Satukataku : First Anniversary :)

anniversary blogMembuka dashboard pagi ini saya mendapat pemberitahuan bahwa hari ini adalah ulangtahun blog ini. Ini merupakan ulang tahun yang pertama mengingat blog ini ‘dilahirkan’ April 2013 ditandai oleh postingan pertama di blog ini yaitu https://satukataku.wordpress.com/2013/04/30/satu-kataku/. Terus terang saya sebenarnya lupa kapan blog ini lahir, setidaknya saya lupa tanggalnya. Tapi dengan adanya pemberitahuan ini saya jadi tahu bahwa blog ini ‘dilahirkan’ tanggal 30 April 2013 tepat satu hari sebelum Hari Buruh.

Selayaknya bayi yang belum lama menatap dunia, tentu saja masih banyak hal yang mesti dipelajari agar blog ini bisa menjelma menjadi blog yang berkualitas. Masih terlalu banyak yang mesti diperbaiki dan ditingkatkan. Mohon doa dari teman-teman sekalian agar blog ini tetap eksis seperti pesan dari wordpress , Keep Up The Good Blogging . Bisa bermanfaat bagi sesama  dan tidak keluar dari tujuan semula sebagai sarana untuk berbagi dan berdakwah. Terimakasih atas apresiasi teman-teman pembaca.

Serba-serbi serba baru Hotel Bintang 4

Belum banyak hotel bintang 4 yang pernah saya singgahi. Masih bisa dihitung dengan jari tangan sebelah kanan saja. Itupun karena saya ikut kegiatan kedinasan sehingga tidak perlu keluar biaya untuk sewa kamar. Kalau atas biaya sendiri tentu menginap di hotel bintang 4 bukan pilihan suatu pilihan. Bukan karena tidak nyaman, tetapi tidak tahan dengan biaya yang mesti dikeluarkan. 😀

Ketika pertama kali masuk hotel bintang 4 tentu ada beberapa hal yang asing, yang berbeda dari kebiasaan. Ya maklum saja, orang desa ‘dipaksa’ menggunakan fasilitas orang kota tentu perlu pengetahuan dan pemahaman serta pembiasaan. Tapi saya rasa sih tidak melulu dominasi orang desa dalam hal asing dengan sesuatu yang baru. Tapi berlaku umum bahwa orang yang belum pernah punya pengalaman pasti akan merasa gagap dengan sesuatu yang belum pernah ditemuinya.

Nah ini dia beberapa hal berkaitan hotel bintang 4 yang mungkin bagi sebagian kita adalah sesuatu yang belum diketahui.

1. Tidak ada lantai Nomor 4 dan 13

Kalau kita ke hotel bintang 4 jangan meminta menginap di lantai nomor 4 atau 13. Dijamin tidak akan ada lantai dengan nomor 4 atau 13. Hal ini berkaitan dengan mitos angka 4 yang dianggap angka kematian dan nomor 13 yang dianggap angka sial. Jadi tidak akan ada lantai nomor 4 dan 13, juga kamar dengan nomor belakang 4 atau 13. Tapi secara fisik lantai 4 dan 13 tetap ada. Hanya saja lantai nomor 4 akan langsung diberi nomor 5, bukan 4. Makanya kalau kita menjumpai sebuah hotel memiliki nomor lantai sampai 9 maka sejatinya hotel tersebut hanya memiliki 8 tingkatan yaitu lantai 1,2,3,5,6,7,8 dan 9.

2. Tidak ada ember dan gayung di kamar mandi dalam

Bagi sebagian kita terbiasa mandi dan bersuci dengan memanfaatkan air yang tertampung di suatu wadah dan diguyurkan menggunakan gayung. Jika suatu waktu berkesempatan menginap di hotel bintang 4 maka bersiaplah tidak menjumpai kedua barang tersebut. Karena di hotel bintang 4 adanya shower, toilet duduk dan wastafel sebagai sarana membersihkan diri. So kalau merasa tidak akan bisa menjalani mandi tanpa air tertampung maka bawalah ember dan gayung ketika akan menginap di hotel bintang 4.

