Gemetar? Jangan keluar dong…Namanya juga pengalaman pertama…

Semalam tidak seperti biasanya saya kedatangan tamu, atau lebih tepatnya dimintai tolong ikut menghitung uang infak masjid. Sembari menghitung terjadilah obrolan-obrolan ringan antara kami. Seperti biasa saya lebih senang untuk mendengarkan daripada berbicara, maka saya pun melakukan pancingan agar si dia mau bercerita banyak. Seperti obrolan kami yang sok setengah serius, maka malam itu membahas tentang pengalaman menjadi imam sholat.

“ Lha mas Wan itu kan cocok jadi imam sholat… “ umpanku padanya. Umpanan yang saya rasa sangat menarik baginya untuk ditanggapi.

“ Dulu itu pernah aku diminta jadi imam.. Imam sholat subuh.. Tapi ternyata kakiku gemetar, terus keluar deh.. “ jawabnya.

“ Keluar pas apa itu? “ lanjutku

“ Pas bacaan al fatihah… lha gimana lagi wong rasanya gemetar, daripada nanti tidak bisa menyelesaikan tugas mendingan keluar aja… “ sambungnya.

“ Lhah… emang kenapa kok sampai gemetar..? “ tanyaku.

“ Ya gimana ya.. aku merasa minder kalau jamaahnya ada yang lebih pantas, lebih bagus bacaannya.. mending jadi makmum saja.. Lha kalo mas Rif baru cocok.. Kata pak Dur, mas Rif ini pembawaannya tenang.. Jadi tidak terlihat grogi atau gimana… “ agak terkejut saya mendengar kalimat terakhir ini. Ternyata saya di mata pak Dur terkesan tenang. Padahal sejatinya…😀

“ Ya wajar mas, itu kan pengalaman pertama.. “ hiburku.

“ Lha iya, tapi sejak itu aku jadi tidak berani kalau disuruh jadi imam… “lanjutnya.

================================================================================

Oke. Kita penggal saja sampai disitu dialognya. Dan mari kita bicarakan bersama. Kita akan bicara tentang pengalaman pertama. Tentu saja bagi sebagian orang, pengalaman pertama menjadi sesuatu yang tidak akan terlupakan. Entah karena menjalaninya butuh perjuangan yang berat atau meninggalkan kenangan yang manis. Dialog saya dan kawan saya kebetulan membahas pengalaman menjadi imam sholat. Sebuah pengalaman yang tentu akan berbeda antara satu orang dengan yang lain. Dan pengalaman kawan saya tersebut rupanya menjadi sebuah pengalaman yang kiranya sulit disebut kenangan yang manis. Bagaimana tidak, akibat pengalaman pertama itu dia menjadi takut jika diminta menjadi imam. Dan sepanjang saya mengenal dia, seingat saya belum sekalipun dia menjadi imam sholat.

Mohon maaf, tiada berniat untuk sombong atau apa, mungkin pengalaman saya sedikit berbeda endingnya dengan kawan tersebut meskipun prosesnya tidak jauh beda. Makanya saya agak terkejut jika ada yang menilai saya berpembawaan tenang jika diminta jadi imam. Tapi mungkin itu karena saya bisa menguasai emosi saya sehingga dari luar terlihat tenang. Padahal ya grogi, gemetar, takut salah itu pernah saya alami.

Pernah suatu kali saya diminta menjadi imam sholat subuh. Sebenarnya bukan pertama kalinya sih, tetapi entah mengapa kali itu kaki saya gemetar hebat. Keringat dingin mengucur. Suara menjadi berat dan serak, seolah kalimat-kalimat enggan keluar dari rongga mulut saya. Tapi sekuat tenaga saya bertahan, berkonsentrasi dengan bacaan saya. Memang kali itu saya memilih bacaan yang baru saja saya hafalkan. Dan ternyata rasa takut salah, padahal belum tentu juga ada yang menghafalkan ayat tersebut, terus menghantuiku. Duh gimana nih kalau salah, begitu pikir saya. Mungkin salah saya juga sih memilih ayat yang belum lancar, kan belum lama dihafal. Tapi saya pikir masak ya jadi imam sholat subuh bacaannya pendek-pendek. Pernah saya menjadi jamaah sholat subuh, imam baca surat al-ikhlas di rakaat pertama dan an-nas di rakaat kedua. Dan penilaian saya, kurang berkelas. Memang tetap sah, tetapi sunnahnya kan bacaannya yang panjang. Tapi juga jangan terlalu panjang. Pernah saya menjadi jamaah sholat subuh sewaktu di Cidurian, Bandung. Sholat subuh 20 menit paling cepat baru selesai. Ya Allah lamanya sampai pegal hati.. Kok panjang beneeeer suratnya. Bayangkan saja surat-surat di Juz 26-27 kan panjang-panjang. Itu bacanya satu surat penuh, bukan sepenggal-sepenggal.

Kembali ke cerita awal. Siapa sih yang belum pernah grogi saat penampilan pertama? Siapa sih yang belum pernah salah ketika mencoba? Sebenarnya kalau kita menghadapinya dengan lebih santai maka grogi itu akan sedikit terkurangi, rasa takut salah itu tak lagi perlu ada. Asal kita tahu bahwa orang yang memberi kesempatan kepada kita untuk belajar, pasti juga sudah siap dengan konsekuensi bila kita salah. Karena kesalahan saat pertama kali melakukan adalah hal yang sangat wajar. Kaitan dengan menjadi imam, asalkan syarat rukun terpenuhi maka tidak apa-apa. Ketika terlupa bacaan surat, atau tersalah maka yakinlah ada yang akan mengkoreksinya. Dan tidak sepantasnya pengalaman tidak enak di kesempatan pertama menjadikan kita kapok. Kalau kita kapok, bagaimana mau belajar. Kalau yang muda tidak mau belajar, bagaimana regenerasi mendatang. So, marilah kita sikapi pengalaman pertama dengan santai saja. Anggap itu adalah sebuah tantangan yang mesti kita menangkan. Dan ini, sssstttt, rahasia saya jika disuruh melakukan apapun yang belum pernah saya lakukan. ANGGAP sebagai SEBUAH TANTANGAN. Dan karena saya tipe orang yang tidak mau menyerah, maka tantangan itu adalah sesuatu yang mesti saya menangkan.😀 Soal hasilnya, tidak masalah baik atau masih jelek, toh masih ada kesempatan lain lagi. Asal kita mau mencoba, insya Allah akan ada jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s