Apa yang dapat aku katakan tentang…

Apa yang dapat aku katakan kepadamu
Ketika engkau tentang pagi
Pagi adalah saat sebuah kisah bermula
Ketika mata-mata terbuka
Menangkap setiap cahaya yang disajikan
Dalam dingin dan kabut
Pagi juga menjanjikan sesuatu
Ketika mimpi-mimpi mulai kita rengkuh
Ketika asa mulai kita bentuk
Pagi selalu memberikan cerianya
Sebagaimana senyummu

Apa yang dapat aku katakan
Ketika engkau bertanya tentang terang
Terang adalah metamorfosa mimpi-mimpi kita
Terang adalah cerita tentang cinta kita
Terang selalu menyajikan warna
Keluh bahagia, tangis dan tawa
Namun terang begitu singkat
Ketika masa mulai merenggut sinarnya
Mengaraknya menuju peraduannya yang sunyi

Apa yang dapat aku katakan
Ketika engkau bertanya tentang jingga
Jingga adalah keindahan
Tatkala cahaya mentari memberikan semburat
Dari balik awan menyapa jiwa-jiwa yang lelah
Jingga adalah sesuatu yang pernah membuatku
Terpaku menatapmu
Jingga selalu menyisipkan rindu
Jingga pula yang mampu menyisakan sesak
Ketika malam membungkusnya dalam pekat
Untuk ditukar dengan gerlap bintang gemintang

Apa yang dapat aku katakan
Ketika engkau bertanya tentangmu
Engkau adalah anugerah yang terindah
Yang telah disampaikan-Nya
Dalam masa yang diijinkan-Nya
Engkau adalah diriku

Jika nanti masa merenggut muda kita

Nanti ketika kita sama-sama dalam waktu yang diijinkan-Nya
Ketika masa merenggut muda kita
Yakinlah bahwa aku akan tetap mencintaimu
Dalam kata yang mungkin tak sempat kuucapkan
Dalam rasa yang mungkin tak dapat kusampaikan

Nanti aku mohon jangan engkau tanyakan lagi
Kemana perginya kata aku mencintaimu
Kemana larinya aku menyayangimu
Pun entah dimana kata-kata sayang yang lain

Nanti yakinlah bahwa
Setiap tatapanku adalah cinta
Setiap belaianku adalah sayang
Setiap kebersamaan kita adalah kumpulan setiap romantika
Setiap jarak di antara kita adalah kerinduan

Nanti ketika masa merenggut muda kita
Selama kita mencintai-Nya
Tiada perlu rasa khawatir singgah di hati kita
Hanyalah syukur yang senantiasa kita panjatkan
Dan aku akan senantiasa bersyukur
DIA telah mengijinkanku mencintaimu

Satu Hari Satu Juz, Bisa kok…

Teringat semasa jaman kuliah dulu, ketika masih semangat dalam kegiatan kampus. Jauh sebelum program satu hari satu juz yang di-ngetrend-kan dalam bahasa Inggris menjadi begitu terkenal, menjadi sesuatu yang fenomenal dan juga tentu mengandung kontroversial bagi kalangan tertentu. Saya sempat mendengar cerita tentang seorang mahasiswa kedokteran UGM yang bisa membaca 5 juz dalam satu hari. Waaaah… Masya Allah… begitu pekik hati saya ketika mendengar hal itu. Bayangkan mahasiswa kedokteran dengan seabrek aktifitasnya masih bisa membaca 5 juz dalam sehari.. Lalu memandang diri sendiri. Dengan aktifitas yang secuil saja untuk membaca satu juz masih pontang-panting. Duh… malunya…

Tapi dengan adanya hal tersebut menjadi sebuah perenungan bagi saya bagaimana agar setidaknya bisa memenuhi target minimal yaitu khatam dalam sebulan atau maksimal dalam 40 hari. Tapi tentu saja hal itu tidak begitu mudahnya dilakukan. Seperti biasanya bahwa hukum alam menyatakan bahwa orang cenderung akan tetap pada keadaan tertentu (bertahan dalam posisinya) kecuali ada kekuatan yang lebih besar dari kekuatan bertahannya. Atau kalau dalam fisika ada hukum kelembaman. Untuk itu perlu tekan atau ‘azzam yang kuat untuk mau melaksanakannya. Sedikit demi sedikit , hari demi hari jumlah ayat yang dibaca semakin ditambah. Dan istiqomah dengan pertambahan ini sampai nanti mencapai target yaitu satu hari satu juz.

