Netralitas Abdi Negara Dalam Kampanye Pemilu

Menjelang pemilu, kampanye merupakan suatu hal atau proses yang jamak dilakukan. Apalagi tujuannya kalau tidak agar banyak pemilih yang memberikan suaranya untuk partai. Sebagaimana hak berpolitik masyarakat umum, keikutsertaan dalam kampanye ( mengajak orang lain untuk memilih ) merupakan suatu hak. Tidak ikut kampanye boleh, ikut kampanye-pun tidak masalah. Tapi kiranya hal ini tidak berlaku bagi mereka yang sudah berstatus sebagai abdi Negara. Sebagai abdi Negara memang ada aturannya bahwa tidak boleh ikut berkampanye. Berbeda dengan masa orde baru dahulu dimana yang berstatus abdi Negara wajib hukumnya ikut kampanye dan memang diarahkan untuk memilih si kuning bergambar beringin. Saya masih ingat ketika dahulu diajak oleh ayah saya yang seorang guru untuk ikut dalam kampanye akbar partai tersebut.

Sebagai abdi Negara maka dituntut untuk bebas dari segala macam bentuk kegiatan kampanye, bahkan jika yang mencalonkan diri adalah saudaranya atau orangtuanya atau anaknya sekalipun. Abdi Negara wajib netral. Namun kenetralan ini ternyata bagi sebagian orang menjadi dilema. Ketika kita punya idealisme dan ingin mengekspresikannya maka akan ada benturan dengan kewajiban sebagai abdi Negara. Sebagai contoh, seorang abdi Negara yang sebelumnya berkiprah di partai dan sudah wara wiri kesana kemari berjuang untuk partai, tentu bukanlah hal yang mudah ketika dia tiba-tiba menjauhkan diri dari partai termasuk aksi kampanye. Betapa tidak mudahnya ketika ada kesempatan untuk mengajak orang lain agar memilih partainya kemudian dia harus menjaga lidahnya agar tidak digolongkan kampanye. Pun juga ketika ada teman-teman seperjuangannya yang mempertanyakan loyalitasnya hanya gara-gara tidak mau ikut kampanye.

Memang ada juga, dan saya jumpai di sekitar saya, abdi Negara yang masih berkecimpung dalam kampanye. Alasannya cukup simpel, selama tidak ketahuan pihak yang berwenang dalam pendisiplinan abdi Negara tidak akan menjadi masalah. Hanya saja ketika hal ini dilakukan maka justru dipertanyakan integritasnya sebagai seorang abdi Negara. Ketika aturan sudah mewajibkan tersebut, kenapa harus dilanggar dengan alibi asal tidak ketahuan.

Menjadi abdi Negara adalah pilihan, sama halnya juga ketika lebih memilih menjadi ‘orang merdeka’. So, ketika kita memutuskan menjadi abdi Negara maka sudah sepantasnya bagi kita untuk berusaha semaksimal mungkin mentaati peraturan-peraturan sebagai abdi Negara. Memang tidak bisa dipungkiri masih banyak pula orang lain, yang juga berstatus sebagai abdi Negara melakukan hal-hal yang melanggar. Tapi itu bukanlah suatu hal yang mesti kita tiru. Justru hal itulah yang mesti kita benahi, kita luruskan kembali.

One thought on “Netralitas Abdi Negara Dalam Kampanye Pemilu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s