Tayangan HAFIDZ Indonesia, Bikin Malu Aja…

Jumat siang kemarin saya menyetel TV sambil menemani si kecil bermain setelah bangun dari tidur siang. Berbagai channel sudah saya jelajahi untuk menemukan tayangan yang layak untuk ditonton. Memang saya tidak hafal jadwal acara-acara di TV karena bisa dikatakan jarang banget nonton TV. Atau kalaupun sempat nonton juga tidak menikmati. Lebih fokus pada menemani si kecil saja. Siang itu channel TV saya berhenti di sebuah terminal (kayak angkot aja… ) yang menayangkan acara Hafidz Indonesia. Acara yang (kalo istilah saya) melombakan hafalan anak-anak kecil usia di bawah 7 tahun. Dengan pemandu acara Irfan Hakim ( semakin heran dengan pekerjaan presenter, bawain acara apa saja bisa.. padahal kalo gak salah dia juga bawain acara lomba dangdut.. kan gak nyambung tuh, yang satu sangat religi, yang satunya hedon luar biasa..😀 ) dan jurinya adalah Syekh Ali Jabber (pernah ikut kajian beliau jadinya tahu..) , Dr. Amir Faisol Fath (ni hasil gugling…😀 ) dan satu lagi wanita tapi saya gak tahu namanya. Tahunya cuma dia pernah bawain acara pengajian umi-umi , dengan omongannya yang nyablak. Komentar saya mengenai acara ini : BIKIN MALU AJA….

Bagaimana gak malu coba? Anak sekecil itu sudah banyak hafalannya. Bandingkan dengan kita ( eh mungkin saya saja ya.. teman-teman pastinya enggak.. enggak BEDA maksudnya..😀 ) yang hafalannya masih belum sebanyak mereka padahal usinya sudah beberapa kali lipat mereka. Atau kalaupun setara yaaa masih merasa malu juga, usia dah segini hafalan masih sama dengan anak kecil. Jujur saja saya sempat terharu, bagaimana tidak anak sekecil itu sudah banyak hafalan. Muncul dalam pikran saya bagaimana caranya orangtuanya mengajarkan Al-Quran kepada mereka. Lalu saya pandangi si kecil. Kira-kira saya bisa gak menjadikan si kecil seorang penghafal Al-Quran. Apakah dari seorang ayah yang pas-pasan begini bisa mendidik dengan baik. Timbulah suatu semangat untuk memperbaiki diri. Dan harus dikatakan pada diri sendiri bahwa : Ya insya Allah bisa. Cita-cita saya semenjak lajang bahwa saya bisa memiliki anak-anak yang hafidz Al-Quran. Jauh sebelum acara itu tayang. Dan ketika acara ini tayang menjadikan suatu semangat tersendiri. Bahwa ketika orang lain saja mampu, maka mengapa saya tidak bisa.

Mungkin kita ( sekali lagi mungkin hanya saya saja..teman-teman sih tidak ya…) kurang beruntung karena tidak dikenalkan kepada Al-Quran semenjak kecil. Tentu kita masih bisa flashback ke masa usia 5-7 tahun. Ya sewaktu masih TK sampai SD kelas 2. Kira-kira kita sudah bisa apa atau surat mana saja yang sudah kita hafal dari 114 surat dalam Al-Quran. Apakah dalam keluarga kita semasa itu sudah gencar diajarkan Al-Quran? Saya yakin mayoritas akan menjawab belum diajarkan secara gencar. Paling juga ikut TPA seminggu dua kali, itupun sering diulang-ulang lembar yang sama dalam satu minggu itu. Ya memang mungkin kita tidak seberuntung mereka yang memiliki orangtua yang memahami pentingnya mengajarkan Al-Quran semenjak dini. Tapi toh itu tidak perlu disesali. Tetap disyukuri bahwa kita masih punya orangtua yang sayang kepada kita sehingga kita menjadi seperti sekarang.

Tidak diajarkannya Al-Quran semenjak dini memang tidak perlu disesalkan oleh kita, pun juga tak perlu menjadi pembenaran bagi kita yang sampai sekarang hafalannya masih sedikit. Juz 30 saja keteteran hafalannya. Belum terlambat bagi kita untuk memulai meniatkan untuk menghafal Al-Quran. Usia berapa saja tetap akan hebat ketika bisa menghafal Al-Quran. Memang sih yang akan menjadi hebat adalah ketika masih kecil sudah hafal. Atau kalau tidak demikian justru di usia senja baru hafal. Pasti jadi berita hangat. Dan contoh nyata itu ada. Yang dalam usia senja baru menghafal dan dalam tempo 2 tahun sekian hari sudah bisa hafal. Nah ini menjadi pendorong bagi kita dan menjadi bukti bahwa belum terlambat untuk menjadi penghafal Al-Quran. Usia berapa saja oke.Di sisi lain ini juga menjadi tantangan bagi kita apalagi yang sudah menjadi orangtua. Bagaimana mencetak anak-anak yang hafal Al-Quran. Tentu saja kita akan bangga ketika si kecil kita hafal Al-Quran. Hanya saja kita perlu tanya pada diri sendiri : Siap nggak menjadi orangtua pencetak generasi hafidz Al-Quran? Kalau siap yuk mari niatkan diri untuk mendidik anak sebaik-baiknya agar bisa menjadi hafidz Al-Quran. Kalau kita menganggap bahwa semasa kita kecil kurang asupan agama maka jangan sampai anak kita mengalami hal serupa. Mari semangat mengenalkan Al-Quran kepada anak-anak kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s