3. Kunci pintu berupa kartu

Ketika kita check-in (mendaftar masuk hotel) maka akan mendapatkan kunci kamar. Tapi jangan berpikir bahwa kunci pintu bentuknya seperti kunci pintu rumah kita. Kunci kamar hotel bintang 4 menggunakan semacam kartu layaknya kartu atm. Dan cara menggunakannya juga mirip kartu atm yaitu dengan cara digesekkan ke pemindai yang terdapat pada handle pintu. Sebagai tambahan informasi, jangan letakkan kunci kartu dekat dengan gadget anda (semisal disaku) karena nanti tidak bisa digunakan lagi. Untuk bisa menggunakan lagi harus datang ke resepsionis dan minta diperbarui data kartunya. Mungkin ini disebabkan adanya elektromagnetik yang dipancarkan gadget yang dapat merusak informasi yang ada di dalam kunci kartu.

4. Masukkan kunci kartu ditempatnya

Hotel - Energy Saving SwitchBegitu sampai di kamar jangan  lupa masukkan kartu pada sebuah tempat, untuk menghidupkan sumber listrik kamar. Tempat ini letaknya sebari dengan saklar dan letaknya paling dekat dengan pintu kamar. Saya pernah melakukan percobaan iseng dengan mengambil kartu dari tempatnya dan hasilnya sumber listrik terputus. Lampu mati, AC tidak menyala, televisi off. Intinya listrik padam.

5. Pintu hanya bisa dibuka dari dalam

Hati-hati terhadap pintu kamar hotel. Begitu tertutup maka hanya dapat dibuka dari dalam atau kalau dari luar harus menggunakan kunci kartu. Pastikan kartu tidak tertinggal di dalam ketika kita keluar kamar. Karena kalau sampai tertinggal maka kita harus minta kunci baru di resepsionis untuk membukanya.

6. Kran air panas dan dingin.

kran-guide-masSebagai sebuah tempat menginap yang mewah, hotel bintang 4 dilengkapi dengan kran air yang bisa mengalirkan air panas atau air dingin. Kita tinggal memilih apakah mau air dingin atau air hangat. Tentu saja bukan air panas, karena air panas tidak bisa diterima kulit kita. Dan biasanya kita sering terkecoh dengan bagaimana posisi kran agar mengalirkan air dingin dan bagaimana agar mengalirkan air panas. Banyak yang akhirnya keliru. Maksudnya ingin air dingin eh keluarnya air panas. Pada kran ada tanda bulatan dengan warna biru (kanan) dan merah (kiri). Kalau kita arahkan tuas kran ke kanan maka akan mengalir air dingin. Dan sebaliknya jika tuas diarahkan ke kiri maka akan mengalir air panas. Kuncinya yang sebagai patokan adalah tuas yang kita pegang, bukan ujung tuasnya.

7. Pastikan pasang alarm untuk bangun di pagi hari

Bagi kita yang terbiasa bangun karena melihat alam sudah terang, maka kalau menginap di hotel bintang 4 maka perlu pasang alarm. Kenapa? Karena kalau korden sudah tertutup rapat maka kita tidak akan tahu apakah di luar sudah terang atau belum. Makanya jangan heran kalau ada orang yang bangun kesiangan akibat menginap di hotel bintang 4. Hehehe…

Mungkin itu hal-hal yang mungkin terasa asing bagi sebagian kita dan perlu ada yang memberitahukan. Padahal kadang kita merasa gengsi bertanya karena takut disebut katrok atau kuno. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa membantu bagi yang membutuhkan informasi seputar hal-hal asing di hotel bintang 4.

Oya berhubung catatan bimtek mulai hari kelima sampai hari ketujuh ini tidak sempat saya tulis maka anggap saja ini sebagai penggantinya. 😀

Menjadikan Kritik Seenak Kripik

Kritik. Tidak semua orang suka. Bahkan beberapa sangat anti terhadap yang satu ini. Kritik sebagaimana kita pahami adalah suatu perkataan yang ditujukan kepada kita terkait suatu hal yang tidak benar dari diri kita dan perlu diluruskan. Tentu motif kritik pada asalnya adalah untuk perbaikan. Jika ini motifnya maka kita perlu mengapresiasi sang pengkritik alih-alih merasa tersinggung. Karena dengan adanya kritik, maka akan membantu pengembangan diri kita. Tetapi ada juga orang yang mengkritik dengan motif untuk menjatuhkan harga diri seseorang di depan umum, selain itu sekaligus untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dia lebih baik dari yang dikritik. Nah kalau sudah begini maka kritik tidak lagi membangun, tetapi justru akan mematikan karakter seseorang. Perlu dihindari model kritik yang seperti ini.

