Cermin Yang Tak Pernah Bohong

Lama nian ia memandang kaca pantul itu. Beberapa kali senyum mengembang di sudut bibirnya. Kepalanya sesekali digelengkan ke kanan, lalu ke kiri mencari sudut pandangan wajah yang terbaik. Namun sejurus kemudian sudut bibirnya menggelayut ke bawah. Alis matanya yang berkerut menyiratkan adanya hal yang mengganggunya.Kepalanya diajukan beberapa sentimeter. Melihat dengan detail apa gerangan yang menodai wajahnya. Tangannya refleks memencet warna merah di jidatnya. Memastikan apakah itu hanya tempelan atau bukan.

Alis matanya semakin menunjukkan keseriusannya, ketika ternyata tonjolan warna merah itu bukan tempelan. Seakan memang tumbuh dari dalam kulit.Dengan gusar ia usap-usap jerawat yang tak pernah permisi tumbuh di jidatnya itu. Begitu paniknya ternyata tak hilang hanya dengan gosokan tangan. Seakan akan wajahnya menjadi buruk seketika.

Belum lagi lubang bekas luka yang ada di tulang dagunya. Semakin menambah risau hatinya. Seakan-akan seluruh wajahnya digerogoti bekas koreng itu. Bingung, memunculkan rasa malu jika bertemu orang lain. Lalu dia teringat akan kosmetik produk perusahaan kelas rendahan yang diiklankan dengan bualan lewat televisi yang katanya bisa menyembuhkan jerawat dan bekas luka. Tak ada kata lain selain mempercayai bualan itu. Di cobanya penuh harap. Berharap semoga manjur dan tidak menjadi korban kosmetik abal-abal itu.

Teman, begitulah kalau kita sedang bercermin. Kita seringkali terpana dengan kecantikan atau ketampanan kita. Sehingga sekecil apapun noda seakan tak noleh merusak keindahannya. Atau mungkin kita merasa diri kita jelek minta ampun. Seakan tak ada yang lebih jelek dari kita. Sehingga nikmat yang begitu besar seringkali terlupakan begitu saja.

Teman, berapa kali kita bercermin setiap harinya? Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali atau setiap dua jam sekali bahkan setiap jam sekali? Berapa lama waktu yang diperlukan setiap kali bercermin? semenit, lima menit, setengah jam, atau sejam?

Betapa kita begitu perhatian dengan penampilan kita. Bahkan untuk hal terkecil-pun kita bisa mengamatinya. Tujuannya agar kita bisa tampil perfect di depan orang-orang. Mungkin saja jika Allah memberi kuasa kepada kita untuk membentuk wajah dan penampilan kita, sudah barang tentu kita akan berusaha keras agar kita tampil sempurna. Namun kiranya Allah Maha Adil. Dia telah menentukan wujud dan bentuk manusia sesuai dengan Kehendak-Nya. Tak boleh diganggu gugat. Manusia harus menyadari bahwa itulah wujud paling sempurna dan paling baik baginya.

Sementara itu, ada yang tak kalah penting [bahkan yang paling penting] yaitu penampilan dalam kita (inner beauty). Penampilan dalam ini bisa berupa karakter maupun kepribadian. Jika tampilan luar hanya bersifat sementara, maka penampilan dalam bersifat jangka panjang. Namun sayang, hedonisme, materialisme dan liberalisme telah menggeser pemahaman menuju kesimpulan bahwa penampilan luar adalah segalanya.

Teman, berapa kali kita bercermin untuk jiwa kita? Sebanyak kita bercermin di kaca pantul? Sehari sekali, Dua hari sekali, Seminggu sekali, setahun sekali atau jangan-jangan sampai saat ini kita belum sekalipun mengacakan jiwa kita?

Teman, jika Allah tidak memberikan kuasa kita membentuk fisik kita, maka beda dengan jiwa kita. Allah memberi kebebasan kepada kita untuk membentuk jiwa [akhlak] kita. Jika kita bicara fisik, bukankah kita ingin bentuk terbaik? Maka begitu pula untuk urusan jiwa (akhlak) ini, kita pun harus berusaha menjadi yang terbaik.

Bercermin setiap hari, bahkan setiap saat atau sesering mungkin dalam cermin bernama perenungan dan muhasabah diri akan membantu pembentukan jiwa (akhlak) kita. Maka lihatlah ketika kita bercermin.Lihatlah diri kita. Lihatlah seraut wajah yang nampak di kaca pantul itu. Jika kau temukan wajah itu cantik atau tampan maka jangan kau rusak dengan akhlak yang buruk. Jika kau temukan wajah itu biasa-biasa saja maka perbaguslah dengan akhlak yang baik.

Akhirnya, bahwa kecantikan/ketampanan fisik itu akan mudah dilupakan oleh orang lain, sejalan berlalunya waktu. Namun kecantikan/ketampanan jiwa (akhlak) tak akan lekang dimakan waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s