Kriteria : Metode Seleksi Calon Istri

“ Kapan Nikah Kang? “ tanyaku pada suatu waktu kepada sobat karibku yang sampai saat ini belum juga ‘berani’ melepas masa lajangnya.

“ Insya Allah kalo dah dapat yang cocok… “ jawabnya.

“ Emang nyari yang kayak apa e? “ lanjutku. Mungkin terkesan kepo, tapi dengan sobat karib, masalah seperti ini layak untuk dipertanyakan dan diperbincangkan.

“ Ya gak muluk-muluk kok. Yang penting sholihah… “ jawabnya, kali ini dengan nada koma.

“ Lah yang kemarin-kemarin itu juga dah sholihah to.. kok gak ada satupun yang ditindaklanjuti.. “ tanyaku lebih dalam.

“ Ya selain sholihah juga cantik, pinter.. aku pengennya dapat dokter.. “ lanjutnya.

“ Yeeee kemarin tu juga ditawari mau dikenalkan sama dokter gigi.. tetap masih gak mau… “ sanggahku.

“ Ya aku pengennya dokter umum, bukan dokter gigi… “ sambungnya.

“ Terus pengen yang lokal apa yang interlokal? “ tanyaku lagi. Duh lama-lama jadi kayak biro jodoh. Tanyanya sangat lengkap bin komplit. Padahal tidak ada lagi teman yang masuk kriteria sobat karibku itu, setelah dia bilang wajib seorang dokter umum.

“ Aku pengen yang luar daerah..syukur-syukur luar Jawa. Biar kalau mudik berasa.. hehehe… “ lanjutnya lagi.

Dan akupun terdiam. Setelah tahu kriterianya seperti itu, aku hanya berharap semoga segera dipertemukan. Meski akhirnya setelah dua tahun lebih pembicaraan itu terjadi, sang sobat karibku itu belum juga menemukan belahan jiwanya. Kadang aku berpikir apakah ini yang menyebabkan sebagian kita belum juga menemukan tambatan hatinya. Kriteria. Yup, mungkinkah kriteria yang diterapkan terlalu tinggi untuk diraih?

Kriteria. Siapa sih yang tidak ingin mendapat pendamping yang sempurna? Atau setidaknya mendekati apa yang kita inginkan. Perusahaan yang mungkin menjadi tempat berlabuh selama masa usia produktif saja pasti menentukan kriteria-kriteria bagi pegawainya. Apatah lagi untuk menjadikan seseorang sebagia pendamping hidup kita. Tentu kriteria-kriteria tersebut layak dan pantas untuk diajukan. Tujuan utamanya agar kita tidak salah pilih. Tapi tampaknya di sebagian kita kriteria justru menjadi permasalahan tersendiri. Ketika kita meninggikan kriteria maka secara hukum alam akan berlaku proses seleksi alam. Semakin banyak kriterianya maka semakin sedikit yang masuk. Kita ambil contoh dari dialog sobat karibku tersebut. Tak disangka ternyata sobatku itu mengharapkan istri yang sebagai berikut :

1.Sholihah
2.Cantik
3.Pinter
4.Dokter
5.Dari Luar Jawa

Semisal kita ambil sampel ada 100 wanita yang masuk kriteria Sholihah. Kemudian dari 100 tadi yang masuk kriteria cantik berapa? Semisal 50-nya masuk kriteria cantik. Kemudian dari yang 50 sholihah dan cantik tadi berapa yang termasuk pinter. Semisal hanya ada 20 wanita yang sholihah, cantik dan pinter. Dari yang 20 tadi berapa yang berprofesi sebagai dokter. Semisal ada 5 orang yang sholihah, cantik, pinter dan berprofesi sebagai dokter. Terakhir dari 5 orang tadi siapa yang berasal dari Luar Jawa. Semisal hanya ada 2 orang.  Nah ternyata ada dua orang yang masuk dalam kriteria-kriteria tersebut. Okelah kita sudah mendapatkan wanita yang masuk kriteria kita. Pertanyaan pamungkasnya adalah kira-kira diantara dua orang tersebut ada yang mau gak dijadikan istri. Tentu jawabannya bisa iya atau tidak.Tergantung juga dengan kriteria ‘dia’.

Yup ketika kita punya kriteria terhadap wanita yang akan menjadi calon istri, tentu saja sang wanita juga punya kriterianya sendiri. Nah kira-kira kita masuk gak di kriterianya? Kalau masuk ya Alhamdulillah berarti ada potensi untuk bersanding. Tapi kalau ternyata tidak, berarti bertepuk sebelah tangan. Harus mencari lagi. Bisa dengan kriteria yang sama, dengan hasil yang mungkin sama juga. Atau dengan arif bijaksana kita mengurangi kriteria yang tidak begitu prinsip. Yang insya Allah akan lebih mempermudah kita dalam mencari pendamping hidup.

Dalam Islam bukankah sudah ada tuntunan dari Rasulullah dalam mempertimbangkan wanita untuk dijadikan istri. Kecantikannya, hartanya, nasabnya (keluarganya) dan terakhir agamanya. Dan Rasulullah sudah mewanti-wanti agar kita lebih memperhatikan atau lebih mengutamakan agamanya.

