Meja Sepasang Hati

mata-cantik

“Mas mampir warung situ aja ya…. “

“Mmm… ya bolehlah..” jawab Salman menanggapi ajakan istrinya.

“Kenapa mas.. kok kayaknya kurang bersemangat.. “ tukas Salma, istri Salman.

“ Enggak apa-apa kok dik… yuk.. “ lanjut Salman.

==================================================================================

“ Maaf mas aku mengundang mas ke tempat ini… “ Sita memulai pembicaraannya.

“ Emang ada apa dik kok ngajak ke sini… “ tanya Salman heran.

Tak biasanya dan tak seharusnya mereka bertemu. Tapi sore itu mereka sudah mengadakan janjian untuk bertemu di sebuah warung makan. Sebuah warung makan yang cukup nyaman dengan tempat yang tidak terlalu ramai. Sangat cocok bagi mereka yang pengen ngobrol dan membutuhkan tempat yang tenang. Selain itu privasi merekapun relatif aman karena antara satu gubuk dengan gubuk yang lain cukup jarak untuk tidak terdengar pembicaraan biasa. Kecuali kalau dengan teriak atau nada tinggi. Namun demikian setiap gerak-gerik masih dapat terlihat satu sama lain, sehingga kalau ada yang berbuat macam-macam akan ketahuan.

“ Aku pengen bicara sesuatu mas… tentang kita…. “ Sita agak tergugu melanjutkan pembicaraannya.

Salman yang merasa heran dengan perubahan raut wajah Sita tak kuasa berbuat apa-apa.

“ Ada apa dik? Kok tiba-tiba kamu sedih begitu… bukankah kita tinggal menunggu hari itu tiba… ataukah mungkin dari keluarga Sita menginginkan perubahan tanggal ? “ Salman mencoba menggali ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“ Mas Salman…….. “ Sita benar-benar ingin menangis. Tapi dipaksakannya untuk tidak sampai menitikkan air mata. Dengan kondisi mereka yang belum menjadi suami istri kiranya akan menjadi hal yang janggal bagi orang lain bila sampai terlihat Sita menangis. Tentu saja akan mengundang tanda tanya bagi orang lain. Sita pun mencoba menguasai dirinya. Dalam lirihnya ia ucapkan basmalah, berharap ia bisa mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan.

“ Mas Salman sebelumnya mohon maaf atas segala kesalahan Sita…. “ Sita menghela nafas sejenak, sementara Salman mencoba tetap tenang.

“ Mas Salman, Sita tidak bisa meneruskan proses ini… “

Salman terkejut demi mendengar apa yang barusan ditangkap telinganya.

“Maksud dik Sita bagaimana? “ Tanya Salman dengan nada bergetar.

“ Sita ingin mengembalikan rembug keluarga Mas Salman…”

“ Mengembalikan bagaimana? Bukankah keluargaku dan keluargamu sudah bertemu dan sudah merestui pernikahan kita? Bukankah hari juga sudah ditentukan. Lalu bagaimana bisa Sita ingin membatalkan semua? “ cecar Salman.

“ Sita tahu mas ini tidak adil bagi mas… Tapi Sita merasa belum siap mas untuk menjadi istrimu…”

“ Kenapa dik? Tolong jelaskan ke aku.. apa yang sebenarnya terjadi setelah prosesi lamaran itu? Ataukah sebenarnya Sita sudah dijodohkan dengan orang lain? Tapi mengapa menerima lamaran mas? “

“ Bukan begitu mas… tidak ada orang lain. Tapi Sita benar-benar merasa tidak siap dengan kehidupan setelah kita menikah..”

“ Apa yang membuatmu tidak siap dik? Bukankah itu nanti bisa kita bicarakan, bukankah nanti bisa kita cari solusi bersama… Apa yang membuatmu tidak siap? “

“ Sita merasa tidak bisa menjadi seseorang yang mas inginkan.. Dari sms-sms tausiyah yang mas kirimkan ke Sita, dari buku-buku yang mas berikan ke Sita itu semua seakan memberikan gambaran kepada Sita tentang sosok seperti apa yang mas inginkan…”

“ Lalu…. ?”

“ Tapi lihatlah Sita mas.. Sita memang berjilbab tapi Sita masih sering pakai celana panjang jins. Sita juga tidak banyak ilmu tentang agama.. “

“ Tapi itu kan bisa dirubah kan dik?.. “

“ Bisa mas, tapi bagaimana bila itu tidak dari hati Sita.. bukankah nanti tidak akan nyaman buat Sita.. Juga nantinya akan berat buat mas Salman bila Sita tidak juga kunjung berubah.. Sita sadar bahwa Sita bukan tipe yang mas Salman inginkan… “

“ Sita… mungkin aku memang menginginkan sosok istri seperti yang ada di buku-buku itu. Setidaknya dari penampilan juga seperti itu. Berjilbab lebar. Tapi bukankah itu nanti bisa kita bicarakan… Kan mudah to berpakaian seperti itu?“

“ Mengubah penampilan memang mudah mas.. tetapi bila tidak dari hati Sita akan bagaimana? Bukankah ini lebih kepada prinsip mas… Sita merasa bahwa semakin ke sini banyak prinsip kita yang agak berseberangan.. Sita bukan berarti tidak ingin seperti sosok muslimah sejati. Sita pengen.. tetapi Sita pengen itu muncul dari hati Sita, bukan karena siapa. Sita takut bila nanti Sita belum juga bisa berubah justru akan mengecewakan mas Salman pribadi juga tentunya keluarga mas… “

