Indahnya….Seandainya Salafy dan Tarbiyah Bisa Menyatu….

Tulisan ini terinspirasi oleh sedihnya hati saya melihat perdebatan sengit yang sempat saya ikuti di status salah seorang ustadz Salafy dimana intinya adalah ‘menyerang’ para kader-kader Tarbiyah ( dalam hal ini lebih spesifik kepada partai dakwah yang mafhum telah kita ketahui bersama ). Status sang ustadz sendiri memang hanya menanyakan hal yang sekiranya perlu klarifikasi dari pihak lain. Tetapi kemudian terjadi perdebatan sengit antara pendukung sang ustadz dengan beberapa komentator, yang mana ternyata lebih banyak pendukung sang ustadz yang berkomentar dan semua isinya adalah memojokkan, menjelek-jelekkan, bahkan mencaci dan menghujat saudara-saudaranya yang berjuang melalui partai. Saya merasa sedih dengan hal tersebut. Bukankah kita masih saudara seiman? Rabb kita sama, Rasul kita juga sama, Kitab kita juga sama, Syahadat juga sama. Lalu kenapa ada golongan yang merasa lebih benar dari yang lain? Memang jalan yang ditempuh agaknya berbeda dan itulah yang mungkin menjadi akar permasalahannya. Salafy lebih menekankan kembali kepada cara-cara yang Rasulullah tempuh, tentu dengan pemahaman mereka. Tarbiyah pun tentu meniru cara-cara Rasulullah, pun dengan pemahaman mereka.

Saya salut dengan ikhwah Salafy yang mereka ingin menegakkan dakwah tauhid. Benar-benar mempelajari ilmu secara mendalam sampai ke akar-akarnya sehingga dalam hal keilmuan saya salut dengan mereka. Saya pun suka ketika mempelajari ilmu dari mereka, karena saya merasa lebih mantap ketika dalil-dalil yang dikemukakan sangat rinci dan hati-hati. Secara singkatnya saya salut dengan keilmuan ikhwah Salafy yang begitu dalam.

Di sisi lain saya pun salut dengan ikhwah tarbiyah. Saya yakin mereka juga ingin menegakkan dakwah tauhid. Tapi berbeda dengan ikhwah Salafy, ikhwah Tarbiyah lebih kepada aksi nyata di masyarakat. Saya salut ketika mereka berdakwah di masyarakat, membantu korban bencana. Kemudian mereka berusaha berjuang melalui partai. Tentu jabatan dan kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan hanya sarana dan sampai kader terbawah pun pasti paham itu. Maka akan salah jika ada yang mengatakan bahwa partai ini hanya berorientasi kepada jabatan dan kekuasaan. Justru dengan jabatan dan kekuasaan yang diraih akan lebih memudahkan dalam menegakkan dakwah. Tetapi agaknya hal ini menjadi sorotan ikhwah Salafy. Ketika ikhwah Salafy mengharamkan demokrasi, justru ikhwah Tarbiyah memasukinya.

Tetapi agaknya ada ketidak konsistenan antara sikap mengharamkan demokrasi dengan mematuhi ulil amri. Ketika demokrasi dianggap haram, tetapi ketika ada pemimpin yang terpilih melalui demokrasi, mereka mematuhi juga, dengan dalil mematuhi ulil amri. Bukankah ini tidak konsisten. Sama halnya bilang haram bila menyembelih hewan dengan kuku, tetapi setelah jadi daging dimakan juga.

Saya sempat merenung. Memang setiap kelompok ada kelebihan dan kekurangan. Tapi kita lebih fokus saja ke kelebihan, insya Allah lebih menyelamatkan. Ikhwah Salafy mempunyai kelebihan di ilmu agama yang lebih mendalam. Kemudian ikhwah Tarbiyah mempunyai kelebihan pada semangat untuk bekerja nyata. Bukankah akan lebih indah bilamana bisa saling berkolaborasi. Saya punya gambaran seandainya ikhwah Salafy dan ikhwah Tarbiyah bisa menjadi satu. Ikhwah tarbiyah memback-up sisi ruhiyah dari ikhwah Tarbiyah sehingga apa yang selama ini dianggap melenceng oleh ikhwah Salafy bisa sedikit banyak dikembalikan ke jalur yang semestinya. Tapi tentu saja juga harus mengedepankan saling memahami bukan saling memaksakan pendapat. Saya rasa ini lebih baik dan lebih menguatkan dakwah daripada saling mencemooh, menghujat dan saling menghakimi. Ketika kita lebih banyak berselisih, lebih sering berdebat maka mudah pecahlah persatuan kita. Seakan-akan sudah berlaku ‘untukku agamaku, untukmu agamamu’. Padahal kan kita masih sama-sama saudara seiman. Kalau sudah begini siapa yang akan mengambil untung? Tentunya pihak-pihak yang tidak menginginkan tegaknya dienul Islam di negeri kita tercinta ini. Dan tentu saja syetan akan tertawa riang melihat ummat ini saling berbantah, saling menganggap dirinya paling benar yang akhirnya terpecah belah seperti busa di lautan.

Mungkin untuk saat ini masih hanya akan menjadi impian saya. Tapi saya yakin bahwa suatu saat akan terjadi penyatuan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s