingback: Statusku Sejarahku | KAPAS berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s