Punya kriteria di luar keempat hal tersebut boleh-boleh saja. Semisal berprofesi sebagai dokter atau yang lain, tidak berkaca mata, usia harus 5 tahun lebih muda, tinggi tidak lebih tinggi dari kita atau mungkin bukan anak pertama. Sah-sah saja kita mengajukan kriteria tersebut. Tetapi setidaknya hal tersebut tidak berlaku saklek, kalau tidak terpenuhi maka tidak diperhitungkan. Yang paling baik kriteria tambahan tersebut adalah ‘jika memungkinkan’. Toh tak ada salahnya memilih yang bukan dokter. Toh tidak ada masalah dengan kacamata. Malah terkesan satu level lebih cerdas kan kalo berkacamata. Atau mungkin dibilang jadi gak cantik. Tapi kan kalau di rumah pasti dilepas tuh kacamata, minimal kalau mau tidur.hehehe… Toh juga tidak masalah jika wanita usianya sebaya. Dengan yang lebih tua juga banyak kok yang langgeng.  Juga lebih tinggi dari laki-laki bukanlah suatu aib. Dia sebagai anak pertama juga baik-baik saja. Malah bisa ngemong.

Penekanan di sini adalah sebaiknya kita tidak memperberat jodoh dengan memperbanyak kriteria di luar empat hal yang dituntunkan Rasulullah. Memang kita punya keinginan yang dirasa akan menjadi baik ketika semuanya terpenuhi. Tetapi yakinlah bahwa ketika kita niatkan untuk mencari Ridho Allah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah pasti akan baik kesudahannya, barakah hidup kita. Bukankah lebih cepat menikah itu lebih baik bagi kita yang sudah siap. Justru, menurut teori saya, semakin banyak atau tinggi kriteria kita maka potensi untuk kecewa itu lebih besar ketika ternyata kita jumpai ada hal yang tidak sesuai keinginan. Kalau belum menikah sih masih punya kesempatan untuk menolak. Tapi kalau sudah menikah, mau diapakan lagi. Nah biar tidak gampang kecewa ya itu tadi fokuskan pada empat hal tersebut. Kita singkirkan kriteria-kriteria yang tidak syar’i. Insya Allah jodoh-pun akan segera ditemui. Tapi kalaupun kita sudah memfokuskan untuk keempat hal tersebut, ternyata belum juga dipertemukan pasti ada hikmahnya. Persiapkan diri dengan menjadi lebih baik lagi. Allah lebih tahu kesiapan kita. Tetap semangat dan istiqomah.🙂

5 thoughts on “Kriteria : Metode Seleksi Calon Istri

  1. Kebanyakan orang mungkin melihat dokter itu keren atau gimana, padahal, konsekuensi jadi suami seorang dokter itu banyak…pernah baca artikel, “jika istrimu seorang dokter?” Betapa banyak pengorbanan yg harus dilakukan oleh seorang suami jika istrinya dokter, maka dari itu, seorang wanita yg berprofesi sbg dokter juga harus berpikir banyak ttg kriteria nya. Supaya ga susah nantinya, hehehe. Padahal dokter cewek itu banyak lho yg belum nikah, susah dpet jodohnya, kerjaannya di RS terus, hahahaa, padahal mereka itu banyak yg solehah dan galau gara” sulit menemukan jodohnya hihihi😛

    • Dokter kan emang keren mbak.. buktinya sejak kecil aja pas nulis cita-cita banyak yang pengen jadi dokter.hehehe.. mungkin banyak yang membayangkan ‘enak’-nya punya istri atau suami seorang dokter. tapi jarang yang sampai memikirkan ‘konsekuensi’ atau tidak enaknya. Apalagi orang tua akan lebih welcome jika yang datang melamar anaknya adalah seorang dokter. hal ini juga dipengaruhi oleh persepsi masyarakat yang masih menganggap dokter adalah profesi yang ‘wah’ dan ‘prestisius’. padahal semua profesi yang baik adalah prestisius. yang gak prestisius itu kalo tidak bekerja..😀

  2. bener kata mba metha, cari jodoh memang kudu ada kriteria tp ya kembali lagi yang baik menurutmu belum tentu baik menurut Allah.. kalo tetep maksa lalu allah mengabulkan dengan “menutup mata” akan jadi seperti apa rumah tangganya nanti.. hehe..
    n udah usaha belom? kalo cuma “pengenya” sih sama aja omong kosong, suruh cari ke rumah sakit aja.. asal jangan sengaja2in sakit aja hehe..

    • kriteria emang perlu.. tapi jika justru menghambat berarti perlu dikoreksi tentang kriteria tersebut. sebenarnya kalau kita benar-benar menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, yakin pasti Allah akan memberikan yang terbaik dan tentunya sesuai kebutuhan kita. Ciri seseorang itu tepat untuk kita adalah adanya rasa ‘klik’ yang murni. tidak dipaksa untuk ‘klik’. Jadi yang namanya jodoh itu tak ada kesulitan untuk meraihnya. Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan kata-kata ‘cinta itu harus diperjuangkan’ ketika kita hendak menikahi seseorang. Kalau jodoh pasti dipermudah. Nah ‘cinta itu harus diperjuangkan’ adalah ketika sudah menikah. Bagaimana kita senantiasa berjuang mempertahankan cinta yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s