Menyoroti Quick Count: Pilpres Usai, Pertarungan Jalan Terus..

Pilpres telah usai. Tanggal 09 Juli kemarin merupakan penentuan rakyat dalam memilih pemimpin untuk 5 tahun ke depan. Dalam hemat saya melalui pemberitaan di televisi, untuk sementara bisa dikatakan pesta demokrasi 5 tahunan tersebut berjalan dengan lancar. Tapi seiring berjalannya waktu akan ada banyak temuan-temuan yang mengindikasikan bahwa pilpres tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan. Temuan yang paling banyak terjadi diprediksikan adalah bentuk kecurangan-kecurangan dan money politics atau politik uang. Kita tunggu saja beritanya di media-media nasional.

Semenjak 10 tahun lalu, hadirnya quick count atau hitung cepat menjadi referensi tersendiri dalam dunia perpolitikan nasional. Ketika sebuah proses pemilihan selesai maka akan diikuti oleh hasil quick count yang memprediksi hasil perhitungan suara nyata. Dan hasil quick count ini bukanlah hasil dari peramalan tanpa ada pertanggungjawaban ilmiahnya. Hasil quick count adalah hasil analisa dan perhitungan secara ilmiah sehingga bisa dijadikan rujukan. Dan pada banyak kasus hasil hitung quick count mendekati hasil hitung nyata. Kalaupun ada selisih itu dalam kisaran di bawah 4%. Jadi quick count sering dijadikan prediksi kemenangan. Tak jarang pasangan yang unggul dalam quick count segera mendeklarasikan kemenangannya. Hal ini karena selama ini hasil quick count bisa dijadikan rujukan.

Berbeda dengan proses pemilihan sebelumnya dan hasil quick count yang menyertainya, pilpres kali ini menghadirkan nuansa berbeda. Jika dalam pil-pil yang sebelumnya hasil quick count antar lembaga survey menghasilkan satu pemahaman tunggal yang artinya merujuk ke satu pasangan pemenang walau dengan angka yang berbeda-beda. Tetapi hasil quick count pilpres kali ini menghadirkan hasil yang berbeda. Perbedaan itu semakin mencolok karena menghadirkan pemenang yang berbeda. Dan ini terkait lagi dengan media (tv nasional) pendukung kedua pasangan. TV yang mendukung pasangan no 1 menayangkan bahwa hasil quick count menunjukkan pasangan no 1 menang. Sementara TV pendukung no 2 menayangkan hasil quick count menunjukkan pasangan no 2 menang. Dan ini sangat berpotensi menimbulkan kerawanan politik dan keamanan.

Dengan berakhirnya pilpres dalam artian proses pencoblosan selesai, saya kira tadinya segala sesuatu akan kembali ke kondisi normal. Artinya kita tinggal menunggu hasilnya saja. Tetapi ternyata keliru. Bahkan pilpres usai , pertarungan masih jalan terus. Dan setiap kubu mengklaim bahwa dirinya yang menang. Dengan persaingan yang ketat perolehan suara hasil quick count maka margin error yang kecil-pun seakan tidak menjadi jaminan ke akuratan untuk menentukan siapa pemenangnya. Kedua kubu masih berpotensi untuk menang juga berpotensi untuk kalah. Untuk itu yang perlu kita lakukan adalah menunggu hasil resmi dari KPU. Untuk mengurangi potensi konflik ada baiknya setiap kubu menahan diri untuk tidak larut dalam euforia kemenangan hasil quick count. Tetap menunggu hasil resmi dan harus siap menerima apapun hasilnya. Kalau menang jangan jumawa karena ini bukanlah akhir dari pesta demokrasi 5 tahunan. Justru ini menjadi awal mula perjuangan untuk mensejahterakan rakyat, melaksanakan amanah yang dimandatkan. Sementara pihak yang kalah harus legowo karena bagaimanapun rakyat sudah menentukan. Dan jika janji-janji kampanye untuk mensejahterakan rakyat masih dipegang maka tugas itupun bisa diwujudkan dalam bentuk lain tanpa harus menjadi presiden. Kalau orang jawa bilang Menang Ojo Umuk, Kalah Ojo Ngamuk. Mari kita tunggu hasil resmi dari KPU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s