Akad Nikah itu Seperti Saklar…Tunggu sampai “KLIK”

Sudah jamak fenomena di tengah masyarakat kita, ketika seorang wanita sudah dilamar oleh seorang laki-laki, apalagi kedua keluarga sudah saling bertemu dan sepakat, maka seolah-olah sudah ada ikatan antara laki-laki dan wanita tersebut. Ikatan yang secara tidak langsung seperti memberi sinyal lampu hijau bagi keduanya untuk bepergian berdua, untuk beraktifitas berdua dan memiliki hak dan kewajiban tertentu. Banyak diantara mereka (kedua keluarga) merasa biasa-biasa saja ketika si laki-laki mengajak pergi si wanita, toh sebentar lagi mereka akan menikah. Rasa was-was seakan sudah sirna lantaran sudah ada tembung (pembicaraan serius- lamaran red.). Bahkan tak jarang malah orangtua laki-laki mendesak agar sering berkunjung ke pihak wanita, minta didampingi ketika ada acara keluarga atau pergi ke walimahan. Sekali lagi berpedoman bahwa sudah ada tembung tadi.

Padahal sejatinya dalam Islam, hal tersebut belum menandai apapun, selain bahwa si wanita sudah tidak boleh dilamar oleh pihak lain. Sedangkan hal-hal lain masih berlaku sebagaimana mereka adalah dua orang yang asing, meskipun sudah kenal. Keterasingan ini membawa konsekuensi bahwa mereka belum boleh berduaan, berboncengan, atau bepergian berdua. Pun belum pula melekat hak dan kewajiban. Tidak ada kewajiban bagi laki-laki mengantar si wanita ke acara keluarga atau walimahan atau sekedar jalan-jalan. Juga tidak ada hak untuk meminta didampingi dalam suatu acara atau meminta perhatian lebih. Intinya belum ada hak dan kewajiban sebagaimana ketika sudah menikah.

Khitbah dan atau tunangan tidak lantas membuat hubungan menjadi setengah halal. Tidak lantas ada toleransi untuk berduaan, bermesraan dan aktifitas mesra lainnya juga belum ada kewajiban dan hak sebagaimana hidup berumah tangga.  Tidak ada kewajiban calon istri membuatkan makanan bagi calon suami. Tidak ada ceritanya wanita lebih memilih mengantarkan calon suami ke pernikahan sementara di waktu bersamaan sang ayah meminta untuk mengantarkan ke tempat saudara. Khitbah dan atau tunangan adalah sebuah tahap dimana kedua pihak secara serius ingin melangkah ke tahap yang lebih tinggi yaitu terwujudnya pernikahan dan hidup berumah tangga.

Akad nikah yang menjadi tonggak penting memulai hidup berumah tangga ibaratnya sebuah saklar. Ketika saklar itu belum klik maka segala sesuatu itu masih gelap. Artinya masih dilarang. Apapun itu yang dilarang dikerjakan dalam hubungan seorang laki-laki dan wanita masih berlaku. Khitbah dan atau tunangan ibaratnya baru sekedar meletakkan tangan di atas saklar, hendak meng-klik. Namun sama sekali belum klik. Sehingga segala aturan tentang hubungan laki-laki dan wanita masih tetap berlaku. Nah ketika akad nikah sudah terucap, barulah saklar itu berubah posisi. Setelah memastikan ada tanda klik, ada penyataan sah dari saksi, maka kedua insan laki-laki dan wanita sudah sah menjadi pasangan suami-istri. Di sana mulailah melekat hak dan kewajiban. Wanita berhak untuk meminta laki-laki mengantarkannya ke manapun. Laki-laki juga berhak untuk didahulukan atas siapa saja oleh si wanita. Dan tidak berdosa ketika mereka saling bercanda, berpelukan dan aktifitas mesra lainnya. Tentu dengan memperhatikan adab dan tata cara yang sesuai dengan ajaran agama.

Namun sayang, bahwa hal ini tidak banyak diperhatikan baik oleh laki-laki dan wanita maupun oleh kedua keluarga. Agaknya arus westernisasi sudah banyak meracuni pemikiran masyarakat. Pergaulan bebas seakan sesuatu yang lumrah. Pacaran sesuatu yang wajar, bahkan ada yang khawatir jika tidak pacaran. Padahal sudah banyak kisah-kisah pedih yang kita dengar, kita baca akibat adanya pergaulan bebas ini, gaya pacaran yang kebablasan dan sikap orang tua yang kian permisif.

Mari kita ingatkan saudara kita, teman kita dan lingkungan kita untuk senantiasa menjaga pergaulan agar tetap dalam koridor yang sesuai dengan norma-norma agama. Kita mesti bangga punya jati diri sebagai bangsa timur yang memiliki etika dan sopan-santun. Selalu kita ingatkan bahwa Khitbah dan atau Tunangan tidak menjadikan suatu hubungan menjadi setengah halal.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s