Kerjasama Cinta

408-family-cartoonSuami istri adalah partner. Sebagai partner sudah semestinya menerapkan prinsip kerjasama yang mana tujuan utamanya adalah agar perjalanan kehidupan rumah tangganya berjalan dengan baik dan menyenangkan. Salah satu bentuk kerjasama adalah kerjasama dalam mengurus rumah tangga, baik itu berkaitan dengan mengasuh anak maupun dalam hal pekerjaan rumah tangga.

Kita tentu mafhum, bahwa di masyarakat kita yang mana sedikit banyak masih dipengaruhi oleh tradisi, ada pemisahan yang jelas antara tugas suami dan istri. Dalam pandangan umum masyarakat seorang suami bertugas untuk mencari nafkah (bekerja) kemudian ditambah dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang memang sering dikerjakan oleh seorang laki-laki semisal mengganti genting, menge-cat rumah, membuat pagar, memandikan motor dan sebagainya. Sementara tugas istri adalah mengurus rumah tangga mulai dari memandikan anak, memasak, mencuci piring, mengepel lantai, mencuci baju, menyeterika, melayani suami (dalam arti luas) dan masih banyak pekerjaan lain.

Dikotomi ini dalam beberapa kalangan masyarakat masih dipegang teguh. Suatu hal yang tabu bila seorang suami memasak untuk keluarga, bahkan sekedar membantu memasak. Suatu hal yang bisa menjadi bahan ejekan di kalangan laki-laki bila ada seorang suami yang membantu mencuci baju atau mengepel lantai. Pun suatu hal yang tidak wajar kiranya ada seorang istri yang mengganti genting sementara suaminya hanya menganggur. Sehingga akan sangat jarang terlihat kebersamaan antara suami dan istri dalam mengerjakan urusan rumah tangga.

Masih ingat dengan pelajaran sewaktu SD dulu (sekitar tahun 1990-an) ? Sering kita jumpai kalimat seperti ini Ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur. Secara tidak langsung anak sudah diajarkan pemisahan tugas dalam keluarga semenjak kecil. Namun sayangnya, posisi sebagai suami terasa “lebih enak” ketimbang posisi sebagai istri. Dan pada akhirnya itu pula yang turut berperan dalam membentuk sikap laki-laki, disamping kultur keluarga. Tidak semua laki-laki sih, karena ada juga yang merasa kurang sreg dengan dikotomi semacam ini. Salah satunya adalah penulis. hehehe….

Pekerjaan rumah adalah tanggungjawab seluruh anggota keluarga. Tidak ada salahnya bila kemudian diadakan suatu pemisahan antara tugas suami dan istri. Tetapi hendaknya pemisahan tersebut tidak dijadikan suatu pembatas yang jelas, yang akhirnya menjadi suatu aturan bahwa tidak boleh terjadi suatu singgungan.  Suami sama sekali tidak mau menyentuh pekerjaan istri dan istripun juga tidak mau membantu pekerjaan suami. Tetapi yang lebih baik adalah pemisahan tersebut sebagai suatu cara untuk menunjuk penanggungjawab, sementara pekerjaan masih tetap bisa dilaksanakan berdua. Memasak adalah tanggung jawab istri, tetapi tidak ada salahnya bila suami membantu atau bahkan mengambil alih semisal istri sedang sakit. Demikian pula dengan mengganti genting, yang mana itu adalah tanggungjawab suami, tetapi sebagai istri juga mau membantu, semisal membantu memegangkan tangga.

Dengan demikian akan tercipta suasana seimbang. Hal ini juga termasuk salah satu cara memberi teladan atau contoh bagi anak-anak. Tidak ada ceritanya seorang ayah menyuruh anaknya membantu ibu memasak sementara sang ayah asyik menonton televisi. Tetapi yang ada adalah seorang ayah membantu ibu memasak kemudian mengajak anaknya untuk ikut bergabung. Mereka memasak bareng-bareng penuh keceriaan, yang pada akhirnya akan semakin mendekatkan ikatan emosional antar anggota keluarga.

Bukankah kita diajarkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan? Saling membantu tugas pasangan adalah salah satu bentuk tolong menolong dalam kebaikan. Jika kita kerjakan dengan niat untuk mencari ridha Allah SWT, dengan membantu pasangan, meringankan beban pasangan, insya Allah akan mendapat pahala.  Kalau sudah diniatkan karena Allah maka tidak ada lagi suatu rasa malu hanya karena tradisi yang ada masih memandang pembatasan tugas suami dan tugas istri.

Mari kita bentuk keluarga kita menjadi keluarga yang penuh dengan kerjasama yang dilandasi cinta, baik cinta kepada Allah (mengharap ridha-Nya) maupun cinta kepada seluruh anggota keluarga. Jika dilakukan bersama akan menjadi lebih indah, mengapa kita masih enggan melaksanakannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s