Selain dari motifnya, efektifitas kritik juga ditentukan oleh situasi dan kondisi. Hindari memberi kritik di depan umum berkaitan kritik pribadi seseorang. Hal ini akan kontraproduktif dengan fungsi kritik. Selain itu kritik juga perlu disampaikan dengan cara yang santun, tidak terkesan menghakimi dan menyudutkan. Kritik bagaimanapun juga pada awalnya akan menyebabkan hati panas dan tak jarang membuat kita tidak suka kepada si pengkritik. Nah bagaimana caranya agar kritik yang kita terima dapat kita rasakan seenak kripik? Mari kita bahas bersama.

1. Persiapkan diri menerima kritik

Mempersiapkan diri artinya kita siap menerima kritik seberapapun pedasnya kritik tersebut. Setiap kali ada kritik kita selalu siap menerimanya dengan lapang hati. Tapi masalahnya kritik kadang datang tanpa diduga dan tidak pandang tempat dan waktu. Untuk itu kita perlu membuka hati dan menyadari bahwa kita manusia sangat berpotensi salah. Dengan kesadaran seperti ini maka kita akan siap menerima kritik kapanpun itu.

2. Dengarkan kritik sebagaimana mendengarkan cerita

Anggap saja setiap kritik yang kita terima sebagai cerita. Anggap si pengkritik sedang memberikan kritiknya kepada orang lain, tetapi disampaikan melalui kita. Dengan demikian kita akan meminimalisir rasa sebagai tersangka dan tertuduh. Barulah nanti ketika kita sudah bisa memahami isinya, kita terapkan kritikan itu kepada diri kita. Memang kita terlahir dengan sikap refleks defensif (mempertahankan diri) dalam menanggapi hal yang menyerang kita. Terlebih dalam menghadapi kritik, tentu saja reaksi kita adalah menyangkal kritik tersebut secepat mungkin, sesegera yang kita bisa. Tapi tentu saja hal ini akan menyebabkan sang pengkritik merasa menghadapi batu karang dan mungkin tidak akan melanjutkan kritikannya. Dan akhirnya kita tidak akan mendapat versi lengkap kritikan tersebut dan tentu akan membuat diri kita dianggap anti kritik.

3. Ucapkan terimakasih kepada si pengkritik

Alih-alih kita menunjukkan sikap defensif ada baiknya kita ucapkan terima kasih kepada si pengkritik. Terima kasih atas saran yang diberikan dan atas waktu yang diluangkan untuk memberikan kritik kepada kita. Anggap itu sebagai sebuah bentuk kepedulian dia kepada kita. Karena tidak setiap orang mau memberikan kritik. Entah karena tidak kenal atau karena tidak peduli.

4. Pahami dan renungi isi kritikan lalu pahami keadaan kita dan laksanakan

Pahami dan renungi isi kritikan lalu lihatlah diri kita. Apakah memang yang disampaikan itu benar sesuai keadaan kita atau hanya persangkaan si pengkritik saja. Tapi kita harus jujur pada diri sendiri. Tidak perlu defensif. Jikamemang kritik itu sesuai keadaan kita maka ada baiknya kita laksanakan. Tapi jika memang hanya persangkaan saja maka tidak perlu menjadi beban. Tak perlu juga  menganggap si pengkritik mengada-ada dan hanya ingin menjatuhkan kita.

