Merendahkan diri sendiri BOLEH, Merendahkan diri anak JANGAN

“ Adek kelas berapa? “ tanyaku pada seorang anak kecil, anak si tuan rumah.

“ Kelas satu om.. “ jawab sang tuan rumah membahasakan untuk anaknya.

“ Wah dah pinter nggambar apa? “ tanyaku lebih lanjut.

“ Nakal kok om… maunya main terus.. gak mau belajar.. kalo dikasih tahu ngeyel… “ lanjut sang tuan rumah yang juga merangkap sebagai ayah kandung si anak.

Sudah sering saya jumpai hal semacam ini. Ketika ada yang bertanya tentang anaknya, biasanya orang tua akan merendahkan diri si anak. Entah dengan mengatakan nakal, bodoh, ngeyel, sulit diatur dan kosakata yang berkonotasi negatif lainnya. Mungkin bagi si orangtua maksudnya untuk merendahkan diri agar tidak terkesan sombong. Tapi hal ini justru akan membawa efek negatif bagi si anak.

Kita secara pribadi memang terbiasa untuk merendahkan diri kita. Ketika ditanya “kerja dimana mas?” biasanya akan dijawab “ ah cuma buruh kok pak.. “. Padahal dia kerja di kantoran yang cukup elit. Tujuannya tentu agar tidak dikira sombong. Meski itu juga akan ada dampak negatifnya bagi kita sendiri, tapi okelah selama kita nyaman dengan hal tersebut maka tidak apa-apa, karena kita merendahkan diri kita sendiri. Tapi ketika kita merendahkan anak, maka ingatlah bahwa anak adalah manusia secara utuh tersendiri. Dia punya tubuh sendiri, punya perasaan sendiri, punya akal dan kemampuan sendiri. Memang benar ia adalah darang daging kita, tetapi dia juga diciptakan sebagai makhluk utuh tersendiri. Dan ketika kita menyadari hal ini sebaiknya juga kita memperlakukan anak sebagaimana memperlakukan seorang manusia.

Ketika kita merendahkan anak, hakikatnya kita merendahkan seorang manusia, meski ia masih kecil. Kita juga perlu memperhatikan sisi psikologisnya. Kita juga perlu menerapkan pada diri kita, bagaimana seandainya ada orang yang meremehkan kita, meski itu adalah orang tua kita sendiri. Apakah kita tidak tersinggung, malu dan tidak terima? Sama juga dengan anak. Bisa jadi ketika kita mengatakan dia nakal, bandel, ngeyel, malas dan sebagainya, dalam hatinya ada perasaan tidak senang, ada perasaan tidak suka. Apalagi anak biasanya akan melakukan apa yang menjadi penilaian orang lain. Ketika anak sering dikatakan nakal, maka secara alamiah anak akan selalu berlaku sedemikian agar tetap dikatakan nakal. Apalagi ketika ia berbuat baik saja masih dikatakan nakal, maka dia akan mengubah perilakunya menjadi benar-benar nakal. “Buat apa aku berbuat baik jika masih dikatakan nakal juga, mending sekalian aja berbuat jelek, toh sama-sama dikatakan nakal “.

Kalau kita percaya dengan kekuatan kata-kata positif yang membangun maka tidak sepantasnya kita merendahkan anak, meskipun itu anak kita sendiri. Anak juga perlu diberikan kata-kata positif agar dia selalu percaya diri untuk berbuat baik. Jadi ketika ada yang bertanya

“ Anaknya sudah pintar nggambar ya?”

Maka perlu kita jawab,

“ Iya, Alhamdulillah… hasil gambarnya bagus loh Om.. ayo nak coba ditunjukkan kepada Om gambar yang kemarin itu… “

Dengan kata-kata seperti ini anak akan merasa bahwa dirinya dihargai, hasil karyanya diakui dan tahu bahwa orang tuanya bangga dengan dia. Anak yang tumbuh dengan dukungan orangtua yang penuh, orang tua yang tidak pelit kata-kata positif maka akan berkembang menjadi anak dengan kepercayaan diri yang tinggi. Dia akan jauh lebih unggul dibandingkan anak yang asupan hariannya adalah kata-kata negatif.

Kemudian kita juga perlu membantu orang tua manapun untuk memberikan kata-kata positif. Misalkan kita ambil percakapan tadi.

“ Iya, Alhamdulillah… hasil gambarnya bagus loh Om.. ayo nak coba ditunjukkan kepada Om gambar yang kemarin itu…”

Kemudian ketika kita lihat ternyata hasilnya sangat jelek ya kita tidak serta merta bilang “ Loh kok gambarnya kayak gini adek… masih jelek ini… “ Tetapi kita perlu mendukung perkataan orang tua dengan mengatakan “ Wah iya gambarnya bagus… “

Bahkan ketika orang tuanya bilang “ hasil gambarnya jelek kok om… “ maka kita perlu untuk tetap memberikan kata positif  “ Wah gambar ini bagus kok… adek pinter banget nggambarnya.. “

Jadi pastikan bahwa kita selalu memberikan kata-kata yang positif kepada anak agar ia tumbuh dan berkembang dengan baik, baik itu fisik terlebih lagi psikologisnya. Hindari kata-kata negatif, apalagi sampai men-cap anak dengan kata tersebut. Merendahkan diri sendiri BOLEH saja, tetapi merendahkan diri anak JANGAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s