Simpel Saja, Alasan Saya untuk Tidak Pacaran

Saya pribadi tidak tahu kapan pacaran itu dikenal oleh masyarakat kita. Tapi yang pasti istilah pacaran sudah ada ketika saya masih SD. Meskipun waktu itu juga tidak paham betul apa itu pacaran. Dalam perkembangannya pacaran seolah menjadi hal yang ‘ wajib’ bagi sebagian besar remaja. Bahkan di jaman sekarang agaknya akan dibilang ‘gak gaul’ kalau tidak punya pacar. Bahkan ada sebagian orang tua yang merasa khawatir karena anak gadisnya yang masih duduk di bangku SMA belum pernah punya pacar sama sekali. Sementara gaya berpacaran masa kini sungguh memprihatinkan. Seolah-olah ketika terucap ‘ aku mau jadi pacarmu’ maka sudah halal apapun yang dilakukan. Lihat saja betapa sering kita dengar berita kehamilan siswi-siswi sekolah baik SMP maupun SMA. Dan itu dilakukan bersama pacar. Na’udzubillah min dzalik.

Tapi diantara sekian banyak orang, bahkan sampai masanya beranjak dewasa belum pernah sekalipun berpacaran. Dan sampai gerbang pernikahan tetap bisa menjaga status kesuciannya dengan “tidak pernah berpacaran’ . Dan pada akhirnya saya selalu salut terhadap teman-teman yang sampai sekarang belum pernah sekalipun berpacaran atau teman-teman yang sudah menikah dan tidak memiliki riwayat ‘pernah pacaran’ sebelumnya. Terlepas dari apa latar belakangnya yang pasti mereka adalah orang-orang yang perlu diacungi jempol.

Teringat dulu ketika masih SMP, pada waktu itu ada seorang teman cewek yang awalnya hanya iseng dijodoh-jodohkan oleh guru tetapi akhirnya suka sama saya. Dan teman-teman geng-nya sempat menanyakan padaku “ Gimana, jadi mau gak? “. Maksudnya mau berpacaran dengan teman cewek tersebut. Pada waktu itu akhirnya saya menjawab “ Wah enggak aja… “. Mungkin terkesan sadis karena tidak ada basa-basi sama sekali. Waktu itu yang ada dalam pikiran saya adalah saya tidak ingin ribet dengan punya pacar. Lagian saya tidak butuh seorang pacar.

Masa berlalu akhirnya romantika di SMP bisa terlampaui dengan tetap memiliki status ‘tidak pernah punya pacar’ yang artinya juga bukan bekas pacar orang lain. Agaknya saya risih dengan kata ‘mantan’ dalam hal pacaran. Mantan itu kan konotasinya untuk gelar yang baik. Mantan pejabat, mantan presiden, mantan guru dan lain-lain. Kalau pacar kan bukan gelar yang bagus, pantasnya adalah bekas pacar. Hehehe… Kemudian masa SMA juga pernah disukai oleh adik kelas dan teman seangkatan. Waktu itu pun saya tetap berpendirian bahwa saya tidak mau ribet dengan punya pacar dan lagipula tidak urgent punya pacar.

Kenapa saya bilang tidak mau ribet? Kita tentu paham dengan tradisi yang dilakukan oleh teman-teman yang berpacaran. Apel rutin malam minggu, antar jemput bepergian, belum lagi ada acara mendadak yang perlu kehadiran kita. Dan saya tidak mau terikat dengan itu semua. Saya sering melihat kasus mereka yang berpacaran kemudian suatu saat tidak ada apel malam minggu tanpa alasan yang jelas terus marahan. Ada konflik kecil, marahan. Kita kebetulan dapat kerja kelompok dengan temen cewek, dianya cemburu, marahan lagi. Belum lagi marahan-marahan yang lainnya. Dan marahan tersebut akan menguras energi kita. Kasihan ya… Padahal kedewasaan masa itu belum cukup ampuh untuk mengatasi permasalahan tersebut. Walhasil energi terkuras untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Belajar menjadi terganggu, prestasi tidak maju-maju. Simpel sekali alasan saya untuk tidak terikat dengan pacaran, TIDAK INGIN RIBET.

