Ngeplak, mempersiapkan kegagalan mendidik anak

Belum lama ini saya menjumpai suatu kejadian yang membuat miris hati saya. Seorang ibu yang ngeplak (memukul kepala dengan tangan) anaknya yang berusia 4 tahun karena tidak segera bergegas menyelesaikan mandi. Sebelumnya dengan nada ketus ia berpesan kepada anaknya “ Jangan masuk ember sebelum adikmu mandi… “. Kemudian setelah adiknya mandi, barulah si anak ini mandi. Rupanya ia sangat menikmati berendam di bak mandi yang penuh air hangat. Namun agaknya hal ini tidak menjadi kehendak si ibu. “ Dari tadi kok belum selesai-selesai juga “ teriak si ibu sambil mendekati si anak. Tanpa diduga terjadilah momen yang membuat saya miris.

“PLAK”. Tangan si ibu begitu terampilnya memukul kepala si anak (bagian belakang). “ Bodoh kamu, Kapan mau pintar mandi saja tidak bisa.. “ hardik si ibu sementara si anak menahan untuk tidak menangis atas perlakuan ibunya. Si anak tidak berani menangis karena jika menangis justru akan dipukul lebih keras lagi. Lalu dengan kasarnya si ibu menyabuni anaknya dengan cepat kemudian mengguyurkan air ke seluruh tubuh si anak mulai dari kepala.

Melihat kejadian ini membuat saya banyak merenung. Terlalu banyak hal yang saya khawatirkan, tidak hanya sekarang tetapi jauh ke depan. Memang sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa dengan si ibu apalagi si anak tersebut. Keluarga bukan, kenal juga tidak. Tetapi saya mencoba mengambil pelajaran dari apa yang saya lihat di sekeliling saya.

Sebuah pukulan. Entah itu hanya sekali atau berkali-kali pasti akan memberi bekas di hati anak. Si anak akan merasa tidak disayangi oleh orangtuanya. Tidak hanya sampai disitu, akan timbul kebencian dalam hati anak terhadap orang tuanya yang berlaku kasar demikian. Untuk saat ini bisa jadi si anak hanya diam, menahan segala bentuk perlakuan kasar yang diterimanya. Tetapi ingat bahwa anak akan merekam perbuatan tersebut untuk jangka waktu lama, mungkin seumur hidupnya. Dan bisa jadi suatu saat ketika si anak telah tumbuh dewasa dan tidak lagi banyak bergantung kepada orangtua maka ia akan melakukan pembalasan. Ya, pembalasan. Bukankah selama ini ia tidak merasa bahwa orangtuanya sayang padanya. Bukankah selama ini orangtuanya berlaku kasar kepadanya. Di sini saya tidak dalam posisi membenarkan apa yang mungkin dilakukan oleh si anak membalas perlakuan orang tua. Bagaimanapun seorang anak wajib hukumnya berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya entah seperti apa orang tua itu. Saya lebih menekankan kepada orang tua tersebut bahwa jika suatu saat anak berlaku kasar kepadanya maka tidak perlu kaget dan menyalah-nyalahkan anak yang tidak mau berbakti. Hal ini tentu juga dimaklumi dalam masyarakat kita ketika ada anak yang berlaku kasar kepada orangtua dikarenakan orangtuanya juga berlaku kasar dalam mendidik si anak. Sekali lagi ini bukanlah pembenaran melainkan permakluman.

Selanjutnya, saya berpikir apakah yang menyebabkan si ibu berlaku demikian? Apakah memang wataknya yang kasar? Atau karena lelahnya tubuh dan fikirian akibat banyaknya pekerjaan yang mesti ia tanggung? Atau karena kekesalan kepada suaminya yang dilampiaskan kepada si anak? Banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya. Tapi bukankah seorang ibu itu memiliki kesabaran yang ekstra, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan ayah. Saya sering membaca cerita heroik bagaimana seorang ibu membesarkan anaknya penuh dengan kesabaran, bahkan kesabaran yang super. Tapi melihat kejadian seperti itu saya jadi berpikir, apakah ada yang salah dengan si ibu. Apakah suaminya tidak mengetahui cara mendidik anak si ibu, ataukah memaklumi perbuatan si ibu karena si suami sudah terlalu lelah dengan urusan pekerjaannya? Yang pasti berlaku kasar bukanlah cara mendidik yang baik dan benar apapun alasannya. Bagaimana mungkin mengajarkan kelembutan dengan kekasaran. Bagaimana pula mengajarkan kesabaran jika si ibu saja tidak bisa sabar.

Wahai ibu dan ayah, serta setiap kita yang mengaku sebagai orangtua, mari kita evaluasi lagi bagaimana cara kita mendidik anak. Sudahkah cara mendidik kita lebih mendekatkan anak kepada kebaikan atau justru memberi peluang anak untuk menjadi bengal. Kita memang bisa menuntut anak untuk berbakti kepada kita dengan berbagai dalil. Namun kiranya tidak adil jika kita tidak menempatkan diri sebagai orangtua yang pantas untuk diberi bakti tersebut. Berlaku sabar dan lembut memang bukan sesuatu yang mudah. Tetapi hanya itulah cara yang paling baik dalam mendidik anak. Ketika kita bahagia dengan kehadiran anak, maka seperti itulah seharusnya perasaan kita ketika mendidik anak. Yuk kita memantaskan diri menjadi orang tua yang hebat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s