Saat Sesuatu Tidak Berjalan Sesuai Yang Kita Rencanakan

“ Yaaaah… kok sudah tutup sih kantornya… mana gak ada pemberitahuan lagi.. padahal perlu banget surat ini dimintakan tanda tangan… Ahhhhh bisa kacau rencanaku..  !!! “  keluh seorang teman.

Rupanya hari itu dia perlu untuk memintakan tanda tangan surat ijin pendirian usaha.  Sementara hanya hari Rabu  itu dia bisa libur dari tempatnya bekerja. Walhasil untuk mengurus yang lain mesti menunggu minggu berikutnya karena cuma hari Rabu dia libur dalam setiap minggunya. Dan akhirnya rencananya untuk segera mendapatkan ijin berstatus gagal. Mesti bersabar lagi.

Mungkin dari sebagian kita pernah mengalami hal semacam ini. Ketika apa yang kita harapkan tidak berjalan seperti inginnya kita. Ada saja pihak yang membuat harapan kita menjadi pupus. Kalau sudah begitu mau gimana lagi? Apa mesti kita marah-marah. Marah kepada siapa? Pada diri sendiri atau kepada pihak lain? Marah kepada diri sendiri apa alasannya? Bukankah kita sudah berusaha semaksimal mungkin? Atau marah kepada pihak lain yang telah menggagalkan rencana kita? Tapi bukankah tidak ada ikatan wajib antara kita dengan pihak lain tersebut?

Berbagai tanya pasti akan muncul di benak kita. Memang secara manusiawi pada mulanya akan menyalahkan keadaan yang ada. Marah-marah tidak jelas juga bisa menjadi bumbu rasa kekesalan kita. Dan ujung-ujungnya biasanya akan lebih mudah menunjuk pihak lain yang mesti bertanggungjawab atas kegagalan kita. Padahal setelah ini semua terjadi keinginan kita tetap saja tidak terlaksana, harapan kita tidak lantas tercapai begitu kita marah. Lalu sebaiknya bagaimana kita bersikap?

Setiap kita memang punya rencana, tetapi Allah-lah yang akan menentukan. Ketika kita memiliki keyakinan seperti ini maka insya Allah kita akan lebih mudah menerima jika akhirnya sesuatu tidak sesuai dengan harapan kita. Ketika rencana kita gagal, maka yakinlah bahwa Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah, rencana yang lebih tepat bagi kita. Memang sebagai manusia rasa kecewa itu pasti ada awalnya, rasa jengkel juga tak ayal menghampiri. Tapi ketika emosi itu menguasai maka kita perlu untuk mengendalikannya. Bersabarlah. Kalau orang jawa bilang SEMELEH (pasrahkan pada Allah). Ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin maka Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha kita. Yakin.

So bagi kita yang sedang mengalami hal semacam ini, yuk kita berpasrah diri dan yakin bahwa inilah jalan yang sudah digariskan. Tidak usah marah, tidak usah jengkel, tidak perlu memaki keadaan. Tetap bersabar dan tersenyum. Karena senyum membuat wajah kita lebih indah. J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s