Persalinan Normal vs Sesar. Sebuah Pilihan?

wanita hamil kartunTanggal 29 Desember 2013 kemarin menjadi sebuah momen yang membahagiakan bagi keluarga besar saya. Adik saya pada hari itu menjalani persalinan anak pertama. Alhamdulillah setelah perjuangan yang hampir 2 hari akhirnya anaknya bisa lahir dengan selamat. Melalui persalinan normal, sekitar pukul 20.30 lahirlah sang jabang bayi dengan berat 33 ons dan panjang 51 cm.

Proses persalinan yang menurut saya agak diwarnai drama. Bagaimana tidak, di penghujung detik-detik menunggu persalinan ada keinginan adik saya untuk melakukan sesar dikarenakan menahan sakit yang luar biasa. Saya sendiri tidak bisa mengukur berapa besar sakit tersebut, dikarenakan saya laki-laki yang mana tidak ditakdirkan mengandung dan melahirkan. Tapi saya pernah membaca suatu artikel katanya manusia bisa menahan level sakit sampai level 45. Tetapi ibu yang melahirkan sakitnya bisa mencapai level 47. Allahu Akbar. Sungguh karunia Allah begitu besar sehingga seorang ibu bisa menahan sakit yang luar biasa demi melahirkan anaknya. Kalau sudah begitu sungguh tega nian anak yang berani kepada orangtua. Si anak pastinya tidak menyadari betapa berat perjuangan demi melahirkan dia.

Ketika sudah bukaan 7,5 adik saya merasa kesakitan dan memunculkan permintaan bagaimana kalau sesar saja, sementara suaminya yang tidak tega melihat penderitaan istrinya agaknya akan menyetujui usul tersebut. Namun saya berkata kepadanya “ Yang sabar, banyak berdzikir saja. Kamu tidak sendirian. Banyak wanita yang sudah menjalaninya. Pasti sakit. Tapi kalau orang lain bisa, kamu juga pasti bisa. Kalau bisa normal jangan memilih sesar.” Demikian kira-kira kalimat yang saya ucapkan untuk mendorong adik saya agar bertahan dengan persalinan normal. Sementara Bidan yang menangani hanya bilang untuk menunggu tanpa adanya kata-kata penyemangat. Bahkan ketika ada lontaran kalimat pengen sesar, bu bidan berkata “ yang sabar saja.. tapi kalau pengen sesar bisa saya antar sekarang..” Loh kok begitu sih, pikir saya. Harusnya diberi semangat dong biar bisa menjalani persalinan normal.

Tapi akhirnya kami sekeluarga bisa meyakinkan adik saya untuk melahirkan secara normal dan alhamdulillah akhirnya lahir juga secara normal. Dari kejadian ini saya semakin yakin akan perkataan istri bahwa di Indonesia proses persalinan masih menjadi pilihan antara normal dan sesar. Orang boleh memilih untuk menjalani normal atau sesar, kecuali bagi yang memang harus dengan operasi sesar. Sementara di negara lain, persalinan sesar merupakan pilihan terakhir bila persalinan normal tidak memungkinkan. Juga teringat sebuah tayangan infotainment yang kebetulan menayangkan seorang artis yang sedang diperiksa kehamilannya. Kemudian setelah selesai dia mengatakan apakah nantinya akan melahirkan normal atau sesar. Saya dan istri mengernyitkan dahi ketika melihat hal itu. Kok bisa milih gitu sih? Kalau bisa normal kenapa harus sesar?

Tapi melihat ekspresi adik saya yang menahan sakit yang sangat tersebut, kiranya saya bisa sedikit memahami kenapa masih banyak ibu-ibu yang sebenarnya bisa melahirkan secara normal tetapi justru memilih untuk menjalani sesar. Yaitu agar tidak terlalu merasakan sakit yang sangat tersebut. Tapi bukankah yang namanya melahirkan itu pasti sakit. Baik itu normal ataupun sesar. Kalau persalinan normal maka sakitnya ketika menjelang detik-detik (baca: jam-jam ) persalinan. Kata bu bidan sakitnya itu antara bukaan 4 – 10. Kalau sebelum itu belum terlalu sakit. Bu bidan juga berkata “ kalau masih bisa senyum berarti masih lama.. soalnya beda ekspresinya kalau mendekati persalinan..lihat saja besok… “. Kalimat itu terlontar ketika baru saja masuk klinik. Dan terbukti bahwa mendekati detik-detik persalinan kiranya senyum itu berganti ekspresi menahan sakit yang sangat. Tapi setelah lahir sang jabang bayi seolah-olah sudah tidak ada sakit yang sangat.

