(MASHA & THE BEAR) dan (UPIN dan IPIN ) vs ENTONG dan ( ADIT, SOPO & JARWO )

masha n the bearAkhir-akhir ini kami sudah jarang menonton acara televisi yang isinya kalau gak berita yang berat sebelah, cuma ada infotainment dan acara hiburan pembodohan. Apalagi hal tersebut sama sekali tidak unsur pendidikan sama sekali bagi si kecil kami. Tentu saja sebagai orang tua kita memang harus selektif dalam memilih acar televisi. Bahkan ada pula yang sampai benar-benar menjauhkan anak dari televisi karena dianggap isinya hanya sampah semua. Ya itu pilihan masing-masing. Tapi saya selalu salut kepada mereka yang bertekad untuk tidak menyerahkan anak-anak untuk diasuh oleh ibu kotak bernama televisi.

Tetapi diantara acara televisi tersebut ada yang bisa kami tolerir untuk ditonton, setidaknya karena si kecil belum begitu bisa menikmati acara tersebut ya bagi kami orang tuanya. Mungkin diantara teman-teman sudah tidak asing lagi dengan MASHA & The Bear. Lalu ada pula UPIN dan IPIN yang sudah lama masuk di televisi Indonesia. Ternyata meskipun mereka ( MASHA & The Bear dan UPIN dan IPIN ) berasal dari dua Negara berbeda tetapi muatan moralnya tinggi. Untuk komentar mengenai UPIN dan IPIN pernah saya buat di sini.

MASHA & The Bear menceritakan tentang anak kecil yang diasuh oleh seekor Beruang dan berteman dengan hewan-hewan di seluruh hutan. Memang sih kalau dilihat agak nyleneh. Bagaimana mungkin seorang anak diasuh oleh Beruang. Tetapi inilah menariknya. Kenapa justru dunia hewan yang digunakan sebagai latar belakangnya. Berbeda dengan UPIN dan IPIN yang lebih mirip dengan dunia nyata, terlebih dunia anak-anak.

Diceritakan bahwa Beruang ini memiliki sifat yang sangat penyabar. Bagaimanapun tingkah MASHA maka sang Beruang selalu berusaha untuk berlaku sabar. Contoh yang paling berkesan adalah pada episode LAUNDRY DAY. Bagaimana sang Beruang dengan telaten memandikan MASHA yang sebentar-sebentar berkotor ria kemudian dengan telaten menjahitkan baju. Belum lagi di episode-episode yang lain. Dari sini kita bisa belajar, ketika Beruang yang notabenenya adalah hewan, bisa bersabar dengan tingkah laku anak kecil, yang pasti bukan anaknya kan ya.. maka apalagi kita sebagai orang tua terhadap anak kita. Pasti lebih wajib untuk bersikap sabar. Sabar dalam artian sabar yang membangun, bukan mempermaklumkan apa saja yang dilakukan anak. Masak ya kita mau kalah sama hewan..

Dan lagi ternyata sang Beruang ini multi talenta. Memasak bisa, menjahit bisa, tukang reparasi mesin jahit bisa, montir juga bisa, berdongeng, main piano dan masih banyak lagi. Hal inilah yang oleh ibunya AISHA dikagumi, serba bisa. Kalau bisa sih sebagai orang tua, kita juga seperti itu. Serba bisa. Artinya ketika kita memiliki perangkat, perabot rumah tangga yang perlu diperbaiki maka bisa diperbaiki sendiri. Ketika si anak pengen makan yang enak dan bergizi, kita bisa membuatkan. Ketika anak minta dibacakan cerita, kita bisa mendongeng dengan baik. Ketika anak pengen diajari sesuatu, kita bisa mengajarinya.

Memang karena dibuat oleh orang Barat (menurutku sih dari Rusia) mungkin ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan tradisi budaya Indonesia. Tapi beruntungnya hal-hal positiflah yang lebih ditonjolkan di sana.

