Gelombang Kehidupan (Sinusida Minor)

sinusodalDalam mengarungi kehidupan, adakalanya mengalami fase naik dan turun. Hampir dalam segala hal fase naik turun itu terjadi. Mulai dari pekerjaan, emosi, hubungan sosial kemasyarakatan, ekonomi bahkan sampai keimanan. Ada waktu dimana kita merasakan berada dalam kondisi terpuruk (turun) lalu di saat lain kita berada di puncak. Hal ini akan terjadi berulang-ulang selama manusia itu hidup.

Mengingat kita bukanlah malaikat yang alurnya cenderung stagnan (tak ada fase naik dan turun), pun bukan pula nabi/rasul yang alurnya cenderung naik (fase naik) maka wajar bagi kita mengalami naik dan turun dalam menjalani kehidupan.

Memang idealnya dan pastilah harapan semua orang bahwa fase yang dilalui adalah fase naik. Dari hari ke hari selalu terjadi perbaikan dan peningkatan kualitas hidup. Tak ada kegagalan, tak ada rasa malas, tak ada rasa putus asa dan lain sebagainya.

Namun indahnya bagi ukuran kita bahwa Alloh menakdirkan alur kita naik dan turun berulang-ulang sebagaimana gelombang sinusida. Disana ada tantangan yang membuat kita bersabar dan di sisi lain ada kemenangan yang akan membuat kita bersyukur. Bukankah bersyukur dan bersabar itu adalah perhiasan manusia yang berkualitas (manusia beriman)?

Hanya saja kita perlu menyadari bahwa bagaimanapun kondisi naik itu pastilah kondisi yang baik dan ideal. Oleh sebab itu pantaslah bagi kita selalu berusaha mencapai titik tertinggi itu. Untuk mencapai hal itu Alloh mengkaruniakan kepada manusia dengan diberi akal untuk berpikir.Manusia diberi pilihan dan kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang lalu kemudian bisa memperbaikinya di masa sekarang untuk menyongsong masa depan.

Meskipun kadang manusia jatuh ke lubang yang sama karena terlambat belajar dari pengalaman, namun yang terpenting setiap kali kita jatuh maka kita harus berani bangkit. Dikatakan ‘harus berani’ karena tak sedikit dari kita yang takut untuk menjadi lebih baik. Mereka merasa nyaman dengan keterpurukan, mereka menikmatinya sebagai bagian dari kehidupan dan yang paling naif mereka berkata ‘inilah jalan yang sudah ditakdirkan’ tanpa mau berusaha memperbaikinya. Kalau sudah begini berarti kita sendiri yang membuat lubang kehancuran kemudian kita dengan sukarela akan memasukinya.

Teman, memang kebanyakan dari kita tak sadar sejak kapan grafik itu mulai menurun dan apa penyebabnya. Kita sadar ketika kita benar-benar sudah berada di bawah dan merasa bahwa alur tak lagi sama dengan sebelumnya. Ini masih lebih bagus daripada yang tidak merasa bahwa dia sudah terjatuh. Namun begitu tak ada bedanya antara kita yang menyadari dengan yang tidak menyadari jika kondisi terbawah dilihat dari kacamata keadaan. Yang membedakan adalah langkah setelah terpuruk. Akankah bangkit atau diam saja.

Pepatah mengatakan ‘tak peduli berapa kali engaku terjatuh, yang paling penting adalah setiap kali jatuh maka setiap kali itu pula bisa bangkit.’ Bagaimanapun titik kebangkitan itu yang harus kita raih dan kita usahakan.

Dan dalam sebuah hadits dinyatakan ‘seorang muslim tidak boleh jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.’ Artinya kita tak boleh mengulang kesalahan yang sama.

Jadi kunci mengarungi kehidupan ini salah satunya adalah :
“ketika kita terpuruk maka jangan berputus asa dari rahmat-Nya, tetap bersabar dan berusaha serta berdoa agar segera terbebas dari keterpurukan.
Lalu ketika kita di puncak kehidupan maka kita bersyukur dan tetap bersabar dalam mempertahankan kebaikan serta berdoa agar tetap istiqomah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s