Menginjak masa kuliah agaknya saya menemukan alasan yang lebih kuat untuk tidak berpacaran. Saya tidak menemukan perintah dalam agama untuk berpacaran tetapi yang ada adalah perintah menjaga izzah. Banyak saya temukan perintah untuk menjaga diri, menjaga pandangan, tidak berdua-duaan dan larangan yang lain. Sejak saat itu prinsip untuk tidak berpacaran seolah menjelma menjadi sesuatu yang harus saya penuhi dan harus saya realisasikan. Pada masa inilah juga muncul suatu cita-cita yang mungkin bagi sebagian orang aneh, yaitu ingin punya istri yang tidak pernah pacaran. Dan konsekuensi dari hal tersebut adalah dengan tidak berpacaran. Agaknya akan lebih mudah kita cerna bahwa ketika kita ingin seorang istri yang tidak pernah berpacaran maka sebaiknyalah kita tempuh dengan cara tidak berpacaran juga. Akan lebih adil dan insya Allah akan lebih mudah.

Jadi setelah perjalanan waktu yang begitu panjang, terjadi perkembangan alasan kenapa saya tidak pacaran. Kalau dulunya ‘hanya’ karena tidak ingin ribet maka menjelma menjadi lebih bisa dipertanggungjawakan yaitu untuk menjaga izzah (kemuliaan, kesucian) diri. Dan itu pada akhirnya menjadi semacam semangat untuk menghadapi setiap orang yang agaknya memandang aneh bagi mereka yang tidak ingin berpacaran.

12 thoughts on “Simpel Saja, Alasan Saya untuk Tidak Pacaran

  1. Artikelnya bagus. Saya perempuan yg baru lulus SMA dan sy belum pernah pacaran sekalipun dan niatnya seperti yang kamu tulis tadi. Saya niatnya ingin menikah dengan laki-laki yang belum pernah pacaran juga. Semoga ada ya haha.

      • terimakasih sudah salut, tapi dengan hidup dilingkungan yang hampir semua orang dan teman2 menjalankan aktivitas pacaran itu godaannya sangat lah tidak mudah, tapi saya tetap berusaha mempertahankan itu sampai nanti saya halah dan akan berpacaran dengan suami, itu pasti romantis sekali karena berpacaran dengan suami🙂

      • nah dalam kondisi seperti inilah diperlukan komitmen atau kalau sudah punya komitmen saatnya diuji.. belum lagi kalau ada yang keluarganya memaksa untuk pacaran…tetap komit saja dan jalani saja.. yakin saja bahwa banyak kok yang komit di luar sana dengan kondisi yang mungkin lebih heroik daripada yang kita hadapi.. insya Allah hasil akhirnya pasti baik..🙂

  2. Nama saya riza,
    sekarang kegiatan saya adalah kuliah, selama perjalanan hidup, saya juga belum pernah pacaran, sama dengan yang menulis artikel ini, niat dalam hati saya yang sesungguhnya adalah ingin mencari pendamping hidup sekali dalam seumur hidup, menjadi yang pertama dan terakhir, tanpa harus mengenal yang namanya pacaran, karna gak selamanya orang yang gak pacaran tue, norak,

    oa, makasih artikel’a saya semakin termotivasi untuk selalu menjaga diri untuk tidak berpacaran,,

    • Yup… dengan tidak pacaran insya Allah lebih mudah dalam menjalani kehidupan rumah tangga kelak. Tidak terbebani oleh kenangan-kenangan bersama mantan. Dan menjadi satu-satunya yang dikenal pernah dekat dengan pasangan adalah sebuah kebangaaan tersendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s