Lalu ada lagi tayangan dari dalam negeri sendiri yaitu ENTONG dan juga serial ADIT, SOPO dan JARWO. Ketika saya melihat tayangan ini pada awalnya saya sempat berharap bahwa kartun ini akan sekualitas UPIn dan IPIN. Baik dari pembuatan karakternya juga sampai alur ceritanya. Tapi ternyata kenyataannya berbeda. Okelah dari segi kualitas pembuatan karakternya, pembuatan kartunnya bisa dibilang tidak kalah dengan karakter UPIN dan IPIN. Tapi dari segi alur cerita ternyata kok masih tidak sreg. Bagaimana tidak lha wong alur ceritanya gak jauh beda dengan sinetron atau film-film Indonesia. Tentang seorang tokoh baik yang selalu  dijahati oleh tokoh antagonis. Kenapa tidak menceritakan kisah kehidupan sehari-hari yang penuh dengan keceriaan. Ingat, tontonan ini dimaksudkan untuk dikonsumsi oleh anak-anak lho. Bagaimana jadinya kalau sejak anak-anak sudah dikenalkan dengan karakter yang selalu jadi bahan bully-an, karena saking baik hatinya. Sementara di lain karakter dimunculkan seseorang yang selalu berniat jahat, berwatak judes, suka membenci dan suka membohongi.

Sangat berbeda dengan UPIN dan IPIN dimana yang ditonjolkan adalah pesan moral. Dunia anak-anak yang penuh keceriaan, berteman dengan baik, bermain bersama, belajar dari kehidupan orang-orang sekitarnya. Sangat minim konflik antar anak-anak. Kalaupun ada , itu masih sebatas wajar dunia anak-anak, tidak seperti ENTONG dan ADIT, SOPO dan JARWO yang sangat didramatisir.

Apakah berarti saya tidak mengapresiasi karya anak negeri? Tentu saya sangat mengapresiasi karya tersebut. Berarti kita tidak kalah dengan Negara-negara lain. Tetapi yang saya tidak mengapresiasi adalah muatan dari tontontan tersebut. Tidak bisakah kita membuat  tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, bukan sekedar guyonan saja? Saya yakin pasti bisa. Ketika kita sudah berlelah-lelah ria maka pastikan hasilnya bermutu tinggi. Saya sangat menunggu tontonan khususnya untuk anak-anak yang sekualitas UPIN dan IPIN , syukur-syukur bisa lebih baik lagi.

6 thoughts on “(MASHA & THE BEAR) dan (UPIN dan IPIN ) vs ENTONG dan ( ADIT, SOPO & JARWO )

  1. coba buat dong, masa iya cuma komentar aja, ditunggu ya animasi berkualitasnya, paling tidak isi dari muatan animasi itu.🙂

  2. terima kasih kritiknya… mmm… jika ada keluangan waktu boleh ditonton lagi setiap episode untuk dapat bisa menangkap isi dari ceritanya…

    salam
    eki n.f

    • terimakasih atas kunjungannya.. saya selalu menyempatkan nonton kalau pas ketemu tayangan tersebut. Ya semoga ada muatan lain yang bisa saya ambil manfaatnya.. dan semoga film-film animasi karya anak bangsa indonesia semakin bagus baik tampilan maupun kontennya.🙂

  3. Kalau saya lebih suka Masha and The Bear.Selain pesan pesan yg dicantumkan di atas, menurut saya Masha tidak membeda bedakan teman.Masha mau aja temenan sm hewan2 di hutan, walaupun temen2nya bukan manusia ky Mashanya, tp dia gx bedain temen.Asal seneng si Masha mau dh temenan.

    • Ini yang sebenarnya perlu kita renungkan bersama. Kenapa negara kita yang katanya memiliki budaya yang baik, tetapi justru tontonan yang ada justru tidak mencerminkan budaya tersebut. Kalau boleh dibilang, tontonan kita lebih banyak berorientasi senang-senang tanpa ada unsur edukasi yang berimbang. Kalau sudah begitu tentulah pantas jika generasi sekarang lebih cendenrung kepada bersenang-senang saja, pragmatis dan terlambat dewasa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s