Jodoh dan kedewasaan

Jodoh. Hmmmmm… Jodoh adalah masalah yang serius hampir bagi setiap orang. Tapi terutama bagi para Muslimah. Bagaimana tidak, kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan “kreatif” tiada henti membayangi. Entah itu dari dirinya sendiri atau dari lingkungan sekitar. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil? Yah meskipun ada juga muslimah yang kalau menurut hitungan umum harusnya sudah menikah tapi berhubung memang belum pengen, jadi masih betah menyendiri. Dan semuanya memang tergantung individunya masing-masing. Dan yang pasti bahwa kita tidak boleh menyalahkan mereka yang masih tetap setia menyendiri meski usianya mungkin sudah memenuhi ( karena pasti ada alasan tersendiri.. )

Kalo dari sudut pandang laki-laki memang lebih nyantai. Semisal ada laki-laki yang berumur 35 keatas tapi belum menikah. Maka secara umum dalam menanggapi tidak seheboh kalau yang belum menikah itu wanita. Masyarakat paling-paling cuma komentar “kok belum nyari pendamping to?”. Mereka jarang yang usil dengan pertanyaan macem-macem atau dugaan buruk lainnya.

Jodoh..Serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Dan pastinya bikin was-was bagi sebagian orang. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal dan menyenangkan tentang kehidupan rumah tangga ( seperti yang banyak disampaikan lewat buku-buku yang menyerukan untuk nikah dini…., padahal Rasulullah aja gak nikah dini..).Dari hal tersebut otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Permasalahan bermula.

Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri. Apalagi seperti diketahui bahwa setiap orang cenderung untuk meninggikan kriteria seiring pertambahan usia sampai pada titik usia tertentu. Namun setelah melewati batas tersebut biasanya akan banting harga alias menurunkan kriteria. Kalo wanita mulai dari usia 19 sampai 28 cenderung akan menaikkan kriteria. Makanya ketika ada laki-laki yang menghendaki mereka, maka harus siap dengan jawaban dari pertanyaan ” Emangnya Lu siapa berani berani meminang gue?”…hehehe ..ni hanya ektrimnya saja. Saya kira gak semuanya begitu..

Kalo laki-laki kira-kira usia 21 sampai 30 tahun adalah masa dimana kriteria itu akan menaik..bagi yang masih usia 21-23 tahun biasanya kriterianya belum tinggi-tinggi, mengingat bekal mereka juga belum cukup untuk bisa mendapatkan wanita yang berkriteria tinggi..hehehhe…yah sadar diri lah… namun seiring perkembangan usia sampai 30 mereka juga akan meninggikan kriteria.. mereka siap untuk mengatakan ” Nih gue” dengan kepercayaan diri yang bagus ( tapi bukan bermaksud sombong lho…)

Pada masa-masa tersebut orang berlomba mengajukan “standardisasi” calon: wajah rupawan ( cantik ato tampan ), berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua terpandang, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, “Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?” Hmmmmm….Atau jawaban lain yang kelihatannya sederhana tetapi sebenarnya gak beda jauh. ” Kalo saya sih yang penting kepribadiannya ( rumah pribadi, mobil pribadi , tabungan pribadi dan barang milik pribadi lainnya) dan wibawanya ( wi bawa mobil, wi bawa HP keren, wi bawa Motor mahal dan wi wi yang lain)” hehehe……

Memang, ada juga jawaban lain yang terkesan lebih bijaksana, “Kalo saya mah tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih /sholihah saja.”Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika masa-masa keemasannya mulai pudar, gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal. Tidak ada satu pun yang menyangkal, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul) entah itu fisik maupun rohaniahnya. Namun jika melihat ke masyarakat umum faktor fisik memang lebih dominan untuk menentukan apakah orang tersebut banyak peminatnya atau tidak.. semakin banyak peminatnya semakin besar peluangnya..meski gak semuanya seperti itu sih…

Tapi bagi sebagian orang memang rohaniah yang utama..Syukur-syukur ditunjang fisik yang baik.. Hal inilah yang sempat menjadi perbedaan pendapat antara dua orang sahabat…mau yang 10/8 atau 8/10?…Yang satu  bersikukuh dengan 10/8 dengan argumennya yang bisa diterima sedangkan sahabat satunya cenderung ke 8/10 yang juga punya argumen yang kuat.. Boleh lah kita menentukan penilaian seperti itu tapi perlu juga ditanyakan pada diri kita “emange modal saya berapa?”

Memperhitungkan kriteria calon memang harus sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Justru orang-orang yang menginginkan kriteria tinggi mereka akan semakin sulit peluangnya untuk mendapat jodoh mengingat semakin tinggi kriteria maka semakin sedikit orang yang masuk. Namun juga jangan diobral…terlalu mudah menerima orang, termasuk yang gak jelas kualitasnya…yang baik adalah yang pertengahan..

Tapi ada hal yang perlu diperhatikan. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka dan pemahaman kita selama ini. Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Ya…tergantung kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka membayangkan kehidupan rumah tangga itu indah dan menyenangkan..(memang orang-orang yang membuat buku tentang indahnya menikah seharusnya berkewajiban menyampaikan perjuangan dan permasalahan dalam rumah tangga..jadinya adil.. Jangan sampai kita hanya disuguhkan tentang indahnya sesuatu , padahal tak selamanya sesuatu itu indah melulu..dan ketika kita menghadapi yang buruk kita jadi gak siap…dan malah menimbulkan penyesalan..)

Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat, karena kita hanya hidup untuk diri kita tetapi juga yang menjadi bagian diri kita yaitu pasangan kita. Jika seseorang masih sendiri, lalu dibuai penyakit malas dan manja, lantas kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan? Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh.
Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya.” (QS Al Baqarah, 286).

Di balik fenomena “telat nikah” sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT. Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan, tanpa harus diminta sampai berdarah-darah. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Ingatlah bahwa Alloh lebih mengetahui seberapa kesiapan kita. Alloh tahu yang terbaik bagi kita..

Ketika kita belum menemukan jodoh, berarti memang oleh Alloh kita dianggap belum mampu, kita belum siap..Dan sudah menjadi fitrah kita untuk mempersiapkan diri…Namun yang perlu juga diperhatikan bahwa usia tidak menentukan tingkat kesiapan / kedewasaan kita…Belum tentu yang usianya lebih tua dia lebih dewasa dari yang muda… meski memang kebanyakan seperti itu..Dan juga bahwa terkadang kita harus nekad… dalam artian bahwa ketika kita sudah merasa mampu maka harus nekad…karena kalau ditanya siap atau enggak kemungkinan sih gak bakal siap-siap….Kita harus menjemputnya…jangan pernah seratus persen mengamalkan semboyan ” Toh jodoh di tangan Tuhan.” emangsih bener semboyan itu..cuman kalo kita gak berusaha meraihnya takutnya sampai kita tua jodoh itu tetep di tangan Tuhan selamanya…kapan dapetnya kita?
Tapi terlepas dari itu semua yang pasti adalah bahwa bagi yang belum mendapat jodoh ( kayak penulise ini ) maka jangan patah semangat untuk memperbaiki diri dan mengasah kedewasaan diri…

Saudaraku, Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

Wallahu a’lam bisshawaab.
(kolaborasi dari berbagai sumber |repost 14 Januari 2010)

3 thoughts on “Jodoh dan kedewasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s