Jika kita saling mencintai karena Allah

Jika. Suatu ketika engkau harus bepergian ke suatu tempat yang sangat baru. Belum pernah ke sana. Engkau tidak punya perbekalan sama sekali, tidak ada saudara atau kenalan sama sekali. Kemudian engkau bertemu dengan seseorang yang sangat baik hati. Saking baik hatinya engkau sudah dianggap saudara sendiri.Tidak dinyana-nyana dia menawarkan kepada engkau separuh hartanya. Lalu dia menawarkan salah satu istrinya mana yang engkau suka untuk dia ceraikan. Kemudian setelah selesai iddahnya engkau diminta menikahinya.

Kira-kira apakah engkau akan menerima tawarannya?

Ataukah engkau dengan penuh kewibawaan akan menolaknya dengan mengatakan “ Tidak, terimakasih. Tunjukkan saja padaku di mana letak pasar. “

==============================================================

Jika. Suatu waktu engkau melihat seorang wanita yang membuat engkau jatuh cinta. Sementara waktu itu engkau belum mengenalnya. Kemudian ada saudaramu yang sudah mengenal dan bersedia mengantarkan untuk lamaran. Lalu pergilah kalian berdua menemui orangtuanya. Ketika disampaikan maksud kedatangan kalian, maka orangtua sang gadis perlu menanyakan kesediaan untuk dilamar olehmu. Tapi apa jawab sang gadis. Sang gadis menolak lamaranmu, tetapi justru ia menerima bila yang melamar adalah saudaramu.

Apa yang hendak engkau lakukan?

Menyuruh saudaramu tidak menikahi gadis tersebut. Karena sama sekali tiada untungnya bagimu.

Atau engkau dengan sukarela membantu saudaramu dalam mencukupi persiapan perhelatan pernikahan tersebut dengan menyerahkan segala sesuatu yang sebenarnya telah engkau persiapkan jika lamaranmu diterima.

Jika engkau masih ragu, inilah kisah yang mungkin akan membantumu menemukan jawaban.

Kisah 1.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa tatkala kaum Muhajirin tiba di Madinah, maka Rasulullah saw mempersaudarakan Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’. Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separoh hartaku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya.  Jika masa iddahnya sudah habis, maka kawinilah ia!” Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja mana pasar kalian?”

Kisah lebih luasnya…

Pada awal kehidupan di Madinah, Rasulullah sudah memulai untuk membangun sebuah persaudaraan abadi yang lepas dari ikatan-ikatan perbedaan kaya miskin, tua muda atau bahkan pertalian darah.  Sebuah persaudaraan yang dibangun dan dipersatukan oleh akidah Islamiyah.  Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.  Beliau mempersaudarakan seorang Anshar dengan seorang Muhajirin.  Bilal dengan Abu Ruwaihah.  Abu Bakar dengan Kharija bin Zaid, Umar dengan Itsban bin Malik.  Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’.  Dalam persaudaraan ini keduanya memiliki hak dan kewajiban untuk saling membantu dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan takwa.

Setelah dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, Abdurrahman bin Auf sangat gembira sekali.  Sa’ad adalah orang paling kaya di Madinah.  Kebun kurmanya sangat luas.  Berton-ton gandum setiap bulan dipanen dari tanah garapannya.  Belum lagi unta dan domba yang dipeliharanya.  Jumlahnya ribuan ekor.  Dan seluruh hartanya itu ingin dibagi dua dengan saudara muhajirinnya, Abdurrahman bin Auf.  Bahkan Sa’ad menawarkan salah satu istrinya untuk diperistri oleh Abdurrahman.  Sa’ad akan menceraikan salah satu istrinya untuk dapat diperistri oleh Abdurrahman.

Betapa beruntungnya Ibnu Auf.  Ia datang dari Mekkah ke Madinah tanpa membawa barang-barang berharga sedikitpun.  Belum genap satu minggu ia berada di Madinah, ia sudah ditawari pembagian harta yang sangat banyak. Bahkan ia bisa memilih salah satu dari dua orang istri Sa’ad.  Tapi menerima pemberian tanpa jerih payah bukan lah watak seorang muslim bernama Abdurrahman bin Auf.  Ia lebih suka diberi kail daripada harus terus menerus disuapi ikan.

“Terima kasih saudaraku.  Aku menghormati keputusanmu untuk membagi dua harta milikmu.  Semoga Allah memberkahimu.  Tapi aku tidak bisa menerimanya.  Rasulullah mengajarkan ku untuk selalu hidup di atas kekuatan kaki ku sendiri.  Sekarang aku hanya ingin kau mengantarkanku ke pasar.  Aku akan berdagang,”  kata Abdurrahman dengan santun.    Kemudian Sa’ad mengantar Abdurrahman ke pasar Bani Qainuqa, pasar terbesar di kota Madinah.

Kisah 2.

Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah, pelamaran.

Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah  dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!

Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan. Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah saw dengannya. Bukanlah seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya.

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s