Nah itu dia empat hal yang akan membuat kritik seenak kripik. Semoga kita menjadi orang-orang yang terbuka terhadap kritik. Hati-hati dengan sikap defensif yang justru akan merugikan diri kita sendiri dan bisa menjadikan diri kita dianggap anti kritik. Kalau bisa seenak kripik kenapa juga kritik dibuat pahit? Kan? 🙂

Negeriku dan Kasut Kusutku

Bicara negeriku bicara kasut kusutku

Lihatlah kusutnya kasutku seperti karut marutnya negeriku
Tapi tak bisa kutinggalkan kasutku sebagaimana negeriku

Lihatlah kasut kusutku penuh dengan sobekan sana sini
Seperti negeriku yang dicabik-cabik tetikus berdasi

Lihatlah tambalan-tambalan yang menghias
Selayaknya mulut-mulut kotor penguasa, membalut kebohongan dengan citra

Kasut kusutku yang malang tapi kucinta
Takkan dapat ku berjalan tanpamu
Biar lusuh kumuh tapi tak dapat kutinggalkan

Kasut kusutku seperti negeriku
Apa adanya tetap kuterima

Hanya saja aku masih setia berharap
Jayalah negeriku

Catatan BIMTEK hari ke-empat : Program PBK dan Kopi Salak

Hari keempat bimtek, bertepatan Jumat 25 April 2014 yang mana hari dibukanya pameran potensi daerah Kabupaten Sleman. Materi hari ini adalah menyusun program PBK (pelatihan berbasis kompetensi). PBK adalah pelatihan dimana kompetensi menjadi kunci utama keberhasilan siswa, sementara waktu pelatihan bukan menjadi tolok ukur utama. Jadi dalam PBK tujuan utamanya adalah siswa mampu menguasai materi yang diajarkan, entah itu cepat atau lambat. Artinya ada siswa yang bisa dengan cepat menguasai materi dan ada juga yang lambat. Tetapi ini tidak menjadi masalah, yang penting hasil akhirnya semuanya bisa kompeten. Jadi tidak benar jika PBK ini dibatasi oleh waktu semisal 160 JPL atau 240 JPL atau jumlah jam yang lebih banyak. Di satu sisi PBK ini akan lebih membuat motivasi belajar semakin tinggi. Tetapi karena waktu yang tidak dibatasi maka instruktur akan kesulitan bila ada siswa yang sangat lambat belajar, karena waktu belajar menjadi lama. Pada akhirnya PBK tidak sepenuhnya diterapkan. Yang diterapkan adalah dalam jangka waktu terbatas, siswa dituntut untuk menguasai semua materi. Nah ini menjadi tantangan bagi instruktur bagaimana dalam waktu terbatas bisa membuat semua siswa kompeten.

Kembali pada Pokok pembahasan PBK ini adalah membahas bagaimana menyusun suatu program pelatihan lengkap dengan nama program, kode unit, tujuan, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, indikator unjuk kerja dan materi. Tidak begitu sulit sebenarnya, tetapi cukup ribet untuk dibilang mudah. Materi ini merupakan materi lanjutan hari kemarin. Materi haari ini menjelaskan materi kemarin dan membahas dengan lebih detail. Jika dikaitkan dengan kehidupan maka semakin kita mem-breakdown rencana hidup kita dengan terinci maka semakin mudah kita menjalani kehidupan. Kita sudah punya acuan-acuan dalam bertindak. Ada indikator keberhasilan sehingga ketika ada yang belum tercapai maka kita akan sesegera mungkin melaksanakannya. Ada rincian waktu sehingga target-target dalam hidup dapat tercapai sesuai dengan rencana atau setidaknya hampir sesuai rencana. (bahasan tanggung… maaf..soalnya harus segera beralih ke mengerjakan tugas… hehehe..)

Topik yang selanjutnya adalah Kopi Salak. Lah apa hubungannya PBK dan Kopi Salak? Memang tidak ada kaitan langsung, karena kaitannya harus melalui saya. Hehehe… Kopi salak agaknya menjadi sesuatu yang hampir setiap hari ditanyakan pada saya. Kok bisa? Gara-garanya saya sempat keceplosan mempromosikan kopi salak saat perkenalan di awal dulu. Nah dari situ akhirnya banyak yang tertarik dan penasaran. Sayapun menjelaskan sedikit tentang kopi salak. Akan saya bahas di lain waktu saja mengenai detail kopi salak. Dan sampai sekarang masih ada juga yang menanyakan. Jangan-jangan ke depan jika bertemu dengan mereka lagi yang dikenal dari saya adalah kopi salak. Hahahaha.. Biar saja, siapa tahu bisa menjadi ladang bisnis baru.. Aamiin.. Dan akhirnya ini saja yang bisa saya laporkan langsung dari ruang Orchids, The Sahid Rich Yogyakarta.

