Kerjasama Cinta (2)

Bagian kedua dalam membicarakan kerjasama cinta. Apa itu kerjasama cinta? Yaitu kerjasama yang apik nan cantik antara suami dan istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga mulai dari urusan kecil sampai urusan besar. Kerjasama cinta bukan berarti semua pekerjaan dikerjakan secara bersama-sama, pun tidak mendikotomi (memisah-misah) pekerjaan secara tegas. Dalam kerjasama cinta semua pekerjaan adalah tanggung jawab bersama. Meskipun kita masih menganut dikotomi pekerjaan antara suami dan istri, tetapi hendaknya tidak berlaku kaku. Suami bertanggungjawab terhadap pekerjaan rumah yang berat-berat, sementara istri bertanggung jawab terhadap pekerjaan di dalam rumah. Tetapi hal itu tidak lantas membuat sekat yang jelas. Artinya , ketika istri mengerjakan tugas yang memang menjadi tanggung jawabnya , maka suami tidak lantas berdiam diri. Ketika istri terlihat kerepotan maka suami mau membantu.

Kerjasama cinta tidak saja akan membuat kedekatan antar keduanya semakin lekat, tetapi juga akan menampilkan harmonisasi dalam keluarga. Apalagi jika sudah memiliki anak maka keteladanan orangtua dalam bekerja sama akan membuat si anak mau dan suka membantu orang tua. Kerjasama ini tidak hanya berlaku dalam hal pekerjaan rumah saja. Bahkan yang lebih dari itu, misal dalam hal pengasuhan anak. Suami dan istri masing-masing punya peran yang penting. Kekompakan kedua orangtua akan mempermudah anak dalam mempelajari kehidupan. Sebagai contoh kecil, si ibu melarang anaknya makan mie instan. Namun ternyata si ayah justru membolehkan, lebih tidak elok lagi si ayah berpesan kepada si kecil untuk tidak bilang ke ibu kalau makan mie instan. Dari contoh kecil ini, maka akan muncul kebingungan dalam diri anak. Mana yang benar, ibunya atau ayahnya. Juga akan mengajarkan kepada si kecil untuk makan mie instan secara diam-diam, jangan sampai ketahuan ibunya. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan kepada anak ketidak-kompakan kedua orangtuanya. Yang satu melarang hal yang disukai, yang satunya membolehkan. Nantinya ketika dewasa si anak akan cenderung berlindung kepada salah satu dari orangtuanya yang mendukung keinginannya. Selain itu, melakukan hal secara diam-diam mengajarkan untuk tidak jujur dan tidak terbuka. Nantinya ketika dewasa, sang anak akan melakukan hal-hal yang disukainya, meskipun terlarang, asalkan tidak ketahuan orang lain.

Dalam kerjasama cinta, yang menjadi tujuan utama bukanlah bagaimana agar pekerjaan menjadi lebih ringan, tetapi lebih dari itu adalah untuk meraih Ridha Allah. Bukankah saling membantu antara suami istri mengandung pahala di sana. Boleh jadi suatu saat istri membantu pekerjaan suami demi mengharap ridha Allah. Atau suatu saat lain sang suami membantu pekerjaan istri demi mendapat ridha Allah. Pun ketika tugas itu diambil alih sepenuhnya, maka tiada keluh kesah yang terucap karena menyadari bahwa hal itu termasuk ibadah dan mendapat ridha Allah. Kalau sudah demikian maka kita akan ringan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Tidak ada ceritanya, salah satu merasa lebih lelah dari yang lain. Atau melihat pasangan lebih santai dari kita. Ketika semua dikerjakan bersama-sama dan dilandasi oleh cinta yang bermuara kepada Allah SWT maka insya Allah menjalani kehidupan di dunia ini laksana surga yang diawalkan. Sedangkan nanti di akhirat tinggal melanjutkan surga yang telah dibangun di dunia, bahkan lebih indah lagi. Yuk kita praktekkan kerjasama cinta agar tercipta baiti jannati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s