Bukan Kelompok Suami-Suami Takut Istri

suami-takut-istriSudah jamak menjadi bahan guyonan ketika ada seorang suami mau membantu pekerjaan rumah tangga, yang mana itu menjadi tanggungjawab istri semisal mencuci, maka dibilang termasuk dalam anggota kelompok suami-suami takut istri. Dan mungkin ada sebagian istri yang suka bila suaminya takut kepadanya. Cirinya adalah jika disuruh-suruh pasti mau. Suami disuruh masak mau, disuruh nyuci mau, disuruh belanja juga mau. Pokoknya disuruh apa aja pasti mau. Lalu akhirnya si istri berlaku seenaknya sendiri terhadap suami.

Memang ada tipe keluarga dimana suami takut ‘beneran’ dengan si istri, ada tipe dimana suami dan  istri seimbang dan ada juga tipe dimana istri sangat takut dengan suami. Padahal seharusnya dalam kehidupan berkeluarga tidak perlu ada keterpaksaan. Jangan sampai suami mau melakukan pekerjaan istri hanya karena takut. Pun begitu sebaliknya, jangan sampai ada istri yang saking takutnya sama suami menjadi mau diperlakukan semena-mena, bahkan sampai terjadi KDRT.

Nah karena dua tipe dari tiga tipe di atas dirasa tidak baik, maka yang perlu diterapkan adalah tipe seimbang. Artinya suami-istri dalam posisi seimbang dalam hal tanggungjawab terhadap urusan rumah tangga. Namun bagaimana bila kebaikan suami, yang mau membantu istrinya, disalah-artikan? Ada yang menjadikannya bahan guyonan, ada pula yang menjadikannya sebuah isyarat bagi istri bahwa sang suami di bawah kendalinya.

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  

“Orang mukmin yang paling sempurna IMANnya adalah yang paling baik AKHLAKnya dan sebaikbaik kamu ialah yang paling baik kepada ISTERInya(HR Tirmidzi) 

 “ Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada keluargaku “ ( HR Imam Tirmidzi, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu hibban serta dishahihkan oleh Al- Albani ) 

“Tidaklah memuliakan perempuan kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakan perempuan kecuali orang yang hina.” (HR.Ibnu Asakir).

Sudah jelas khaan? Setidaknya hadits tersebut menjadi suatu dasar bagi kita, kaum laki-laki, untuk senantiasa berbuat baik kepada istri. Jadi bantuan-bantuan kita kepada istri adalah salah satu cara memuliakan wanita dan juga sebagai salah satu bentuk berbuat baik kepada istri.

Dan kepada kaum wanita, ingatlah selalu bahwa laki-laki adalah pemimpin keluarga, bahwa ketaatan istri kepada suami lebih tinggi dari ketaatan kepada orang lain, bahkan orangtua. Untuk itu ketika menemui kenyataan bahwa suami mau membantu istri, maka hal itu patut disyukuri, bukan malah menjadikan kaum wanita merasa telah mengendalikan suami. Sebenarnya suami bisa saja berlaku keras (fisik dan verbal) kepadamu, tetapi karena hendak mengamalkan tuntunan Rasulullah tersebutlah maka ia mampu untuk tetap menjaga akhlak baik dan tetap berbuat kebaikan kepadamu.

Dan marilah kita senntiasa berusaha untuk menjadi lebih baik termausk dalam hal berumah tangga. Ketika suatu saat emosi menguasai diri untuk berbuat yang melampaui batas ingatlah selalu bahwa pahala Allah begitu besar bagi mereka, suami, yang tetap menjaga akhlak mulia terhadap keluarganya. Pun pahala besar bagi mereka, istri, yang senantiasa berusaha mendapat ridha suaminya dalam setiap aktifitasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s