Sementara persalinan sesar sakitnya justru setelah sang jabang bayi lahir. Saya sangat memahami hal ini dikarenakan istri saya, qadarullah, harus menjalani persalinan sesar dikarenakan plasenta previa. Kasus yang katanya 1 diantara 100 persalinan. Betapa sakitnya istri saya setelah operasi selesai. Rasa nyeri yang sangat di area rahim, apalagi ketika obat bius sudah kehilangan efeknya. Apalagi hampir 24 jam diharuskan terbaring di tempat tidur. Hanya boleh miring ke kanan atau ke kiri itupun harus pelan-pelan. Belum lagi jahitan di perut harus diperhatikan kebersihannya. Dan seminggu kemudian baru bisa dibuka. Apakah sakitnya selesai? Bahkan sampai beberapa bulan masih merasakan nyeri. Saya bukan bermaksud mendramatisir, tetapi saya menyampaikan fakta yang terjadi kepada istri saya. Mungkin saja akan berbeda antara pengalaman istri saya dengan wanita yang lain. Tapi itulah gambarannya. Bahwa yang namanya melahirkan pasti akan sakit.

Saya berharap jika ada yang membaca tulisan ini setidaknya menjadi pertimbangan apakah ketika bisa menjalani persalinan normal, masih mau menjalani sesar. Tapi mungkin ada sebagian oknum dokter yang menjadikan operasi sesar sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan. Secara biaya operasi sesar cukup besar dibanding persalinan normal. Bisa 6 kali lipatnya. Sekali lagi saya mengatakan hanyalah oknum alias segelintir dokter saja. Saya yakin bahwa tenaga medis pastilah akan menyarankan yang terbaik bagi pasiennya. Kalau masih bisa normal saya kira tenaga medis juga akan menyarankan untuk normal.

Saya jadi teringat percakapan saya dengan seorang ibu di kantor. Waktu itu beliau bertanya.

“ Mas gimana anaknya? “

“Baik bu, alhamdulillah… “

“ Normal atau sesar? “

“ Sesar bu… “

“Wah dibohongi dokternya itu… “

Saya hanya tersenyum ketika beliau bilang demikian. Saya juga tidak menjawabnya. Yang pasti saya tahu bahwa sesar yang kami pilih dikarenakan tidak ada jalan lain selain operasi sesar. Kalau masih bisa normal tentu saja saya dan istri tidak akan memilih sesar. Tapi dari perkataan beliau saya menangkap bahwa “ ohh berarti memang ada dokter yang menyarankan sesar padahal sebenarnya bisa normal.. “

Tapi hal ini, dalam kasus lain, bukan melulu kesalahan dokter juga. Saya sempat menjumpai ada seorang ibu yang minta untuk di-sesar saja, karena sudah tidak tahan sakit. Padahal ini anak ketiga, sedangkan yang dua anaknya lahir normal. Kalau sudah begini siapa yang salah. Untungnya waktu itu bu dokternya tetap keukeuh untuk menunggu. Kalau memang tidak bisa normal ya baru sesar.

Maka dari itu, saya sangat menyarankan bagi ibu-ibu yang bisa melahirkan normal untuk menjalani persalinan alamiah tersebut. Jadi melahirkan normal atau sesar bukan suatu pilihan. Operasi sesar hanya dilakukan ketika peluang untuk melahirkan secara normal tidak memungkinkan atau terjadi hal-hal yang memang mengharuskan operasi sesar semisal pendarahan yang hebat, plasenta previa, sungsang, bayi terlalu besar dan masih ada lagi..

Tapi saya yakin bahwa  ketika melihat hadirnya sang buah hati yang lucu dan menggemaskan sang ibu telah lupa akan rasa sakitnya. Masya Allah… Begitu hebatnya rasa kasih sayang yang tulus. Mampu mengalahkan rasa sakit yang bagaimanapun.

babay kartun

*tulisan ini dibuat oleh seseorang yang tidak bekerja di bidang medis, sehingga bila ada informasi atau istilah medis yang kurang tepat mohon kiranya dikoreksi.

** untuk tulisan sesar saya sengaja demikian agar mudah dibaca. Sedangkan seharusnya adalah caesar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s