Merayu Batita Agar Mau Mandi

Memandikan anak yang masih berusia batita (bawah tiga tahun) ternyata gampang-gampang susah. Tidak serta merta ketika kita ingin memandikan, mereka dengan segera dan sukarela untuk mandi. Terkadang butuh waktu yang lama dan perlu pendekatan (rayuan) agar mereka mau mandi. Hal ini disebabkan beberapa hal.

Yang pertama, mereka belum tahu apa itu manfaat mandi. Berbeda dengan kita orang dewasa yang merasa tak nyaman ketika badan kotor dan bau, batita belum menyadari hal tersebut. Bagaimanapun kondisi badannya, mau bersih mau kotor tetap merasa nyaman-nyaman saja. Dengan pemahaman yang seperti itu wajar kiranya jika merekapun tidak segera mau mandi, lha wong masih nyaman-nyaman saja kok.

Yang kedua, batita biasanya sangat menikmati apa yang sedang dilakukan. Apalagi jika sedang bermain, maka tidak mau jika dipaksa untuk melakukan hal yang lain, kecuali hal itu lebih mengasyikkan daripada permainan yang sedang dilakukan. Nah karena hal inilah kita sebagai orang tua harus pandai-pandai ‘mencari akal’ agar batita mau beralih aktifitas.

Yang ketiga, jika batita pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan ketika mandi maka ketika diajak mandi pastinya tidak mau. Batita lebih cepat menanam memori di pikirannya sehingga ketika ada memori buruk maka dia akan taruma dengan hal serupa. Tentu kita pernah mengetahui ada seseorang yang trauma dengan sesuatu dikarenakan semasa kecilnya mempunyai pengalaman buruk mengenai sesuatu itu. Semisal, ada orang yang sangat takut berada di ketinggian karena semasa kecilnya pernah terjatuh saat naik tangga. Hal semacam ini akan lebih kuat terpatri di memori anak karena masa-masa batita adalah masa periode emas.

Nah lalu bagaimana caranya agar anak mau segera mandi? Ini beberapa tips yang mungkin bisa dipraktekkan.
1. Pembiasaan.
Anak terlahir bersih. Mau jadi apa anak kita tergantung bagaimana orangtuanya mengajari. Salah satu cara mengajari anak adalah dengan pembiasaan. Agar anak mudah untuk diajak mandi maka buatlah pembiasaan sejak kecil. Semisal tiap pagi jam 07.00 anak sudah dimandikan dan sore jam 16.00 juga sudah mandi. Maka biasanya anak akan sadar bahwa jam-jam tersebut waktunya mandi dan akan mudah jika disuruh mandi. Tapi tentu saja kita juga tidak boleh memaksakan jika anak sedang sakit sehingga tidak memungkinkan untuk mandi sepagi itu. Tetapi ketika anak dalam kondisi sehat maka pembiasaan itu perlu dilakukan secara disiplin.

2. Rayuan.
Tak jarang butuh rayuan agar anak mau mandi. Seperti yang dinyatakan diatas bahwa anak biasanya akan enjoy dengan apa yang sedang dilakukan, semisal bermain, dan akan sulit dialihkan perhatiannya. Salah satu cara agar perhatiannya teralihkan adalah dengan mengatakan ada hal yang menarik ketika mandi. Atau dengan mengajak bermain dengan mainan yang sedang dipegang tetapi dilakukan di kamar mandi. Sebagai contoh, jika si kecil sedang asyik bermain botol maka kita bisa katakan “ yuk botolnya diisi air, terus buat mengguyur perut.. byur byur byur… “ sambil menatap matanya dan dengan intonasi yang meyakinkan. Atau “ yuk main gelembung sabun lagi…ditiup lalu dor.. “ sambil memperagakan gaya meniup sabun dan gelembung meletus. Insya Allah anak akan lebih mudah diajak mandi.

3. Ajak dengan rayuan yang berbeda.
Adakalanya anak sudah tidak tertarik dengan rayuan yang kita berikan dikarenakan sudah terlalu sering dan bagi anak itu sudah tidak menarik lagi. Maka kita sebagai orangtua mesti pandai-pandai mencari rayuan baru yang lebih asyik dan menarik.

4. Konsisten dengan yang dirayukan.
Yang tidak kalah penting, kita harus konsisten dengan apa yang kita katakan. Ketika kita merayu dengan mengajak bermain sabun maka ketika anak sudah bersedia mandi maka kita harus bermain sabun. Dalam hemat saya, bahkan ketika anak lupa maka kita tetap memainkan sabun. Hal ini lebih kepada bagaimana mengajarkan konsistensi kepada anak. Jangan mentang-mentang anak sudah lupa maka kita tidak menepati janji. Padahal bisa saja anak ingat beberapa waktu kemudian dan minta main sabun. Kan malah lebih repot.

5. Beri pujian.
Jangan lupa memuji anak ketika dia sudah mau mandi semisal dengan mengatakan “ Wah anak bunda pintar sudah mau mandi.. “ Bisa juga ditambah dengan mereview lagi apa yang tadi dilakukan. “ Tadi main apa sayang? Main sabuun, main gelembung.. bunda tiup.. lalu.. dorrrr… “ Biasanya anak akan senang dengan hal tersebut. Juga hal ini mengajarkan kepada anak untuk mengingat apa yang sudah dilakukan. Kalau anak sudah bisa bicara biasanya akan nyambung-nyambung pembicaraan dengan orangtuanya.

Demikian cara yang bisa saya bagikan. Sangat mungkin sekali akan ada cara-cara lain karena setiap anak berbeda dan punya penanganan sendiri-sendiri. Tapi tentu kita sepakat bahwa mengajak anak dengan kelembutan jauh akan lebih efektif daripada dengan paksaan. Jika anak sulit diajak mandi, jangan salahkan mereka, tetapi salahkan orangtuanya yang tidak bisa memberikan alternatif hal yang lebih mengasyikkan dalam rutinitas bernama mandi.

// //

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s