MUMPUNG SYETAN DIBELENGGU

Ramadhan memasuki hari ketujuh bagi yang memulai Sabtu 28 Juni 2014 atau keenam bagi yang memulai Ahad 29 Juni 2014. Sudah seperlima perjalanan kita lalui. Mereguk nikmatnya ibadah di bulan Ramadhan. Tersisa 22 atau 23 hari lagi jatah kita dalam menikmati indahnya Ramadhan. Meski dalam kosakata bahasa Indonesia penggunaan kata tersisa ini tidak tepat tapi semoga dengan memilih kata tersisa 22 atau 23 hari lagi menjadi cambuk bagi kita untuk melecutkan kembali amalan-amalan ibadah di bulan Ramadhan. Bagaimana tidak tercambuk dan terlecut ketika ibadah wajib diganjar berkali lipat, ibadah sunnah-pun berpahala layaknya ibadah wajib di bulan lain bahkan nafas kita pun terhitung tasbih dan setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya. Sungguh sebuah perniagaan yang sangat menguntungkan. Rugi kiranya jika kita tidak bisa memanfaatkan momen ramadhan ini dengan baik.

Momen ramadhan sudah seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk memperbaiki diri. Mumpung syetan-syetan dibelenggu sehingga godaan terhadap kita bisa dikatakan berkurang. Maka tinggal kita melawan diri kita sendiri. Kalau bulan-bulan sebelumnya boleh jadi kita terasa berat melakukan amal ibadah karena kita bertarung melawan nafsu dan godaan syetan maka di bulan suci ini kita tinggal bertarung melawan hawa nafsu kita. Tentu saja kita wajib memenangkan pertarungan ini agar kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Di bulan nan suci ini mari kita paksa diri kita untuk lebih banyak dalam beribadah. Kita wajib memaksa hawa nafsu kita agar takluk. Kita perlu membiasakan diri dalam beramal sehingga kita akan terbiasa dengan amal-amal tersebut selepas Ramadhan. Memang tak bisa dipungkiri bagi kita yang awam bahwa ramadhan bisa dikatakan kondisi dimana keimanan kita meningkat, ibadah sangat bagus dan banyak. Tetapi begitu ramadhan selesai, kualitas dan kuantitas ibadah seakan menurun. Ya mungkin saja kita berdalih bahwa syetan sudah mulai beraksi lagi menggoda kita. Tapi setidaknya amalan ibadah kita harus lebih meningkat dibanding sewaktu belum memasuki ramadhan. Dengan demikian ada jejak yang ditinggalkan oleh ramadhan kepada kita. Jika kita konsisten dengan hal ini maka setiap tahun amalan ibadah kita semakin baik dan semakin banyak. Taruhlah ramadhan sebagai puncak maka bulan-bulan setelah ramadhan grafik ibadah kita tetap menunjukkan peningkatan dibanding sebelum ramadhan. Tidak ada grafik menurun dalam kehidupan seorang muslim, seharusnya.

Memang iman itu yaziidu wa yan qus, artinya bisa naik dan bisa turun. Iman akan naik dengan berbuat amal dan kebaikan. Sebaliknya akan turun ketika kita melakuan dosa dan maksiat. Kita perlu waspada ketika iman kita menurun. Kuncinya kita perlu menyadari bahwa iman sedang melemah. Dengan menyadari hal tersebut setidaknya kita merasa bersalah, kemudian mencoba untuk bangkit dan bisa menuju puncak keimanan lagi. Kita sebagai manusia biasa hanya bisa dan harus senantiasa berusaha untuk menggapai puncak keimanan. Insya Allah, dengan doa dan usaha maka Allah akan menolong kita.

Yuk selagi masih banyak waktu untuk di bulan ini, masih banyak hal yang bisa kita kerjakan. Jangan lengah dan jangan terpedaya. Mari kita isi ramadhan tahun ini dengan baik sehingga kita nanti akan berpisah dengan ramadhan dengan status bersih dari dosa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s