Berjuta kata di dalam, satu kata kepada dunia luar.

Sebuah lembaga atau organisasi yang dihuni oleh banyak orang maka banyak pula pemikiran yang muncul di sana. Semakin banyak anggota yang terlibat maka semakin kaya pula pemikiran yang ada. Dan setiap pemikiran ini harus mendapat tempat yang sama, artinya sama-sama mempunyai nilai bagi lembaga atau organisasi tersebut. Hierarki fungsi dalam lembaga, mencakup ketua, sekretaris, bendahara, divisi-divisi dan anggota yang lain seharusnya tidak menjadi pembatas bahwa suatu pemikiran itu mempunyai nilai lebih dibanding yang lain. Tentu kita paham bahwa seseorang yang kita beri amanah duduk di pucuk pimpinan adalah seseorang yang kita anggap punya kelebihan dibanding yang lain terutama sisi manajerialnya. Tetapi hal ini tidak menjadikan seseorang itu makhluk sempurna, tidak mungkin salah. Bertolak dari hal ini maka kita katakan tidaklah pendapatnya lebih berharga dari anggota yang lain.

Obrolan ringan, diskusi bahkan debat seharusnya bukan situasi asing lagi bagi sebuah lembaga atau organisasi. Apalagi yang sudah berjalan lama bahkan sudah puluhan tahun. Dan tentu saja akan kita jumpai dalam diskusi atau debat adanya perbedaan-perbedaan pendapat, bahkan dalam hal yang tidak terlalu prinsip. Itu sangat wajar menurut saya sebagai sebuah lembaga yang sehat akan berisi orang-orang dengan pemikiran yang berbeda. Justru tidak sehat sebuah lembaga yang setiap orang yang berada di dalamnya wajib satu kata, meskipun itu masih dalam ranah internal. Hal ini justru mematikan aspirasi dari anggota. Jika ada sebuah lembaga yang melakukan hal demikian biasanya tidak terlepas dari kultus terhadap sebagian pemuncak hierarki bahwa merekalah sang penentu kebijakan dan anggota lain tidak berhak menyatakan pendapat terkait hal itu.

Perbedaan pendapat selama itu masih dalam ranah internal maka tidak menjadi masalah bahkan jika sampai debat sekalipun. Memang sebaiknya perdebatan kita hindari, cukuplah diskusi menjadi solusi bersama. Selama masih dalam ranah internal lembaga atau organisasi saya rasa sangat terbuka terhadap perbedaan pendapat. Kita biasa untuk saling bertukar pendapat, menghargai pendapat yang berbeda dan tidak memaksakan satu pendapat kepada yang lain hanya karena tingkatan jabatan yang tidak sama. Dengan banyaknya pendapat lalu kita diskusikan sehingga membentuk satu kata bersama. Nah satu kata bersama inilah yang nanti kita bawa keluar sebagai wajah lembaga atau organisasi di mata masyarakat. Justru pada tahap inilah sudah tidak boleh ada perpecahan, perbedaan kata. Yang perlu ditampilkan adalah satu kata yang telah disepakati bersama melalui forum diskusi yang kita bahas di atas.

Kita sebagai anggota dari sebuah lembaga atau organisasi, setidaknya dalam lembaga bernama masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Hak untuk berpendapat dan kewajiban melaksanakan keputusan bersama. Jangan sampai ada segelintir orang yang dengan sengaja mematikan aspirasi dengan dalih apapun, apalagi hanya karena dia mempunyai jabatan yang lebih tinggi. Justru sebagai orang yang dianggap dewasa dalam cara berpikir, sekelompok orang yang duduk di pucuk pimpinan bisa membimbing anggotanya yang memiliki pemikiran berbeda agar perbedaan itu tidak mencolok dan bisa disamakan persepsinya dengan pemikiran bersama. Inilah kenapa kita berlembaga. Kalau hanya ingin memaksakan pendapat, apa bedanya dengan penjajah. Marilah kita dewasa dalam berlembaga, termasuk dalam masyarakat sebagai lembaga non resmi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s