Catatan Bimtek Hari Kedua dan Ketiga : Merancang Kurikulum Kehidupan

Setelah hari kedua tidak bisa memposting kegiatan bimtek, lelah sangat sodara-sodara, maka di sisa waktu pelatihan hari ketiga saya kembali menuliskan catatan singkat hasil kontemplasi dari bimtek. Dua hari ini, kemarin dan hari ini mengawali pembahasan kerja kelompok serta presentasi dengan materi kurikulum dan TNA (training need analysis).

Cukup menarik kiranya membahas kedua hal ini karena mencoba merancang sesuatu yang akan diterapkan kepada orang lain. Kurikulum sebagai acuan dalam merancang kegiatan pembelajaran, menjadi hal yang pokok agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan output yang sesuai dengan harapan. Merancang kurikulum tidak semudah bayangan kita, namun sekaligus tidak juga terlalu rumit. Yang penting kita tahu pokok-pokok bahasan apa yang ingin kita capai untuk kemudian menuliskan hal-hal apa saja yang dapat mengantarkan kepada apa yang kita inginkan. Sehingga nantinya kita bisa mengontrol jika apa yang berjalan melenceng dari apa yang sudah dicanangkan.

Demikian hidup kita. Kita perlu merancang kurikulum kehidupan kita. Merancang tujuan hidup untuk kemudian menentukan langkah-langkah apa saja yang perlu kita laksanakan agar tujuan hidup kita tercapai. Kita juga perlu kontrol jika ternyata ada langkah yang agak melenceng agar segera kembali ke jalur yang benar. Kurikulum kehidupan boleh jadi berbeda antara satu orang dengan yang lain, karena kurikulum kehidupan ini harus disesuaikan dengan keadaan yang ada. Namun yang jelas tujuannya hanya satu. Tercapainya tujuan hidup kita.

Materi hari ini, hari ketiga adalah mengenai TNA atau analisa kebutuhan pelatihan. Yaitu menganalisa potensi-potensi yang dimiliki oleh suatu daerah untuk kemudian menentukan pelatihan apa saja yang perlu diadakan untuk mengangkat derajat hidup masyarakat. Dalam TNA ini perlu menghubungkan satu kondisi dengan kondisi yang lain sehingga tercipta suatu formula yang menyeluruh. TNA tidak boleh hanya mempertimbangkan dari satu segi saja, semisal hanya berdasar jumlah penduduk saja. Tetapi juga harus dikaitkan dengan hal lain, semisal proporsi jenis kelamin, tingkat pendidikan, lokasi, peta geografis dan lain-lain. Jadi harus menyeluruh.

Demikian juga dalam hidup kita, kita perlu menganalisa diri kita. Apa saja kelebihan dan apa saja kelemahan kita sehingga kita bisa meramu bagaimana akan menjalani hidup ini. Analisa potensi kita akan membantu dalam meraih kesuksesan dalam hidup.

Ngeplak, mempersiapkan kegagalan mendidik anak

Belum lama ini saya menjumpai suatu kejadian yang membuat miris hati saya. Seorang ibu yang ngeplak (memukul kepala dengan tangan) anaknya yang berusia 4 tahun karena tidak segera bergegas menyelesaikan mandi. Sebelumnya dengan nada ketus ia berpesan kepada anaknya “ Jangan masuk ember sebelum adikmu mandi… “. Kemudian setelah adiknya mandi, barulah si anak ini mandi. Rupanya ia sangat menikmati berendam di bak mandi yang penuh air hangat. Namun agaknya hal ini tidak menjadi kehendak si ibu. “ Dari tadi kok belum selesai-selesai juga “ teriak si ibu sambil mendekati si anak. Tanpa diduga terjadilah momen yang membuat saya miris.

“PLAK”. Tangan si ibu begitu terampilnya memukul kepala si anak (bagian belakang). “ Bodoh kamu, Kapan mau pintar mandi saja tidak bisa.. “ hardik si ibu sementara si anak menahan untuk tidak menangis atas perlakuan ibunya. Si anak tidak berani menangis karena jika menangis justru akan dipukul lebih keras lagi. Lalu dengan kasarnya si ibu menyabuni anaknya dengan cepat kemudian mengguyurkan air ke seluruh tubuh si anak mulai dari kepala.

