Selalu Ada Jalan Untuk Berbagi

Mungkin diantara kita banyak yang setuju jika bulan Ramadhan seringnya makanan di rumah kita berlimpah. Kok bisa? Padahal kita sudah mengurangi makan (setidaknya sudah diskon makan siang) dan seharusnya makanan juga berkurang karena penyediaannya hanya untuk buka puasa dan sahur saja. Tetapi kenyataannya malah sering makanan kita berlimpah. Kalau saya sih ambil hikmahnya saja bahwa itu berkah Ramadhan. Adaaa saja cara rejeki berupa makanan itu berlimpah. Entah karena ada acara takjilan, dikasih oleh tetangga, diberi oleh orang tua, dibawakan oleh teman. Pokoknya adaaa saja caranya.

Seperti kemarin, makanan di rumah kami berlimpah. Jangan bayangkan sampai tersisa banyak sekali sehingga bisa dibagikan orang sekampung. Tetapi bagi ukuran kami berdua ditambah satu bidadari kecil kiranya makanan sejumlah itu akan sangat merepotkan kalau harus dihabiskan dalam sehari. Kalau dimakan untuk dua hari saya rasa juga sudah tidak layak, sudah basi. Sempat terpikir dalam benak saya bagaimana caranya memanfaatkan makanan tersebut? Sementara kalau dimakan sampai besok sudah tidak layak makan.

Eh, ternyata adaa saja jalan untuk menyedekahkan makanan tersebut. Pagi tadi bundanya Aisha melihat ibu-ibu pemulung dengan dua orang anaknya yang sedang memungut gelas mineral bekas di masjid. Nah bundanya Aisha melihat kedua anaknya berebut minuman sisa. Ya minuman sisa anak-anak yang tidak habis diminum atau memang sengaja tidak dihabiskan. Padahal itukan minuman takjil kemarin sore. Melihat hal itu buru-buru ia masuk dan langsung menanyakan kepada saya.

“ Jelly drink kemarin mana mas? “

“ Tuh dibalik kardus.. mau buat apa e? “

“ Itu ada ibu-ibu pemulung yang anaknya berebut minuman sisa takjilan… “

Mendengar kata ‘berebut’ dan ‘minuman sisa’ hati saya sempat tergetar. Deg… ternyata ada juga ya yang menghargai minuman sisa atau makanan sisa. Sementara kita sering membuang-buang makanan karena merasa kekenyangan. Padahal di luar sana banyak yang masih kelaparan dan makanan sisapun menjadi penawarnya. Masya Allah…. Saya pun menyempatkan diri menengok dari balik jendela dan benar saja. Meskipun tidak ribut tetapi memang terlihat kedua anak tersebut menginginkan satu hal yang sama. Lalu terlintas dalam benak saya untuk memberikan juga makanan, nasi dan lauk lele yang masih layak makan. Eh belum sempat ngomong, bundanya Aisha sudah duluan mengambil nasi dan lele tersebut. Alhamdulillah.. ternyata niat saya sudah keduluan. Senangnya bisa berbagi. Ada perasaan lega ketika bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain, meski mungkin sesuatu itu tidak terlalu istimewa bagi kita.

Sebenarnya ketika Allah melebihkan sesuatu pada kita sesungguhnya ada jalan bagi kita untuk memberikan nilai tambah terhadap apa yang kita miliki. Yaitu dengan berbagi. Pasti ada cara agar kita bisa berbagi. Hanya saja terkadang kita melewatkan banyak hal sehingga apa yang kita miliki musnah dengan sia-sia. Makanan yang tidak kita sedekahkan akan menjadi basi lalu dibuang. Pakaian yang sudah tidak terpakai hanya akan menambah tumpukan kain usang dan mungkin menjadi tempat bernaungnya keluarga tikus. Uang yang kita miliki akan habis begitu saja tanpa menjadi simpanan di hari akhir nanti. Yuk selama kita masih bisa berbagi, maka berbagilah dengan sesama. Insya Allah akan semakin berkah dan semakin indah.

Advertisements

Menyoroti Quick Count: Pilpres Usai, Pertarungan Jalan Terus..

