HUJAN ABU di PELATARAN RUMAHKU

masjid alfurqon gama asriKiranya sudah telat untuk menuliskan ini. Tetapi dikarenakan suatu sebab sehingga baru sekarang saya sempat menuliskannya. Ya tidak apa-apalah.. Belum seminggu juga. Masih seputar hujan abu yang dilontarkan dari nun jauh di sana, Gunung Kelud.

Hujan abu yang terjadi Jumat pagi bertepatan dengan 14 Februari 2014 membuat saya terkejut. Ketika hendak melangkahkan kaki menuju masjid, lah kok abu-abu semua. Dan saya cek dengan tangan dan sejenak memandang memang ada serbuk abu yang menempel dan juga mata saya agak perih. Dan saya pun yakin bahwa itu hujan abu. Awalnya saya bertanya-tanya siapakah kiranya yang mengeluarkan abu vulkanik tersebut. Apakah Merapi dimana di lerengnya saya tinggal ataukah gunung lain? Setelah mendengar berita ternyata yang batuk adalah gunugn Kelud di Kediri sana. Wuih jauhnya saya pikir.. Berarti letusannya dahsyat dong… Dan benar ternyata letusannya sangat besar. Dari berita yang saya tonton dan baca tinggi letusan mencapai 17.000 meter. Allahu Akbar !!! Pantas saja abunya sampai Jogja, bahkan konon katanya sampai Bogor. Dan masih banyak berita berseliweran beberapa hari membahas erupsi Gunung Kelud.

Hujan abu itu mengingatkanku kepada masa ketika terjadi hujan abu tanggal 30 Oktober 2010 kala Merapi memuntahkan isi perutnya dan menghujani kawasan dimana saya berada, jarak 15km dari puncak gunung. Saya ingat betul tanggal itu dikarenakan abu hari itu saya simpan dan sampai sekarang masih tersimpan rapi di ruang kerja saya. Ya tidak ada maksud apa-apa, hanya koleksi saja. Dan abu Kelud inipun rencananya akan saya simpan sebagian. Siapa tahu suatu saat adayang butuh untuk penelitian. Hehehe…

Hujan abu akhirnya benar-benar mengubah raut wajah kota Jogja. Yang tadinya cerah ceria penuh warna menjadi satu warna senada. Abu-abu. Makanya disebut hujan abu. Kalau jadi merah mungkin disebut hujan darah kali ya.. Hujan abu ini setidaknya cukup membuat kita kewalahan. Mulai dari harus bersih-bersih, belum lagi kalau hujan tak jua kunjung datang. Debu beterbangan kemana-mana. Ditambah lagi dengan air pam yang tiba-tiba mati. Dan itu terjadi di lingkungan perumahan dimana saya tinggal. Hujan tak jua turun sampai sekarang. Memang dua hari ini gerimis, cukup untuk membuat abu tidak beterbangan. Dan sempat tiga hari itu kami terpaksa ngangsu (menimba air) di masjid. Ya mau gimana lagi wong di rumah tidak ada sumur. Dan yang pasti banyak cerita heroik berkenaan dengan adanya hujan abu ini. Mulai dari menimba air sampai larut malam, mencuci sampai larut malam dan jemuran yang akhirnya tertempel debu. Belum lagi perabotan dan rumah yang full debu. Menjadikan serasa hidup di daerah gersang nan tandus.

DSC07233Hujan abu ini memang gejala alam. Namun kiranya kita tidak boleh sekuler dalam memandang hal ini. Jangan memandang hanya sebatas gejala alam saja. Namun sebagai insan beriman sudah selayaknya kita memandang bahwa hujan abu ini merupakan sebuah ujian atau teguran sekaligus curahan nikmat. Barangkali hujan ini untuk mengingatkan kita yang selama ini lebih banyak lalainya daripada taatnya sehingga dikirimkanlah hujan abu ini. Memang sedikit banyak akan timbul suatu perasaan yang mengatakan “mungkin ini ujian atau sebuah teguran” lantas kita akan memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Kita harus senantiasa paham bahwa kita itu sangat tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaan Allah SWT. Baru diguyur abu saja sudah sebegitu repot. Padahal info yang saya dapat ternyata lebih banyak abu yang ke arah samudra Hindia dari pada yang diguyurkan di daratan. Nah tu bukankah kita baru saja diberi peringatan dengan yang sedikit, itupun sudah begitu rupa. Bagaimana kalau keseluruhannya diguyurkan di daratan. Mungkin akan terbenam kaki kita oleh abu. Disisi ini kita mesti tetap bersyukur. Dan perlu bersyukur lagi bahwa dengan adanya abu ini ke depan akan membuat tanah menjadi subur.

Hujan abu ini juga akhirnya menyadarkan kita betapa sesungguhnya manusia itu lebih banyak ingin enaknya sendiri. Beberapa hari sebelumnya banyak yang mengeluhkan hujan. Mau kemana-mana hujan. Mau aktifitas di luar jadi terbatasi. Belum lagi cucian yang menumpuk karena tidak kunjung kering. Seakan kita tidak butuh hujan. Tapi lihatlah setelah hujan abu. Kita senantiasa berharap hujan turun. Agar debu di atap bisa turun dan yang dijalanan bisa bersih. Agar cucian kita tidak dipenuhi debu dan masih banyak lagi harapan-harapan akan hujan. Jika sebelumnya hujan laksana rumput liar yang kehadirannya tidak kita inginkan, akhirnya hujan menjelma seperti kekasih yang sangat dinantikan hadirnya. Padahal hujan tetaplah hujan. Sebagai suatu bentuk karunia Allah. Hanya saja manusia menaggapinya berbeda sesuai situasi dan kondisi.

Hujan abu membuat kita mengerti betapa pentingnya hujan air. Air yang membasahi setiap jengkal tanah, akan menghanyutkan abu, menyatukannya dengan tanah. Kita sadar bahwa ternyata melalui hujan, Allah memberikan banyak sekali air. Buktinya seharian kemarin membersihkan abu dengan mesin, dengan air sungai yang berlimpah dalam waktu berjam-jam ternyata tak mampu juga melenyapkan abu. Tapi daerah yang diguyur hujan deras selama satu jam sudah cukup mampu membuatnya cerah kembali. Bukankah itu bukti yang cukup bahwa bagaimanapun usaha manusia menyemprot abu, masih saja kalah dengan hujan yang Allah turunkan. Jadi semakin sadar bahwa kita ini sebenarnya lemah dan papa. Allah saja-lah yang Maha Kaya dan Maha Perkasa.

Hujan abu juga menyiratkan suatu pelajaran bagi kita. Bahwa dosa-dosa yang kita lakukan akan mengelabukan hati, sehingga hilanglah keceriaan kita. Yang tinggal hanyalah kemuraman. Debu dosa itu akan luntur oleh air taubat. Taubat yang senantiasa terucap bagaikan butiran-butiran hujan yang akan membersihkan debu-debu yang menempel di hati. Semakin banyak guyuran istighfar semakin bersih pula hati kita.

Memang pada akhirnya terpulang kepada kita masing-masing. Apakah kita melihat bencana sebagai gejala alam semata, yang mana tidak sedikitpun berpengaruh bagi perbaikan diri kita, ataukah kita melihat dari sisi bahwa bencana merupakan salah satu cara Allah untuk mengajarkan banyak hal kepada kita, yang insya Allah akan memberi manfaat bagi perbaikan diri kita.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s