Bercanda Kok Menyakiti….

https://satukataku.files.wordpress.com/2014/07/ada5d-tipsbercanda.jpgBercanda. Satu hal yang sering sekali dilakukan oleh kita sebagai manusia. Bahkan Rasulullah SAW pun kerapkali bercanda dengan istrinya, anaknya, dan para sahabatnya. Namun, seni bercanda beliau tetap pada koridor yang syar’i. Dalam candanya, beliau tidak pernah memasukkan unsur kebohongan, ejekan, dan lain-lain yang negatif. Dalam siroh diceritakan, pernah suatu ketika Rasulullah SAW ditanya oleh seorang nenek tua, yang telah keriput kulitnya. “Wahai Rasulullah, apakah saya bisa masuk surga?”. Ditanya seperti itu, Rasulullah berpiir sejenak, lalu menjawab “Wahai nenek, di surga tidak ada nenek-nenek tua..”. Kontan saja sang nenek bersedih. Namun, Rasulullah segera menyambung jawaban beliau dengan mengulum senyum, “Wahai nenek, di surga memang tidak ada orang-orang yang lanjut usia, karena setiap orang yang lanjut usia, ketika dia memasuki surga, dia kembali muda dan cantik”. Akhirnya sang nenek gembira mendengar jawaban itu.

Pernah juga diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki, sebut saja si Fulan, yang kulitnya hitam. Ketika dia sedang bekerja, dari belakang ada yang mendekap dirinya. Dia bertanya “Siapa ini? Lepaskanlah..”. lalu dilepaskanlah dia. Ketika dia melihat sosok yang mendekapnya itu, dia tersenyum. Karena ternyata orang itu adalah Rasulullah SAW. Dan Rasulullah berkata kepada sahabatnya yang ketika itu berada di sana , “inilah dia si Fulan yang merupakan sahabatku”.

Rasulullah juga pernah berlomba lari dengan istrinya, Aisyah RA. Dalam perlombaan itu, Aisyah lah yang menang karena ketika itu tubuh Aisyah masih ramping. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah mengajak Aisyah untuk berlomba lari lagi. Dalam perlombaan itu, Rasulullah lah yang menang, karena ketika itu tubuh Aisyah sudah mulai menggendut.

Sangat ironis sekali ketika kita melihat di fenomena bercanda saat ini. Di televisi, banyak para pelawak yang berusaha membuat kelucuan dengan cara melontarkan kata-kata yang mengejek lawan mainnya. Belum lagi dengan adanya aksi menyakiti lawan mainnya. Memang sih itu sudah diberi keterangan bahwa bahan yang digunakan tidak berbahaya atau peringatan untuk tidak ditiru. Bagi kita yang sudah dewasa mungkin akan paham, tapi bagaimana halnya jika anak-anak kita atau adik kita tanpa sependampingan kita menonton hal tersebut? Jelas mereka tidak akan tahu apakah alat yang digunakan asli atau palsu. Dan yang paling menakutkan jika hal itu ditiru oleh mereka (anak-anak) menggunakan alat asli (bukan bahan aman pakai) .Na’udzubillah..

Dalam dunia nyata kitapun tak jarang menjumpai kondisi-kondisi yang kaku akibat adanya guyonan. Apa pasal? Bercanda bagi sebagian kita bertujuan untuk menghangatkan suasana dan membuat acara kumpul-kumpul semakin meriah. Tapi tak jarang bahan guyonan adalah salah satu teman kita. Misalkan ada teman kita yang bertubuh tambun sedang makan melon. Lalu ada salah satu yang nyeletuk “ melon kok makan melon…”. Mungkin sesaat setelah itu terdengar gelak tawa dari yang ikut bergabung. Tapi mungkin hanya satu orang yang tidak tertawa. Yaitu orang yang dijadikan bahan tertawaan. Lebih parah lagi jika ternyata dia sampai sakit hati lantaran guyonan kita. Kita bisa sih bilang “ masak cuma bercanda aja sampai sakit hati… gak asik ah…”. Tapi kita juga harus paham bahwa batas toleransi tiap-tiap orang berbeda. Ada yang tidak terlalu ambil pusing terhadap candaan, tapi ada juga yang sensitif jika dirinya dibuat bahan lelucon. Itu lebih seperti mengolok-olok di depan umum. Nah sudah semestinya bagi kita yang senang membuat lelucon, buatlah lelucon yang cerdas, yang tidak menunjukkan kekurangan seseorang, yang tidak menyakitkan hati orang lain.

Lalu, apakah kita nggak boleh bercanda? Tentu saja boleh. Tetapi dalam bercanda kita harus tahu batasannya. Mari kita contoh Rasulullah SAW. Beliau bercanda kok, tetapi dalam candaan beliau tidak ada unsur bohong, dusta, fitnah dan hal-hal yang jelek lainnya. Mari tumbuhkan kreatifitas kita dalam bercanda, marilah kita lebih kreatif lagi dalam menciptakan joke-joke kita sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s