Melihat kejadian ini membuat saya banyak merenung. Terlalu banyak hal yang saya khawatirkan, tidak hanya sekarang tetapi jauh ke depan. Memang sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa dengan si ibu apalagi si anak tersebut. Keluarga bukan, kenal juga tidak. Tetapi saya mencoba mengambil pelajaran dari apa yang saya lihat di sekeliling saya.

Sebuah pukulan. Entah itu hanya sekali atau berkali-kali pasti akan memberi bekas di hati anak. Si anak akan merasa tidak disayangi oleh orangtuanya. Tidak hanya sampai disitu, akan timbul kebencian dalam hati anak terhadap orang tuanya yang berlaku kasar demikian. Untuk saat ini bisa jadi si anak hanya diam, menahan segala bentuk perlakuan kasar yang diterimanya. Tetapi ingat bahwa anak akan merekam perbuatan tersebut untuk jangka waktu lama, mungkin seumur hidupnya. Dan bisa jadi suatu saat ketika si anak telah tumbuh dewasa dan tidak lagi banyak bergantung kepada orangtua maka ia akan melakukan pembalasan. Ya, pembalasan. Bukankah selama ini ia tidak merasa bahwa orangtuanya sayang padanya. Bukankah selama ini orangtuanya berlaku kasar kepadanya. Di sini saya tidak dalam posisi membenarkan apa yang mungkin dilakukan oleh si anak membalas perlakuan orang tua. Bagaimanapun seorang anak wajib hukumnya berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya entah seperti apa orang tua itu. Saya lebih menekankan kepada orang tua tersebut bahwa jika suatu saat anak berlaku kasar kepadanya maka tidak perlu kaget dan menyalah-nyalahkan anak yang tidak mau berbakti. Hal ini tentu juga dimaklumi dalam masyarakat kita ketika ada anak yang berlaku kasar kepada orangtua dikarenakan orangtuanya juga berlaku kasar dalam mendidik si anak. Sekali lagi ini bukanlah pembenaran melainkan permakluman.

Selanjutnya, saya berpikir apakah yang menyebabkan si ibu berlaku demikian? Apakah memang wataknya yang kasar? Atau karena lelahnya tubuh dan fikirian akibat banyaknya pekerjaan yang mesti ia tanggung? Atau karena kekesalan kepada suaminya yang dilampiaskan kepada si anak? Banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya. Tapi bukankah seorang ibu itu memiliki kesabaran yang ekstra, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan ayah. Saya sering membaca cerita heroik bagaimana seorang ibu membesarkan anaknya penuh dengan kesabaran, bahkan kesabaran yang super. Tapi melihat kejadian seperti itu saya jadi berpikir, apakah ada yang salah dengan si ibu. Apakah suaminya tidak mengetahui cara mendidik anak si ibu, ataukah memaklumi perbuatan si ibu karena si suami sudah terlalu lelah dengan urusan pekerjaannya? Yang pasti berlaku kasar bukanlah cara mendidik yang baik dan benar apapun alasannya. Bagaimana mungkin mengajarkan kelembutan dengan kekasaran. Bagaimana pula mengajarkan kesabaran jika si ibu saja tidak bisa sabar.

Wahai ibu dan ayah, serta setiap kita yang mengaku sebagai orangtua, mari kita evaluasi lagi bagaimana cara kita mendidik anak. Sudahkah cara mendidik kita lebih mendekatkan anak kepada kebaikan atau justru memberi peluang anak untuk menjadi bengal. Kita memang bisa menuntut anak untuk berbakti kepada kita dengan berbagai dalil. Namun kiranya tidak adil jika kita tidak menempatkan diri sebagai orangtua yang pantas untuk diberi bakti tersebut. Berlaku sabar dan lembut memang bukan sesuatu yang mudah. Tetapi hanya itulah cara yang paling baik dalam mendidik anak. Ketika kita bahagia dengan kehadiran anak, maka seperti itulah seharusnya perasaan kita ketika mendidik anak. Yuk kita memantaskan diri menjadi orang tua yang hebat.