Kapankah Cinta Harus Diperjuangkan?

perjuanganMasih melanjutkan serial pembahasan mengenai soal jodoh. Bicara tentang jodoh rupanya memang menarik untuk dibicarakan baik bagi mereka yang belum menikah maupun yang sudah menikah. Hanya saja tentu beda motifnya. Bagi yang sudah menikah, ketika bicara tentang jodoh maka dimaksudkan untuk berbagi pengalaman, berbagi cerita. Sementara bagi yang belum menikah, bicara jodoh adalah tentang bagaimana mempersiapkan diri menuju pernikahan. To the point banget.. Hehe..

Ada yang bilang Cinta Itu harus Diperjuangkan. Saya sepakat dengan hal itu. Tapi ketika bicara waktu alias kapannya maka saya setuju dengan syarat sudah didahului dengan akad nikah. Kok bisa?

Tentu sudah sering kita dengar bagaimana perjuangan seseorang untuk bisa menikah dengan orang yang dicintainya. Ada yang awalnya tidak direstui oleh orang tua si gadis, tetapi karena dikejar dengan penuh perjuangan akhirnya orang tua si gadis menyerah, karena kalau tidak merestui maka si gadis mengancam akan bunuh diri. Ada juga yang tidak direstui tetapi nekat melaksanakan pernikahan tanpa sepengetahuan orang tua. Atau ada pula yang memakai jasa perdukunan. Mereka benar-benar menerapkan prinsip ‘cinta ditolak, dukun bertindak’. Alasannya karena sudah sangat cinta sementara si gadis tidak menanggapinya kemudian memakai jalur irrasional untuk mendapatkannya.

Dan saya bisa pastikan cerita-cerita ‘heroik’ seperti ini sangat menarik untuk didengarkan bagi mereka yang merasa kesulitan dalam masalah jodoh. Dan bisa menjadi sumber inspirasi untuk melakukan aksi ‘heroik’ yang lebih mengena. Apakah hal itu salah? Saya tidak punya kewenangan untuk mengatakan hal tersebut. Setiap orang punya pandangan berbeda-beda dan punya jalan cerita cinta yang tentu saja unik antara satu dengan yang lain. Hanya saja jika sampai melalui jalur perdukunan atas nama apapun maka tentu saja saya perlu mengatakan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan.

Di sini ijinkan saya menyampaikan suatu pandangan yang mungkin berbeda dari pandangan umum masyarakat kita. Mungkin saya termasuk orang yang akhirnya memandang jodoh dari kacamata yang lain. Saya meyakini bahwa yang namanya berjodoh itu prosesnya mudah. Jadi ketika prosesnya sulit dan berliku-liku maka dimungkinkan belum berjodoh. Dan kita tak perlu memaksakannya. Berarti gak mau berjuang dong? Sabar…Nanti akan terjawab… Tetap setia membaca sampai akhir ya…

Saya mungkin memang ditakdirkan tumbuh dan banyak berkawan dengan mereka yang ketika memilih jodoh itu tidak mengalami yang namanya perjuangan berat. Bedakan dengan menunggu jodoh ya.. Soalnya biasanya mereka justru lama di masa penantian. Hehehe…Karena mereka tidak mau ‘icip-icip’ terlebih dahulu melalui pacaran. Mereka senantiasa istiqomah menjaga izzah mereka sampai waktunya nanti dihalalkan. Saya jarang mendengar betapa beratnya mereka mendapatkan sang pujaan hati. Justru yang sering saya dengar adalah bagaimana mereka bercerita bahwa tidak menyangka, ternyata dari proses yang begitu singkat sudah ada kemantapan untuk menikah. Atau tidak menyangka bahwa ternyata jodohnya satu organisasi. Atau bahkan dengan tiada persiapan yang memadai akhirnya bisa menikah juga. Perjuangan mereka lebih banyak kepada situasi-situasi yang mereka hadapi menjelang pernikahan atau masa-masa awal pernikahan. Sementara mengenai memilih jodoh, mereka bisa dikatakan tidak menemui halangan yang berat.

Sedikit banyak cerita-cerita mereka, kisah hidup mereka menjadi suatu inspirasi tersendiri bagi saya. Saya yang dulunya juga berprinsip bahwa cinta butuh diperjuangkan sejak masa mencari calon pendamping akhirnya menemukan suatu titik terang, menurut saya,bahwa insya Allah yang namanya jodoh itu mudah. Sejak saat itu saya niteni (bahasa jawa) bahwa jika suatu proses itu sulit maka bisa jadi belum berjodoh atau tidak berjodoh. Dengan prinsip yang seperti itu rasanya ketika cinta tidak berlabuh sampai pernikahan bukan suatu hal yang berat-berat amat. Sepenuhnya percaya pada Allah bahwa nanti akan dipilihkan dengan yang tepat.

Lantas kapan cinta perlu diperjuangkan? Menurut saya cinta perlu diperjuangkan adalah mulai akad nikah diucapkan dan disambut paduan suara ‘sah’ dari saksi. Benar sekali. Cinta perlu diperjuangkan ketika sudah halal menjadi suami-istri. Sejak saat itulah cinta harus diperjuangkan. Kita harus senantiasa menjaga cinta kepada pasangan, kepada keluarga yang telah Allah karuniakan kepada kita. Kita harus senantiasa berjuang agar kita bisa menjadi kepala keluarga yang sholih, menjadi istri yang sholihah, dan menjadi orangtua yang hebat bagi anak-anak kita. Berjuang agar kita senantiasa dalam koridor ketaatan kepada Allah, berjuang agar keluarga kita senantiasa mengikuti tuntunan Rasulullah, berjuang agar rumah tangga kita melahirkan generasi-generasi unggul.  Itulah sejatinya cinta yang harus kita perjuangkan. Dan saya rasa cinta semacam itu jauh lebih indah untuk diperjuangkan.

Kita sepakat bahwa cinta memang harus diperjuangkan. Dan cinta, menurut saya, perlu diperjuangkan ketika sudah ada akad-nikah, ada ijab-qabul. Dan perjuangan itu tidak hanya berorientasi dunia tetapi lebih jauh lagi untuk orientasi akhirat. Dan marilah kita senantiasa berjuang untuk cinta demi meraih ridho-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s