Plisss, Berikan Kami Kesempatan…

pemudamasjidHari Jumat kemarin menjadi hari yang cukup bersejarah. Untuk kali kedua saya berkesempatan menjadi khatib Jumat. Setelah sebelumnya pernah menjadi khatib ketika saya kelas XII SMA. Sebenarnya saya sendiri merasa tidak enak ketika ditawari untuk menjadi salah satu khatib di masjid Al Furqon. Pasalnya saya termasuk orang baru dan ketika tawaran itu datang saya baru satu bulan menempati rumah di sebelah timur masjid itu. Dan kesempatan untuk menjadi khatib datang dua bulan sejak penawaran itu. Tentu saja ada perasaan tidak enak. Bagaimanapun saya sebagai orang baru pastinya merasa rikuh dengan warga di sana, meskipun sebagian besar juga sudah saya kenal. Tapi rasa itu tetap ada. Namun di sisi lain saya berkata bahwa inilah kesempatan. Faktanya, menjadi khatib, tidak semua orang diberi kesempatan.  Bahkan ketika kita merasa mampu namun bila tidak diberi kesempatan juga akhirnya tidak akan pernah menjadi khatib. Makanya ketika kesempatan itu datang saya sanggupi saja. Saya mencoba menepis ke-tidak enak-an yang ada. Toh ini sebagai pembelajaran bagi saya, dan saya yakin insya Allah pengalaman menjadi khatib ini akan berguna di masa mendatang sebagai sarana untuk regenerasi.

Bicara tentang kesempatan, saya ingin berbicara tentang keadaan masjid di kampung saya dulu, masjid Thayyiban. Masjid dengan tradisi yang masih kental. Maklumlah kampung saya berbasis NU. Dan setiap warganya juga warga NU. Tradisi-tradisi seperti kenduri peringatan kematian mulai dari 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun, 1000 hari masih tetap dilestarikan. Pengajian peringatan Maulid, dan Isra’ Mi’raj. Kemudian tradisi Saparan, Rejeban, Ruwahan (nyadran). Dan masih banyak yang lain, kesemuanya masih lestari. Bedanya jika jaman dahulu, jaman orang-orang tua dahulu melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut didasari kepada semangat ibadah maka generasi sekarang agaknya memandang kegiatan-kegiatan itu layaknya sebuah tradisi. Sehingga semangat melaksanakan kegiatan tersebut lebih kepada bagaimana melestarikan kebiasaan yang ada dan bagi yang lain ada yang lebih kepada agar tetap membaur dengan masyarakat.

Lalu apa kaitannya dengan kesempatan yang saya katakan di atas? Sepanjang saya tumbuh dan berkembang di sana sangat jarang ada pemuda yang bisa ‘tampil’. Saya ingat ketika saya masih kecil sampai dengan dewasa tak pernah ada yang namanya khatib itu berganti.  Hanya satu orang saja. Ketika sang imam mulai menua agaknya sudah mulai berbagi dengan yang lain. Dan ketika sang imam meninggal maka tugas keimaman digantikan oleh yang lain. Tapi sayangnya tradisi untuk tidak memberikan kesempatan kepada pemuda masih tetap berlanjut. Memang tugas khatib tidak hanya diemban sendirian, sudah mau berbagi dengan yang lain, yang tak lain tak bukan adalah masih kakaknya sendiri. Dan tidak sekalipun di luar itu. Sampai saat ini saya belum pernah menjumpai ada pemuda yang menjadi khatib di masjid kampung saya dulu.

Bahkan dalam kepanitiaan, dalam hal merencanakan program, jarang ada pemuda yang dilibatkan. Kalaupun ada biasanya hanya sedikit. Pemuda lebih banyak dilibatkan dalam pelaksanaannya. Saya sendiri sudah beberapa kali ditunjuk sebagai ketua panitia, yang saya rasa karena saya termasuk orang yang mau bila disuruh memberikan sambutan didepan umum. Hehehehe.. Jadi, pemuda lebih dilibatkan sebagai pelaksana bukan pengambil kebijakan atau keputusan.

Apakah tidak ada pemuda-pemuda yang mumpuni untuk mengambil alih tugas sesepuh tersebut atau setidaknya menjadi wakil pengganti bila sesepuh berhalangan? Saya yakin ada, bahkan cukup bila seluruh sesepuh digantikan oleh yang muda. Tapi kembali lagi kepada kesempatan yang tidak diberikan. Hal ini sedikit banyak akan mempengaruhi semangat pemuda untuk juga memiliki ilmu sebagaimana para sesepuh, dalam hal ini ilmu agama. Ada yang berpikir bahwa kenapa juga harus repot-repot belajar khutbah, kenapa juga harus belajar doa-doa, kenapa juga harus belajar tentang bagaimana mengelola masjid bila akhirnya tidak diberi kesempatan untuk mempraktekkannya. Tidakkah mereka (sesepuh) berpikir tentang regenerasi? Ataukah mungkin mereka berpikir bahwa jika mereka meninggal pastilah akan ada yang menggantikan, tanpa perlu dipersiapkan. Toh secara alami pasti mereka akan menunjuk penggantinya.

Jika demikian adanya saya rasa akan menyulitkan generasi berikutnya. Diakui atau tidak yang namanya tampil didepan umum itu perlu belajar. Dan belajar, selagi ada yang membimbing akan lebih baik daripada dibiarkan sendirian. Ketika kita sudah diberi kesempatan untuk tampil selagi masih muda maka ketika kita salah masih ada sesepuh yang meng-covernya. Masih ada yang akan membetulkannya. Sehingga kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tapi kalau tiba-tiba dipaksa tampil sementara sesepuh yang mumpuni sudah tidak ada, maka siapa yang akan meng-covernya, siapa yang akan membetulkan kesalahan-kesalahannya. Nah karena hal inilah, regenerasi perlu diadakan.

Saya tidak tahu apakah hal-hal seperti ini terjadi juga di kampung-kampung lain, terlebih yang berbasis NU ataukah hanya di kampung saya saja. Sementara saya juga banyak melihat masjid-masjid dimana pemudanya sudah ditampilkan dalam berbagai kegiatan. Menjadi khatib, menjadi ketua takmir, mengisi pengajian mingguan dan lain sebagainya. Sehingga terlihat hiduplah masjid tersebut oleh para pemuda. Dan saya yakin masjid yang pemudanya terlibat aktif dalam pengelolaannya akan lebih eksis daripada masjid yang pengelolanya sudah sepuh-sepuh. Bukan berarti menyingkirkan sesepuh tetapi lebih menempatkan sesepuh sebagai pembimbing dan pengarah, sementara para pemuda aktif mengurusi masjid sesuai dengan jamannya.

Mari para pemuda, belajarlah dengan giat dan semangat. Tunjukkan bahwa kita memang mampu untuk diberi tanggungjawab, kapanpun kita ditunjuk. Karena tak jarang para sesepuh tidak memberikan kita kesempatan karena kita sendirilah yang belum memantaskan diri untuk diberi amanah tersebut. Kita belum bisa meyakinkan para sesepuh bahwa kita bisa. Tetap semangat dan istiqomah !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s