Kenapa satu hari satu juz? Bukankah yang penting satu bulan (30hari) khatam satu kali? Ya ini hanya untuk mempermudah saja dan juga memperingan diri kita. Al Quran terdiri dari 30 juz yang ingin kita khatamkan dalam 30 hari berarti satu hari satu juz. Kemudian masih perlu dilakukan sebuah strategi agar jatah satu juz bisa dengan mudah dilaksanakan. Kalau yang saya lakukan adalah dengan sistem  mencicil artinya tidak dalam satu waktu sekaligus. Biasanya sih dibagi dua antara waktu ba’da subuh setengah juz dan waktu ba’da maghrib setengah juz. Atau kalau masih berat membaca setengah juz sekaligus ya masih bisa dibagi lagi. Misalnya dengan membaca 2 lembar sehabis sholat fardhu sehingga tidak terlalu terasa berat . Tapi tidak menutup kemungkinan cara lain terserah masing-masing orang.

Kalaupun dalam satu hari ternyata tidak mencapai satu juz maka jatah sisa perlu diganti dengan menambah membaca lebih di hari berikutnya. Yang penting dalam satu bulan diusahakan untuk khatam satu kali. Tetap semangat !!!

Wedang Kencur Udan Awan

Hari Sabtu kemarin iseng-iseng saya membuat minuman kreasi sendiri. Entah apakah ada yang pernah membuat atau tidak tetapi faktanya saya membuatnya tanpa melihat resep apapun, murni hanya hasil kreasi dadakan saja. Siang itu hujan mengguyur dengan derasnya. Teringat bundanya Aisha yang masih dalam perjalanan menembus hujan, teringat betapa dinginnya, akhirnya muncul ide untuk membuat minuman dengan bahan yang ada. Harapannya sih biar bisa menghangatkan badan bagi ‘si dia’ yang baru pulang kehujanan.Longok sana sini hanya terdapat kencur, bubuk kayu manis dan susu kental manis. Rencana mau membuat jahe susu, tapi ternyata mencari-cari jahe tidak ketemu, malah adanya Laos atau lengkuas. Sejauh ini sih belum pernah memanfaatkan lengkuas buat minuman. Makanya bikin aja dengan bahan utamanya kencur. Dan minuman ini saya namakan saja Wedang Kencur Udan Awan.

Ini dia bahan-bahan dan cara membuatnya.

Bahan :

Air kurang lebih 500 ml
2 jari kencur
1 sdt bubuk kayu manis
3 sdm gula pasir
Susu kental manis secukupnya (sesukanya.. J )

Cara membuat :

1. Panaskan air tunggu sampai mendidih.
2. Sambil menunggu air matang, bakar kencur kemudian di-keprek- biar agak hancur.
3. Setelah air mendidih masukkan kencur dan bubuk kayu manis
4. Rebus kurang lebih selama 3 menit
5. Masukkan gula dan tunggu sampai mendidih lagi.
6. Angkat dan tuangkan ke cangkir atau gelas. ( yang saya coba ini pas untuk 2 cangkir ukuran sedang )
7. Tambahkan susu kental manis secukupnya atau sesukanya. (yang saya coba, 1 cangkir saya campur dengan susu dan 1 cangkir saya biarkan original saja)

Akan lebih maknyus bila ditambah dengan madu. Tapi sesuaikan juga dengan takaran gula maupun susu. Jangan sampai terlalu manis. Atau bisa pula disesuaikan tingkat kemanisannya sesuai selera. Selamat Mencoba !!! 🙂

NB: Untuk gambar, mohon maaf, sementara belum ada. Kemarin tidak sempat diabadikan.

