Menilai Pasangan : Dominan Baik atau Dominan Jelek?

Ujian Tertulis UKA 2012Pernahkah kita menilai pasangan kita masing-masing? Atau mungkin kita pernah ditanya pendapat tentang pasangan kita? Kira-kira seperti apa jawaban kita?

Suatu waktu dilakukan suatu tes kepada beberapa suami. Kemudian masing-masing diberikan kertas untuk menjawab pertanyaan yang akan dibacakan oleh penguji. Pertanyaannya sangat simpel, tuliskan 10 macam/ hal yang menjadi kekurangan atau kejelekan pasangan anda. Tampak para peserta berpikir sejenak, mengingat-ingat apa saja kekurangan atau kejelekan istrinya. Kemudian mereka pun menuliskan di lembar jawabannya satu persatu. Setelah setengah jam berlalu selesailah mereka mengerjakan tugas tersebut dan semua nomor terisi penuh.

Kemudian diberikan lembar yang kedua dan kembali penguji membacakan tugas berikutnya. Sama simpelnya dengan yang pertama, kali instruksinya adalah tuliskan 10 macam / hal yang menjadi kelebihan pasangan anda. Pesertapun sejenak mulai kembali berpikir, mengingat-ingat apa saja kelebihan istinya. Nampaknya kali ini lebih lama dari tes pertama. Setelah 30 menit berlalu kertas para peserta masih saja belum penuh. Paling banyak hanya terisi sampai nomor tiga. Tapi apa boleh buat, hasil tes harus segera dikumpulkan.

Selang satu minggu kemudian dilakukan tes kepada beberapa suami. Peserta sama dengan tes minggu sebelumnya. Kemudian masing-masing diberikan kertas untuk menjawab pertanyaan yang akan dibacakan oleh penguji. Pertanyaannya sangat simpel, tuliskan 10 macam/ hal yang menjadi kelebihan pasangan anda. Peserta bertanya-tanya kok soalnya sama dengan minggu lalu. Penguji lantas memberi instruksi untuk dikerjakan saja. Kemudian para peserta terlihat berpikir sejenak, mengingat-ingat apa saja kelebihan istrinya. Kemudian mereka pun menuliskan di lembar jawabannya satu persatu. Setelah setengah jam berlalu selesailah mereka mengerjakan tugas tersebut dan semua nomor terisi penuh. Bahkan ada yang masih ingin menambahkan jika diperbolehkan. Namun karena hanya diminta mengisi sepulu nomor maka sepuluh nomor itulah yang perlu diisi.

Kemudian diberikan lembar yang kedua dan kembali penguji membacakan tugas berikutnya. Kali instruksinya adalah tuliskan 10 macam / hal yang menjadi kekurangan atau kejelekan pasangan anda. Pesertapun seakan bertanya-tanya kok soalnya sama kayak minggu lalu hanya dibalik urutannya. Tapi instruksi menyatakan untuk dikerjakan saja. Mulailah mereka mengerjakan instruksi tersebut. Sejenak mulai kembali berpikir, mengingat-ingat apa saja kekurangan atau kejelekan istinya. Nampaknya kali ini lebih lama dari tes pertama. Setelah 30 menit berlalu kertas para peserta masih saja belum penuh. Bahkan ada yang sama sekali masih kosong. Tapi sekali lagi karena waktu habis maka lembar jawaban harus dikumpulkan.

Setelah semua dikumpulkan saatnya diadakan sesi penilaian. Sang penguji melemparkan pertanyaan kepada peserta tes.

“ Tes sudah kita lalui bersama, hari ini dan minggu kemarin. Untuk penilaiannya silahkan anda mengambil hasil tes kemarin dan tes hari ini… “

Para pesertapun mengambil hasil jawaban minggu lalu dan hari ini. Sejenak mereka membaca dan membandingkan dua hasil yang ternyata berbeda.

“ Nah apa yang bisa anda simpulkan dari hasil tersebut? “ tanya penguji.

Salah seorang peserta menjawab.

