FITNAH mana yang lebih besar dari membunuh ?

Kata fitnah sudah sering kita dengar baik dalam percakapan umum maupun dalam ceramah-ceramah keagamaan. Seringkali para dai menyebut-nyebut kata fitnah dalam berbagai bahasan. Sebagian besar masyarakat kita memahami makna fitnah dengan satu makna saja. Sebagaimana terdapat dalam kamus Indonesia bahwa fitnah adalah menuduh tanpa bukti. Sementara ketika kita berbicara mengenai makna fitnah berkaitan dengan tafsir di dalam ayat Al-Quran atau hadits maka fitnah memiliki beberapa makna yang terkadang berbeda pengertiannya antara satu ayat dengan ayat lainnya.

Sayangnya ketika seorang dai menyebut kata fitnah pasti yang tergambar oleh masyarakat kita adalah menuduh tanpa bukti. Jadi ketika seorang dai menyampaikan hadits “ Seorang pria muslim tidak boleh berduaan dengan seorang wanita muslimah yang bukan muhrimnya karena dikhawatirkan akan terjadi fitnah..” maka akan dipahami dengan “ khawatir difitnah yaitu dituduh berbuat mesum dan sejenisnya”. Padahal makna sesungguhnya adalah “ khawatir terjadi bencana mulai dari yang paling ringan hingga perzinaan.”

Lalu ada lagi yang paling terkenal yaitu “ fitnah lebih kejam dari membunuh”. Dan hampir setiap orang menggunakan penggalan ayat yang terkandung dalam QS. Al-Baqoroh: 217  ini ketika merasa dirinya difitnah atau ada orang lain yang difitnah. Benarkah fitnah dalam ayat ini bermakna menuduh tanpa bukti?

Beberapa makna fitnah dalam Al-Quran

1.Fitnah bermakna kekafiran

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. QS.AL-Baqoroh:217

Kata fitnah di sini menurut para ulama Ahli Tafsir adalah ‘kekafiran’ atau ‘kemusyrikan’. Yaitu bahwa orang-orang kafir itu menyebarkan kekafiran. Dahulu sebagian kaum muslimin –karena belum diberitahu oleh Rasululloh SAW– melakukan kekeliruan dengan memerangi kaum musyrik di bulan suci. Perbuatan mereka itu keliru dalam arti tidak pantas. Namun kekafiran kaum musyrik (fitnah) lebih besar bahayanya daripada kekeliruan berperang di bulan suci. Inilah makna sebenarnya dari ayat tersebut.

Tapi umumnya para dai tidak menjelaskan makna sebenarnya karena beranggapan bahwa masyarakat sudah paham dalam membedakan makna kata fitnah. Alhasil masyarakat mengidentikkan makna fitnah dalam ayat ini dengan menuduh tanpa bukti. Jadilah, “ fitnah lebih kejam dari membunuh” itu dimaknai “menuduh tanpa bukti lebih kejam daripada membunuh”. Ini jelas salah kaprah. Untuk itu bagi seorang dai ketika berdakwah agar lebih berhati-hati di dalam menyampaikan kata-kata bahasa Arab tanpa diterjemahkan dan dijelaskan maksudnya. Agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman karena ketidak mengertian mereka akan bahasa Arab. [insya Allah bersambung…]

[diambil dengan penambahan dan perubahan seperlunya dari majalah Nikah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s