FENOMENA GOLPUT, WACANA GOLPUT DIPIDANAKAN ?

Menjelang Pemilu 2014 ini kembali mengemuka fenomena GOLPUT atau Golongan Putih yaitu sebutan bagi mereka yang tidak menggunakan hak pilihnya alias tidak nyoblos (nyontreng). Menurut para pengamat diprediksikan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2014 ini cenderung menurun. Diprediksikan hal ini terjadi karena menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada jajaran elit politik yang mana dalam tahun-tahun terakhir ini semakin tidak mencerminkan aspirasi rakyat. Rakyat menjadi tidak percaya lagi dengan para caleg yang akan maju di Pemilu kali ini. Meskipun ada wajah-wajah baru tetapi masyarakat akan menganggap bahwa nantinya juga tidak jauh beda dengan yang sudah-sudah.

Menanggapi adanya fenomena golput yang semakin meningkat ini, ada wacana untuk mempidanakan mereka yang golput atau mengajak untuk golput. Sepanjang sejarah Indonesia, mungkin baru kali ini mengemuka wacana pidana bagi golput. Namun apakah tepat jika nantinya masyarakat yang golput dipidanakan? Continue reading

Indahnya….Seandainya Salafy dan Tarbiyah Bisa Menyatu….

Tulisan ini terinspirasi oleh sedihnya hati saya melihat perdebatan sengit yang sempat saya ikuti di status salah seorang ustadz Salafy dimana intinya adalah ‘menyerang’ para kader-kader Tarbiyah ( dalam hal ini lebih spesifik kepada partai dakwah yang mafhum telah kita ketahui bersama ). Status sang ustadz sendiri memang hanya menanyakan hal yang sekiranya perlu klarifikasi dari pihak lain. Tetapi kemudian terjadi perdebatan sengit antara pendukung sang ustadz dengan beberapa komentator, yang mana ternyata lebih banyak pendukung sang ustadz yang berkomentar dan semua isinya adalah memojokkan, menjelek-jelekkan, bahkan mencaci dan menghujat saudara-saudaranya yang berjuang melalui partai. Saya merasa sedih dengan hal tersebut. Bukankah kita masih saudara seiman? Rabb kita sama, Rasul kita juga sama, Kitab kita juga sama, Syahadat juga sama. Lalu kenapa ada golongan yang merasa lebih benar dari yang lain? Memang jalan yang ditempuh agaknya berbeda dan itulah yang mungkin menjadi akar permasalahannya. Salafy lebih menekankan kembali kepada cara-cara yang Rasulullah tempuh, tentu dengan pemahaman mereka. Tarbiyah pun tentu meniru cara-cara Rasulullah, pun dengan pemahaman mereka.

Saya salut dengan ikhwah Salafy Continue reading

Merendahkan diri sendiri BOLEH, Merendahkan diri anak JANGAN

“ Adek kelas berapa? “ tanyaku pada seorang anak kecil, anak si tuan rumah.

“ Kelas satu om.. “ jawab sang tuan rumah membahasakan untuk anaknya.

“ Wah dah pinter nggambar apa? “ tanyaku lebih lanjut.

“ Nakal kok om… maunya main terus.. gak mau belajar.. kalo dikasih tahu ngeyel… “ lanjut sang tuan rumah yang juga merangkap sebagai ayah kandung si anak.

Sudah sering saya jumpai hal semacam ini. Ketika ada yang bertanya tentang anaknya, biasanya orang tua akan merendahkan diri si anak. Entah dengan mengatakan nakal, bodoh, ngeyel, sulit diatur dan kosakata yang berkonotasi negatif lainnya. Mungkin bagi si orangtua maksudnya untuk merendahkan diri agar tidak terkesan sombong. Tapi hal ini justru akan membawa efek negatif bagi si anak.