“ Tes pertama kami diminta menuliskan kekurangan istri lalu kami menuliskan 10 poin tersebut. Kemudian kami diminta menuliskan kelebihan istri dan kami hanya mendapati beberapa saja. Sedangkan di tes kedua agaknya soalnya dibalik. Ditanyakan kelebihan istri baru ditanya kekurangan istri. Hasilnya kami bisa menuliskan kelebihan istri sampai 10 poin tersebut. Tapi ketika menuliskan kekurangan istri hanya beberapa poin saja. Agaknya ada yang salah dengan tes ini… “

Kemudian penguji pun memberikan tanggapannya.

“Hmmmm.. tahukah Anda.. hasil tes ini sebenarnya memberikan kita sebuah pelajaran. Tes pertama kami meminta anda untuk menuliskan kekurangang istri anda. Lalu anda berpikir keras untuk mengumpulkan apa saja kekurangan istri anda. Lalu saatnya anda diminta menuliskan kelebihan istri anda, anda akan merasa kesulitan, karena dalam pikiran anda masih banyak kekurangan yang sebenarnya masih ingin dituliskan, sementara sulit menemukan hal-hal yang baik…..

….Kemudian di tes kedua, hari ini, anda diminta menuliskan kebaikan istri anda. Anda pun pasti memikirkan apa saja kebaikan istri anda. Lalu anda menuliskannya. Mungkin saking banyaknya bahkan ada yang meminta lembar jawab tambahan. Setelah itu anda diminta menulis kekurangan istri anda. Namun tampaknya anda merasa kesulitan, karena sebenarnya masih banyak yang ingin anda tuliskan tentang kebaikan istri anda. Walhasil hanya beberapa nomor yang terisi, bahkan sebagian dari kita mengosongkan lembar jawab tersebut. Ada yang sempat berbisik kepada saya, katanya malu menuliskan keburukan istri karena melihat betapa banyak kebaikan yang sudah dituliskan.”

“Ketika kita memfokuskan diri untuk melihat kejelekan atau kekurangan pasangan, maka kita akan lebih banyak melihat hal-hal yang tidak baik yang ada pada pasangan kita sehingga kitapun seakan tidak tahu apakah ada kebaikan pada pasangan kita. Pun ketika kita fokuskan diri untuk melihat kebaikan pasangan, maka kita pun akan menutup pikiran kita untuk mengorek-korek kejelekan pasangan kita. Kita akan malu bahwa ternyata masih banyak kebaikan yang pasangan berikan kepada kita, kepada keluarga kita, yang mungkin selama ini tidak kita sadari karena kita menganggap bahwa itu adalah suatu hal rutin yang biasa dikerjakan. Padahal sejatinya setiap hal yang menjadikan itu baik adalah hasil kebaikan pasangan kita. Pakaian yang tercuci, perabotan yang bersih, makanan yang terhidang, baju baru kejutan ulangtahun, rumah yang bagus, itu adalah kebaikan. Bahkan sekedar mengambilkan minum adalah sebuah kebaikan.

Sudah selayaknya kita lebih fokus lebih banyak melihat kebaikan-kebaikan yang telah diberikan oleh pasangan kita. Sehingga ketika nantinya kita memang menemukan kekurangan, maka kita akan malu mengungkit-ungkit kekurangan tersebut. Bagaimana tidak malu jika ternyata kekurangan tersebut tidak sebanding dengan kebaikan-kebaikan yang ada.”

Dan pesertapun agaknya menjadi terbuka dan menyadari bahwa memang ketika fokus kepada kebaikan pasangan maka kesempatan untuk memikirkan kekurangan itupun seakan menjauh. Kalaupun ada, dan pasti ada, maka tidak akan menutupi kebaikan-kebaikan yang sudah diberikan pasangan.

Yuk kita menjadi seorang suami atau istri yang lebih banyak melihat sisi positif pasangan kita. Lebih banyak memberikan ucapan terimakasih daripada celaan dan makian. Ketika pilihan bahagia itu lebih dekat dan mudah mengapa kita harus berpaling?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s