Situasi Politik Yang Kian Memanas : NOTHING TO LOSE AJA…

Ini berbicara mengenai kondisi politik Indonesia yang kian memanas seiring akan digelarnya pemilihan presiden 09 Juli 2014 mendatang, maka tak lepas juga membicarakan tentang debat-debat yang terjadi. Tidak hanya di kalangan elit politik saja, tetapi merambah sampai lapisan terbawah masyarakat. Contoh mudah adalah grup WA (whatsapp) yang saya ikuti, kian ramai ketika membahas tentang dua calon presiden. Beberapa orang berdiri di kubu nomor satu, sementara lainnya di kubu nomor dua. Tapi ada juga yang tidak ikut kubu manapun, tetapi ikut nimbrung mana yang sedang di atas angin. Dan debatpun akan segera menjadi ramai. Apalagi jika salah satu kubu menyerang kubu lain. Dipastikan kubu yang diserang pun akan melakukan perlawanan. Entah itu dengan bertahan atau dengan menyerang balik. Tak jarang menimbulkan situasi panas yang entah kemana arahnya.

Debat menjadi kegemaran sebagian besar masyarakat kita. Saya akui bahwa sayapun sempat terlibat debat di grup WA atau FB. Tapi kemudian saya berpikir lebih jauh, merenung. Apa sih untungnya saya ikut terlibat debat bahkan sampai ngotot? Apa yang ingin saya peroleh? Apakah ingin agar oranglain mengetahui kebenaran yang saya miliki. Apakah ingin agar orang lain berubah pikiran mengikuti pola pikir saya. Dan setelah ini semua (pilpres) selesai apa yang saya dapat. Apakah jika seandainya jagoan saya menang, saya akan mendapat keuntungan yang besar. Atau sebaliknya jika jagoan saya kalah, kemana larinya segudang pembelaan yang selama ini mati-matian saya sampaikan. Padahal jelas, akibat dari debat ini adalah penilaian buruk teman-teman terhadap saya. Boleh jadi mereka berpikir bahwa saya orangnya ngotot, tidak mau mengalah dan memberikan bukti dari sumber-sumber yang tidak valid hanya demi membela jagoannya. Lalu siapa yang rugi?

Saya teringat dengan perkataan Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People yang menyatakan bahwa  “Satu-satunya cara mengambil keuntungan dari debat adalah dengan meninggalkannya (debat-red)”.  Memang benar adanya jika mau merenungkan bersama. Debat , dalam hal apapun, seharusnya merupakan ajang untuk mencari kebenaran dari situasi yang ada. Mencari fakta yang tersembunyi. Debat seharusnya mencari kesepakatakan bagi kedua belah pihak mengenai hal yang dibicarakan. Tetapi sayangnya di masyarakat kita, debat justru menjadi ajang adu argumen, entah itu memang benar atau itu justru salah. Dengan sekuat tenaga kita akan mempertahankan apa yang menjadi keyakinan kita. Kita akan ngotot bahwa apa yang kita katakan paling benar, apa yang kita ketahui paling valid sumbernya dan yang pasti tidak mau mengalah atau menerima argumen pihak lain yang berseberangan. Dan sayangnya, pihak lainpun bersikap demikian. Kalau sudah begini bagaimana mau menghasilkan titik temu? Tak jarang dalam debat itupun sampai menyinggung masalah pribadi teman kita, mengungkit aib yang tak seharusnya disebar. Nah kalau sudah begini yang jadi taruhan adalah hubungan pertemanan yang akan merenggang. Atau paling buruk adalah putusnya hubungan.

Dari hal-hal demikian, saya kemudian memutuskan untuk tidak lagi aktif dalam forum perdebatan ataupun melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan perdebatan. Apalagi ini ‘hanya’ masalah politik yang tentu kita semua paham bahwa dalam politik tidak ada lawan atau kawan abadi. Bisa jadi mereka yang kita bela mati-matian sampai mengorbankan hubungan kita dengan teman-teman, eh suatu saat menjadi akrab karena kepentingan yang sama. Apakah lantas mereka akan membantu memulihkan persahabatan kita. Mungkin terkesan apatis, tetapi ijinkan saya menyampaikan kesimpulan saya, bahwa siapapun nantinya yang akan jadi presiden, tidak akan terlalu berpengaruh kepada kehidupan kita sebagai individu. Kalau kita tidak bekerja ya kita tidak makan. Jangan berharap mereka lantas memberikan makan.  Lagian ini bukan masalah yang pokok dalam kehidupan sehingga kita harus keukeuh dengan apa yang kita yakini. Sekali lagi bersikap nothing to lose bagi saya merupakan suatu pilihan yang logis. Tentu saya juga punya kecenderungan kepada salah satu pasangan calon, tetapi biarlah itu saya ekspresikan di bilik suara. Untuk saat ini, diam agaknya lebih baik daripada debat tiada manfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s