Kita secara pribadi memang terbiasa untuk merendahkan diri kita. Ketika ditanya “kerja dimana mas?” biasanya akan dijawab “ ah cuma buruh kok pak.. “. Padahal dia kerja di kantoran yang cukup elit. Tujuannya tentu agar tidak dikira sombong. Meski itu juga akan ada dampak negatifnya bagi kita sendiri, tapi okelah selama kita nyaman dengan hal tersebut maka tidak apa-apa, karena kita merendahkan diri kita sendiri. Tapi ketika kita merendahkan anak, maka ingatlah bahwa anak adalah manusia secara utuh tersendiri. Dia punya tubuh sendiri, punya perasaan sendiri, punya akal dan kemampuan sendiri. Memang benar ia adalah darang daging kita, tetapi dia juga diciptakan sebagai makhluk utuh tersendiri. Dan ketika kita menyadari hal ini sebaiknya juga kita memperlakukan anak sebagaimana memperlakukan seorang manusia.

Ketika kita merendahkan anak, hakikatnya kita merendahkan seorang manusia, meski ia masih kecil. Kita juga perlu memperhatikan sisi psikologisnya. Kita juga perlu menerapkan pada diri kita, bagaimana seandainya ada orang yang meremehkan kita, meski itu adalah orang tua kita sendiri. Apakah kita tidak tersinggung, malu dan tidak terima? Sama juga dengan anak. Bisa jadi ketika kita mengatakan dia nakal, bandel, ngeyel, malas dan sebagainya, dalam hatinya ada perasaan tidak senang, ada perasaan tidak suka. Apalagi anak biasanya akan melakukan apa yang menjadi penilaian orang lain. Ketika anak sering dikatakan nakal, maka secara alamiah anak akan selalu berlaku sedemikian agar tetap dikatakan nakal. Apalagi ketika ia berbuat baik saja masih dikatakan nakal, maka dia akan mengubah perilakunya menjadi benar-benar nakal. “Buat apa aku berbuat baik jika masih dikatakan nakal juga, mending sekalian aja berbuat jelek, toh sama-sama dikatakan nakal “.

Kalau kita percaya dengan kekuatan kata-kata positif yang membangun maka tidak sepantasnya kita merendahkan anak, meskipun itu anak kita sendiri. Anak juga perlu diberikan kata-kata positif agar dia selalu percaya diri untuk berbuat baik. Jadi ketika ada yang bertanya

“ Anaknya sudah pintar nggambar ya?”

Maka perlu kita jawab,

“ Iya, Alhamdulillah… hasil gambarnya bagus loh Om.. ayo nak coba ditunjukkan kepada Om gambar yang kemarin itu… “

Dengan kata-kata seperti ini anak akan merasa bahwa dirinya dihargai, hasil karyanya diakui dan tahu bahwa orang tuanya bangga dengan dia. Anak yang tumbuh dengan dukungan orangtua yang penuh, orang tua yang tidak pelit kata-kata positif maka akan berkembang menjadi anak dengan kepercayaan diri yang tinggi. Dia akan jauh lebih unggul dibandingkan anak yang asupan hariannya adalah kata-kata negatif.

Kemudian kita juga perlu membantu orang tua manapun untuk memberikan kata-kata positif. Misalkan kita ambil percakapan tadi.

“ Iya, Alhamdulillah… hasil gambarnya bagus loh Om.. ayo nak coba ditunjukkan kepada Om gambar yang kemarin itu…”

Kemudian ketika kita lihat ternyata hasilnya sangat jelek ya kita tidak serta merta bilang “ Loh kok gambarnya kayak gini adek… masih jelek ini… “ Tetapi kita perlu mendukung perkataan orang tua dengan mengatakan “ Wah iya gambarnya bagus… “

Bahkan ketika orang tuanya bilang “ hasil gambarnya jelek kok om… “ maka kita perlu untuk tetap memberikan kata positif  “ Wah gambar ini bagus kok… adek pinter banget nggambarnya.. “

Jadi pastikan bahwa kita selalu memberikan kata-kata yang positif kepada anak agar ia tumbuh dan berkembang dengan baik, baik itu fisik terlebih lagi psikologisnya. Hindari kata-kata negatif, apalagi sampai men-cap anak dengan kata tersebut. Merendahkan diri sendiri BOLEH saja, tetapi merendahkan diri anak JANGAN.