Semuda Apapun, seorang GURU wajib bersikap dewasa

Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai kedewasaan. Bahwa kedewasaan tidak terkait dengan usia seseorang. Boleh jadi ada seseorang yang dari segi usia masih relatif muda tetapi ia bisa bersikap lebih dewasa dari orang yang lebih tua darinya. Meskipun kedewasaan tidak ada kaitan dengan usia dalam artian tidak linear, tetapi menurut saya ada salah satu profesi yang mana mau tidak mau harus bisa bersikap dewasa seberapapun usianya. Salah satunya adalah profesi GURU.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, perlu kita sepakati bahwa yang akan kita bahas adalah mengenai sikap dan pola pikir seseorang guru bukan bagaimana metode ia mengajar. Sebagai contoh sebagai metode mengajar, seorang guru TK memang harus bertingkah seperti anak-anak agar dapat menyampaikan ilmu dengan baik. Kita kadang merasa geli juga melihat tingkah laku guru yang meniru gaya anak-anak. Tetapi kita sama sekali tidak boleh mengatakan bahwa guru tersebut tidak bersikap dewasa. Ini yang saya maksud bahwa yang kita bahas lebih kepada sikap dan pola pikir tadi.

Guru adalah profesi yang mulia karena guru bertugas mengajarkan ilmu kepada siswanya dan juga yang tidak kalah penting harus bisa menjadi contoh teladan bagi siswanya selain juga berperan sebagai orangtua di sekolah. Kita masih ingat hal tersebut bukan? Guru berperan sebagai orangtua di sekolah yang artinya guru mesti bersikap sebagaimana orangtua dalam mendidik anak. Seberapa mudanya guru tersebut harus bisa bersikap demikian.

Tetapi kiranya untuk jaman sekarang, profesi guru agaknya mulai mengalami penyempitan tugas. Kalau dulu guru bertugas sebagai pengajar dan pendidik, agaknya tugas sebagai pendidik ini mulai dilupakan. Guru hanya bertugas menyampaikan ilmu saja. Mengenai pendidikan akhlak dan budi pekerti itu diserahkan kepada masing-masing anak. Dalam pikiran saya, seorang guru itu tetap menjadi panutan dan teladan dimanapun ia berada. Baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Seorang guru harus menunjukkan sikap yang baik. Seorang guru yang bijaksana, dewasa dan ngemong harus selalu dijaga. Ini semata-mata agar pendidikan berjalan dengan baik. Bagaimana mungkin akan menjadi suatu pendidikan jika di sekolah bu guru dan siswa perempuan wajib memakai jilbab, tetapi ketika diluar sekolah bu guru malah berpakaian terbuka. Atau pak guru yang menyampaikan bahwa siswa dilarang merokok tetapi kenyataannya pak gurunya saja merokok di luar sekolah. Bukankah pendidikan berbasis teladan akan lebih mengena bila dibandingkan dengan yang hanya sekedar bicara.

Kemarin saya sempat ngobrol dengan istri saya, lebih tepatnya mendengar curhat yang ia dapat dari siswanya yang curhat. Bahwa ternyata ada sebagian guru di sekolah yang menurut siswa istri saya tersebut kurang bersikap dewasa dan masih kekanak-kanakan. Apa pasal?

Siswa ini pernah menyampaikan bahwa ada guru yang suka membicarakan kejelekan seorang siswa (menunjuk nama, tidak sekedar inisial) di kelas lain. Begitu juga ketika mendapat gosip dari suatu kelas maka dibicarakan di kelas lain. Hal ini menurut saya bukan sikap dewasa seorang guru. Bagaimana mungkin sebagai orangtua malah membicarakan kejelekan seorang anak kepada anak-anak yang lain? Bukankah justru sebagai guru bisa menyikapi dengan lebih baik. Jika melihat kejelekan pada siswanya ya lebih baik mendiskusikan dengan yang bersangkutan secara personal. Apa sebabnya siswa berlaku demikian, kesepakatan apa yang harus menjadi solusi? Bukan malah mengobral di depan siswa lain.

Kemudian pernah juga seorang siswa yang mengajukan beasiswa tidak mampu, tetapi begitu menyerahkan formulir malah ditanya dengan ketus oleh guru. “ Kok kamu mengajukan beasiswa tidak mampu? Kan kamu sekolah naik motor?”. Padahal setelah curhat dengan istri saya, anak ini menceritakan keadaan keluarganya yang memang tidak mampu. Ayahnya sudah meninggal semenjak kecil dan hanya bergantung pada ibunya. Motorpun juga hanya punya satu, itupun harus bergantian dengan kakak-kakaknya. Belum lagi karena keterbatasan ekonomi adik yang kecil dititipkan panti asuhan. Bukankah seharusnya guru melakukan klarifikasi dengan lebih santun. Kalau perlu diajak bicara alasan apa yang membuatnya mengajukan beasiswa tidak mampu sehingga akan lebih bisa memandang permasalahan dengan lebih luas dan bijaksana.

Dan masih banyak cerita mengenai bagaimana ada beberapa guru yang menunjukkan sikap yang kurang bisa bersikap dewasa dan bijaksana. Ini mengenai hubungan guru dengan siswanya. Ada lagi beberapa sikap yang juga tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang guru. Kita perlu tekankan bahwa ini adalah profesi guru yang tugasnya mengajar dan mendidik. Diceritakan bahwa ada seorang guru yang sering menulis status mengenai apapun yang ia lakukan. Dia sedang beraktifitas apapun, ketika mendapat jam tangan mahal dari ayahnya, sedang merasa capek dan masih banyak yang lain. Intinya eksis di medsos. Kita tentu sepakat bahwa hak setiap orang mau menulis apapun di medsos-nya. Tapi ketika dibenturkan dengan profesi guru yang mana dia harus menjadi panutan baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah maka tentu ada sedikit kekhawatiran mengenai hal ini. Bagaimanapun juga siswa akan mengetahui status guru tersebut dan pasti ada penilaian tersendiri mengenai guru tersebut. Jika ternyata guru tersebut tak lebih dewasa dari siswanya bagaimana bisa guru tersebut disegani oleh murid-muridnya. Bagaimana ia bisa mendidik murid-muridnya. Belum lagi foto-foto ‘selfie’ yang dipajang di medsos-nya. Sekali lagi bahwa siswa akan melihat bagaimana sikap guru ketika di luar sekolah. Memang kita boleh mengekspresikan diri sesuai dengan keinginan kita, tetapi sekali lagi sebagai seorang guru wajib menjaga diri agar tetap menjadi panutan siswanya. Bukankah lebih elok menulis status yang mengajarkan kebaikan, memberi motivasi dan mencerahkan. Akan lebih elok memajang foto-foto yang biasa saja, bukan selfie atau narsis.

Sebagai guru juga seseorang dituntut untuk bisa menjadi tempat curhat siswanya. Tempat curhat yang bisa dipercaya dan juga bisa memberi solusi. Memang tidak semua guru bisa mengambil peran ini. Butuh waktu ekstra, tenaga ekstra dan perhatian yang ekstra. Tapi memang baiknya guru mengenal murid secara lebih mendalam termasuk keluarga murid tersebut dan latar belakangnya sehingga akan terhindar dari pandangan yang sempit. Dan dengan mengenal murid lebih mendalam akan lebih mendekatkan guru dan murid secara personal sehingga proses pendidikan juga berjalan dengan efektif dan efisien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s