Bencana : Penyeimbang Kehidupan

Banyak bencana akhir-akhir ini terjadi di Indonesia. Mulai dari banjir, gempa, tanah longsor, tsunami sampai gunung meletus. Kesemuanya merupakan suatu pertanda dan peringatan dari Allah SWT bagi kita, bahwa mungkin selama ini kita telah berbuat tak adil terhadap alam. Dan kini alam menagih keadilan kepada Sang Pencipta lalu Dia memperkenankannya.

Memandang bencana memang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Ada yang memandang bahwa bencana merupakan kejadian alam biasa dan siklus normal kehidupan. Ada pula yang memandang bencana sebagai sebuah peringatan bagi manusia untuk segera berbenah diri memperbaiki hubungan manusia dengan Alloh dan alam sekitarnya. Ada pula yang memandang bencana dari sisi mistis.

Mari kita tengok, betapa alam  telah dikuras [ eksploitasi ] tanpa batas sehingga alam kehilangan keseimbangannya. Bukit-bukit dan sungai-sungai sepanjang lereng gunung dikeruk setiap hari tanpa mengenal kata berhenti. Saking rakusnya, lereng-lereng dan tebing-tebing diruntuhkan lalu diambil pasir dan bebatuannya. Alam pun mengalami ketidak seimbangan. Suhu memanas, vegetasi rusak dan hewan pun terusir dengan paksa. Lalu gunung memuntahkan isi perutnya untuk menutup kembali lubang-lubang galian, menyediakan tanah yang subur untuk tempat tumbuhnya vegetasi [yang juga merupakan tempat hidup hewan-hewan]. Sementara itu manusia dipaksa terusir dan meninggalkan tempat kediamannya.

Bencana yang merusak perkampungan-perkampungan, meluluh-lantakkan rumah-rumah dan kebun-kebun tanpa pandang bulu. Entah itu rumah dan kebun si miskin atapun rumah dan kebun si kaya. Semua musnah dan hancur, manusia dikembalikan ke posisi awal, bahwa mereka tak punya apa-apa lagi. Boleh jadi ini merupakan teguran bahwa selama ini manusia sejatinya hidup individualis. Yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin semakin menderita. Yang kaya tak mau membantu yang miskin bahkan dengan angkuhnya menyalahkan si miskin bahwa kemiskinan mereka karena tak mau berusaha. Dengan bencana ini kita diperingatkan bahwa ketika semua hancur dan musnah, apalagi yang dipunya. Yang kaya, apa yang dibanggakan, semua miliknya musnah, justru mereka semakin sedih merasakan besarnya kerugian. Sementara yang miskin juga merasa sedih harta yang sedikit itu pun lenyap. Manusia kembali diseimbangkan bahwa mereka harus mulai dari NOL lagi.

Bencana juga merupakan teguran bagi kita. Barangkali telah banyak kemunkaran dan kejahatan yang terjadi di masyarakat kita. Sementara kita hanya berdiam diri melihatnya. Tanpa menegur, tanpa memperingatkan dan tanpa rasa kecewa melihat itu semua. Kita kembali disadarkan bahwa untuk bisa hidup dengan baik maka kita harus bisa menyeimbangkan diri dengan alam. Lihatlah, gunung yang tinggi menjulang, diamkah ia? Laut yang berdebur, diamkah ia? Pohon-pohon yang berdiri tegak, diamkah mereka? Burung-burung dan hewan lain yang bernafas, membisukah mereka? Sama sekali tidak. Gunung yang berasap, Laut yang berombak, Pohon yang melambai, burung-burung  berkicau dan hewan-hewan yang berkeliaran mereka semua bertasbih mengagungkan Nama-Nya. Tak satupun yang luput dari tasbih-tasbih tersebut. Hanya kita manusia yang seringkali lupa. Maka Alloh-pun mengingatkan kita melalui hamba-hamba-Nya yang bernama gunung, tanah, laut, angin, pohon dan alam secara keseluruhan.

Bencana terjadi bukan karena alam yang tidak bersahabat. Bencana terjadi karena ulah tangan manusia yang seringkali lupa bahwa Dia Maha Kuasa di atas Segalanya. Dan bencana bukanlah sebab rusaknya lingkungan, melainkan bencana merupakan penyeimbang alam.

* Bunder, 14 km dari puncak Merapi, berteman secangkir kopi, laptop dan kesunyian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s