GAGAL TA’ARUF, SALAH SIAPA?

Taaruf adalah suatu proses untuk saling mengenal antara laki-laki dan wanita yang dilakukan dalam koridor syar’i dan bertujuan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius (pernikahan). Jadi taaruf bukanlah sebuah penghalus kata bagi mereka yang berpacaran tetapi tidak mau disebut berpacaran, sebagaimana yang sering dipertontonkan oleh tayangan sinetron yang (katanya) bertema religius.

Taaruf merupakan sebuah proses yang bisa membuat deg-degan sekaligus dapat menimbulkan dilema. Deg-degan ketika siapa yang dita’arufi ternyata sesuai dengan keinginan kita, masuk dalam kriteria kita dan kita berharap-harap cemas apakah diterima atau ditolak. Tapi di sisi lain juga dapat memunculkan dilema ketika kita harus menolak dikarenakan tidak ada rasa sreg sementara si dia mengharapkan kita. Sebagaimana sebuah proses, taaruf tidak selalu berjalan dengan lancar. Ada saja hal yang membuatnya gagal.

Hasil dari sebuah taaruf setidaknya mencakup empat hal :

1. Diterima, ketika kita merasa sreg dan dia juga merasa sreg.

2. Gagal, dengan kondisi kita yang tidak sreg.

3. Gagal, dengan kondisi dia yang tidak sreg.

4. Gagal, karena kedua belah pihak tidak merasa sreg.

Ketika ta’aruf berhasil maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Karena kedua belah pihak telah sama-sama sreg dan sepakat. Hanya tinggal mengurus kelanjutannya. Juga ketika ta’aruf gagal dikarenakan kedua belah pihak tidak sreg maka persoalan juga selesai. Tidak ada pihak yang merasa tersakiti karena ditolak. Yang jadi permasalahan ada ketika salah satu pihak merasa tidak sreg sementara pihak lainnya sudah sreg. Dalam kondisi ini, tentu akan menimbulkan pertanyaan bagi kita. Apalagi jika sudah berkali-kali ta’aruf dan masih gagal juga. Pertanyaan yang muncul adalah “ada apakah dengan diriku? “ . Ketika berkali-kali kita ditolak maka perlu ditanyakan pada diri sendiri. Apakah memang masih banyak kekurangan pada diri ini, sehingga keadaan diri kita yang sekarang belum cukup untuk sekedar ‘dipertimbangkan’? Ditolak memang menyakitkan, tetapi ketika sudah ditolak ya sudah selesai urusan kita dengan dia. Merasa down itu wajar dan boleh saja, tetapi kita harus segera bangkit. Masih ada beratus-ratus ‘si dia’ yang menunggu kita.

Pun ketika kita dalam posisi selalu menolak setiap kali proses. Perlu ditanyakan pada diri sendiri. Sebenarnya kriteria seperti apakah yang kita inginkan? Haruskah sesempurna kriteria kita? Tidak adakah toleransi terhadap hal-hal yang tidak terlalu prinsip? Atau sebenarnya sudah siapkah diri ini untuk menikah? Jangan-jangan penolakan kita selama ini dikarenakan ketidaksiapan diri ini untuk menerima amanah yang besar. Kita terlalu banyak mengemukakan alasan, mencari-cari hal yang tidak cocok dari si dia, mengutamakan hal-hal yang tidak masuk dalam kriteria kita.  Kalau sudah begini, kegagalan ta’aruf bukan disebabkan oleh siapa-siapa melainkan diri sendiri.

Apabila kondisi kita belum siap secara mental untuk  menikah maka sebaiknya hindari dahulu yang namanya bertukar biodata ( tahap sebelum terjadi ta’aruf ). Berikanlah biodata ketika memang kita sudah siap secara mental untuk menuju jenjang pernikahan. Salah satu ciri kesiapan menuju jenjang pernikahan adalah kesiapan kita tidak tergantung dengan ‘siapa’ yang akan kita nikahi, tetapi lebih kepada ‘yang seperti apa’ yang akan kita nikahi. Cara mengukurnya cukup mudah. Ketika kita jatuh cinta kepada seseorang dikarenakan merasa sesuai dengan kriteria kita, kemudian muncul keinginan untuk menikah, maka tanyakanlah apakah jika tidak dengan dia kita tetap siap menikah atau tidak. Karena dalam beberapa kasus, ada seseorang yang mengatakan sangat siap menikah. Kemudian dia menyebutkan sebuah nama. Tapi ketika ditanya apakah siap jika ternyata jodohnya bukan si pemilik nama itu, ternyata banyak yang jawab masih pikir-pikir. Tapi bagaimanapun ketika kita sudah siap menikah maka berarti kita juga siap untuk mencintai.

NB: mohon maaf saya gunakan kata “kita” dalam artikel kali ini semata-mata agar kita merasa dekat. mohon jangan dimaknai bahwa ‘kita’ berarti kita beramai-ramai dalam proses ta’aruf.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s