“ Sita… jujur aku merasa berat dengan apa yang kamu sampaikan ini… Ada semacam asa yang tadinya membumbung tiba-tiba jatuh ke bumi… Aku sudah menunggu sekian lama untuk bisa bertemu dengan seseorang yang akan menjadi teman hidupku… Dan ketika hampir aku dapatkan ternyata itu masih jauh.. Sita adalah wanita pertama yang aku berani serius melamar… “

“ Maafkan aku mas… “ Sita tak kuasa menahan tangis. Meski ditahannya dengan sekuat hati tetap saja aliran bening itu membasahi pipinya. Menghangat. Mengalir seiring lepasnya sesak yang selama ini ingin diungkapkannya..Namun basah di sapu tangannya membuat sesak yang lain. Sita merasa bersalah atas apa yang ia ungkapkan. Rasa bersalah telah menyakiti hati seseorang, juga telah membuat keluarga kalang kabut. Bagaimana tidak dalam adat Jawa yang namanya mengembalikan rembug adalah hal yang sangat jarang terjadi.

Memang itu bukan hal yang mustahil karena pernah juga yang mengalaminya tetapi sangat jarang. Biasanya kalau sudah ada prosesi lamaran berarti sudah saling bertekad untuk menikah. Dan biasanya tinggal menunggu hari H saja. Tapi rupanya tidak dengan kondisi Sita. Ia masih perlu meyakinkan diri setelah prosesi lamaran itu. Tiap malam ia selalu bermunajat mohon kemantapan hati. Tapi rupanya bukan kemantapan hati untuk mendampingi Salman, tetapi kemantapan hati untuk melanjutkan atau tidak. Memang di usianya yang tidak muda lagi, serta dorongan keluarga yang sangat besar untuk segera menikah, Sita kala itupun dengan bahagia menerima lamaran Salman. Sita pun mulai merajut asa dan mimpi. Namun rupanya komunikasi yang terjalin justru menyebabkan Sita merasa bahwa ia bukan tipe wanita yang diinginkan Salman. Ada ketakutan bila nanti terlanjur menikah justru akan sering membuatnya kecewa. Lalu dipilihlah satu hari dimana ia mengungkapkan maksud hatinya kepada keluarga. Tentu saja hal itu mengejutkan semuanya. Bagaimana tidak. Mengembalikan rembug bagaimanapun pernah terjadi di masyarakat tetap saja ada aib yang tertinggal setelahnya. Namun demi mendengar alasan Sita seperti yang juga ia ungkapkan kepada Salman, keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada Sita.

“ Aku harap mas Salman memahaminya…. “ Lanjut Sita setelah kembali bisa menguasai diri.

Salman menghela nafas panjang. Dalam lirihnya ia mengucap istighfar.

“ Kalau itu sudah keputusan Sita, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku sebenarnya berat, tapi aku mencoba memahami keputusanmu. Bagaimanapun ketidaknyamanan Sita dalam kehidupan keluarga nanti pasti akan membawa efek buruk bagi kehidupan Sita ke depan.. Aku hanya bisa mengambil pelajaran bahwa apa yang kita rencanakan tidaklah selalu sama dengan yang Allah tetapkan.. Ini berarti memang kita tidak ditakdirkan-Nya bersatu.. Aku berdoa semoga kita dipertemukan dengan jodoh masing-masing yang lebih diridhoi-Nya… “

“ Aamiin… terimakasih mas atas pengertianmu.. Sita mohon maaf atas segala salah Sita kepada mas Salman juga kepada keluarga mas Salman. Mohon sampaikan maaf untuk ibuk dan bapak… “

“ Insya Allah dik.. “ Kata-kata Salman mengakhiri pertemuan dua sejoli yang hampir menikah itu.

=================================================================================

“Mas mau pesen apa? “ Tanya Salma yang melihat suaminya diam saja.

“ Eh…. anu… mas pesen ayam goreng sambal bawang sama es jeruk… “ Salman tergagap bangun dari kenangan masa lalunya itu. Di meja itu dua tahun lalu.

Salma memesan ayam goreng dambal bawang dua posri dan es jeruk dua gelas. Memang selera mereka berdua sama. Ternyata menikah itu juga tidak perlu berbeda-beda sangat antara suami dan istri. Ternyata dengan apa-apa yang hampir sama, mereka bisa bahagia. Katanya malah melipatgandakan persamaan dan potensi.

“ Mas kok malah melamun to… Duh efek lapar memang macam-macam ya mas… “ goda Salma.

“ Enggak..sapa yang melamun.. mas kan lagi menikmati indahnya mau makan bareng bidadari… “ celetuk Salman sambil menyenggol lengan Salma.

“ Husss malu mas… tuh dilihatin orang.. “ Kata Salma malu-malu. Rona merah di pipinya tidak dapat disembunyikan lagi.

“ Eh bidadari bisa merah juga to pipinya… “ lanjut Salman kali ini sambil nyiwel pipi istrinya itu.

“ Ah udah ah..kapan makannya ini.. “ Kata Salma sengaja  agak menjauh. Salman yang sebenarnya masih pengen mencandai istrinya akhirnya putus asa. Makan ternyata solusi yang terbaik dengan kondisi seperti ini. Tak lupa sesuap dua suap mereka saling menyuapi pasangan masing-masing. Prinsip mereka bahwa hal itu bukan kemesraan yang berlebihan.

(sebuah fiksi )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s