Pilpres telah usai. Tanggal 09 Juli kemarin merupakan penentuan rakyat dalam memilih pemimpin untuk 5 tahun ke depan. Dalam hemat saya melalui pemberitaan di televisi, untuk sementara bisa dikatakan pesta demokrasi 5 tahunan tersebut berjalan dengan lancar. Tapi seiring berjalannya waktu akan ada banyak temuan-temuan yang mengindikasikan bahwa pilpres tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan. Temuan yang paling banyak terjadi diprediksikan adalah bentuk kecurangan-kecurangan dan money politics atau politik uang. Kita tunggu saja beritanya di media-media nasional.

Semenjak 10 tahun lalu, hadirnya quick count atau hitung cepat menjadi referensi tersendiri dalam dunia perpolitikan nasional. Ketika sebuah proses pemilihan selesai maka akan diikuti oleh hasil quick count yang memprediksi hasil perhitungan suara nyata. Dan hasil quick count ini bukanlah hasil dari peramalan tanpa ada pertanggungjawaban ilmiahnya. Hasil quick count adalah hasil analisa dan perhitungan secara ilmiah sehingga bisa dijadikan rujukan. Dan pada banyak kasus hasil hitung quick count mendekati hasil hitung nyata. Kalaupun ada selisih itu dalam kisaran di bawah 4%. Jadi quick count sering dijadikan prediksi kemenangan. Tak jarang pasangan yang unggul dalam quick count segera mendeklarasikan kemenangannya. Hal ini karena selama ini hasil quick count bisa dijadikan rujukan.

Berbeda dengan proses pemilihan sebelumnya dan hasil quick count yang menyertainya, pilpres kali ini menghadirkan nuansa berbeda. Jika dalam pil-pil yang sebelumnya hasil quick count antar lembaga survey menghasilkan satu pemahaman tunggal yang artinya merujuk ke satu pasangan pemenang walau dengan angka yang berbeda-beda. Tetapi hasil quick count pilpres kali ini menghadirkan hasil yang berbeda. Perbedaan itu semakin mencolok karena menghadirkan pemenang yang berbeda. Dan ini terkait lagi dengan media (tv nasional) pendukung kedua pasangan. TV yang mendukung pasangan no 1 menayangkan bahwa hasil quick count menunjukkan pasangan no 1 menang. Sementara TV pendukung no 2 menayangkan hasil quick count menunjukkan pasangan no 2 menang. Dan ini sangat berpotensi menimbulkan kerawanan politik dan keamanan.

Dengan berakhirnya pilpres dalam artian proses pencoblosan selesai, saya kira tadinya segala sesuatu akan kembali ke kondisi normal. Artinya kita tinggal menunggu hasilnya saja. Tetapi ternyata keliru. Bahkan pilpres usai , pertarungan masih jalan terus. Dan setiap kubu mengklaim bahwa dirinya yang menang. Dengan persaingan yang ketat perolehan suara hasil quick count maka margin error yang kecil-pun seakan tidak menjadi jaminan ke akuratan untuk menentukan siapa pemenangnya. Kedua kubu masih berpotensi untuk menang juga berpotensi untuk kalah. Untuk itu yang perlu kita lakukan adalah menunggu hasil resmi dari KPU. Untuk mengurangi potensi konflik ada baiknya setiap kubu menahan diri untuk tidak larut dalam euforia kemenangan hasil quick count. Tetap menunggu hasil resmi dan harus siap menerima apapun hasilnya. Kalau menang jangan jumawa karena ini bukanlah akhir dari pesta demokrasi 5 tahunan. Justru ini menjadi awal mula perjuangan untuk mensejahterakan rakyat, melaksanakan amanah yang dimandatkan. Sementara pihak yang kalah harus legowo karena bagaimanapun rakyat sudah menentukan. Dan jika janji-janji kampanye untuk mensejahterakan rakyat masih dipegang maka tugas itupun bisa diwujudkan dalam bentuk lain tanpa harus menjadi presiden. Kalau orang jawa bilang Menang Ojo Umuk, Kalah Ojo Ngamuk. Mari kita tunggu hasil resmi dari KPU.