BERALIH KE LPG 3 KG

Menuliskan hal ini mungkin sudah tidak hot topic lagi, secara heboh-hebonhya sudah beberapa waktu yang lalu. Kenaikan harga LPG 12 Kg. Yup, itulah latar belakang kenapa saya akhirnya harus memutuskan untuk beralih ke gas LPG 3 kg. Memang selama ini saya menggunakan tabung biru tersebut untuk memasak. Bukan karena merasa sok kaya, tetapi dikarenakan memang adanya itu. Hehehehe…. Dan dulu kan tidak begitu terasa mencolok perbedaan harganya. Memang sih masih lebih mahal untuk harga perkilonya, tetapi saya rasa masih belum perlu berganti.

Tapiiiiii… kenaikan harga LPG 12 Kg yang sangat signifikan beberapa waktu yang lalu membuat saya berpikir, lebih tepatnya berhitung. Jika harga belinya saja 100 ribu per tabung (kebetulan waktu harganya mencapai 130an ribu ke atas, saya baru saja beli pas belum naik, dan saatnya beli lagi pas harganya 100 ribu pertabungnya) dengan berat 12kg maka harga per 3 kilonya (setara satu tabung hijau) adalah Rp. 25.000,-. Sementara harga LPG 3 kg ‘hanya’ Rp. 17.500,- (ini saya ambil harga di eceran) maka untuk 12 kg ‘hanya’ mengeluarkan uang Rp. 17.500,- x  4  = Rp. 70.000,-. Nah dengan volume yang sama-sama mencapai 12 Kg bila saya beli tabung biru maka saya perlu mengeluarkan Rp. 100.000,- , sedangkan bila beli tabung hijau ( 4 kali beli ) saya ‘hanya’ mengeluarkan Rp. 70.000,- . Ada selisih Rp. 30.000,-. Tentu saja saya berpikir ekonomis bahwa lebih baik saya beli 4 kali tabung hijau dan menghemat Rp. 30.000, daripada beli satu tabung biru.

Entah bagaimana alur pikir pemerintah, tapi yang jelas masyarakat akan lebih memilih yang lebih menguntungkan baginya. Memang ketika pada akhirnya masyarakat berbondong-bondong beralih ke tabung hijau, otomatis permintaan tabung hijau meningkat. Ketika permintaan meningkat sementara stok tidak bertambah maka akan terjadi kelangkaan. Sebenarnya sudah ada aturan siapa saja yang harus menggunakan tabung 12 kg, seperti di rumah makan. Tapi dengan pola pikir untuk mendapat keuntungan maka banyak juga rumah makan yang beralih ke tabung 3 kg. Dan masih banyak pula dengan motif sama, demi penghematan, beralih ke tabung 3 kg. Dan agaknya sulit bagi mereka yang sudah terlanjur menjual tabung 12 kg-nya dan menukar dengan tabung 3 kg untuk kembali beralih ke tabung 12 kg lagi. Ya itulah resiko kebijakan yang mungkin tidak dipikirkan secara matang. Kalau saya pribadi masih punya yang 12 kg, untuk cadangan saja bila stok 3kg jadi langka. Hehehe…

Untuk memboyong tabung 3 kg saya perlu menggelontorkan dana Rp. 140.000,-. Entah apakah itu terlalu mahal atau mungkin beruntung dapat yang murah, tapi setidaknya saya punya pebandingan dengan toko lain yang menjual seharga Rp. 160.000,- . Tapi saya harus membawa sendiri dari tokonya alias tidak pakai diantar. Ya saya bawa saja dengan alat transportasi pinjaman si kecil.

sepeda Aishasepeda aisha

Kepada pemerintah saya hanya berharap agar masyarakat ini tidak dibuat pontang panting dengan harga LPG yang mahal atau kelangkaan LPG. Kalau dulu masyarakat ‘dipaksa’ untuk beralih ke LPG, dan kini hampir semua bergantung pada LPG, maka jangan sampai masyarakat dibuat ‘sekarat’ dengan kebijakan yang tidak pro rakyat. Bagi masyarakat, tidak peduli apakah itu membebani anggaran atau tidak, membuat pertamina untung atau rugi, yang penting harga LPG terjangkau (murah) dan stok mencukupi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s