Badut-Badut Politik

Hari – hari ini suhu politik kian memanas, global warming seakan mengerucut menjadi local warming. Di televisi, di radio, di warung angkring, di tenda tenda pengungsian, di kampus, di sekolah , di kantor, di warung mbok Nem, di peternakan cak Ponidi selalu dibicarakan mengenai caleg, bahkan calon presiden dan calon wakil presiden. Tak bosan-bosannya mereka mengulang-ulang pembicaraan mengenai itu. Padahal mereka bukannya suka dengan figur- figur tersebut tapi lebih kepada kesenangan melihat pertarungan memperebutkan kursi baik di parlemen maupun kursi RI 1 dan RI 2. Yah seperti melihat pertandingan sepakbola memasuki babak 16 besar, babak knockout. Selebihnya siapa yang peduli. Toh dengan beberapa kali pergantian wakil rakyat dan presiden masih saja orang-orang miskin tak berubah nasibnya, anak-anak jalanan masih setia menyusuri trotoar, korban-korban bencana masih terdampar di kamp kamp pengungsian. Ibaratnya kita kita ni menonton acara perebutan kursi jabatan di dunia luar sana. Karena kita tak mengenyam langsung dampaknya.

Kalo sudah begitu, salah siapa jika banyak yang tak memilih. Janji janji mereka untuk kemakmuran rakyat, koalisi demi kepentingan rakyat dan lain sebagainya hanya sebatas bumbu kampanye saja, bualan semata dan tak ada realisasinya. Kebohongan demi kebohongan yang dirajut, penipuan atas nama rakyat semua itu hanya demi kepentingan golongannya, demi kemakmuran keluarganya. Lalu ucapan bahwa semua demi kepentingan dan kemakmuran rakyat dimana? Yah hal seperti itu sekali lagi hanya masuk di tong-tong sampah dan akhirnya berujung di TPA (tempat pembuangan akhir).

Jika bertanya adakah pemimpin yang bisa diharapkan? Jika kita bertanya pada partai atau kelompok simpatisan tertentu pasti akan dijawab ada. Lalu siapa? Ya tergantung partai mana yang ditanya. Tapi jika kita bertanya pada orang-orang yang tak pernah mengenyam kesejahteraan padahal berkali-kali ganti presiden pasti akan di jawab TAK ADA. semua hanya badut-badut politik yang menghibur sesaat dengan memberi uang pembelian suara kita, untuk kemudian setelah jadi akan lupa bahwa dahulu mereka pernah mengemis suara.

Presiden yang tepat. Adakah? Ataukah hanya sebatas impian kita saja. Atau memang benar adanya, tetapi dengan berbagai kebohongan yang ditutupi, kekurangan yang disembunyikan dan di atas semua itu dianggap perfect.

So silahkan pilih pemimpinmu. Yang sreg di hati tentunya. Dan sekali lagi golput bukan pilihan cerdas. Pilihlah yang terbaik dari yang ada. Jika ingin memantapkan diri maka berdoalah kepada Yang Maha Mengetahui.

4 thoughts on “Badut-Badut Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s