INSAN-INSAN KECIL

Roda-roda karet berputar menyusuri jalan berlapis aspal. menderu suara mesin menambah bising suasana pagi. Halaman rumput hijau menghentikan laju rodaku.

Pagi yang cerah 1 april 2009 di pelataran sekolah, mentari bersinar tersenyum di balik awan putih yang dengan lembut membalut sinarnya membiaskan cahaya jingga. Indah, menawan dan mempesona. Menyihir siapa saja yang melintas di bawah hangat peluk sinarnya.

Ceria tawa insan-insan kecil nan polos berlari berkejaran menggerakkan syaraf-syaraf motorik agar berkembang dengan baik menyambut hadirku. Dalam sapaan yang lembut dan tanya yang manis menyenangkan hati walau jika ditafsirkan dengan kata lain seolah mengatakan ” tumben”.

Pagi itu, seakan menjadi sejarah. Teringat ketika dulu pertama kali menginjakkan kaki di halaman rumput yang hijau itu. Menatap hari yang lain, yang berbeda, yang akan mengubah diri dan cara pandang dalam hidupku. hari ketika menatap sebuah komunitas baru, cikal bakal sebuah generasi harapan masa depan.Teringat ketika kumerasa tak tahu harus berbuat apa. Ada penolakan dalam diri. Mengutuki diri mengapa harus memasuki wilayah ini. Berpikir jika mungkin aku berlari saja, menjauh pergi. Pagi itu awal yang menjemukan.

Hari berganti hari, ketika rumput yang hijau mulai mengering, menyisakan akar yang tertinggal di tanah untuk kemudian akan tumbuh lagi ketika hujan menyirami bumi. Beginilah cara rumput bertahan hidup. Dia rela untuk mengorbankan sebagian dirinya agar tidak mati seluruhnya. Hati telah berubah seiring waktu yang berlalu ditemani canda tawa insan-insan kecil, ketika harus menghibur ketika mereka menangis, ketika harus bisa bersikap adil diantara mereka, ketika diri mulai menerima. Cara pandang hidup berubah di tengah orang-orang yang idealis, optimis meskipun kalau aku boleh menambah istilah, mereka juga termasuk orang-orang yang spekulatif. Namun semua itu membawaku menjadi lebih baik, lebih tangguh, lebih pandai, dan lebih optimis. Menjadikanku mempunyai idealitas yang selama ini tak pernah aku bayangkan akan melekat pada diriku.

Semua berlalu seakan secepat matahari bersinar sebelum ditelan gelapnya malam, hingga aku terbangun dan kembali menatap rumput di halaman yang sudah menghijau kembali yang berarti waktu telah berlalu sekali lagi membawa ke masa yang berbeda.

Pagi ini aku menatap sekali lagi komunitas itu. Sama masih seperti dulu. Komunitas generasi harapan masa depan yang hebat. Tak terasa mata seakan mengalirkan butiran-butiran air. hari itu dengan hati yang memberontak dan mengutuki kenapa harus pergi di saat hati telah terpaut bersama hati insan-insan kecil itu. Di antara pilihan yang sulit aku harus memilih berpisah. Mengharukan.

Tangis dan air mata insan- insan kecil mengiringi perjalananku menuju belahan bumi jogja yang lain untuk menatap hari baru, tempat baru, rutinitas (membosankan) yang baru. Namun semua memori yang terukir bersama mereka tak akan pernah hilang, terpatri kuat di dalam hati, hidup telah diwarnai oleh segala tingkah insan-insan kecil itu. Berharap suatu hari nanti akan melihat mereka menjadi orang-orang hebat, menjadi pemimpin negeri-negeri ini, membawa perubahan.

Kadang dalam kesendirianku, hati merindukan mereka. Yah tawa ceria dan polos itu menyejukkan hati. Di tempat baru ini, aku bahagia kenangan itu masih tersimpan kuat. toh aku masih bisa mengunjungi mereka, melihat mereka tumbuh menjadi manusia-manusia hebat di tempat yang hebat diasuh oleh tangan-tangan yang hebat pula. Aku akan selalu bersama mereka kapanpun, dimanapun dalam hatiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s