Maaf saya hanya memperjuangkan nasib saya…

Sekitar pukul 10 tadi saya dipanggil untuk ke ruang pimpinan. Entah agenda apa, tapi saya menduga bahwa itu terkait pengajuan angka kredit saya. Begitu masuk ruangan, eh.. kok selain pak kepala ada tim penilai intern. Saya pun duduk dan mulailah pimpinan membicarakan inti pokok permasalahan.

Intinya adalah mempertanyakan dasar saya mengajukan sertifikat uji kompetensi tersebut yang sudah lebih dari satu tahun. Untung saya membawa salinan kesepakatan instruktur yang memang pada poin ke 21 menyatakan untuk bukti fisik yang lebih dari satu tahun perlu diterbitkan surat keterangan dari pimpinan. Nah pertemuan alot itu sebenarnya bertujuan mengemukakan alasan bagi pimpinan untuk menandatangani surat keterangan tersebut yang secara tidak langsung menjadi semacam persetujuan dimasukkan dalam angka kredit. Kenapa saya bilang alot? Ya faktanya satu jam kemudian baru selesai. Tentu pembahasan melebar kemana-mana sampai berpikir ke depan bagaimana jika terjadi gejolak yang sama dengan permasalahan yang serupa.

Dua orang mendukung saya untuk mengajukan sertifikat tersebut disertai argumen dan berpedoman pada KepMenPAN no 36 tahun 2013. Dan pimpinan agaknya bisa menerima dengan mudah. Tetapi ada satu orang lagi yang notabenenya adalah satu kejuruan yang saya rasa tidak menyetujui adanya pemasukan sertifikat ini. Dengan berbagai alasan yang beliau kemukakan intinya dipending dulu (yang artinya tidak usah diloloskan). Dengan adanya pendapat ini pimpinan agaknya menjadi kesulitan. Adu argumen berjalan lama. Saya mirip seperti tersangka yang bicaranya diwakili pengacara saya.

Giliran saya untuk berbicara saya menyampaikan bahwa ketika teman saya mengajukan hal serupa semester sebelumnya dengan tim yang sama kok bisa lolos. Sementara saya kok dipersulit. Mulailah saya mempertahankan pendapat saya didukung oleh dua orang yang membela saya dengan berdasarkan sumber hukum. Dengan tegas saya katakan bahwa jika semester kemarin saja bisa berarti saya juga bisa. Kalau tidak bisa berarti ada sesuatu dan saya berhak protes. Lha wong dasarnya ada kok. Masak hanya berdasarkan asumsi yang tidak berdasar dalam menilai lolos tidaknya. Setelah berjalan satu jam akhirnya pimpinan tanda tangan juga. Sementara raut wajah beliau yang berusaha mempersulit saya kok tiba-tiba mendung. Mungkin masih menyisakan rasa tidak senang pimpinan meloloskan usaha saya.

Saya sebenarnya bukan orang yang suka protes terhadap semua hal. Hanya saja saya terlalu sensitif untuk diperlakukan secara diskriminatif tanpa ada alasan yang bisa diterima. Jelas-jelas posisi saya dan teman saya sama kok, melakukan hal yang sama tapi kenapa diperlakukan berbeda. Kalau saya sih tetap berusaha untuk berkomunikasi dengan baik terhadap beliau. Saya pun juga tidak menjelek-jelekkan beliau di belakang. Tapi saya rasa ada perlakuan berbeda dari beliau terhadap saya dibandingkan teman-teman saya. Apakah beliau salah? Belum tentu juga. Mungkin saja ada hal yang salah pada saya di mata beliau. Tetapi saya selama ini saya menjaga baik hubungan dengan teman-teman sekantor. Tentu sebisa mungkin. Saya tidak pernah membicarakan satu teman di belakang teman lain. Dari situ wajar jika saya merasa bahwa saya baik-baik saja dengan teman-teman. Sekali lagi itu dari sisi saya. Entah dari sisi orang lain.

Lalu kenapa saya begitu mempertahankan hal tersebut (memasukkan sertifikat dalam penilaian) ? Ya karena saya menganggap ada dasarnya. Bukan asal-asalan. Sebenarnya saya tidak masalah jika nantinya dicoret asalkan ada alasan yang lebih kuat dan ada dasarnya. Selama itu tidak ada dasarnya maka saya tetap teguh dengan apa yang saya pahami. Saya berharap bahwa sertifikat tersebut bisa lolos dan diakui sehingga menambah angka kredit saya. Sekali lagi ini berkaitan dengan nasib saya sebagai instruktur. Jadi mohon maaf bagi bapak yang mencoba menghambat saya, saya hanya memperjuangkan nasib saya. Selanjutnya perkara hasil saya serahkan pada Allah SWT karena ketetapan Allah-lah yang terbaik.

4 thoughts on “Maaf saya hanya memperjuangkan nasib saya…

  1. Assalamu’alaykum..
    salam kenal sblmya… saya kbetulan jg mengalami hal yang hampir sama…
    saya dr BLK Kab. Banyumas… BLK yg baru merintis.. hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s